Hot Family

Hot Family
ke rumah Angelica 1


__ADS_3

"Begini, Dadd ...." Derya ingin memulai ceritanya tapi Beyza mencengkram lengan saudara kembarnya itu untuk berhenti.


"Biar aku saja," ucap Beyza.


"Ayo, Bey." Darren semakin hilang kesabaran.


"Jadi begini, Dadd. Sejak kebodohan Derya muncul kepermukaan, Bey mencari tahu kenapa bisa sampai kejadian itu terjadi. karena Inez itu dulunya ...."


Gadis itu bercerita dari awal sampai akhir dengan detail. Sebagai pengacara, meruntutkan sebuah kejadian, bukanlah hal yang sulit bagi Beyza. Cara bicaranya yang lugas dan tegas membuat yang mendengar paham dalam satu kali penjelasan.


Begitu Beyza mendengar nama Angelica Malito mulai disebut. Raut wajah Darren mulai berubah. Yang tadi terlihat datar, kini rahangnya mengeras dan sorot matanya berubah tajam penuh kebencian. Apalagi saat tahu anak-anaknya baru saja diserang oleh orang suruhan Angelica, tangan Darren langsung mengepal sempurna, dan? wajahnya semakin memerah.


Senja menampilkan wajah dingin yang sanggup membuat siapa pun tidak nyaman melihatnya. Mematahkan lawan tanpa menyentuh, seperti itulah Senja.


Sampai puncak dari cerita, di mana Beyza mengatakan Genta sampai terkena luka tusukan di bahunya karena melindungi Derya. Sudah habis kesabaran seorang Darren Mahendra. Pria itu langsung berdiri dan menggebrak meja kerjanya, membuat ketiga orang yang lain kompak menarik napas dalam.


"Ask, bukan di sini melampiaskan kemarahannya." Senja mendekati Darren dan mengusap-usap punggung suaminya itu untuk sedikit meredam emosinya.


"Bagaimana keadaaan Genta sekarang?" Darren sedikit memberi perhatian pada calon menantunya itu.


"Terimakasih untuk bertanya. Rupanya Daddy akan semakin mengakui bahwa Genta memang yang terbaik untuk, Bey. Genta baik-baik saja. Dia sekuat ultramen gingga, Dadd." Beyza malah menjawab dengan bercanda.


Darren dan Senja kompak mendengus kesal, entah menurun dari mana sifat dan sikap Beyza yang spontan dan tidak terduga namun sangat tegas itu.


"Di mana rumah Angelica? Tidak perlu menunggu lusa. Kita datangi mereka sekarang juga. Kamu mandi dulu, Der, kita harus pastikan mereka menyesal karena bermain-main dengan keluarga kita." Darren meninggalkan ruangan tanpa menunggu jawaban dari Derya.


"Senja ikut ya, Ask. Kan dia sakit hatinya sama Senja." Perempuan itu setengah berlari untuk menyamai langkah suaminya.

__ADS_1


"Tentu saja kamu ikut, Ask. Aku takut emosiku tidak terkendali. Kalau ada kamu, aku percaya, semua akan aman." Darren berusaha tenang, padahal hatinya sedang bergemuruh menahan kemarahan yang luar biasa.


Derya mash duduk di tempatnya tadi, perasaannya sungguh campur aduk sekarang. Seumur hidupnya, baru kali ini dia membuat masalah, dan masalah yang dia buat tidak tanggung-tanggung, bahkan membawa Genta sebagai korbannya.


"Aku mau mandi dulu, Der. Aku mempunyai video penyerangan tadi. Tapi kita akan simpan itu terakhir kali, karena aku masih menyuruh anak buah Genta mencari identitas dan alamat mereka satu per satu." Beyza berdiri lebih dulu dan meninggalkan ruangan.


Derya benar-benar malu, bahkan dia menyesali pemikirannya yang pernah nekat ingin memilih Inez meski semua keluarga menentang. Ternyata, disaat seperti ini, keluarganya lah yang terdepan membela.


Dasen yang sedari berada di dalam kamar sembari menyalakan musik yang sangat keras, tidak tahu menahu ada peristiwa besar yang sedang dialami keluarganya.


Titisan Darren itu akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamarnya, bersantai di ruang bawah sembari menunggu makan malam tiba.


