Hot Family

Hot Family
Penolakan Beyza dan Zain


__ADS_3

"Ada Zain, tapi tidak mungkin Mama hamil." Senja masih bersikeras dengan pendapatnya.


"Apa sih Ma susahnya berdiri sebentar saja ke kamar mandi buat test? Kalau enggak 'kan syukur. Kalau memang iya, ya mau diapain lagi." Zain kali ini benar-benar terlihat kesal.


Inilah yang Senja takutkan, penerimaan dari anak-anaknya. Selain dia malu, Zain, Dasen, Derya, dan Beyza pasti juga merasa aneh. Masih seperti ini saja, semua sudah seperti menyudutkannya. Apalagi kalau benar-benar terbukti hamil? Akan seperti apa jadinya?


"Ma, ayolah test! Biar jelas, kalau hamil ya hamil, kalau enggak ya sudah." Beyza turut menambahi ucapan Zain.


"De antar yuk, Ma! Apa Mama pusing kalau berdiri?" Sedikit lebih lembut dari yang lain, Baby De menawarkan diri untuk mengantar Senja.


Darren hanya diam. Merasa tidak tega, karena harus melihat Senja seperti tersudut dan diintimidasi anak-anaknya.


"Kalian sarapan saja dulu, sudah hampir siang. Biar Daddy yang nungguin Mama," ucap Darren akhirnya.


"Pastikan Mama melakukan test. Setelah sarapan, kami akan datang kemari lagi."Zain menarik tangan Sekar yang sedang tidak tahu harus berkata apa untuk mengikuti langkahnya keluar dari kamar. Beyza dan Baby De pun mengikuti Sekar dan Zain meninggalkan Senja dan Darren berdua saja di kamar.


Wajah Zain yang tadinya sumringah, kini terlihat datar cenderung kesal. Kalau sudah begitu, Sekar hafal betul suaminya itu sedang tidak enak hati.


"Kakak mau makan apa? Biar Sekar ambilkan saja?" Perempuan itu menyuruh Zain duduk di sudut resto hotel. Baby De sudah terlebih dahulu mengambil makanan. Sedangkan Beyza tentu saja sudah bersama Genta menikmati sarapannya di meja tidak jauh dari tempat Zain berada.


"Bey, kalau mama beneran hamil bagaimana?" Tanya Zain, konsisten dengan wajah datar yang cenderung menyimpan kekesalan.


Beyza tidak langsung menjawab, karena dilema juga yang dia rasakan. Kalau Senja hamil, rasanya aneh mempunyai adik di usia sekarang. Tapi kehamilan mamanya jelas akan memberikan keuntungan pada hubungannya dengan Genta. Darren tidak akan bisa melarang Bey untuk tidak boleh hamil apalagi melakukan vasekktomi pada Genta.

__ADS_1


"Lebih ke khawatir, Kak. Emosinya harus benar-benar dijaga. Mama gampang sekali sakit kepala, ditambah hamil. Ah, entahlah, Bey tidak bisa membayangkan." Beyza meraup wajahnya dengan kasar. Sungguh dia bingung harus bereaksi seperti apa.


Sekar datang membawa senampan makanan untuk dirinya dan juga untuk Zain, disusul Baby De di belakangnya.


"Sudahlah, Kak. Kalau mama hamil, ya sudah. Kita bisa apa? Apa kakak akan memarahi mama? Kalau mama makin tertekan malah tidak bagus. Lagi pula, mama hamil kan memang ada daddy." Sekar meletakkan makanan tepat di meja depan Zain.


"Bukan begitu, nanti kalau sebentar lagi kamu hamil juga bagaimana? Terus Bey juga mau menikah. Astaga, tidak bisa membayangkan." Zain masih menunjukkan ketidak sukaannya dengan kentara.


Semua diam dan hanyut dalam pikiran dan makanan masing-masing. Tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara lagi.


Di sisi lain, Senja masih enggan keluar dari dalam kamar mandi. Meski sudah melakukan tes kehamilan, dia sendiri enggan melihat hasilnya. Senja memilih berendam santai dengan air hangat.


