Hot Family

Hot Family
Dibawa ke rumah sakit


__ADS_3

Senja buru-buru menerima panggilan masuk dari Derya. Sejak kemarin, dia tidak mendapatkan kabar dari anaknya itu. Padahal, biasanya Derya selalu rutin mengirimkan kabar walau sering kali hanya melalui aplikasi pengiriman pesan.


Tidak lama setelah mendengar suara sang anak, raut wajah Senja seketika berubah. Perempuan itu terlihat kaget dan juga khawatir.


"Mama usahakan datang malam ini juga," ucap Senja dan langsung mengenggam kembali ponselnya.


"Ada apa, Ask? Apa yang terjadi?" Darren memakai boxer dan celananya kembali.


"Sebentar." Senja mencoba menghubungi Eommanya. Ya, dibandingkan dengan Arham, dia memang lebih dekat dengan Bae.


Setelah terhubung dan diterima, Senja berbicara pada Bae dengan serius. Darren mengambil kaos baru dari kopernya. Kaos yang dipakai sebelumnya, sudah menjadi lap Senja untuk membersihkan sesuatu yang tumpah dari dalam area sensitif sang istri.


"Ask, tolong carikan tiket malam ini juga untuk ke negara S," ucap Senja sembari berjalan cepat keluar pintu kamarnya menuju kamar yang ditempati Zain.


Darren yang belum sepenuhnya paham apa yang sebenarnya terjadi, hanya menuruti saja perintah sang istri. Dia tidak mendengar jelas apa yang dibicarakan Senja saat melakukan sambungan telepon tadi. Yang dia tahu, istrinya berkomunikasi dengan Derya dan juga Bae.


Senja mengetuk pintu Zain dengan tidak sabar. Dua kali ketukan, akhirnya pintu itu terbuka juga. Senja memberi tahu anak pertamanya itu, kalau dia akan langsung ke Negara S malam ini. Melihat wajah Zain kebingungan, Senja langsung mengajaknya ke kamar di mana Darren berada. Dia tidak ingin menjelaskan semua dua kali.


"Ada tidak, Ask?" tanya Senja sembari mengemasi baju-bajunya ke dalam koper.


"Tidak ada kalau langsung dari Jogya, Ask." Darren menjawab sembari terus mencari alternatif lain. Dia juga sudah menghubungi Aleandro untuk menanyakan ketersediaan private jet yang bisa di sewa malam ini juga.


"Kita tunggu kabar dari Aleandro." Darren masih menunggu Senja menjelaskan kenapa mereka harus secepat mungkin datang ke negara S.


"Memangnya ada apa sih, Ma?" tanya Zain, akhirnya mewakili perasaan Darren juga.


Senja menepuk keningnya sendiri dengan kuat, dia baru ingat kalau belum menceritakan apa pun pada Zain dan Darren.

__ADS_1


"Derya sakit, panas tinggi, flu dan asam lambungnya kambuh. Senja sudah meminta tolong pada Eomma untuk membawanya ke rumah sakit."


Mendengar penjelasan Senja, membuat Dareen dan Zain kompak saling memandang dengan raut wajah datar.


"Astaga! Zain kira ada apa. Flu itu hal yang biasa, Ma. Derya itu seorang CEO sekarang. Perusahaan yang dipimpinnya juga bukan perusahaan kecil. Terbaik malah di negara S, flu dan asam lambung, kenapa sampai harus mama ke sana seburu-buru ini," cerocos Zain.


"Zain benar. Derya itu sudah bukan anak kecil lagi. Mestinya belajar tidak sedikit-sedikit kamu," timpal Darren.


Senja menatap Darren dengan tajam dan sinis. "Coba katakan sekali lagi, Derya memang bukan anak kecil lagi. Tapi kalau dia sakit, kepengen dimanja mamanya, memangnya kenapa? Kamu sadar tidak? Itu karena ada yang ditiru. Jangankan sakit, sehat dan segar bugar pun apa-apa Senja. Siapa dia yang dimaksud, Zain?"


"Daddy." Zain menjawab tanpa ragu.


Darren mencebikkan bibirnya. Ingin menjawab tapi takut akan akibat yang ditimbulkan. Nyatanya, Derya dan Senja sama-sama berlebihan menanggapi flu yang dihadapi.


"Jadi? Bagaimana ini? Tetap berangkat malam ini?" Darren kembali meyakinkan.


"Tentu saja. Eomma akan membawa Zain ke rumah sakit. Tapi Eomma baru saja berangkat dari rumah. Jangan protes ini terlalu berlebihan. Ingat! Membuka celana dan bajumu saja, masih sering Senja yang melakukan," tegas Senja, sebelum Darren kembali memprotesnya.


