Hot Family

Hot Family
Ke makam


__ADS_3

Darren membuka pesan masuk yang dikirim oleh Kenzi. Dia memutar video yang dikirim oleh temannya itu. Masih dua menit pertama, Darren buru-buru mematikan dan menghapus video itu dari ponselnya. Sungguh sangat memalukan. Bahkan dia sendiri, tidak pernah berani sekonyol itu di depan ibu-ibu.


Sementara itu, Senja, Beyza, Derya dan Genta sudah berada di area pemakaman Bunda Genta. Karena Senja tahu, tempat pemakaman yang dituju adalah tempat yang sama dengan makam papanya Zain. Senja pun membeli bunga untuk mantan suaminya itu.


"Ayahnya Genta sudah datang?" tanya Senja.


"Itu mobil Ayah, Ma." Genta menunjuk pada mobil Range Rover hitam yang baru saja parkir di samping mobilnya persis.


Rangga tampak turun dari mobilnya bersama seorang perempuan sebaya dengan Sarita.


"Itu Omaku, Oma Elizaneth. Kalian panggil saja Oma Eliz." Genta menunjuk pada perempuan tua yang berjalan di samping ayahnya.


"Maaf, membuat kalian menunggu," ucap Rangga sembari tersenyum hangat.


Matahari siang yang menyengat, membuat semua orang memicingkan matanya.


"Bey, mau memakai payung? biar mama ambilkan," tawar Senja.


"Tidak perlu, Ma. Sesekali tidak mengapa terkena panas. Tidak akan membuat kita berubah langsung menjadi hitam," jawan gadis itu.


"Oh, ya. Bu Senja, ini Omanya Genta." Rangga memperkenalkan ibu Elizabeth.


"Selamat siang, Ibu. Saya Senja, Mama dari Beyza dan Derya." Senja menjabat tangan bu Elizabeth dengan hangat dan erat.


Bu Elizabeth memandang Senja dengan tatapan kagum. "Pantas saja, Genta sangat bersemangat kalau bercerita tentang nak Senja. Kalau mau ke rumah Beyza dan Derya juga sangat semangat. Rupanya, memang ada bidadari tidak bersayap sungguhan. Paras dan hatinya sama-sama cantik. Terimakasih sudah sangat baik pada Genta."


"Bagaimana kalau kita sambil berjalan saja," ajak Rangga.


Semua pun mengangguk setuju.


Beyza, Derya dan Genta berjalan beriringan sembari membawa buket bunga masing-masing yang sengaja di beli untuk bundanya Genta.


Berbeda dengan Beyza dan Derya yang hanya membawa satu buket bunga. Genta membawa dua buket bunga sekaligus di tangannya. Tidak mungkin buket itu untuk mendiang papanya Zain. Karena ketiganya memang tidak tahu, kalau Senja akan singgah dulu ke makam mantan suaminya.


"Nak Senja badannya masih bagus, padahal anaknya sudah besar-besar," puji Elizaberh.

__ADS_1


"Terimakasih, Bu. Saya bersyukur mempunyai empat anak dan satu bayi sepanjang masa. Mereka semua membuat saya terus bergerak sepanjang hari. Lemak saya terbakar sempurna, tanpa saya harus berolahraga berat," timpal Senja dengan setengah bercanda.


"Oh, ya. Bagaimana kabar Darren?" tanya Rangga.


"Sangat baik. Tapi mohon maaf, Daddy-nya anak-anak tidak bisa ikut. Beberapa hari ini, masalah anak-anak datang silih berganti. Tentu saja Daddy-nya menjadi pusing sekali."


Langkah kaki mereka berhenti tepat di samping dua makam berjejer dan sama persis segalanya.


Senja sedikit heran, karena dari batu nisan yang ada di sana, tertulis tanggal kematian yang sama.


Rangga mengusap batu nisan bertuliskan Jingga terlebih dahulu, baru yang bertuliskan Aris kemudian. Berbalik dengan Rangga, Bu Elizabeth lebih mendahulukan nisan bernama Aris.


"Assalamualaikum Bunda, Ayah ... Genta datang. Kali ini Genta bersama orang-orang yang selalu baik pada Genta. Semoga Bunda dan Ayah bahagia melihat kedatangan kami semua." Genta meletakkan buket bunga yang dibawanya tadi di atas kedua pusara.


Beyza dan Derya melakukan hal yang sama, tapi keduanya hanya meletakkan buket bunga di atas pusara dengan batu nisan bertuliskan Jingga.


"Bunda dan Ayah sudah sering mendengar nama Beyza dan Derya bukan? Sekarang mereka ikut datang kemari." Genta kembali berbicara, seolah orang yang di ajak bicara, ada di depannya.


Melihat Senja dan si kembar bingung dengan ucapan Genta, Rangga pun tersenyum lembut.