Darren yang sedang menikmati makan pagi yang di pesannya di balkon, sesekali melirik pintu kamar mandi. Berharap perempuan yang sangat dicintainya itu keluar dari sana dengan wajah ceria dan mengakui kehebatan kecebong premiumnya.


Mendengar suara di kamarnya sudah kembali ramai, membuat nyalinya semakin menciut. Senja menghentakkan kakinya sendiri, dalam hati mengumpat kesal pada Darren.


"Ask, lama sekali di dalam," teriak Darren sembari mengetuk pintu beberapa kali.


"Ma, cepat keluar. Mama belum makan. Nanti tambah sakit." Zain ikut berteriak sembari mendekatkan wajahnya pada daun pintu kamar mandi.


Senja membasuh wajahnya dengan air kran untuk yang kesekian kali. Mencoba menyegarkan diri kembali terlebih dahulu. Lalu melirik tiga alat tes kehamilan yang tergeletak begitu saja di toilet wastafel.


"Ma, ayolah! Kita akan pulang ke Jakarta jam berapa?" Beyza mulai tidak sabar.

__ADS_1


Setelah menarik napas berat dan memejamkan mata sembari komat kamit membaca doa, Senja menyambar alat tes kehamilannya. Lalu dia membuka pintu secara perlahan.


"Bagaimana, Ma?" Tanya Zain, benar-benar tidak sabar.


Senja mengulurkan hasil dari tes yang dilakukannya pada Zain. Lalu dia menghempaskan bokongnya di atas ranjang. Baby De menghampiri Senja, memberikan dukungan yang tulus pada perempuan yang selalu dianggap mama kandungnya itu.


Zain memberikan alat yang dipegangnya pada Sekar satu, lalu satu lagi pada Beyza. Ketiganya kompak saling pandang setelah melihat hasil yang ditunjukkan. Lalu dengan tajam Zain menatap Senja dan Darren bergantian.


"Kenapa sih harus hamil lagi? Daddy sama Mama itu sebentar lagi dipanggil opa oma, tidak lucu kalau Sekar dan Mama hamilnya bersamaan." Zain tidak bisa mengendalikan diri lagi.


"Kak, sabar. Sudahlah, tidak ada gunanya Kakak protes." Sekar mencoba menenangkan Zain dengan suara berbisik.


"Terserah Mama lah, Zain tidak paham sama pemikiran Mama. Apakah Mama tidak tahu kalau kehamilan diusia Mama sekarang sangat beresiko. Zain tidak hanya malu, tapi Zain khawatir dengan kondisi Mama."


"Zain, Mamamu tidak salah. Kami juga tidak merencanakan untuk mempunyai bayi lagi diusia sekarang. Tapi kalau Tuhan masih percaya sama Daddy dan Mama, kami bisa apa? Kenapa kamu menyalahkan Mama Nja saja. Bukankah di sini Daddy juga bersalah?" Darren seperti sedang menantang debat terbuka dengan Zain.


Bibir Senja terkunci rapat, dia enggan ikut dalam perdebatan. Wajahnya terlihat sendu.


"Semua akan baik-baik saja, Ma. Tuhan memberikan anugerah pada Mama, mungkin aneh, tapi apa Mama akan membunuh janin yang tidak berdosa? De tidak malu." Baby De mengusap punggung tangan Senja dengan lembut.


"Zain tidak tahu harus bicara apa lagi. Sudah terlanjur terjadi. Dadd, kehamilan kali ini tidak akan sama. Jangan sampai ada sesuatu yang terjadi pada mama yang membuat kita semua menyesal." Zain mengajak Sekar meninggalkan kamar mamanya karena tidak ingin berbicara yang lebih menyakitkan lagi.


"Entahlah, Bey tidak tahu harus senang atau sedih. Kita kembali ke Jakarta saja sesegera mungkin. Kita konsultasikan pada dokter kandungan mama. Kak Zain benar, Mama tidak dalam kondisi ideal untuk hamil lagi." Kali ini Beyza mengajak Baby De untuk meninggalkan kamar. Dia ingin memberi waktu pada mama dan daddynya untuk berbicara lebih leluasa.

__ADS_1


__ADS_2