
Zain tidak langsung menjawab. Dia mendudukkan dirinya di sofa dengan bibir yang sudah maju beberapa senti.
"Katanya Zain bau obat. Suruh mandi dulu sebelum masuk. Memang sih Zain belum mandi, tapi kan biasanya Sekar malah seneng," keluh Zain.
"Mandi tinggal mandi, kok kakak ribet banget," sahut Dasen.
Zain terlihat berpikir. Andai semua tahu, sejak di atas cruise sampai saat ini, Zain hanya mandi satu kali dalam sehari. Mencium bau sabun, membuat kepalanya mendadak pusing. Air mandi tidak malah membuat badannya segar, pancuran shower atau rendaman bath up, membuat tulang-tulangnya serasa mau copot.
"Mandi Zain, setelah itu, temui dokter kemarin. Paksa Sekar buat USG. Biar jelas semua." Bae ikut memberikan tanggapan.
Senja kembali merasakan kantuk. Obat yang dikonsumsinya benar-benar membuatnya sulit terjaga dalam waktu yang lama. Di tengah perdebatan yang terjadi, wanita tersebut tertidur dengan lelapnya. Mengeluarkan dengkuran halus yang membuat semua orang seketika terdiam.
"Mama kalian sudah membaik. Lebih baik kalian mencari hotel terdekat untuk istirahat. Der, salam sama oma dan opa, katakan kami akan segera datang setelah kondisi mamamu benar-benar stabil," turur Bae.
Dasen segera masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu. Jelas dia ingin menemui Denok yang akan kembali ke Jakarta dengan penerbangan pukul dua belas siang nanti. Melihat mamanya sudah tersadar, membuat Dasen kembali memikirkan Denok. Sepanjang pernikahan Beyza dan Genta, dia sama sekali tidak memperhatikan kekasihnya itu.
Baby De, Derya, Genta, dan Beyza memutuskan untuk pergi ke hotel terdekat dengan rumah sakit. Dari sana, Derya akan langsung berangkat menuju airport. Sementara Zain masih maju mundur untuk kembali ke kamar.
Arham dan Bae masuk ke kamar istirahat mereka, sejenak menyegarkan diri, lalu ingin melakukan sarapan pagi dulu di kantin rumah sakit.
__ADS_1
Sekar keluar kamar dengan riasan wajah yang lumayan full, riasan itu bahkan lebih tebal dari dandanannya sehari-hari. Zain mengerjab-erjabkan matanya untuk meyakinkan diri bahwa yang dilihat di depannya memanglah sang istri.
"Gimana, kak? Cantik kan aku?" Sekar memutar tubuhnya. Dia memakai dres yang sama dengan yang dipakai saat acara resepsi Bey.
"Kamu mau kemana?" Mulut Zain sampai tidak bisa mengatup kembali. Bukan karena kecantikan Sekar, tapi karena keanehan perempuan tersebut. Di mata Zain, Sekar malah hampir menyerupai seorang biduan.
"Aku mandi dulu." Giliran Zain buru-buru masuk ke dalam kamar istirahat yang ditempati Sekar tadi.
"Aneh... lihat istinya cantik malah nggak suka. Tapi nanti di jalan ketemu yang bening-bening meleng. Dasar Tole," dengus Sekar sembari duduk di sofa.
Dasen yang baru keluar dari kamar mandi seketika tidak bisa menahan tawanya saat melihat Sekar. Suaranya yang berisik, sedikit mengusik tidur Senja.
"Das... Berisik," dengus Senja.
"Tenang... kakak ipar, tenang. Das keluar, mau ketemu yayang. Kakak silahkan jalan-jalan. Siapa tahu ada produser nyasar yang tertarik menjadikan kakak artisnya. Ada judul baru yang belum menemukan peran utama." Dasen mengatakannya dengan serius.
"Apa?" tanya Sekar, masih dengan wajah dan intonasi yang sama ketusnya.
"Kukutuk kau jadi biduan." Dasen buru-buru keluar ruangan. Menghindari Sekar yang sudah bersiap-siap melepas sandalnya yang berhak satu senti. Dia memilih berganti pakaian di hotel tempat Derya saja.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, seorang perawat masuk. Bukan untuk memeriksa kondisi Senja, melainkan ingin memberikan hasil pemeriksaan darah milik Sekar. Perawat tersebut menyodorkan amplop bertuliskan nama rumah sakit mereka berada pada Sekar. Karena tidak berani membuka sendiri, Sekar langsung membawa amplop tersebut ke kamar di mana Zain berada meninggalkan si perawat begitu saja. Bahkan sampai lupa mengucapkan terima kasih.
Karena ruangan sudah kembali sepi, Senja bisa kembali tertidur dengan tenang. Tidak lama, Arham dan Bae keluar untuk sarapan di lantai dasar. Bersamaan dengan itu, seseorang dengan tidak sabar menyerobot masuk ke dalam, mengabaikan Arham dan Bae yang ingin menyapanya.
Sampai di dalam dan mendekati brankar, sosok yang tidak lain tidak bukan adalah Darren Mahendra itu, langsung memberikan kecupan bertubi-tubi pada sang istri. Tidak peduli Senja sedang pulas, dia memberikan ciuman dari dagu terus berkeliling memutari wajah Senja hingga kembali ke dagu lagi.
"Das, mama ngantuk. Kamu ciumi Denok saja sana," dengus Senja tanpa membuka matanya terlebih dahulu.
Darren mengernyitkan keningnya sembari mencium bau badannya sendiri. Dia merasa wanginya masih tetap sama. Harusnya, Senja bisa tahu persis siapa yang mencium tadi walau tidak melihat langsung.
"Das, tolong pijitin kakinya mama. Salah sendiri ganggu tidur mama," seloroh Senja dengan seenaknya. dia malah menutup wajahnya dengan bantal.
Darren mendengus kesal. Ingin mengeluarkan omelan tapi rasa bersalah membuat dirinya memilih diam. Mungkin beberapa hari terua bersama Dasen membuat Senja terus teringat Dasen, bahkan di alam bawah sadarnya.
Darren duduk di tepian brankar, memijat kaki Senja dengan sepenuh hati. Senja menyibak bantalnya sedikit. Matanya mengeriyip sedikit mengintip Darren yang memandangi kakinya dengan bibir monyongnya yang menggemaskan.
"Das, ada kabar dari daddymu tidak? Nanti kalau daddymu pulang, dan mama masih tidur. Bilang sama daddy, banguninnya jangan kayak anak yang nggak ketemu mamanya bertahun-tahun. Kasih tahu daddy, bangunin mama pakai bibirnya yang nakal itu." Senja mengatakannya tanpa rasa malu.
Darren yang sadar baru dikerjai sang istri langsung beringsut turun dari brankar. Kembali mendekatkan diri pada wajah Senja yang sudah tidak tertutup bantal. Bibir keduanya pun langsung menyatu sempurna. Pagutan lembut diberikan oleh Senja. Menantang sang suami untuk membalas.
__ADS_1
"Astaga! Daddy... Mama... Stop it! Luka operasi Mama belum sembuh sama sekali. Duduk pun masih kesulitan, kalian sudah memacu adrenalin orang lain." Zain terlihat sangat kesal. Benar dia sudah dewasa, tapi apa yang ditunjukkan mama dan daddynya sungguh terlalu. Baru hitungan lima jari belum ada, seolah hanya mereka berdua yang memborong semua rasa rindu.
"Kami ada kabar untuk kalian." Zain menuntun Sekar mendekati Darren dan Senja.