
Zain memeriksa keseluruhan hasil pemeriksaan Senja yang baru keluar dua jam yang lalu. Dia menarik napas dengan berat. Lalu kembali menatap sederetan huruf yang terangkai menjadi kata demi kata yang menyatakan dengan jelas kondisi mamanya. Zain membacanya berulang-ulang, hingga lebih dari tiga kali.
"Bagaimana, Kak?" Tanya Sekar sembari mengusap-usap punggung Zain.
Keduanya kini berada di dalam ruangan Zain. Senja dan Darren langsung pulang tanpa menunggu hasilnya keluar. Serangkaian tes yang dilakukan Zain, sebenarnya sudah pernah Senja lakukan sendiri di tempat dan dokter lain. Hanya saja, Zain ingin memastikan semua secara langsung dengan keahliannya sendiri.
"Janin mama harusnya tidak dipertahankan. Mama harus segera melakukan pengangkatan rahim sebelum kanker itu menyebar. Stadium kanker mama sudah menuju angka tiga." Mata Zain menerawang jauh dan berkaca-kaca.
"Lakukan yang terbaik untuk mama, Kak. Sampaikan pendapat Kakak, jelaskan semua kemungkinan yang Kakak ketahui. Sekar yakin, mama pasti mau menerima."
Zain menggelengkan kepalanya tanpa tenaga. Tidak semudah yang diucapkan Sekar untuk memberi tahu apa yang sekarang ini dia yakini. Senja kemungkinan besar tidak akan tega membunuh janin yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Meski sempat menolak dan sedih saat mengetahui dirinya kembali hamil, namun melakukan tindakan aborsi apa pun alasannya, jelas akan sulit diterima oleh seorang Senja.
"Coba dulu, Kak. Memang berat, tapi setiap kondisi pasti selalu dihadapkan dengan beberapa pilihan. Kali ini, pilihan mama tidak banyak. Sebelum Allah memberikan ruh pada janin mama, sebaiknya proses itu segera dilakukan."
Zain meraup wajahnya dengan kasar. Lagi-lagi anak pertama Senja itu menghela napas dengan berat. Setiap yang bernyawa pastilah mati, namun kematian orang tersayang karena kanker bukanlah hal yang ingin Zain lihat kembali. Cukup dia menabur bunga di tanah merah nan basah milik papa kandungnya. Dia tidak ingin mengulangnya lagi, apalagi dalam waktu dekat ini. Zain merasa waktu, perhatian, dan kebahagiaan belum cukup diberikan untuk Senja.
"Tolong hubungi Genta dan Beyza, suruh mereka datang ke Sushi Tei nanti malam." Zain menyebut sebuah gerai resto makanan jepang sebagai tempat pertemuan.
Sekar pun segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Zain. Sejak mengetahui mamanya menderita kanker, suaminya itu lebih sering berdiam diri dan tidak bersemangat. Sekar memaklumi, sudah beberapa malam mereka lalui tanpa bercinta. Tole mengeliat, dan sering kali menempel menggelitik Sekar tanpa aba-aba dari sang empunya, namun sayang, hasrat Zain tidak berbanding lurus dengan si tole. Pria itu tertidur sembari memeluk Sekar dari belakang, membiarkan bokong sang istri merasakan aksi si tole tanpa tanggung jawab lebih lanjut darinya.
__ADS_1
Di waktu yang sama, namun di tempat yang berbeda. Dasen yang sedang makan siang di dalam ruangannya bersama Baby De nampak hanya mengacak-acak isi piringnya. Dia seperti enggan untuk mengunyah. Senja adalah napas bagi Dasen dan anak-anak yang lain. Bagaimana wanita itu mencintai dan sanggup melakukan semua hal untuk anak-anaknya, sangat membekas di hati Dasen. Kesabaran, ketelatenan sekaligus ketegasan yang ditampilkan bersamaan, selalu mengagumkan di mata Dasen.
"Das, kamu harus tetap makan. Kalau kamu sakit, mama pasti akan sedih." Suara Baby De yang lembut menyadarkan lamunan Dasen.
"Apa Kak De sudah tahu dokter terbaik untuk mama? Dasen akan mendampingi mama ke sana. Dasen tidak tenang bekerja kalau hanya menunggu. Katakan pada Bey dan Genta, mereka menikah besok saja. Tidak perlu pesta dulu. Yang penting sah dan bisa halal saat mereka tidur satu ranjang."
