Hot Family

Hot Family
Pergi


__ADS_3

Senja tersenyum tipis. "Aku selalu memberimu waktu. Selama aku masih hidup, itulah waktu yang kamu punya untuk melakukan apapun padaku. Tapi maaf, aku tetap akan pergi." Senja menarik tangannya dari genggaman Darren.


Tubuh suami Senja itu semakin bergetar. Bagaimana bisa tiba-tiba semua hancur seperti ini. Darren menatap istrinya itu dengan matanya yang basah. "Apakah ini hukuman untukku?"


"Bukan. Aku sedang menghukum diriku sendiri yang gagal menjadi istri yang baik. Aku egois karena menginginkanmu untuk tidak menjadi seorang pendendam. Aku salah. Tapi aku pastikan aku bukan peselingkuh, aku tidak murahan dan aku bukan pengkhianat dalam pernikahan kita," Lirih Senja, mengingatkan akan ucapan suaminya kemarin yang ditujukan padanya.


Darren tidak sanggup berucap apapun lagi, lidahnya terasa kelu, dia hanya mampu memandangi Senja yang terlihat juga sangat terluka. Kecemburuan yang terlalu, membuatnya lepas kontrol.


Beyza dan Derya menoleh pada kedua orangtuanya. Keduanya seketika berlari menghampiri Senja dan Darren. Beyza memeluk Daddynya dengan erat, sedangkan Derya hanya megusap-usap lengan mamanya dengan lembut.


"Dadd, kita hanya berpisah karena Bey bersekolah di tempat yang jauh. Tapi daddy tetap akan selalu ada di hati Bey."


Darren mengeratkan pelukannya pada anak perempuan satu-satunya itu. Dia menegadahkan kepala, berusaha menghentikan air matanya yang jatuh tidak tertahan.


Di usianya yang sematang ini, dengan kondisi keuangan yang mapan dan berlimpah. Hubungan jarak jauh dengan istri seharusnya tidak dia rasakan. Dia terlalu bergantung pada Senja. Tiga hari berjauhan mampu membuatnya uring-uringan, lalu akan seperri apa kehidupannya ke depan.


"Daddy, minta maaf," bisik Darren dengan lembut, lalu mengecup pucuk kepala Beyza.


"Tidak ada yang salah, kita hanya sedang berbeda pendapat." Beyza melonggarkan pelukan sang Daddy.


Senja tersenyum bangga mendengar jawaban anak perempuannya itu, dia melirik jam di pergelangan tangannya. Tiga puluh menit lagi dia harus berangkat ke bandara.


"Bolehkah, Daddy mengantar kalian sampai ke bandara?" Darren bertanya penuh harap menatap kedua anaknya bergantian.


Beyza dan Derya langsung mengangguk tanpa meminta persetujuan dari mamanya.


"Kalian ke mobil Daddy dulu. Daddy minta waktu sebentar untuk berdua saja dengan mama."

__ADS_1


Kedua anak itu pun menuruti daddy-nya tanpa protes. Kini, tinggallah Senja dan Darren di ruangan itu.


"Apa dengan menjauh dariku akan membuatmu bahagia?" Darren meraih tangan Senja,sembari mengubah posisi hingga membuat keduanya saling berhadapan.


"Aku tidak akan pernah lebih bahagia dari kemarin-kemarin, saat kamu mampu mengendalikan semua emosimu dengan baik," jawab Senja lirih.


"Kamu tidak akan meminta berpisah denganku kan? Ini bukan caramu meninggalkanku pelan-pelan kan? Bagaimana dengan Dasen, Ask? Dia akan kecewa padamu." Darren mencecar Senja dengan tanya.


"Aku sudah katakan, Kita tidak akan berpisah. Kecuali kamu yang menginginkan. Kita hanya terpisah jarak. Kamu atau aku, bisa saling mengunjungi kapan pun. Cintaku masih sama, harapanku juga masih besar, aku hanya sedikit kecewa. Bukan karena masalah Genta. Tapi kata-katamu yang merendahkanku dan ciuman paksamu. Itu membekas di sini." Senja menarik tangan dari genggaman Darren, lalu menempelkannya di dada.


"Aku tahu, Ask. Maafku saja tidak cukup untuk meredakan sakit hatimu. Aku sadar, perbuatanku kemarin, mengingatkanmu pada luka lama yang disebabkan oleh orang yang sama. Aku seharusnya tidak pantas mendapat kebaikan darimu, tapi aku malah selalu menuntutmu menjadi yang terbaik untukku."


