
Tepat pukul sembilan pagi waktu negara S. Tindakan pemasangan ring pada jantung Mahendra mulai dilakukan. Darren dengan pikiran yang tidak tenang, mendampingi Sarita yang terus saja menangis. Sebagai anak satu-satunya, tentu sudah tanggung jawab Darren untuk memberikan dukungan pada mamanya. Meski dalam hati dan pikirannya sendiri sedang berkecamuk tak karuan.
Sejak menjelang subuh dia mengirim pesan dan menghubungi ponsel Senja dan anak-anaknya, tidak ada satu pun yang membalas dan terhubung. Semua kompak sedang berada di luar jangkauan.
Dalam keadaan Senja sehat saja Darren paling tidak bisa jika tidak mendengar kabar dari sang istri, apalagi sekarang, yang notabene istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.
"Darr, kenapa lama sekali?" tanya Sarita, suaranya serak karena terus saja menangis dari semalam.
Mahendra bukan hanya sekedar suami bagi Sarita. Keduanya memang sudah seperti sepasang sepatu. Baik atau buruk akan berguna dan berfungsi dengan benar jika selalu berpasangan. Jika salah satu tidak ada, semua menjadi timpang. Apalagi sudah lama sekali sejak Mahendra mengundurkan diri dari perusahaan, Sarita dan suaminya tersebut hampir menghabiskan waktu dua puluh empat jam bersama. Kemana pun, dan dalam kondisi apa pun, tidak akan ada Sarita tanpa ditemani seorang Mahendra.
"Baru saja di mulai, Ma ... Mama, sabar. Papa pasti melalui semua dengan baik."
Sarita menyandarkan kepalanya pada dada Darren. Perempuan itu sedang mengira dirinya sendiri yang sedih dan merasa takut kehilangan pasangan. Tanpa disadari, sosok yang dijadikan sandarannya itu, kini juga merasakan hal yang sama. Perasaan Darren dari semalam begitu tidak tenang. Tidurnya tidak lelap, bayangan senyum Senja begitu membuatnya nelangsa. Senyuman yang seolah ingin mengatakan semua baik-baik saja, justru membuat perasaannya semakin carut marut.
Hampir empat puluh lima menit berlalu, lampu di depan pintu ruangan operasi masih menyala. Darren semakin gelisah, tidak ada satu notifikasipun yang masuk dari anak atau istrinya. Dugaannya semakin kuat, pasti terjadi sesuatu. Selama ini, jika sedang berjauhan, Senja pasti akan berkabar padanya.
Di sisi lain, Dasen, Beyza, Genta, Baby De, Sekar dan Derya, kini sedang berkumpul di stateroom Senja. Sementara Bae dan Arham yang sudah mengetahui yang sebenarnya terjadi, memilih menyapa undangan yang masih menikmati fasilitas-fasilitas di kapal pesiar. Hanya sekedar menjaga kesopanan dan pertanyaan yang mungkin bisa menimbulkan praduga tidak baik. Chun Cha dan Aleandro sendiri, menikmati waktu mereka bersama si kembar. Sebenarnya terbesit tanya di benak keduanya, ketika moment menjelang makan pagi seperti ini, justru yang mempunyai hajat belum ada yang muncul sama sekali.
Zain sendiri, masih terus memantau kondisi mamanya secara langsung. Sebenarnya, Senja sudah kembali tersadar, namun kondisinya memang masih lemah. Demi menjaga kestabilan, Zain tidak mengijinkan siapa pun untuk bertemu dengan mamanya.
Senja menurut saja apa kata Zain. Meski dalam hati begitu banyak yang permintaan atau keinginan yang ingin disampaikan. Senja yakin, semua orang sedang mengkhawatirkan kondisinya. Katena itu, sebenarnya, dia ingin sekali Zain membiarkan yang lain bertemu dengannya satu per satu. Selain itu, dia juga ingin menghubungi Darren. Suaminya itu pasti sudah sangat kelabakan, karena dia sama sekali belum menghubungi.
__ADS_1
"Zain, Ma---," Senja mengurungkan niatnya untuk berbicara.
"Iya, Ma. Ada yang sakit? Apa mama tidak nyaman?" Zain bertanya dengan wajah yang selalu menampakkan kekhawatiran. Meski pun berusaha setenang mungkin. Tetap saja kentara.
