
Sepanjang malam Senja hanya duduk di tepian ranjang, memandangi pria yang sudah menemani hidupnya belasan tahun.
"Aku kecewa, Ask. Sangat kecewa. Kamu membawa masalahmu ke tempat di mana kamu bisa terjebak pada kesalahan dunia. Kenapa kamu tidak menyerahkan masalahmu pada Tuhan?" lirih Senja.
Sampai akhirnya dia beringsut, mengambil koper dan memasukkan beberapa helai pakaiannya di sana. Membangunkan anak-anak, kecuali Zain, untuk melakukan hal yang sama.
Menjelang subuh, Senja, Beyza, Derya dan Dasen meninggalkan rumaha mereka. Private jet milik adik iparnya--Aleandro, sudah menunggu untuk mengantar mereka terbang ke negara S.
Saat Zain terbangun, pintu kamar adik-adiknya terbuka, dengan ranjang yang sudah rapi. Seketika dia paham, bahwa mamanya benar-benar pergi.
Anak pertama Senja itu membuka pintu kamar mamanya. Kondisi kamar itu masih berantakan, barang berserakan di lantai karena amukan kedua Darren. Memang sengaja tidak dirapikan kembali oleh Senja.
Zain mendengar suara daddy-nya yang sedang muntah-muntah di kamar mandi. "Asam lambung daddy pasti kambuh," gumamnya.
Zain turun ke bawah menuju dapur, meminta tolong pada salah satu asisten rumah tangga untuk membuat jus buah unttuk Darren. Setelah dibuatkan Zain pun kembali ke kamar mamanya.
Darren duduk ditepian ranjang, memangku kepalanya yang berat dengan kedua tangan. matanya masih merah, wajah dan rambutnya basah karena dia baru saja selesai mandi.
"Diminum dulu, Dadd. Biar lebih enakan. Kalau Daddy butuh obat untuk lambung, Zain ada." Zain memberikan segelas jus tadi pada Darren.
Darren mendongakkan kepala, menerima gelas dari tangan Zain, lalu meneguknya hingga habis.
"Daddy tidak butuh obat apapun? Kemana mamamu? Apa dia terlalu sibuk memikirkan anak orang lain? Sehingga lupa masih ada suami yang harus diurus?" Darren ternyata juga memendam kekesalan pada Senja.
"Mama pergi bersama si kembar dan Dasen sebelum subuh tadi," jawab Zain dengan hati-hati.
Darren memejamkan matanya, menarik napas dengan berat, dadanya terasa nyeri luar biasa. Kebahagiaan dan keutuhan rumah tangganya tiba-tiba dipertaruhkan karena masa lalu.
"Tinggalkan Daddy sendirian, Zain." pinta Darren dengan suara bergetar.
Dia menepuk pundak daddynya dengan lembut. "Zain ada di kamar, kalau Daddy butuh teman berbicara."
Darren menatap punggung Zain yang menjauhi dirinya dengan tatapan nanar. Ketika pintu kamarnya tertutup kembali. Dia membuka laci tempat di mana Senja menyimpan album foto pernikahan mereka.
__ADS_1
Jemari Darren membelai lembar pertama foto pre wedding dirinya dan Senja yang sangat sederhana. Di mana cinta pada tatapan mata istrinya belum sepenuhnya ada. Tapi dia merasakan kehangatan dan keteduhan di sana.
"Aku kangen kamu, Ask... tidak seharusnya kamu meninggalkan aku seperti ini. Kamu kecewa, aku pun juga. Terimakasih mengingatkan sebejat apa kelakuanku dulu. Tapi kamu salah, sedikit pun itu tidak mengubah pandanganku pada Malino dan keturunannya." Darren rupanya tetap bersikeras pada pendiriannya.
.
.
Senja dan anak-anak sudah sampai di negara S. Dengan dibantu orang kepercayaan perusahaan mendiang papanya Zain, Senja mendapatkan hunian apartemen yang nyaman dan private di pusat kota.
Perempuan itu sengaja tidak meminta tolong pada Eomma dan Appanya atau saudara yang ada di negara S. Dia tidak ingin, mereka bertanya-tanya kenapa kedatangannya mendadak dan tanpa keikutsertaan Darren juga.
"Ma, kenapa tidak di rumah oma saja?" tanya Beyza.
"Tidak. Kita di sini dulu sementara, karena lusa kita akan berangkat ke UK." Senja menjawab dengan suara lirih.
"Kita akan tetap pergi? bagaimana dengan daddy?" Beyza kembali bertanya.
"Mama sudah memberi tahu daddy. Kalian tenang saja," bohong Senja.
"Mama yang terbaik, mama adalah mama terhebat. Kita tidak akan menjadi anak yang merepotkan mama lagi."
