Hot Family

Hot Family
Cerita Empat anak


__ADS_3

"Bey... kamu kenapa bisa di sini?" Michel bertanya dengan wajah heran sekaligus kagum.


Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan Beyza, sejak kasus Michel, Rama dan Dasen ditangkap polisi.


Beyza tidak langsung menjawab, dia kembali mencari sosok berbaju merah yang tadi sempat dilihatnya. Tapi sosok itu sudah menghilang begitu saja.


"Bey.... " Michel melambaikan tangannya tepat di depan mata Beyza, menyadarkan gadis di depannya itu, kalau dia masih menunggu sebuah jawaban.


"Eh, hai. Aku bekerja di sekitar sini. Kamu?" Beyza menunjuk gedung kantor tempatnya bekerja.


"Aku bekerja di perusahaan properti di ujung jalan sana." Hal yang sama dilakukan oleh Michel. Dia menunjuk kantor yang masih terjangkau oleh mata keduanya.


"Astaga! Kenapa baru bisa bertemu sekarang? Padahal dekat sekali."


"Aku baru dua minggu di sini. Bagaimana kabar Dasen? Aku hilang kontak sejak aku dipindahkan ke Sydney."


"Baik... dia sangat baik. Hari ini, dia resmi menggantikan posisi Daddy."


Michel menundukkan kepalanya, dia jelas terlihat banyak berubah. Dulu, dia terlihat sangat angkuh dan sombong, sekarang Michel lebih kalem dan dewasa. Peristiwa perceraian kedua orangtuanya mengubah banyak hal, termasuk keadaan ekonominya yang turun tajam.


"Aku kembali ke kantorku dulu. Sampai ketemu lagi kapan-kapan." Beyza melambaikan tangan, lalu berbalik badan dan berjalan dengan cepat.


Dia belum beruntung bisa bertemu dengan pengirim hadiahnya.


Michel memandangi punggung Beyza hingga memasuki pintu gedung. Perasaan kagum pada gadis itu tetap sama, tapi nyalinya sekarang sudah tidak ada. Dirinya kini hanya staf marketing biasa. Pencari pembeli apartemen, rumah, ruko atau pun tanah. Maminya menjadi seorang pemabuk. Sangat jauh dari angan, untuk mendekati seorang putri Darren Mahendra.


Sementara itu, pria berbaju merah yang dicari Bey, langsung menampakkan diri kembali begitu mengetahui Bey, sudah kembali masuk ke dalam kantornya.


"Maafkan aku, Bey. Aku memang pengecut yang tidak berani menampakkan diri. Maafkan aku yang tidak pernah berhenti mengagumimu," lirih Genta. Lalu dia kembali meneruskan langkah kakinya, menuju kantor milik ayahnya yang juga masih satu jalanan dengan kantor Beyza.


.


.


Seorang gadis berbadan tinggi, berkulit putih bersih, dengan pembawaan kalem, sedang duduk berdampingan di ruangan kerja Derya.


"Terimakasih sudah datang, Ay." Derya meraih kedua tangan gadis itu, dan menggenggamnya dengan lembut.

__ADS_1


"Sama-sama." Gadis bernama Inez itu mengulum senyuman di bibirnya.


"Besok, aku akan memperkenalkanmu dengan keluargaku. Apa kamu siap?" tanya Derya.


Inez mengangguk lemah. "Tapi aku takut, mereka tidak akan menyetujui hubungan kita."


"Jangan takut. Mamaku orang yang sangat bijaksana, Daddy-ku sedikit keras, pedas dan tegas, tapi ada mama yang akan melembutkannya." Derya merengkuh pundak Inez ke dalam pelukannya.


"Aku takut, mereka juga sekeras orangtuaku. Bukankah dulu, mama dan papaku juga sangat baik padamu? Tapi mereka mendadak sangat tidak menyukaimu setelah tahu yang sebenarnya." Kekhawatiran jelas nampak di wajah Inez.


"Sudahlah! Jangan membayangkan terlalu berlebihan, apa yang belum terjadi. Jika kamu yakin mencintaiku, aku tidak keberatan jika kita harus berjuang bersama-sama." Derya mengecup kening Inez sekilas.


"Aku sangat mencintaimu, Ay. Kamu adalah laki-laki terbaik yang aku temui." Inez membelai wajah Derya dengan tatapan penuh cinta.


Derya membalas tatapan itu dengan cinta yang tidak kalah besar dan dalamnya. wajah keduanya kini semakin mendekat, dan bibir Derya dan Inez pun akhirnya saling terpaut. Mengecup lembut, menyalurkan cinta dan rindu yang bersamaan datang.


