Hot Family

Hot Family
mulai


__ADS_3

Senja mengernyitkan dahi hingga ke dua alisnya menyatu. Dia tidak bisa mengenali sosok perempuan yang sedang berbicara dengan Denok. Suara yang keluar dari perempuan itu serasa memenuhi semua ruangan.


Darren ingin berbalik arah begitu melihat keberadaan Erika di sana. Tapi Senja sudah terlanjur melihatnya juga. Kalau Darren menghindar, pasti istrinya itu akan berprasangka yang tidak-tidak.


Melihat keberadaan Darren dan Senja, membuat Denok salah tingkah. Dia segera menempelkan jari telunjuk ke bibir agar ibunya itu menghentikan bicaranya. Karena Erika tidak paham juga, Denok akhirnya memutar tubuh Erika hingga menghadap pada Senja.


Mata Erika seketika melebar, dan mulutnya menganga dengan sempurna. Dari atas ke bawah, tubuh dan penampilan Senja tidak banyak berubah. Bahkan terlihat lebih berisi dan matang.


Ibu Denok itu, menepuk-nepuk pipinya, untuk memahami, apa yang di hadapannya saat ini kenyataan, bayangan ataukah imajinasi semata.


Senja melirik Darren yang malah menatapnya penuh arti sembari berjalan mendekati sang istri.


"Maaf, Bu. Kalau kedatangan Ibu saya membawa kegaduhan. Saya akan menyuruh Ibu saya pulang, sekali lagi, saya mohon maaf." Denok terlihat sangat tidak enak. Dia belum tahu, kalau ibunya itu kenal dengan kedua orangtua Dasen.


Senja hanya menjawab dengan mengangguk sembari tersenyum tipis pada Denok, Erika dan Darren secara bergantian.


Erika tetap terdiam. Tangan Denok yang menarik pergelangan tangannya, diabaikan begitu saja. Erika tidak bergeser sedikit pun dari tempatnya semula.


Berbeda dengan Senja, meski dia terkejut, istri Darren itu tetap bisa mengendalikan emosi dan menguasai keadaan. Dia sama sekali tidak menyangka, kalau Denok adalah anak dari mantan partner nakal suaminya.


Paras Denok, cantik dan manis layaknya perempuan jawa yang ayu pada umumnya. Sedangkan Erika, sekilas masih ada wajah oriental.


Darren langsung mengamit lengan Senja dengan posesif. Dia tahu, istrinya itu tidak butuh dukungan atau dikuatkan sedikit pun kalau hanya untuk menghadapi seorang Erika. Dibanding dirinya, Senja lebih pintar dalam menghadapi ancaman.

__ADS_1


Erika menghempaskan tangan Denok, mendekati pasangan suami istri yang membuatnya frustasi, hingga mau dinikahi Mbah Gondrong. Sungguh, kedatangannya ke Indonesia awalnya hanya ingin menyusul Darren. Kenyataannya, dia malah terhanyut dengan rayuan maut suaminya hingga lupa tujuan awal.


"Apa kabar, Nja?" tanya Erika, gaya dan cara bicaranya benar-benar masih sama seperti dulu.


Senja menatap Darren, memasang wajah kebingungan. Tapi tentu saja dia sedang Berpura-pura. Ingatan Senja sangat tajam. Bahkan untuk hal-hal kecil yang harusnya terlupakan.


"Kamu kenal saya?" tanya Senja dengan raut wajah yang sudah berubah menjadi datar.


Denok menepuk dahinya sendiri agak keras. Lalu kembali menarik tangan Erika. Dia tidak ingin kelakuan ibunya bisa berakibat pada pekerjaan yang baru saja dijalani.


"Jangan pura-pura lupa, Nja. Suamimu saja tadi langsung ingat padaku." Erika sepertinya sengaja memancing cemburu perempuan yang kini menjadi atasan anaknya itu.


Senja menoleh pada Darren sekilas. Lalu kembali menatap Erika dengan tenang. "Kalau suamiku ingat, bukan berarti aku juga harus ingat bukan? Aku lupa seberapa penting kamu di masa laluku sehingga aku harus mengingatmu."


Darren menarik napas dengan berat. Senja adalah ratu dalam menekan perasaan orang dengan kalimat yang terlontar dari mulutnya. Kata-kata terdengar pelan tanpa emosi, tapi tajam dan menusuk.