Senja menelan ludahnya kasar. Dia tidak menangis, bukan berarti dia tidak sedih. Dia hanya menjaga perasaan suaminya. Kesedihan Senja, tentu akan membuat Darren akan semakin menyalahkan dirinya sendiri.


"Jaga Dasen baik-baik, kecewa atau tidaknya Dasen padaku, itu tergantung penjelasanmu. Aku percaya, kamu tidak akan membiarkan anak-anak kecewa dan berpikiran buruk pada kita." Senja menepuk-nepuk bahu suaminya.


Senja menerima dompet itu, membuka dan mengambil salah satu kartu tanpa melihat dan berpikir.


Darren tahu, tanpa uang darinya, Senja memang bisa hidup sangat mapan. Kemandirian istrinya tidak pernah dia ragukan.


"Apa kamu tidak ingin memelukku?" tanya Senja, sedikit ragu, tapi dia sendiri memang menginginkannya.


"Boleh?" Darren pun kembali bertanya. Senja mengangguk pelan.


Tidak ingin membuang waktu, Darren memeluk erat tubuh Senja, mengecup kening istrinya itu berkali-kali. "Aku mencintaimu, Ask. Entah aku akan sanggup atau tidak berjauhan denganmu. Aku akan mencoba menjalaninya. Jika aku tidak sanggup, jangan salahkan ak jika aku sampai menculikmu," bisik Darren, sedikit konyol.


"Kali ini tidak akan semudah itu," jawab Senja sembari menengadahkan kepalanya, menatap lembut pada Darren yang juga sedang menatapnya dengan sendu.

__ADS_1


"Bolehkah?" Darren menunjuk bibir ranum istrinya. Seperti awal mereka menjalin hubungam. Selalu meminta ijin dengan apa yang ingin dilakukan.


Senja mengedipkan matanya tanpa ragu. Darren langsung menahan tengkuk leher sang istri, lalu dengan penuh perasaan mulai menautkan bibirnya dengan Senja. Mereka saling memagut lembut, tidak ada pertukaran ludah dan persilatan lidah. Hanya saling memagut dan mengecup.


Darren memejamkan matanya, merasakan bibir istrinya yang lembut dan manis. Dia kini menginginkan lebih dari sekedar ciuman.


"Aku mau lebih, Ask..." pinta Darren dengan nafas yang sedikit memburu, sesaat setelah Senja melepaskan tautan bibir mereka.


"Itulah kamu. Di beri pipi kamu maunya bibir, di beri bibir kamu mintanya dada, begitu seterusnya. Kamu selalu meminta, dan aku selalu memberi. Tapi setelah itu, kamu lupa bagaimana cara menjaga apa yang sudah aku beri dan kamu miliki."


Kata-kata Senja terdengar tegas, lugas dan tepat menusuk di hati Darren. Sebuah sindiran keras, khas seorang Senja. Perempuan yang pintar melambungkan juga menghempaskan lawannya dengan ucapan dan tatapan yang sama-sama tajam.


Darren kembali menyadarkan diri. Senja benar. Seperti itulah dirinya selama ini. Sebelumnya dia berucap tidak pantas mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan dari sang istri. Tapi saat Senja mulai memberi kesempatan, dia akan meminta yang lebih dan lebih lagi.


"Aku harus berangkat," Senja melangkahkan kakinya keluar ruangan resto, menuju meja kasir dan membayar sewa ruangan dan makanan yang di pesan anak-anaknya.


Darren mengikuti Senja dari belakang. Setelah ucapan istrinya tadi, dia akan berusaha lebih bisa mengendalikan diri.


Setelah melakukan perjalanan selama sepuluh menit, akhirnya mereka sampai di lobby gate penerbangan internasinal. Koper-koper mereka dibawakan oleh porter.


Keempatnya berjalan mendekati pintu terminal keberangkatan dengan langkah pelan. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang berbicara satu sama lain.


Darren menarik napas dengan begitu berat, sungguh sangat berat. Bukan soal berpisah dengan Beyza dan Derya, kedua anak itu cepat atau lambat, pasti memang akan menempuh pendidikan di luar negeri. Dasen pun sebentar lagi pasti akan meninggalkannya, begitu juga dengan Zain.


Saat sampai di batas akhir pengantar, Beyza, Derya, Darren dan Senja kompak menghentikan langkahnya.


Beyza tiba-tiba berhambur ke dada bidang milik Darren Mahendra. Memeluk daddynya itu dengan erat. "Daddy jangan sedih seperti itu. Bey tidak tega melihatnya."

__ADS_1


__ADS_2