Sudah enam bulan keduanya menjalin hubungan jarak jauh. Setiap akhir pekan, Derya rutin mendatangi Inez yang merupakan teman satu angkatan di kampusnya.


Inez adalah sahabat Beyza selama di Aussie, seringnya mereka bertemu, akhirnya membuat Derya dan Inez saling jatuh cinta.


Inez lagi-lagi hanya mengangguk, dia semakin merapatkan tubuhnya dalam pelukan Derya. "Jangan lepaskan aku, apapun yang terjadi, Ay," lirihnya.


.


.


Zain mondar mandir di dalam kamar sembari mengenggam ponsel. Sesekali dia menatap layarnya , berharap ada balasan atau panggilan masuk dari Sekar.


Perempuan yang sudah dua tahun ini menjalin hubungan serius dengannya, tapi, mendekati kepulangannya ke Indonesia, Sekar justru mulai mudah dilanda cemburu.


Airin dan keluarganya yang kerap kali menghubungi Zain, menjadi satu-satunya sumber kecemburuan bagi Sekar.


Zain kembali mencoba menghubungi Sekar, dia tidak bisa didiamkan begitu lama. Sementara Sekar sangat betah berdiam diri jika sedang marah. Kalau dibiarkan, bisa dua hari penuh tidak saling menyapa.


Mendekati putus asa, Zain merebahkan diri di atas kasur. Membiarkan ponselnya tergeletak begitu saja. Tiba-tiba ketukan pintu membuat usahanya memejamkan mata buyar.


"Iya, sebentar!" Sahutnya dengan sedikit berteriak.

__ADS_1


Saat membukakan pintu, dia melihat ada Wati di sana. "Ada apa, Mbak?"


"Ini, Den. Ada kiriman. Katanya dari ibunya mbak Sekar." Wati memberikan paper bag pada Zain.


Zain menerima tas itu. "Terimakasih, Mbak."


Dengan cepat, Zain mengeluarkan isi dari tas tersebut. Masih dibungkus plastik lagi. Ternyata isinya adalah selembar kain batik yang ditulis sendiri oleh Ibunya Sekar. Dulunya, mereka memang pengrajin batik tulis di Jogya.


Zain segera menghubungi Ibu Sri--ibunda dari Sekar. Tidak butuh waktu terlalu lama, sambungan telepon pun langsung diterima.


"Iya, nak Zain." Sapa suara di seberang dengan logat ramah khas jawa.


"Ibu, terimakasih. Kain batiknya sudah Zain terima. Kenapa Ibu repot-repot." Zain merasa senang sekaligus tidak enak.


"Tidak, Nak Zain. Sudah lama Ibu pengen membuatkan untuk Nak Zain. Maaf baru sempat, kebetulan ada tetangga yang ke Jakarta. Jadi Ibu sekalian nitip, katanya mau dikirimkan lewat ojek. Alhamdulillah kalau sudah sampai." Sri berbicara dengan sangat ramah. Suaranya sangat jelas, meski melalui saluran telepon.


"Terimakasih, ya Bu. Insya Allah, minggu depan, Zain ke Jogya."


"Ya pasti harus ke Jogya, Kan yayange dateng." goda Sri.


Zain dan calon ibu mertuanya itu pun terus melanjutkan obrolan ringan. Keduanya memang sangat cocok. Bahkan Sri lebih betah berbicara dengan Zain ketimbang dengan Sekar yang anaknya sendiri.


.


.


Di hari pertama menjabat sebagai CEO, tidak membuat Dasen bisa sedikit santai. Dia harus tetap bekerja. Bahkan kali ini dia harus meeting di sebuah hotel dengan salah seorang investor asing.


Waktu yang dijadwalkan meeting masih 30 menit lagi, tapi Dasen sudah datang di lokasi. Seperti biasa, tepat waktu adalah ciri khasnya. Dia tidak mentorerir keterlambatan sedikit pun.


Dasen menunggu di lounge hotel dan memesan sebuah minuman sembari memeriksa email masuk di layar ponsel pintar yang ada di tangannya.


Kali ini, Dasen datang sendiri. Tidak ada Mike maupun Brenda yang menemani.


Seorang pelayan membawakan minuman pesanan Dasen dengan hati-hati. Tapi selangkah lagi sampai di meja tempat pemesan itu berada, seorang anak kecil menabrak pelayan itu dengan cukup keras. Membuat tubuhnya terhuyung ke depan tepat menimpa tubuh Dasen dan menumpahkan minuman itu hingga mengenai celana CEO Mahendra Corp yang baru.


Bukannya marah-marah atau menolong, Dasen malah terlihat sangat terkesima. Tubuhnya bergeming ketika bola mata mereka tidak sengaja saling beradu pandang.

__ADS_1


__ADS_2