
Seperti yang sudah dikatakan dan direncanakan sebelumnya. Beyza benar-benar melakukan pengintaian. Baik pada orangtua Inez maupun pada sosok sahabat sekaligus kekasih dari saudara kembarnya itu.
Tentu bukan Beyza yang turun ke lapangan langsung. Genta memberikan orang-orang kepercayaannya untuk membantu memuluskan rencana Beyza.
Setelah memastikan jika Inez sudah kembali ke Jakarta, Beyza pun juga bersiap kembali ke sana bersama dengan Darren dan Senja. Ketiganya diantar Derya menuju bandara.
Minggu ini, akan menjadi minggu yang padat bagi keluarga Mahendra. Pernikahan sederhana Zain yang akan dilangsungkan lima hari lagi, tentu membutuhkan persiapan yang matang. Meski tidak ada resepsi, keluarga tetap datang berkumpul untuk menyaksikan pernikahan Zain dan Sekar.
Setelah pernikahan selesai, sesuai janji Senja, tentu dia akan datang secara baik-baik ke rumah Inez untuk pembicaraan serius mengenai kelangsungan hubungan Derya dan gadis itu.
"Jaga dirimu baik-baik, Der. Hidup tidak berhenti pada kesalahanmu. Di depan, masih banyak hal yang harus kamu lakukan. Kesalahanmu hanya pantas digunakan sebagai pengingat, akan ada akibat yang harus kita terima dan kita jalani setelahnya, cepat atau lambat." Darren menepuk pumdak Derya tiga kali.
"Ingat pesanku, Der. Jangan tanggapi Inez selama waktu yang belum aku tentukan. Meskipun kesalahan ini kamu yang buat, tetap saja kami peduli. Kalau suatu saat ada yang mempengaruhi kamu untuk mengabaikan kami, dengan pikiran yang sehat dan jernih, seharusnya kamu tahu siapa yang harus kamu abaikan," tegas Beyza. Gaya bicaranya saat ketus seperti itu, sangat mendekati Bae.
Darren menepuk-nepuk punggung tangan Beyza yang mengamit lengannya. Hanya Senja yang diam, dia tidak ingin mengucapkan pesan atau nasihat apapun saat ini. Hanya senyuman tipis yang diberikan.
"Boleh Derya memeluk, Mama?" tanya Derya hati-hati.
Senja tidak menjawab dengan kata-kata, perempuan itu langsung memeluk Derya dengan erat. Satu telapak tanggan mengusap punggung anaknya naik turun. Meskipun tidak banyak lagi kata yang keluar dari mulut Senja, nyatanya kasih sayang dan kehangatannya masih sampai di hati Derya.
Suara panggilan untuk penumpang pesawat dengan tujuan Jakarta, membuat Senja melepaskan pelukannya. Lagi-lagi, tanpa sepatah kata pun, Senja membalikkan badan, dan segera mengajak Darren dan Beyza masuk ke gate keberangkatan.
Derya menatap ketiga punggung anggota keluarga yang paling dekat dengan dirinya itu dengan pandangan mata nanar. Tangannya menyentuh dadanya yang terasa nyeri. Bukan karena sakit, melainkan masih merasakan penyesalan, rasa bersalah, sekaligus kecemasan akan kelanjutan hubungannya dengan Inez.
Di sisi lain, Zain yang sedang tidak ada jadwal praktek, sedang bersantai bersama Dasen di lantai empat. Dasen sendiri sengaja mengambil cuti karena merasa badannya sedikit tidak fit.
"Mama dan Daddy hari ini pulang, Das." Zain menurunkan sedikit buku yang dibacanya agar bisa melihat Dasen yang sibuk berbalas pesan dengan Denok.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Dasen, antara senang dan kaget berbaur jadi satu.
"Biasa saja kali. Kamu tidak bertemu mama masih hitungan lima jari," dengus Zain.
"Ini bukan masalah tidak bertemunya, Kak. Tapi mamaendiamkan Dasen, itu tidak benar. Mama tidak bisa seperti itu. Das, akan bicara dengan mama. Pilihan Dasen, tidak akan mempengaruhi bagaimana sikap Das nantinya pada mama. Walaupun cinta itu buta dan tidak bisa memilih, Dasen tahu, jauh sebelum ada Denok atau perempuan mana pun, Mamalah yang paling mengerti dan memahami Das."
Zain mengambil ponselnya yang ada di atas meja bundar di sampingnya. Sebuah notifikasi pesan dari Senja. Belum selesai membaca sepenuhnya, Zain mengernyitkan keningnya karena merasa heran.
"Wow ... Beyza kembali ke Indonesia. Pasti ada yang luar biasa di sini." Zain menunjukkan wajah heran dan terkejut bersamaan.
"Bey? Tidak mungkin. Pasti hanya berkunjung," sahut Dasen.