"Jangan sedewasa itu, buat mama repot. Selalu butuhkan, Mama. Biar waktu berjalan dengan cepat. Agar apapun luka kita, cepat mengering karena waktu." Senja membalas pelukan Derya semakin erat.
Beyza dan Dasen ikut bergabung dalam pelukan mereka. Senja tidak mungkin bisa menutupi kesedihan lebih lama, bagaimana pun anak-anak pasti merasa dan sudah bisa menilai.
"Boleh Mama, bicara sedikit serius sama kalian?" tanya Senja, sembari merenggangkan pelukan. Ketiga anak itu pun mengangguk.
"Ada sesuatu yang terjadi antara Keluarga Genta dan keluarga kita di masa lalu. Mama akan menjelas kan masalahnya apa, tapi tidak sekarang. Mama hanya minta tolong, kita sepakat dalam satu hal," pinta Senja menatap mata satu per satu anaknya dengan lembut.
"Liburan kita ke UK, adalah kebersamaan terakhir kita dengan Genta. Setelah itu kita harus perlahan melupakan dia. Kalian akan menemukan sahabat baru lagi, yang pastinya juga sebaik Genta." Senja menarik napas berat di ujung kalimatnya.
"Tapi ini tidak adil, Ma," protes Beyza.
__ADS_1
"Memang siapa yang mengatakan hidup ini harus selalu adil, Bey? Hidup tidak selamanya nyaman dan menyenangkan." Senja menjawab dengan cepat.
Derya dan Beyza saling bertukar pandang, mata keduanya berkaca-kaca, lalu saling berpelukan.
"Its oke, Bey. Ada Der yang akan selalu melindungimu. Kita nikmati liburan kita nantip sebaik mungkin." Derya menghibur Bey dan juga dirinya sendiri.
"Tlidak ada yang sebaik Genta, Der. Dia begitu tulus dan setia pada pertemanan." Beyza semakin terisak.
Senja mengusap pucuk rambut Bey dengan lembut "Kita berdoa, kita percayakan pada kuasa Tuhan. Semoga suatu saat nanti, kalian bisa dipertemukan kembali dengan keadaan yang lebih baik."
"Apakah Genta tahu akan hal ini?" Derya bertanya pada mamanya.
Senja mengangguk pelan. "Genta juga sudah tahu."
Setelah tahu Darren keluar rumah, Senja menghubungi Rangga dari telepon rumah. Karena ponselnya sudah hancur karena suaminya. Dia dan ayah Genta itu sepakat untuk memberikan kenangan terbaik untuk anak- anak. Rangga dipastikan akan ikut juga, karena dia dan Genta akan langsung mencari tempat tinggal di sana.
.
.
Hari yang sepi, sudah berhari-hari sejak ditinggal pergi Senja dan anak-anaknya, Darren lebih memilih berada di dalam kamar. Untuk makan saja, Wati selalu mengantarnya. Rumah yang biasanya hangat, kini terasa bagai gunung es.
Sesekali dihubungi Beyza, Derya, Dasen dan Zain. Anak-anak melakukan video call, sambungan telepon biasa atau sekedar berbalas pesan. Tapi tidak sekali pun dia melihat wajah istrinya atau sekedar mendengar suara Senja.
"Sampai kapan kamu sembunyi dan lari dariku, Ask? Siapa yang ingin kamu hukum sekarang? Tidakkah kamu sendiri juga terluka? Sejauh ini kita sudah berjalan, semudah inikah kamu ingin berhenti? Kalau kamu sanggup, lakukan saja sendiri. Aku tidak bisa!" Darren menatap figura besar berisi foto pernikahannya dengan Senja.
Di tengah lamunannya, Kenzi mengirimkan sebuah pesan pada Darren. Sebuah video yang langsung di putar olehnya. Durasi video itu hanya dua menit, tapi cukup membuat emosinya kembali naik.
Darren melempar ponsel tepat ke bagian wajah Senja yang terpampang pada figura di depannya. Menciptakan retakan kaca yang lumayan parah di sana.
"Aku di sini memikirkan kamu, berharap kamu merasakan kerinduan yang sama. Ternyata aku salah, Ask! Kamu bahkan bisa tersenyum bahagia bersama pria lain." lirih Darren.
Ya, Senja memang sedang bersama Rangga. Seperti apa yang dilihat Darren di video kiriman Kenzi. Tapi tidak hanya berdua, ada semua anak-anak di sana. Karena hari ini adalah hari terakhir kebersamaan mereka dengan Genta.
__ADS_1
Senja, Zain, Beyza, Derya dan Dasen akan melakukan penerbangan malam untuk kembali ke tanah air. Sedangkan Genta dan Rangga tidak akan pulang lagi, keduanya akan menetap di sana sampai waktu yang tidak ditentukan.
Tidak ada nomer ponsel atau alamat yang diberikan Genta. Saat nanti mereka berpisah, kebersamaan dan persahabatan pun hanya akan menjadi kenangan.