Baby De mencebikkan bibirnya. Pembicaraan yang serius, jika Dasen yang mengucapkan, tetap saja ada yang aneh terdengar di telinga. "Kenapa nggak ngomong sendiri?"
"Malas ikut campur. Gentong akan besar kepala kalau aku yang berbicara," jawab Dasen sembari mendorong agak jauh piring dengan isi yang masih utuh di depannya.
"Dasar keras kepala. Kamu mau dipanggilkan Denok? Apa perlu dia yang menyuapi, biar kamu mau makan? Heran kenapa Masih Nja bisa mempunyai anak lelaki selemah ini," dengus Baby De. Lalu Gadis itu menyuapkan sesendok makanan terakhir ke dalam mulutnya sendiri.
"Jijik."
"Enak, Kak. Coba saja." Dasen sengaja mendecapkan bibirnya sampai berbunyi.
"Benar-benar messum. Taruhan, pasti kamu sudah pernah sampai ke dada Denok." Baby De sengaja mengalihkan pembicaraan. Sungguh dia lelah dengan sepi dan suasana pilu di rumah tiga hari terakhir semenjak akhir pekan lalu. Semua susah untuk diajak pura-pura bahagia.
"Belum, Kak. Tapi Dasen pastikan, perlu dua tangan untuk meraup satu bagian saja." Titisan Darren itu memperhatikan kedua telapak tangannya seraya tersenyum geli sendiri. Membayangkan saja membuat roladenya bergerak naik.
__ADS_1
"Bener-bener messum." Baby De meninggalkan ruangan Dasen.
Bersamaan dengan itu, Delia masuk ke dalam sana membawa berkas yang diminta oleh Dasen. Tiga hari ke depan, anak kesayangan Senja itu memang harus melakukan perjalanan bisnis ke Italia untuk melakukan tanda tangan perjanjian dengan investor di cabang bisnis yang baru.
Kinerja Dasen jauh lebih padat ketimbang Darren dulu. Sekarang, hampir semua sektor usaha dijajal dan ingin dikuasai oleh Dasen. Kepak sayap Mahendra Corp semakin menjelang tinggi, perekrutan pegawai besar-besaran sudah dilakukan di seluruh cabang di kota-kota besar.
"Semua sudah lengkap, Del?" Tanya Dasen tanpa melihat ke arah sekretaris sekaligus temannya itu.
"Sudah, Pak. Apa ada yang harus saya kerjakan dengan cepat lagi?"
"Del, tolong cari tahu dokter kanker terbaik. Di belahan dunia manapun tidak masalah. Aku ingin kamu melakukan itu secepatnya. Kak Zain termasuk yang terbaik, tapi dia tidak bisa menangani mamaku secara langsung."
Dasen lagi-lagi melamun, bukannya dia tidak percaya atau mendahului Zain. Dia yakin kakaknya itu jelas tahu referensi terbaik. Akan tetapi, dia juga ingin melakukan hal yang sama. Jika perlu, dia ingin mendatangkan dokter itu. Sehingga namanya tidak kelelahan saat melakukan perjalanan ke sana ke mari.
Setelah menyanggupi perintah Dasen. Delia kembali ke ruang kerjanya sendiri. Perempuan itu dengan cepat melakukan apa yang menjadi tugasnya. Semenjak bekerja di tempat Dasen, Delia lebih semangat menjalani hidupnya. Kini, dia bisa menghidupi anak semata wayangnya dengan jerih payahnya sendiri.
Sementara itu, Genta yang sudah ada di kantor Beyza bersama tim wedding orginizer, sedang melakukan meeting darurat untuk mempersiapkan acara pernikahan mereka. Dengan konsep yang tidak diubah dari awal, pasangan itu hanya memberikan waktu sepuluh hari pada WO. Biaya yang berlipat-lipat lebih mahal dari harga normal tidak menjadi masalah bagi keduanya. Bahkan niat Bey untuk ikut menanggung biaya pernikahan mereka, ditolak mentah-mentah oleh Genta.
Selepas meeting, wajah Beyza kembali murung. Dia menyandarkan punggungnya dengan malas pada sandaran sofa yang ada di ruangannya. Sementara Genta yang tahu apa yang sedang dipikirkan calon istrinya itu menggeser duduknya lebih rapat dengan Beyza.
__ADS_1
"Mama pasti akan sembuh, Mbak." Genta membelai lembut rambut Beyza.