
Senja mengajak Zain masuk ke dalam kamar, karena tiupan angin semakin kencang. Dia memang ingin menangis, tapi bukan dibahu anaknya. Dia merindukan bahu kokoh Darren untuk menumpahkan sakitnya.
'Aku bisa saja memilih untuk membencimu. Nyatanya, aku tidak sanggup. Entah di sana apa yang sedang kamu pikirkan. Aku berharap ada aku di pikiranmu,' batin Senja.
Di dalam kamar lantai empat, Darren memandangi ponselnya. Entah dia harus menunggu atau menghubungi siapa. Rasanya semua yang dia miliki sekarang, tidak berarti apa-apa.
Kata-kata Sarita semakin terngiang kencang di telinga dan pikirannya. Penegasan akan ketidakpantasan dirinya menerima kebahagiaan yang diberikan oleh Senja, membuatnya semakin malu dan rendah diri.
Darren meremas rambutnya dengan kasar. Merasa saat inilah titik terendah dalam kehidupan rumah tangganya.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, seorang Darren Mahendra merasa tidak pantas bersanding dengan perempuan. Kini dia merasa, Senja terlalu sempurna dengan kebaikan dan kesabaran menghadapinya.
"Bagaimana aku bisa menghadapimu, Ask. Melihat wajahmu saja aku merasa sudah tidak pantas," lirihnya.
Di tempat yang berbeda, di ranjang yang tidak sama. Darren dan Senja sama-sama sulit memejamkan matanya. Saling memikirkan satu sama lain. Menahan rindu dan perih bersamaan.
"Aku kangen kamu, Ask," gumam keduanya, bersamaan meski dari tempat yang berbeda.
.
.
Senja sudah bersiap datang ke kantor KPAI bersama Zain, sementara Beyza dan Derya memilih tidak ikut. Keduanya lebih tertarik untuk jalan-jalan di Mall yang terletak di samping hotel.
Sampai di gedung yang dituju, Senja bertemu dengan Darren. Keduanya terlihat sangat canggung. Mereka berdiri berdampingan untuk menjaga kepantasan, karena orang-orang yang datang, jelas tahu mereka adalah pasangan suami istri.
Mereka hanya menunggu Adrian dan istrinya, selaku orangtua dari Ronald. Seperti biasa, pasangan itu selalu datang seenaknya. Seolah kesibukan hanya milik mereka.
Senja menundurkan langkah dan berjalan menjauhi Darren dan Zain, saat seseorang yang sedari kemarin dihubungi dan menghubunginya, kini membuat ponselnya bergetar kembali.
__ADS_1
Darren menarik napasnya dengan berat, pada situasi normal, apa yang dilakukan Senja sekarang saat menerima telpon, bisa jadi membawa omelan besar. Darren sangat tidak senang, jika istrinya melakukan panggilan telepon secara sembunyi-sembunyi seperti itu.
Senja tampak melirik jam tangannya, lalu sesaat kemudian, perempuan yang masih cantik itu kembali berbicara dengan serius. Darren tidak tahan untuk tidak menoleh ke belakang, tapi kata-kata Sarita seolah alarm pengingat baginya.
Jika menerima kebahagiaan dari Senja saja dia tidak pantas, apalagi meminta istrinya itu menuruti semua kata-katanya.
"Daddy, baik-baik saja kan?" Zain menggeser posisinya hingga lebih dekat dengan daddy-nya.
Darren memaksakan senyumnya. "Tidak Zain. Daddy tidak baik-baik saja."
Zain menundukkan kepalanya. Dia sudah dewasa dan cukup memahami apa yang terjadi pada kedua orangtuanya itu. Zain juga tidak berniat mengadu, mamanya pun sebenarnya juga tidak baik-baik saja.
Senja kembali di antara mereka, berbisik sesuatu pada Zain dan membuat anak itu menampilkan keterkejutannya sejenak, tapi langsung mengangguk.
Di saat bersamaan Adrian datang bersama istrinya. Karena Rangga tidak hadir, maka hanya ada Darren dan Senja yang mewakili pihak pelapor.
Belum sampai acara pembacaan putusan dan kesepakatan berakhir, Zain meninggalkan ruangan terlebih dahulu.