"Kita lihat saja. Tapi sepertinya Bey akan menetap. Semakin bagus. Keluarga ini akan kembali rame."
"Tidak mungkin, Bey pulang begitu saja tanpa alasan yang kuat. Siapa tahu, dia bertemu jodohnya di sini. Das akan memperkenalkan pada relasi yang oke, atau kakak bisa mengenalkan pada Dokter yang tampan dan mapan."
"Sembarangan, kamu pikir, Bey itu apa. Dia bisa mencari sendiri."
"Terus mama menghubungi Kakak maksudnya apa? Minta dijemput? Biar Das saja yang jemput."
"Tidak bisa, karena mama mqau langsung mengajak kakak ke designer untuk memesan Tuxedo untuk pernikahan kakak."
"Lah, kan Das juga butuh. Masak iya adik kakak begini penampilan timpang," sahut Dasen.
"Alasan! Bilang saja kangen mama." Zain beranjak berdiri. Karena satu jam lagi, pesawat sudah akan mendarat. Dia harus on time. Tidak ada kata boleh terlambat di keluarga Darren Mahendra.
"Kalau mau ikut, ayo! Tapi cepetan," ucap Zain, sebelum benar-benar meninggalkan rooftop lantai empat.
__ADS_1
Kini kedua kakak beradik tidak kandung itu sudah berada di kawasan bandara. Zain berada di gate penjemputan, sedangkan Dasen yang bertindak sebagai driver, menunggu di dalam mobil Hummer H2 berwarna hitam doff tidak jauh dari lobby penjemputan.
Beyza yang memang sudah lama tidak bertemu Zain, seketika berlari kecil, begitu melihat kakak pertamanya itu. Beyza tidak kenal malu langsung memeluk Zain, dan mencium pipi kakaknya itu bertubi-tubi. Seakan tidak peduli, dengan puluhan mata yang menatap mereka dengan tatapan heran dan juga aneh.
Setelah terlepas dari Beyza, Zain mencium punggung tangan Darren dan Senja bergantian. "Mama sedikit pucat, apa Mama sakit?" Tanyanya.
Sebagai seorang dokter, tentu Zain sangat teliti dan paham kondisi seseorang yang sedang sehat atau tidak.
"Mama tidak kenapa-napa. Mungkin kurang olahraga," kilah Senja. Untuk sementara Zain tidak ingin mendebat pernyataan mamanya itu.
Zain mengambil alih koper yang ada di tangan Darren. Zain berjalan bergamdengan tangan dengan Beyza. Membuat orang yang tidak tahu, akan mengira keduanya adalah pasangan. Senja dan Dareen tidak kalah mesra berjalan di belakang kedua anaknya itu.
Raut wajah Senja seketika berubah, begitu tahu Dasen yang mengemudi kendaraan yang menjemputnya. Bibir merah alami itu, seketika maju beberapa senti. Darren yang selalu gemas dengan ekspresi istrinya itu, hanya bisa menahan diri.
Keberadaan tiga anaknya, tentu menghalangi keinginan untuk melumaat habis bibir yang tidak pernah berubah rasanya sejak dia pertama kali menyesapnya dulu.
Beyza mencium pipi kiri kanan Dasen sekilas sembari menyapa dan menanyakan kabar kakak keduanya itu.
Tidak lama, Dasen langsung menggerakkan rodanya untuk maju meninggalkan area bandara. Baru 20 menit mobil itu bergerak meninggalkan palang pintu keluar bandara. Dasen terpaksa menghentikan mobilnya.
Kerumunan yang hanya beberapa meter di depan mereka, membuat akses jalan tertutup total. satu mobil posisi menyamping dengan pintu samping yang hampir terlepas, dan satu mobil lain dengan kondisi kap depan yang hancur parah memenuhi badan jalan.
"Zain lihat dulu." Anak pertama Senja itu langsung melepas seatbeltnya untuk turun. Dengan lincah, Zain menerobos kerumunan.
"Apa yang terjadi, Pak?" tanyanya pada salah seorang warga yang ikut berkerumun.
"Kecelakaan, Pak. Tapi aneh. Mobil hitam itu penumpangnya sudah tidak ada. Perempuan itu, korban dari mobil yang silver ini." Pria berperawakan tinggi besar itu menunjuk kendaraan yang dimaksud dan seorang perempuan yang tidak sadar dengan kondisi wajah yang tertutup rambutnya. Darah mengalir dari kepalanya.
__ADS_1
Tidak lama ambulance datang. Dua perawat turun dari mobil itu membawa tandu. Ketika satu perawat menyibak rambut perempuan itu, Zain seketika tercekat. Dia perlahan berusaha mendekati korban itu untuk memastikan penglihatannya.
"Tidak mungkin! Semoga bukan, ini hanya mirip," gumamnya pada diri sendiri.