
Damin yang dalam masyarakat jawa termasuk dalam kategori orang yang mudah sungkan atau bisa dikatakan sangat hati-hati dan tidak enakan pada orang lain, seketika mengelus dada. Sedikit tidak menyangka dengan karakter Darren yang memang sering kali berucap sesuai apa yang dipikirkan dan seenaknya.
"Begini Pak Derem ...."
"Darren, Pak." Suami Senja langsung menyahut dan memotong ucapan Damin yang salah menyebut namanya.
"Oh, Pak Darren. Kami selaku orangtua dari Sekar memang sudah mengetahui hubungan yang terjalin antara Sekar dan Zain. Tapi untuk menjawab kesediaan Sekar menjadi istri dari Zain, saya menyerahkan sepenuhnya pada Sekar saja," jawab Damin.
"Intinya, sesama orangtua sudah tidak ada masalah ya, Pak. Kalau ada ketidak setujuan tentu pakaiannya tidak seragam seperti sekarang. Butuh persiapan matang untuk sampai pada hari ini. Sangat aneh kalau Sekar menolak. Tidak lucu, Kar. Langsung mengangguk dan tersenyum saja, jangan panjang-panjang."
Lagi-lagi Darren mengeluarkan kalimat panjang yang tidak terduga dari mulutnya. Senja seketika menaruh ponsel ke tasnya kembali. Padahal dia ingin memriksa pesan-pesan yang berderetan masuk di sana. Kini tangannya melingkari pinggang sang suami. Dia akan cepat mencubit jika Darren ingin menyampaikan kata-kata yang aneh lagi.
Damin memberikan isyarat pada Sekar untuk memulai bersuara. Gadis itu terlihat tidak malu-malu. Gayanya 11-13 dengan calon mama mertuanya. Berani, tapi tidak selantang Senja.
"Terimakasih sebelumnya atas kesempatan yang Bapak dan Daddy berikan." Sekar melempar senyuman pada Darren dan Damin bergantian.
"Kok Daddy? Namanya Darren lho, Kar. Manggil orangtua itu yang sopan. Bapak atau Ayah lebih pantes," dengus Damin, sedikit kesal karena merasa anaknya sudah tidak sopan.
Pak Dhe dan Bu Dhe Sekar, juga ibundanya saling melempar pandang. Mereka juga sependapat dengan Damin. Tapi mereka masih berpikir positif. Menganggap panggilan itu sudah kebiasaan di kehidupan para Sultan.
Darren sudah berniat membuka mulutnya, tapi Senja yang paham, langsung mereemas pinggul sang suami sedikit keras. Zain hanya bisa menahan senyumnya.
"Jadi nama bapaknya Zain ini Darren apa Daddy?" Pak De Sekar ikut bersuara.
Darren menarik napasnya sedikit berat, udara panas semakin terasa, bulir keringat menetes dari dahi pria yang semakin tampan di usianya yang sangat matang itu.
"Daddy itu artinya bapak," ucap Zain, buru-buru menyudahi salah paham dari hal yang sangat sepele.
__ADS_1
"Oooo ... ." Semua keluarga Sekar kompak menyahut.
"Lanjutkan, Kar!" Perintah Darren sembari melirik Senja yang juga sudah berkeringat, membuatnya ingin buru-buru kembali ke hotel.
"Sekar mau menjadi istri dari Kak Zain," ucapnya to the point tanpa basa basi.
"Nah, bagus. Cukup begitu. Jadi kapan pernikahannya?" Darren semakin mempercepat ritme pembicaraan.
"Sebentar, Pak Ren, kita tidak bisa sembarangan masalah itu. Kita harus tanya dulu sama Mbah Jarwo. Pernikahan itu sekali seumur hidup, biar langgeng, tidak banyak cek cok, banyak anak dan melimpah rejekinya," jawab Damin.
"Monggo, Mbah. Lenggah dateng mriki, kersane sekeco. (Mari, Mbah. Duduk di sini, supaya enak)." Ibunda Sekar menepuk sisi kosong di sebelahnya.
Setelah Mbah Jarwo pindah ke tempat yang ditunjuk, perhitungan pun dimulai. "Wetone apa, Nduk?" tanya Mbah Jarwo dan Sekar pun menyebut wetonnya dengan menggunakan bahasa jawa yang sangat halus.
"Kalau kamu, wetonnya apa, Le?" Pandangan Mbah Jarwo beralih pada Zain. Karena sudah tahu saat ke tempat Mbah Gondrong, Zain pun menjawab tanpa berpikir panjang.
