
"Zain...," panggil Doktet Hanafi. Menyadarkan ketiga anak Senja yang sedang hanyut dalam pikiran masing-masing.
"Bagaimana kondisi mama, Dok? Apa semua berjalan lancar?" Zain langsung menyambut dengan pertanyaan.
Dokter Hanafi tersenyum tipis sembari menepuk pundak Zain. "Semua lancar. Karena bius total, mungkin akan butuh waktu lama hingga mamamu tersadar. Tapi kondisi mamamu harus tetap dipantau, tekanan darah terutama. Sepanjang prosedur, hanya itu kendala kami. Semoga mamamu cepat pulih." Dokter Hanafi meninggalkan Zain, dan kembali masuk ke dalam ruangan operasi.
Zain, Dasen, dan Derya sedikit menarik napas lega. Meski dibenak Zain, ketakutan masih terbayang. Masa pemulihan atau waktu pasca tindakan, juga tidak kalah menengangkan. Resiko-resiko bisa saja bermunculan setelah prosedur operasi selesai. Kasus seperti itu, tidak jarang terjadi. Bahkan sering.
"Kita hubungi daddy." Derya langsung mengeluarkan ponselnya. Menekan tombol dial nomer dua, yang artinya dia menaruh nomor Darren sebagai nomeor panggilan penting atau darurat kedua setelah Senja.
Tidak sampai nada sambung kedua. Telepon pun terhubung. Suara lemah dan serak langsung menyapa Derya.
"Bagaimana, Der?"
"Dadd, operasi mama sudah selesai. Tapi mama masih akan dipindahkan ke ruang observasi. Karena dibius total, mungkin mama membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali mendapatkan kesadaran." Derya menjelaskan dengan suara setenang mungkin.
"Mama akan baik-baik saja, Der? Mama pasti bisa melalui semuanya. Maaf Daddy tidak bisa menemani kalian. Jangan putus berdoa. Kita serahkan semua pada Allah. Ketika suara kita tidak terdengar oleh telinga manusia, biarkan bisikan Allah yang akan membangunkan mamamu. Mengembalikan kembali mama pada kita. Sabar ya, Der. Allah sedang ingin tahu seberapa besar kita sabar dan ikhlas menghadapi ketentuanNya." Darren pun melakukan hal yang sama. Meski lirih, ketegaran mulai ditunjukkan perlahan.
__ADS_1
Derya menyunggingkan senyuman miris. Dia tahu, daddynya hanya sedang menutupi kesedihan sendiri. Sama seperti yang dilakukan dirinya, dan juga yang lain. Derya melirik Zain, juga sedang berbicara melalui sambungan telepon. Pastilah menghubungi Sekar.
"Sudah dulu, Dadd. Nanti Derya hubungi lagi. Semoga cuaca juga segera membaik. Kalau penerbangan sudah dibuka, Der akan segera berangkat menemani oma dan opa." Derya mengakhiri pembicaraan.
Darren menggenggam kembali ponselnya. Lalu dia membuka sedikit tirai yang menutup kaca di ruang rawat Mahendra. Langit masih sangat gelap, petir juga masih menyambar.
"Langit yang memayungi bumiku di sini, sedang tidak ramah pada rindu dan kekhawatiranku, Ask. Dia memeluk ketakutanku semakin erat. Aku takut kamu pergi meninggalkanku begitu saja."
Sarita mendekati Darren. Perempuan tersebut menepuk pundak anaknya begitu kuat. "Tidak ada yang pernah siap dengan kehilangan dan cobaan. Mudah saat mama memberi nasihat, tapi sulit saat menjalani. Mama tahu persis bagaimana perasaanmu sekarang. Jangan disangkal, jangan tahan perasaanmu. Jangan biarkan dadamu sesak. Nangis, kalau memang pengen nangis. Marah, kalau memang kamu merasa tidak terima. Luapkan! Jangan ditahan Dar."
Darren kembali memeluk Sarita. Matanya menatap sendu pada Mahendra yang tertidur pulas setelah meminum obat.
Darren merenggangkan pelukannya pada sang mama. "Mama benar, lebih banyak hal yang bisa disyukuri ketimbang dikeluhkan."
****
Sampai usai rangkaian acara Beyza dan Genta, Senja belum juga sadar. Akhirnya, kedua mempelai pengantin baru itu pun memutuskan untuk mendatangi rumah sakit bersama Bae, Arham, Sekar dan Baby De. Karena acara sudah bebas, tamu yang lain tentu tidak akan mencari keberadaan mereka.
__ADS_1
Ruangan rawat presiden suite yang rencananya akan ditempati Senja setelah masa pemulihan, kini malah penuh dengan anak-anak Senja. Zain tidak nampak di sana, karena sejak dua jam yang lalu, dia ikut memantau langsung kondisi sang mama.
"Lama banget sih. Kak Zain kenapa belum kembali-kembali juga." Beyza mondar mandir, wajahnya masih terdapat riasan tipis dari acara makan malam yang baru usai dilakukan tadi.
"Sabar, Bey. Kamu mondar mandir malah bikin oma pusing," ketus Bae, dengan tangan sudah memijat-mijat pelipisnya sendiri.
Sekar nampak termenung layu di sudut sofa. Bukan kelelahan. Pertama masuk ruangan, Dasen tadi langsung menyambut mereka semua dengan senyuman. Padahal senyuman Dasen juga bukan senyum menawan seperti biasa. Bahkan bisa diaktakan sebuah senyuman yang amat dipaksakan. Namun hal itu cukup membuat mood Sekar berantakan. Apalagi adik iparnya itu juga terus berdiri dan kadang duduk tidak jauh dari tempatnya berada.
Kini, Sekar hanya bisa menahan mual, dan pusing. Semua sedang dalam kondisi khawatir, tidak mungkin dia malah menambah kekhawatiran dengan tiba-tiba muntah. Sekar memijat-mijat tengkuk lehernya sendiri. Berharap keadaannya membaik. Namun semakin lama, dia merasakan tubuhnya semakin lemas.
Dasen yang kebetulan melihat ke arah Sekar, langsung menyadari kalau ada sesuatu yang tidak beres pada kakak iparnya tersebut.
"Kenapa, Kak? Kak Sekar tidak enak badan?" Pertanyaan Dasen membuat perhatian yang lain langsu g tertuju pada Sekar.
Bae dengan sigap mendekati cucu menantunya itu. "Kamu pucet, Kar. Tanganmu keringat dingin."
Tidak sampai Bae mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Sekar, tubuh istri Zain itu limbung tanpa aba-aba menimpa Bae.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu. Zain memasuki ruangan dengan wajah yang tidak lagi menunduk. Anak pertama Senja tersebut, nampak sangat sumringah. Namun mengetahui Sekar terkulai di pangkuan Bey, senyum merekah itu kembali kuncup.