Senja seketika memajukan langkahnya, meletakkan buket bunga yang tadinya disiapkan untuk Papanya Zain ke atas pusara Ayah Genta.


"Terimakasih,Ma," ucap Genta dengan suara bergetar menahan tangis.


"Sama-sama sayang. Genta anak yang hebat, Shalih, dan sangat luar biasa. Mama Senja sangat bangga bisa mengenal Genta."


"Hari ini, hari ulang tahun bundanya Genta. Seperti biasa, Genta senang sekali mengulang mendengarkan suara bundanya sembari memeluk batu nisannya. Hanya sekedar pengobat rindu. Kami tahu jiwa mereka yang mati tidak berada di dalam kuburnya. Jiwa mereka selalu ada didekat kita yang selalu mengirim doa untuk mereka," ucap Rangga.


Semuanya kini duduk bersimpuh di samping pusara Jingga dan Aris. Genta mulai memutar lagu nina bobo yang dinyamyikan Jingga untuk Genta sesaat sebelum tidurnya.


Hati Senja begitu tersentuh, suara Jingga begitu bergetar entah saat itu dia sedang merasakan sakit atau kah menahan sedih.


Beyza dan Derya tiba-tiba memeluk Mamanya, mereka sangat bersyukur. Karena bisa dibesarkan oleh orangtuanya sendiri. Keduanya tidak bisa membayangkan, jika berada di posisi Genta.


"Boleh mama peluk Genta sebentar?" Senja meminta ijin rerlebih dahulu pada Derya dan Beyza yang masih posesif memeluknya.

__ADS_1


Derya dan Beyza melepas pelukan mereka sembari menganggukkan kepala.


Saat nyanyian nina bobo itu habis, Senja merengkuh bahu Genta ke dalam pelukannya.


"Genta anak yang hebat. Bolehkah Mama menyebut nama Genta di setiap Mama berdoa untuk anak Mama?" Senja berbisik pada anak yang kini memeluknya begitu erat.


Genta menangis sejadi-jadinya. Membuat air mata Senja pun tidak berhenti mengalir.


"Bolehkah Genta tidur di pangkuan, Mama? Nanti di rumah. Genta sering melihat kak Dasen dan Derya melakukannya. Sekali saja." Genta menengadahkan wajahnya, raut wajahnya menyiratkan permohonan yang dalam.


"Tentu saja boleh, kapanpun Genta menginginkan pelukan, Mama. Bercerita sama Mama. Silahkan. Jangan tanya-tanya lagi. Mama tidak keberatan sama sekali." Senja mengusap lembut rambut Genta.


Semua kini memejamkan mata, menengadahkan kedua tangan sembari mengucap Amin untuk deretan doa yang dipimpin oleh Rangga. Setelah selesai, mereka pun langsung memutuskan untuk pulang.


Sebelum pulang, Senja mengusap batu nisan milik bundanya Genta. "Mbak Jingga, kenalin aku Senja. Mbak mempunyai anak yang hebat. Kalau boleh aku berharap. Saat besar nanti, semoga ada jalan yang menuntun Beyza dan Genta untuk berjodoh." gumam Senja sangat lirih.


Anak-anak sudah berjalan terlebih dahulu bersama bu Elizabeth yang langsung akrab dengan Beyza. Sementara Rangga berjalan agak di belakang Senja. Keduanya sama-sama saling memberi sedikit jarak. Rangga tidak mau, sudah setua sekarang, malah kembali jatuh cinta dengan istri orang.


Baru saja Rangga ingin mengucapkan terimakasih, tapi dia urungkan karena Senja sedang ingin menerima telepon yang sepertinya sudah tidak sabar ingin diterima.


"Iya, Ask ...." sapa Senja.


Darren menyambutnya dengan serentetan omelan, lalu langsung memberi tahu sesuatu dan sesaat kemudian suaminya itu menutup sambungan teleponnya tanpa berpamitan terlebih dahulu.


"Pak Rangga, kalau anak-anak sama pak Rangga dulu bagaimana? Saya ada keperluan mendadak dan sangat penting. Nanti pulangnya biar dijemput driver?" pinta Senja tiba-tiba.


"Boleh, Bu. Saya ajak mereka ke tempat saya dulu. Tidak udah dijemput driver, bu. nanti saya yang antarkan," ucap Rangga.


"Terimakasih, Pak." Senja agak berlari segera berpamitan pada anak-anak dan bu Elizabeth, lalu dia langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Ke apartemant, pak," perintah Senja pada Sapto--driver sementara pengganti Rudi.


Sementara di mobil Rangga, anak-anak sedang meributkan ingin mencari suasana baru. Di mana tidak ada keramaian dan bisa benar-benar santai.


"Bagaimana kalau ke apartement Ayah saja," usul Genta.

__ADS_1


__ADS_2