Hot Family

Hot Family
Di balik selimut


__ADS_3

Jam di dinding ruang tamu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih. Tapi Senja dan Zain belum juga datang.


Darren, terus mondar mandir di teras depan pintu utama. Kedua tangannya, tersimpan rapi di saku celana pendek rumahan yang dikenakannya.


Wajahnya sudah mulai memerah. Ciri khas dan tanda yang paling mudah dilihat jika seorang Darren sedang marah atau kesal. Tapi kali ini, dia harus meredam amarahnya. Mengingat dia juga memiliki kesalahan.


Suara klakson yang berasal dari gerbang utama dan sorotan lampu depan mobil, memberi kelegaan yang tiada tara.


Seketika Darren menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Menepuk-nepuk pipinya, agar wajah yang ditampilkan bisa membuat istrinya terpesona.


Mendadak terlintas ide di kepalanya. Kalau dia langsung menyambut di depan pintu, pasti akan sangat kaku. Cara terbaik adalah pura-pura tertidur di atas sofa ruang tamu.


Senja dan Zain turun dari dalam mobil. Keduanya bersamaan masuk ke dalam rumah. Zain yang melihat Daddy-nya tidur di sofa langsung menepuk pundak Senja.


"Ma, daddy nungguin Mama sampai ketiduran," bisik Zain.


Senja mendekati sofa di mana Darren berada. Dia melihat lebih dekat wajah suaminya. Tidak perlu waktu yang lama, dalam sekejap, Senja tahu kalau suaminya sedang pura-pura tidur.


"Zain, menurut kamu, Om yang tadi ngasih Mama nomer telepon itu tampan tidak?" Senja mengedip-ngedipkan matanya pada Zain.


Anak pertama Senja itu langsung paham apa maksud mamanya.


"Ganteng banget, Ma. Kalau menurut Zain 90 lah nilainya," timpal Zain, ngeri-ngeri sedep. Pasti besok setelah mama dan daddy-nya baikan, giliran dialah yang terkena masalah.


"Ternyata, dia itu duda lho Zain. Punya usaha di negara S juga. Kenal sama Opa Arham." Senja melirik Darren yang mulai terlihat resah.


"Oh, pantes. Zain mau mandi dulu. Capek banget, nanti kalau om tadi menghubungi Mama, tolong tanyakan punya anak gadis nggak buat dikenalin sama Zain." Anak pertama Senja itu mencari aman dengan buru-buru pamit meninggalkan kedua orangtuanya.


Melihat Zain sudah menghilang, Darren segera membuka matanya dan beranjak berdiri.


"Siapa laki-laki yang kamu maksud tadi?" selidik Darren.


"Oh, ternyata tidak tidur." Senja berjalan menuju lift diikuti oleh suaminya.

__ADS_1


"Ask ...." panggil Darren.


"Iya, sayang ...." jawab Senja sembari melangkah masuk ke dalam lift.


"Kenapa manggilnya sayang? Aku bukan sayang! Jawab siapa laki-laki itu?" Darren semakin kesal.


Senja tidak menjawab, dia pura-pura sedang membayangkan seseorang dengan ekspresi penuh kekaguman.


"Pengen tahu banget ... jangan sayang, nanti kamu insecure." Senja keluar dari pintu lift.


Melangkahkan kaki membuka pintu kamar Dasen, terlihat sudah tidur. Lalu kamar Derya, anak itu pun sudah pulas, dan yang terakhir pintu kamar Beyza, malah lebih anteng lagi tidurnya.


Darren terus mengikuti langkah kaki istrinya. Senja tersenyum senang melihat suaminya gelisah, sudah lama dia tidak merasakan benar-benar dicemburui karena laki-laki seperti sekarang.


Senja sengaja meletakkan ponselnya begitu saja di atas nakas, lalu mengambil baju ganti dan ke kamar mandi.


Setelah mendengar suara shower, Darren buru-buru membuka ponsel istrinya. Lalu membuka seluruh kontak, meneliti setiap nama. Dia hafal betul siapa saja yang ada di kontak istrinya. Tidak ada kontak baru di sana. Kecuali Pak Togar yang hari ini banyak mengirim foto kegiatannya bersama Dasen.