"Kok kamu tahu, Zain? Mama saja yang melahirkan kamu tidak tahu. Memang weton itu dapatnya dari mana?" Senja terlihat kebingungan.
Senja mengangguk dan tersenyum, meski sebenarnya dia masih bingung. Tapi wajah Darren sudah mengirimkan signal agar dia tidak bertanya lebih lanjut untuk mempersingkat waktu.
Mbah Jarwo seperti sedang berpikir dalam angan. Mulutnya komat kamit dengan jempol tangan terus berhitung dengan menyentuh ruas jari yang lainnya.
Semua terdiam, tidak ada satu pun yang berbicara. Bahkan Bapak dan Ibunda Sekar tampak sangat tegang. Berbeda dengan Darren yang malah menyeka keringat di kening Senja dengan lengan tangannya yang tertutup kemeja batik.
Zain dan Sekar saling pandang. Keduanya sangat tenang. Dalam hati berharap semua berjalan lancar dan sesuai rencana.
"Weton Sekar dan Zain ini sangat cocok. Kalau bener jalannya, bakalan murah rejeki dan banyak anak." Mbah Jarwo memecah keheningan dengan suaranya yang kecil tapi melengking.
__ADS_1
"Alhamdulillah," ucap bapak, ibu dan kerabat Sekar dengan kompak.
"Kalau itu sepertinya sudah pasti. Tanpa dicocokkan wetonnya, setiap keturunan Darren sudah tentu kaya raya dan banyak anak." Darren megucapkan dengan santainya.
Senja menyerah. Dia menurunkan tangan dari pinggul Darren. Sepertinya cubitan saja tidak mempan untuk mengingatkan sang suami untuk tetap menjaga ucapannya.
Yang lain tidak menimpali. Termasuk Mbah Jarwo. Menyadari perbedaan tradisi keduanya saja suduh cukup untuk menghindari perdebatan panjang yang tidak penting.
"Nikahnya kapan, Mbah?" Kali ini Zain yang menunjukkan ketidak sabarannya.
"Ini ketemu tanggal baiknya masih tahun depan."
Jawaban Mbah Jarwo seketika membuat Sekar dan Zain lemas. Mereka sudah berekspektasi kalau jawaban orang pintar itu akan sama dengan Mbah Gondrong. Nyatanya, semua jauh dari angan.
"Kenapa selama itu? Bukankah pernikahan itu adalah hal yang baik? Harus disegerakan kalau kedua belah pihak sudah niat dan memenuhi syarat pernikahan. Sekar dan Zain sudah dewasa, saling cinta dan mapan." Darren kembali mengeluarkan pendapatnya.
"Tidak bisa, Pak. Karena semua ada hitungannya. Kalau ditentang malah akan menimbulkan bala atau kesialan. Tidak hanya pada mereka berdua, tapi juga bisa ke anggota keluarga yang lain," timpal Pak De Sekar, mulai berani ikut menyumbangkan suaranya.
"Tapi lebih sial lagi kalau keduanya sering berdua terus tidak tahan godaan, Yang ada balanya bakal jadi nyawa," sahut Darren.
"Maka dari itu, Pak. Kita kudu sering-sering ingatkan anak-anak. Biar hati-hati menjaga diri. Tidak sering berduaan di tempat sepi. Biar setan tidak membaur dan membisikkan sesuatu yang belum saatnya dilakukan," tutur ibunda Sekar.
"Kalau begitu, Sekar biar di sini saja. Kerja di rumah sakit Jogya sini kan juga banyak." Damin menimpali dengan memberi usulan.
"Ya tidak bisa begitu, Pak. Sekar sudah tanda tangan kontrak perjanjian kerja dengan rumah sakit di Jakarta. Tidak sembarangan membatalkan sepihak. Bisa-bisa kita malah kena denda," bantah Sekar.
Bola mata Senja bergerak lincah mengikuti siapa saja yang sedang berbicara. Tidak ingin menyumbangkan suaranya sedikit pun. Karena takut ucapannya akan menyinggung. Yang sedang dipermasalahkan saat ini, sungguh di luar nalar keluarganya.
__ADS_1
"Sebenarnya bisa dipercepat, tapi ... ."
"Apa, Mbah?" Zain dan Sekar kompak menyahut sebelum Mbah Jarwo menyelesaikan ucapannya.