Hot Family

Hot Family
Ke rumah Angelica 2


__ADS_3

"Tidak khusus untuk menilaimu. Tapi melihat penampilanmu, mulutku sedikit gatal. Ada yang ingin kami bicarakan, tapi sepertinya lebih tepat kalau ada suami dan anakmu di sini." Darren menjawab dengan santai, sebuah cubitan kecil mendarat diperutnya.


Angelica berdiri, lalu berjalan dengan menghentakkan kakinya menuju ke dalam. Senja menggelengkan kepala, begitu pintu rumah itu kembali ditutup rapat.


"Mama sudah bisa membayangkan, perlakuan mereka pada kamu sebelumnya pasti seperti ini." Senja angkat bicara.


"Mereka akan membayar mahal semua yang sudah dilakukan, Ask. Tidak dengan uang, karena aku tidak butuh itu. Kita beli apa yang mereka jual, lalu kita akan melempar jualan itu ke muka mereka." Darren berbicara menggunakan kata-kata kiasan.


"Maafkan Derya, Dad, Ma." Derya menggenggam satu tangan Senja.


"Maaf berkali-kali tidak akan mengubah keadaan. Berhentilah meminta maaf. Dan lakukan sesuatu yang membuat Mama dan Daddy bangga. Jangan lemah! Meniru siapa kalau kamu seperti ini? Jangan mengalah dan menyerah pada perempuan yang tidak membuat dirimu semakin baik." Senja mengucapkannya dengan pelan, tapi tegas dan jelas.


Sudah hampir 10 menit berlalu, Angelica belum kembali muncul. Darren, Senja, dan Derya beberapa kali sudah mengubah posisi duduk mereka.


"Lima menit tidak muncul, fix dia memperbaiki penampilannya. Kita tunggu saja. Kalau aku benar. Kita akan bulan madu segera." Darren berbisik pada Senja.


Senja mencebikkan bibirnya. "Kita sudah tidak pantas untuk melakukan bulan madu. Sebut saja rutinitas harian dengan sensari tempat yang berbeda," lirihnya.


"Terlalu panjang," sahut Darren dengan suara tertahan.


"Kamu tahu benar aku suka yang panjang." Senja menimpali dengan suara pelan yang manja.

__ADS_1


Derya memijat pangkal hidungnya. Kepalanya yang pusing, semakin pusing mendengar perdebatan tidak berfaedah dari kedua orang tuanya itu.


Memang benar dugaan Darren, tepat tujuh menit dari waktu yang dibicarakan tadi, Angelica tampak keluar dengan seorang pria yang usianya bisa ditafsir 10 tahun lebih tua darinya. Di belakang mereka ada Inez yang sama sekali tidak berani menegakkan kepalanya. Perempuan itu terus menunduk, berdiri di belakang laki-laki berkaca mata tebal dengan rambut berwarna putih rata.


Penampilan Angelica sekarang sudah berbeda dari yang tadi. Celana dan kemeja yang dikenakan jelas bermerk. Darren tersenyum puas, setidaknya, ucapan yang dilontarkan tadi membuat Angelica terpengaruh. Semudah itu mengenali lawannya.


Ketiga tuan rumah itu pun kini sudah ikut duduk tenang meski sebenarnya dalam hati mereka merasa gusar. Derya menatap Inez yang masih saja menunduk dengan tajam. Kecewa, itulah satu kata yang menggambarkan perasaan Derya pada perempuan itu.


"Kita langsung saja, Saya rasa kalian sudah tahu kalau kami ini adalah orang tua Derya. Seperti yang sudah kita dengar dari anak-anak kita. Bahwa mereka sudah melakukan hal yang seharusnya hanya dilakukan oleh sepasang suami istri yang sah." Darren menjeda perkataannya sebentar. Sekedar ingin melihat reaksi Angelica dan suaminya yang entah bernama siapa.


"Kalau kalian mengira kami datang untuk bertanggung jawab dan meminta Inez menikah dengan Derya, mohon maaf, kalian salah besar." Darren kembali menghentikan bicaranya karena melihat Angelica sudah membuka mulutnya untuk menyahut.


Darren dan Senja kompak saling pandang dan tersenyum sinis. Darren memundurkan badannya, pertanda kali ini, dia menyerahkan pembicaraan pads sang istri.