Hal yang tidak terduga malah ada di galeri Senja. Raut wajah Darren, kini benar-benar merah dan memanas.


Tidak lama kemudian, Senja keluar dengan santai dari sana. Seolah tidak ada yang salah, dia melewati suaminya begitu saja.


"Jadi dia alasan kamu sekarang memanggil aku sayang." Darren langsung melempar ponsel Senja ke atas ranjang di mana istrinya sekarang sedang duduk.


Senja mengambil ponselnya, melihat layar sekilas, lalu meletakkan kembali di atas nakas dengan santai.


Sedang seru-serunya, Senja tidak mau berhenti sekarang. Kalau perlu sampai pagi.


"Dia duda keluaran terbaru," bohong Senja.


"Lalu kenapa kalau duda? lalu kenapa kalau keluaran terbaru? Ask ... ingat! pernikahan kita sudah delapan belas tahun lebih. Saat kita muda, bahkan kita tidak pernah tergoyahkan dengan orang ketiga. Kenapa sekarang kamu malah bisa berpaling dari aku. Memang aku salah apa, Ask? aku kurang apa?" Darren bahkan hampir menangis saat mengatakannya.


"Kurang apa? tidak ada yang kurang. Terlalu sempurna malah."

__ADS_1


"Kalau aku sudah sempurna, kenapa kamu harus perpaling dari aku. Tolong, ingat anak-anak, Ask. Ingat perjuangan kita hingga sampai di titik ini. Maafkan aku, sungguh aku hanya melebih-lebihkan keadaan agar Rangga mau menikah lagi. Siapa tahu cocok. Kalau aku ada niatan, buat apa malah aku kenalkan pada Rangga. Aku minta maaf." Darren terlihat sangat memelas. wajahnya sedih, kecewa dan marah bercampur jadi satu.


"Senja capek. Besok saja kita bicarakan. Kita pikirkan masing-masing dulu. Mungkin tidaknya kita saling mengkhianati," ucap Senja, wajahnya dibuat seserius mungkin sembari menarik selimut dan merebahkan diri di atas kasur.


Senja langsung memejamkan matanya. Karena dia memang benar-benar mengantuk dan lelah hari ini.


Darren naik ke atas ranjang dengan kesal. Dia menatap punggung Senja dengan raut wajah sedih. Tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya akan dikhianati diusia yang sudah tidak lagi muda.


"Ask, kamu sudah berapa lama kenal laki-laki itu? apa yang harus aku lakukan untuk mengembalikan cintamu padaku. Aku akan membunuh laki-laki itu kalau perlu."


"Jangan, rumahnya jauh," sahut Senja, yang ternyata belum pulas.


"Aku tidak peduli! ke kutup utara pun akan kudatangi karena berani merebutmu dariku," geram Darren.


"Iya datangi saja, nyalakan televisi sekarang. Buka record, terus buka chanel XYZ, alamatnya ada di sana." Senja menahan tawanya sembari menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sepenuhnya hingga ke kepala.


Darren kembali turun dari tempat tidur, mengambil remot dan menyalakan televisi sesuai arahan Senja.


Dua menit pertama dia masih belum paham, tapi menit kemudian wajahnya yang marah berubah memjadi kesal yang cenderung ke rasa gemas.


"Ask... Itu aktor Turki. Kamu jahat karena sudah mengerjaiku. Aku akan menghukummu sekarang."


Darren langsung menyelinap masuk ke dalam selimut.


"Jangan mengerjaiku lagi, aku kesal," dengus Darren.


"Aku juga jesal dengan janda keluaran terbaru."


Keduanya berdebat di balik selimut.


"Aku masih kesal, sekarang kamu mau tidur di mana? bukankah aku tadi siang bertanya begitu?" tanya Senja.


"Dan aku akan menjawab sekarang. Jawabannya adalah di sini." Darren menunjuk salah satu bagian yang paling dia sukai.

__ADS_1


Apa yang terjadi di dalam selimut selanjutnya, sudah tidak dapat dijelaskan lagi dengan kata-kata.


__ADS_2