Raut kebingungan jelas terlihat di wajahnya. Dia melihat Darren, Senja, Derya dan Beyza menuruni anak tangga dengan raut wajah yang tidak biasa dan melewatinya begitu saja. Dasen meyakini, pasti ada sesuatu yang serius sedang terjadi.


"Hati-hati, jangan kasih ampun." Beyza memberi semangat dengan mengepalkan tangannya ke atas.


Darren, Senja dan Derya masuk ke dalam mobil. Mereka sepakat akan memainkan peran mereka terlebih dahulu. Datang langsung menyerang lawan, bukanlah cara yang tepat bagi mereka. Terlihat bodoh diawal akan membuat musuh menjadi lengah.


"Bey, mereka mau ke mana sih?" Pertanyaan Dasen menghentikan langkah kaki Beyza.


"Ke rumah Inez."


"Inez? Mau ngapain?" Dasen mengernyitkan keningnya.


"Mau memutuskan baik-baik." Beyza menghempaskan bokongnya tepat di samping Dasen.


"Putus? Kenapa? Berhenti berjuang? Tapi, mana ada putus baik-baik. Pasti ada sesuatu." Dasen semakin dilanda rasa penasaran.

__ADS_1


"Perjuangan harus selesai saat kita menyadari orang yang sedang diperjuangkan tidak pantas untuk mendapatkan cinta kita."


"Heleh, sok. Mentang-mentang sudah dapat restu. Lihat saja, kalian tidak akan mudah melangkahiku." Dasen mengumpat karena mendengar jawaban Beyza yang tidak langsung pada permasalahan.


"Dengan senang hati kami akan menunggu kesulitan apa yang ingin kakak berikan. Ingat, Kak, membantu memudahkan orang lain itu akan mempermudah urusan kita sendiri." Beyza berdiri, lalu berjallan menapaki anak tangga pertama.


"Jadi kenapa Derya harus putus sama Inez?"Dasen sedikit berteriak karena kesal.


Beyza menghentikan langkah dan menoleh sembari melemparkan senyumnya. "Karena mereka memang tidak boleh bersama. Perbedaan tidak pernah menyatukan Derya dan Inez. Kita layak memblokir nama Inez agar tidak masuk ke dalam keluarga kita."


Lagi-lagi Beyza menjawab rasa keingin tahuan Dasen dengan mengecewakan. Sangat sulit membuka mulut Beyza untuk menceritakan sesuatu pada orang lain, jika adiknya itu sudah meyakini suatu hal yang tidak perlu semua orang untuk mengetahui.


Sementara itu, Darren, Senja dan Derya kini sudah sampai di kediaman keluarga Inez. Rumah yang tidak berpagar depan itu, empat kali lebih kecil dari rumah Darren. Dari luar rumah itu terlihat temaram, sunyi, seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.


Setelah hampir lima menit menunggu, akhirnya pintu rumah itu terbuka juga. Angelica sangat terkejut dan tidak menyangka dengan kedatangan ketiga orang tamunya.


Penampilan Angelica yang sekarang, sungguh jauh di bawah standartnya sendiri. Darren menyunggingkan senyum sinis merendahkan, membuat Angelica mengumpat dalam hati. Apalagi dia melihat Senja semakin cantik, elegant dan juga mahal penampilannya.


"Mau apa kalian datang ke sini?" Angelica bertanya dengan ketus.


"Apa begitu caramu menyambut tamu?" Senja balik bertanya, tidak ketus, tapi juga jauh dari kata ramah.


"Kita duduk di luar saja." Angelica malah menutup pintu rumahnya, lalu menunjuk kursi anyaman bambu etnik yang ada di beranda rumahnya.


"Langsung saja, katakan tujuan kalian ke mari. aku sedang tidak ada waktu." Angelica kembali bertanya, kali ini lebih sinis dari pada yang tadi.


"Tentu saja kamu sibuk, pakaian yang kamu kenakan jelas menandakan kamu harus segera masuk dan mencuci pakaian." Darren tidak bisa menahan mulutnya untuk menanggapi ucapan Angelica.

__ADS_1


Daster tanpa lengan, motif bunga-bunga merah dengan warna yang sudah sangat pudar, tentu saja bagi seorang Darren Mahendra sudah tidak layak digunakan. Bahkan oleh asisten rumah tangganya.


"Kamu ke sini ingin menilai penampilanku atau apa?" Angelica menatap tajam pada Darren Mahendra, lalu melirik sinis pada Senja dan Derya.


__ADS_2