Senja menggeleng sembari tersenyum sedikit dipaksakan. Bagaimana mungkin Senja mengeluh dan cengeng di hadapan Zain. Tidak akan, Senja masih bisa berpikir dengan jernih. Putra yang sedang di hadapannya saat ini, pernah mengalami kondisi yang lebih parah dari apa yang dia rasakan. Zain tidak pernah mengeluh. Dia selalu menutupi sakit dengan senyuman. Rewelnya pun hanya saat-saat tertentu. Wajar di usianya saat itu. Dari sana, Senja merasa tidak pantas banyak mengeluh, apalagi di hadapan Zain.
"Ada apa, Ma?" Zain kembali bertanya, membuyarkan lamunan Senja yang jauh ke peristiwa puluhan tahun yang lalu.
"Mama haus, Zain." Senja mengalihkan pembicaraan.
Zain mengambilkan air putih untuk mamanya. "Setelah ini, Zain tinggal sebentar ya, Ma. Zain mau memberi tahu adik-adik dulu."
Senja mengangguk lembut, lalu menarik napas dalam dan memejamkan matanya. Pura-pura tidur tetapi tetap bersholawat dan berdoa dalam hati adalah cara terbaik membunuh kesepian dan waktu yang berjalan lamban. Tidak ada cara lain yang lebih baik dari itu. Sembari terus melantunkan sholawat dan doa, hati setidaknya merasa sedikit nyaman.
***
"Mama sudah jauh lebih baik, namun jangan dijenguk dulu. Kalau bertemu kalian, pasti akan terlalu banyak yang dibicarakan. Kalian makan pagi di atas saja, jangan sampai ada pertanyaan, kenapa tidak ada keluarga kita yang muncul. Nyalakan salah satu ponsel kalian. Kirim pesan pada daddy, signal sedang tidak bagus atau ada gangguan. Nanti jika kapal sandar, akan segera dihubungi."
Semua mengangguk setuju. Sekar mendekari Zain dan mengamit lengan sang suami. Walaupun dalam keadaan darurat dan berada dalam satu ruangan, Sekar dari tadi konsisten menghindari beradu pandang dengan Dasen.
Setelah saling bertukar pandang, akhirnya mereka memutuskan Beyza saja yang menghubungi sang daddy.
__ADS_1
***
Kembali ke rumah sakit di mana Mahendra baru saja menyelesaikan serangkaian prosedur pemasangan ring jantung. Kini pria tersebut sudah berada di ruang pemulihan untuk diobservasi terlebih dahulu apakah ada reaksi alergi, atau efek samping lain pasca tindakan.
Darren segera mengetuk layar ponselnya dua kali, begitu mendengar ada notifikasi di sana. Nama "My Princess" yang tertera di sana membuatnya bersemangat untuk segera menghubungi nomer tersebut tanpa melihat terlebih dahulu isi pesannya.
Kekecewaan pun tersirat jelas di wajah Darren, begitu sampai lima kali panggilan, ponsel Beyza ke.bali tidak bisa dihubungi. Tidak mungkin kapal pesiar yang memiliki koneksi langsung dengan satelit, mengalami kesusahan jaringan. Kecuali badai dan tsunami terjadi. Darren pun kini tidak kehabisan akal. Dia menghibungi Rangga. Benar saja, tidak sampai hitungan 30 detik, ayah angkat Genta itu sudah menjawab teleponnya.
"Iya, Darr," sapa Rangga dari seberang.
"Kok ponselmu bisa? Nggak gangguan?" Darren bertanya sembari melihat sebentar layar ponselnya. Memastikan yang dihubunginya memang benar Rangga.
"Memangnya kenapa? Gangguan apa?" Suara Rangga terdengar bingung.
"Senja dan anak-anak nomernya tidak bisa dihubungi. Apa kamu melihat mereka?"
Rangga yang sedang berada di dalam resto cruise mengedarkan pandang ke segala arah, mencari keberadaan orang-orang yang dicari Darren. "Ada anak-anakmu semua, kecuali Zain. Ibu Senja tidak ada di sini." Rangga menjawab dengan jujur.
"Tolong berikan ponselmu pada Dasen!" Darren mulai gelisah.
*****
__ADS_1
Numpang promo ke karya terbaru otor ya, Kak. Silahkan mampir,dan fav jika berkenan.
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Sisa Rasa, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=2097482&\_language\=id&\_app\_id\=2