"Tanggung jawab? Apakah sebuah tanggung jawab harus dilakukan dengan sebuah pernikahan? Apa kalian tidak ingat? Kalian juga menolak keras dan tidak merestui hubungan Inez dan Derya. Apa yang membuat kalian tiba-tiba setuju? Karena baru tahu kalau Derya adalah anak dari Darren Mahendra?" Senja memfokuskan pandangan matanya pada Angelica, seolah ingin menantang wanita di seberangnya itu untuk berdebat secara terbuka.


"Tapi kalau mereka sudah melakukan hal sejauh itu, kita bisa apa? Pernikahan beda agama juga bisa dilakukan di luar negeri," sahut suami Angelica dengan suara baritonnya.


"Mereka tidak harus menikah! Apa saya perlu memberi contoh kalau di dunia ini banyak pasangan yang melakukan hubungan badan tanpa sebuah ikatan? Dan tidak sedikit dari mereka yang tidak melakukan pernikahan," tegas Senja sembari melirik Angelica.


Derya tidak berucap apa pun. Dia tetap konsisten menatap Inez yang sama sekali tidak berani membalas tatapannya itu. Darren semakin santai, kemarahan menggebu saat berangkat dari rumah tadi, mendadak mereda.

__ADS_1


Bukan karena dia memaafkan atau memaklumi apa yang dilakukan Angelica, tapi melihat kemampuan lawannya, cukuplah Darren menyerahkan semua pada induk macan betina. Yang sudah jelas terkaman dan aumannya lebih ganas.


"Kalau anak saya hamil bagaimana? Bukankah sebelumnya, kalian sudah mengatakan pada Inez, kalau kalian akan datang kemari untuk mempertanggung jawabkan semua? Kenapa sekarang berubah pikiran? Kami tidak terima." Angelica membalas lirikan Senja, hanya sekilas.


"Kalau Inez hamil, ya dijalani kehamilannya. Kami akan bertanggung jawab kalau hal itu terjadi. Dengan catatan! Anak yang dikandung benar-benar anak Derya. Untuk saat ini, kami tidak akan mengambil tanggung jawab apa pun. Mereka melakukan atas dasar suka sama suka. Jadi tanggung jawab moral dan akibat lain yang ditimbulkan menjadi urusan masing-masing." Senja menatap Derya dan Inez secara bergantian.


"Tidak bisa seperti itu. Kalian pikir, anak kami ini makanan? Sesudah dimakan isinya lalu dibuang bungkusnya begitu saja." Suami Angelica itu berdiri dan berkacak pinggang menentang ucapan Senja.


Darren kembali memajukan badannya, lalu dengan tenang dia melemparkan seringai yang sinis. "Kadang tinggal bungkusnya pun, masih ada yang memungut. Seperti Anda dan Istri Anda, bukan?"


Ucapan Darren bagai sebuah cambukan semangat bagi Angelica dan suaminya. Bukannya diam dan merenungi, tapi malah semakin menjadi. Mereka benar-benar memposisikan diri sebagai korban dan seolah lupa apa yang sudah mereka lakukan sore tadi.


"Kalau sampai akhir bulan depan tidak ada pernikahan. Kami akan melakukan pelaporan atas tindakan pelecehan. Kalian tentu masih butuh nama baik, bukan?" Angelica bertanya dengan liciknya.


Inez menoleh pada mamanya sembari menggelengkan kepala dengan kuat. Wajahnya terlihat sangat sendu dan tidak Bersemangat. Sungguh dia sangat menyesal karena menuruti kata-kata mamanya tanpa bantahan.


"Nama baik? Kami sudah punya, Ngel. Kami tidak perlu bantuanmu untuk menjaga nama baik itu. Silahkan lakukan apa pun. Mau melaporkan kemana pun, kami ikut saja. Jangan khawatir, meski kamu tahu uang kami lebih banyak dari kalian, kami tidak akan membeli keadilan." Senja berdiri, mengajak Darren dan Derya untuk pulang karena mau sepanjang apa pun pembicaraan, tidak akan bertemu titik tengahnya.


"Bagaimana kalau kami mempunyai video saat mereka melakukannya." Angelica tidak patah arang.


Derya menggelengkan kepalanya kuat dan menatap Inez dengan tajam. "Kamu gila,Nez. Hamil sekali pun, aku tidak akan menikah denganmu."

__ADS_1


__ADS_2