"Kalau kamu lupa, kamu bisa menanyakan padanya siapa aku. Aku yakin, sampai sekarang dia masih teringat dengan kebersamaan kami." Erika tidak sungkan sedikit pun mengatakan di depan Denok. Membuat anaknya itu ingin menghentakkan kaki dan berlari menyembunyikan wajahnya di bawah kasur.


"Siapa dia, Ask?" Senja menuruti kata-kata Erika. Membuat Darren jadi bingung harus menjawab apa. Menjelaskan siapa perempuan itu, pasti akan mengakibatkam Erika merasa diingat. Mengatakan lupa, nyatanya dia ingat aibnya itu. Hanya aib, dia bahkan tidak ingat rasanya.


"Kamu ingat tidak perempuan yang datang di apartemen di negara S dulu? Yang minta pertanggungjawabanku tiba-tiba karena mabuk." Darren memilih amat dengan menyebutkan peristiwa yang memang melibatkan Senja saat itu.


Senja tersenyum pada suaminya, lagi-lagi senyuman yamg tidak enak. "Oh, yang itu. Tapi kenapa beda ya? Dulu kenceng, sekarang kenapa begini? Kamu sudah tidak perawatan lagi ya?" tanyanya pada Erika.

__ADS_1


Ibu Denok itu sungguh sangan keki mendengar pertanyaan Senja yang sengaja menghina dan meremehkan.


Senja menurunkan tangan Darren dari lengannya, lalu mendekati Erika yang sedikit bersungut-sungut karena fisiknya yang dirasanya masih paripurna, malah diremehkan oleh Senja.


"Tapi apapun bentukanku sekarang, setidaknya aku yang menyentuh suamimu terlebih dahulu. Bisa dikatakan, kamu menikmati bekasanku." Erika mengungkit tanpa malu.


Senja melirik Denok. Gadis itu terlihat sangat kesal dan marah. "Kamu baik-baik saja, Nok?" tanyanya.


Denok menggeleng lemah. "Tidak, Bu. Saya tidak baik-baik saja. Sungguh saya malu dan meminta maaf."


Senja membalas dengan senyuman tipis. "Sepertinya, kamu tidak bisa bekerja di sini lagi. Urusanmu dengan Dasen, saya tidak mau ikut campur. Kalian bisa bicarakan sendiri nanti," putusnya.


Erika langsung tidak terima dengan ucapan Senja pada anaknya. "Jangan sombong kamu, Nja. Kamu bisa seperti sekarang, tentu karena suamimu. Lagipula, sangat tidak adil kamu memecat anakku hanya karena masalah pribadimu ke aku. Kenapa? Kamu merasa terancam? Kamu takut suamimu akan tertarik lagi padaku?"


Darren ingin membuka mulutnya, tapi Senja buru-buru mengangkat telapak tangannya di depan wajah suaminya persis agar diam saja.


"Aku tidak peduli ada yang mengatakan aku tidak profesional. Nyatanya perusahaan ini punyaku, dan aku pemimpinnya. Mau seperti apa aku bersikap? Jelas itu terserah padaku. Lagipula, kenapa kamu seperti todak terima begitu?" Senja menatap tajam Erika, perempuan itu seperti tidak ada takutnya, dan kembali membalas tatapan itu.


"Kamu pikir perusahaan ini, punya Dasen? Kamu senang dan ingin memamerkan bahwa menantumu itu adalah pengusaha kaya raya dan sukses?" Cecar Senja, pelan tapi sangat tegas.


"Sekarang kebanggaanku lebih dari itu, Nja. Darren mungin tidak berjodoh denganku karena ada kamu. Tapi nyatanya, selera anak kalian tetap berhubungan dengan diriku. Ini bukan kebetulan, bukti nyata sekali, kalau Darren dan Dasen memiliki selera yang sama."


"Benarkah? Jangan terlalu bangga dulu. Ingat! kamu bersama seorang Darren hanya karena apa. karena uang. Tidak cukupkah waktu puluhan tahun untuk membuatmu sadar? Obsesi boleh, tapi semestinya kamu harus sadar diri," tukas Senja.

__ADS_1


"Sudah, Bu! Kenapa Ibu sangat tidak tahu malu seperti ini?" Denok kembali menarik tangan ibunya. Kesabaran yang dimiliki sudah hampir habis.


Senja menyuruh Denok melepaskan tangan Erika. Lalu dia sendiri, semakin memangkas jarak antara dirinya dan perempuan itu. Wajahnya kini hanya berjarak dua jari dari Erika.


__ADS_2