Akhirnya setelah satu jam perdebatan panjang antara Adrian dengan pihak psikolog anak dari pihak KPAI terjadi, kesepakatan pun didapat. Senja dan Darren menyetujui tanpa syarat akan sanksi yang diberikan pada Roynald dan teman-temannya.
Sanksi yang tidak berat, tidak perlu samlai keluar dari sekolah. Tapi mereka wajib meminta maaf pada seluruh korban, mengikuti bimbingan konseling dan rohani rutin selama enam bulan dan dalam pengawasan KPAI selama satu tahun. Jika mereka mengulang kejadian itu sebelum kurun waktu setahun, maka penjara khusus untuk anak-anak akan menanti.
Senja dan Darren pun berdiri hampir bersamaan, menjabat tangan seluruh orang yang ada di ruangan, berpamitan lalu mereka pun keluar dari sana dengan harapan, ini adalah terakhir kalinya mereka menginjakkan kaki di gedung ini karena kasus anak-anaknya.
Darren berjalan pelan mengikuti langkah kaki Senja yang juga tak kalah pelan. Istrinya itu sibuk membuka aplikasi taxi online. Karena Zain harus pulang terlebih dulu untuk menyelesaikan tugas dari Senja secepat mungkin.
Senja terus keluar mendekati lobby luar, Darren pun mengikuti. Entah Senja pura- pura tidak peduli atau tidak tahu kalau dibelakangnya ada Darren. Dia sama sekali tidak menoleh.
"Zain sudah pulang?" Darren dengan canggung akhirnya memulai pembicaraan.
__ADS_1
Senja menoleh sekilas, sungguh dia baru menyadari kalau suaminya masih ada di belakangnya.
"Iya," jawab Senja, singkat.
"Mau ke mana? biar aku antar." Darren menawarkan diri.
Keduanya sama-sama menggigit bibir bawahnya, mereka bukan abg yang baru saja kenal, bukan pula mantan pacar apalagi mantan suami istri. Keduanya masih suami istri sah dengan waktu kebersamaan yang tidak singkat. Tapi nyatanya, kini keduanya seperti dua orang asing yang baru pertama kali bertemu.
"Mau di antar?" Darren kembali bertanya dan Senja hanya mengangguk sembari menyebut nama hotel tempatnya menginap dengan singkat.
Sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan sama sekali yang terjadi. Berulang kali Darren melirik Senja, tapi perempuan itu terus melemparkan pandangan ke kaca samping mobil.
Darren menundukkan wajahnya, tidak perna dia merasakan sesakit ini hatinya. Jarak yang hanya dua jengkal pun tidak sanggup menghangatkan jiwanya. Tidak terasa air mata Darren menetes, dia buru-buru menyekanya. Senja masih istrinya. Tapi kenapa dia merasa sangat tidak pantas untuk sekedar menegur, menyentuh bahkan hanya melihat sekalipun, Darren ragu dan tidak percaya diri.
Kata-kata Sarita sungguh tertancap dalam di hati Darren. Sangat dalam, hingga membuat putranya itu kini merasa tidak pantas memiliki seorang perempuan yang hampir 20 tahunan mendampingi hidupnya.
Driver menghentikan mobil Darren tepat di depan hotel yang ditempati Senja. Setelah mobil berhenti, perempuan itu buru-buru membuka pintu mobil .
"Terimakasih," ucap Senja, menoleh sekilas pada suaminya.
"Sama-sama, Ask. Hati-hati. Jaga dirimu baik-baik." Darren tidak kuasa menatap Senja.
Darren melihat Senja masuk ke dalam lobby, istrinya itu nampak berbicara dengan seseorang. Darren pun menyuruh, drivernya untuk berputar karena ada mobil di belakang mereka yang antri.
Mata Darren terbelalak lebar, hatinya semakin tidak tenang, Senja dan anak-anaknya hendak masuk ke dalam mobil yang berada di belakangnya tadi.
Tapi Zain tidak ikut bersama Senja, Beyza dan Derya. Zain malah memeluk mama dan adik kembarnya itu seolah mereka akan berpisah jauh.
Darren menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak, Ask! Tidak! Jangan semakin jauh. Sedekat ini saja aku tidak bisa mengejar dan menjangkaumu. Apalagi jauh." Darren mulai panik.
__ADS_1