"Jangan sok masih polos, Zain. Siapa yang ngebet segera menikah tadi? Bukankah itu karena kamu mengerti akibat berduaan di tempat yang nyaman?" Ketus Senja.


Zain menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. "Semua ada yang ditiru, Ma. Semua kemesraan kami, terinspirasi dari Mama dan Daddy. Jika ada yang salah, tentu kalian yang bertanggung jawab. Terlalu mesra di depan pasangan yang meronta ingin menikah, adalah siksaan yang nyata." Zain buru-buru menutup pintu kamar, sebelum mama atau daddy-nya melemparinya dengan bantal.


"Bagaimana, Ask?" Senja kembali memastikan bisa tidaknya fligh yang akan dilakukan.


"Tiket pesawat komersil sold out . Paling cepat pukul empat besok pagi, itu pun kita harus ke Jakarta dulu. private jet Al ada, tapi pilot baru bisa flight besok pukul lima pagi."


"Terus, kita bagaimana? Kasihan Derya."

__ADS_1


Darren menarik napas berat dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Ask, Derya hanya flu. Asam lambung juga biasa dialami kalau tidak ada yang merawat. Hampir semua laki-laki mengalami saat masih single."


"Teruslah meremehkan, Ask. Kalian tidak akan paham perasaan seorang ibu. Katakan pada kak Al, kita pakai .private jet-nya. Kita berangkat besok pagi juga tidak mengapa. Senja mau menghubungi Eomma dulu." Istri Darren itu kembali mengambil ponselnya.


Setelah menerima telepon dari Senja yang pertama, Bae dan Arham langsung berangkat menuju apartemen Derya. Sama seperti Senja, Bae juga sangat khawatir dengan kondisi cucunya.


Mendekati tiba ditujuan, Bae kembali menerima panggilan masuk dari Senja. Keduanya berbicara layaknya ibu-ibu yang khawatir akan kondisi anaknya. Bae baru mengakhiri komunikasinya dengan Senja, begitu sudah sampai di lobby apartemen.


Arham turun terlebih dahulu untuk berbicara dengan petugas rumah sakit yang datang membawa ambulance dan juga dengan pihak pengurus apartemen. Setelah urusan itu selesai, Arham dan Bae langsung naik ke lantai di mana cucunya berada.


Opa dan Oma Derya itu, sama-sama tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Inez yang membukakan pintu apartemen milik cucunya itu.


"Kenapa kamu di sini? Mulai kapan?" Bae langsung bertanya dengan wajah dan suara yang sama-sama sinis.


"Dari kemarin, Oma." Inez menjawab dengan suara pelan.


"Tidak seharusnya kalian seatap berdua tanpa ikatan halal seperti ini. Jika kamu perempuan baik-baik, harusnya kamu tidak menginap di tempat seorang laki-laki. Dan kalau pun Derya sakit, kamu bisa menghubungi mamanya atau saya. Tidak ada alasan kamu tidak tahu nomer telepon kami, karena kamu bisa bertanya pada Beyza."


Arham segera menarik pergelangan tangan Bae, sebelum istrinya itu berbicara lebih panjang dan lupa apa tujuan utama mereka datang ke sana.


Memasuki kamar Derya, Bae dan Arham melihat cucunya itu terkulai lemas, wajahnya merah karena suhu badan yang naik.


Inez memberanikan untuk masuk. "Saya sudah memberikan obat penurun panas, tapi suhunya tetap saja naik turun."


Bae hanya melirik Inez sekilas, lalu mengalihkan pandangannya pada Arham. "Hubungi mereka, Appa. Suruh langsung ke atas."


Arham lalu menghubungi, petugas rumah sakit dan pihak apartemen yang sudah dia ajak bicara tadi. Pengelola apartemen sudah memberikan akses untuk memasuki lift khusus yang bisa dimasuki brankar.

__ADS_1


"Terimakasih sudah merawat cucuku. Lain kali, kalau ada kondisi darurat seperti ini, kamu cukup bergerak cepat menghubungi keluarga kami. Derya masih milik kami seutuhnya. Seorang kekasih, tidak punya hak dan kewajiban atas apapun yang dialami kekasihnya. Kalau kamu masih tinggal di sini, silahkan saja, jangan ikut ke rumah sakit." Bae kembali keluar untuk menunggu petugas datang.


Derya merasakan kepalanya semakin berat dan berputar. Dia tidak sanggup berkata apapun untuk membela Inez.


__ADS_2