
Dasen menerima ponsel Rangga dengan ragu. Semburat kecemasan seketika nampak di wajahnya. Denok yang sedang berada di sebelahnya, mencoba memberikan sentuhan menenangkan dengan mengusap lembut lengan kekasihnya itu.
"I-iya, Dad." Dasen menyapa daddynya dengan suara terbata. Dia menjauhkan sedikit benda pipih itu dari daun telinganya. Berjaga-jaga, jika nanti ada suara menggelegar dari seberang.
"Di mana mamamu, Das. Kenapa mama tidak membalas pesan Daddy? Kenapa kalian mematikan ponsel kalian? Ada apa? Jangan bohong sama Daddy lagi." Suara dengan kekesalan dan kemarahan, jelas terdengar meski tidak dengan volume yang tinggi.
"Kami sedang melakukan challenge sehari tanpa ponsel, Dadd. Mumpung sedang ada waktu berkumpul. Kami semua ingin lebih akrab tanpa teralihkan fokus pada ponsel masing-masing," kilah Dasen. Memberikan alasan yang sangat masuk akal pada Darren.
"Das, tidak begini juga. Kalian tahu Daddy sedang menjaga opa yang sedang berjuang untuk sembuh. Apa kalian tidak ingin bertukar kabar? Apa kalian tidak ingin bertanya bagaimana kondisi opa kalian sekarang? Kalian boleh mengadakan tantangan seperti itu lain kali." Kekesalan Darren semakin menjadi.
Dasen menelan ludahnya dengan susah payah. Beyza, Derya, Genta, Baby De dan Denok, hanya bisa berharap-harap cemas agar pembicaraan Darren dan Dasen tidak menjadi salah paham dan masalah baru.
"Daddy tidak mau tahu, sekarang juga, suruh mamamu menghubungi Daddy. Jika tidak, jangan salahkan Daddy kalau sampai berpikir dan mengatakan kalian semua memang tidak sayang dan tidak peduli sama Daddy."
Sambungan telepon pun terputus secara sepihak. Dasen menggigit bibir bawahnya sendiri. Lalu dengan gerakan pelan, dia mengulurkan ponsel kepada Rangga.
"Terimakasih, Om," ucap Dasen.
"Kalian kenapa? Ada masalah apa? Barangkali Om bisa membantu?"
Belum sampai ada seseorang yang menjawab pertanyaan Rangga, dari jarak satu meja, Aleandro, Chun Cha, dan si kembar menghampiri mereka.
"Kok cuman kalian, yang lain kemana?" Tanya Aleandro.
__ADS_1
"Ada, Pi, mereka makan pagi di stateroom," jawab Baby De dengan cepat.
"Oh... kenapa wajahnya semua pada tegang?" Selidik Chun Cha.
"Tidak ada apa-apa, Mi. Biasalah, anak muda kalau kumpul, ada aja yang bikin kesal." Kali ini, Beyza yang menyahuti Chun Cha.
Mengalihkan perhatian dari orang-orang yang masih bertanya-tanya. Baby De mengajak Aleandro, Chun Cha, dan kedua adik kembarnya beralih ke sisi lain. Sementara Rangga memilih tetap bergabung di sana bersama anak-anak Senja. Ayah angkat Genta itu masih berkeyakinan, memang ada sesuatu yang sedang disembunyikan. Dia hapal betul, bagaimana ekspresi Genta saat menyembunyikan sesuatu darinya.
Dasen akhirnya memutuskan untuk berpamitan pada yang lain. Selera makannya benar-benar sudah hilang. Bagaimana pun menjaga perasaan Daddynya juga penting. Jangan sampai, sang Daddy merasa terabaikan.
Tidak ada pilihan lain, Dasen harus bicara pada Zain mengenai hal tersebut. Dengan langkah lebar, Dasen menuju stateroom mamanya kembali. Ruangan itu, sudah menjadi markas mereka dari semalam.
Namun ternyata tidak ada seorang pun di sana. Berbalik arah, Dasen menuju stateroom milik Zain. Namun hanya Sekar yang ada di sana. Zain sudah kembali ke ruang di mana Senja mendapatkan perawatan intensif.
"Sudah aku bilang jangan ada yang ke sini," ucap Zain, tegas bercampur dengan kesal.
"Kak, ini bukan masalah Dasen tidak mau menuruti kakak. Barusan daddy menghubungi kami melalui ponsel Om Rangga. Kami bisa apa? Daddy mengatakan, kalau sampai mama tidak menghubungi daddy, itu artinya tidak ada yang peduli dengan daddy. Kita harus bagaimana?"
Zain tidak langsung menjawab. Dia memilih untuk berpikir sejenak. Lalu Zain mengajak Dasen ke stateroom sang mama. Di sana, Zain hanya mengambil ponsel mamanya.
"Masalah daddy, biar Kakak yang urus. Kamu pastikan saja, tidak ada lagi orang lain yang tahu tentang kondisi mama. Minta Oma Bae, Opa Arham, dan Om Rangga menghandle para tamu. Lakukan semua acara sesuai jadwal. Pastikan Beyza dan Genta menjalani semua rangkaian sampai selesai. Ini pesan mama."
Zain meninggalkan Dasen yang sudah kehabisan kata-kata. Dia tidak tahu lagi, apa yang harus diucapkan. Tidak ada pilihan, dia kembali menemui yang lain di resto cruise.
__ADS_1
Zain yang sudah kembali ke dalam ruang perawatan Senja, bergegas mendekati sang mama yang baru saja selesai disuapi oleh perawat.
"Ma ... mama hubungi daddy sebentar, ya? Daddy pasti mengkhawatirkan kondisi Mama. Sekalian Mama tanya tentang kondisi Opa." Zain mengaktifkan ponsel mamanya. Begitu aktif dan loading sempurna, serentetan notifikasi pesan, masuk bertubi-tubi tanpa jeda. Tidak tanggung-tanggung, hampir 200an lebih pesan masuk itu dari Darren. Bukan kata-kata panjang yang tampil dilayar ponsel Senja. Hanya tulisan 'Ask' yang dispam ke bawah.
Senja langsung sumringah, begitu Zain mengijinkannya menghubungi Darren. Hal yang memang sudah ingin dilakukan sejak subuh tadi.
"Ask, kamu kemana saja? Apa kamu lupa kalau ada aku tang selalu mengkhawatirkanmu? Kenapa kamu nurut saja sama anak-anak? Kalau mereka bikin tantangan mematikan HP, harusnya kamu tidak ikut-ikut. Kenapa hanya menelepon suara? Video call saja, yuk! Kamu pasti sedang senyum-senyum dengan manis mendengar suaraku," cerocos Darren, seperti tidak mau berhenti.
"Jangan video call, Ask. Lihat suasana rumah sakit, membuatku takut," kilah Senja, meski volumenya pelan tapi masih cukup jelas untuk di dengar. Dia hanya tidak ingin Darren tahu, ada beberapa selang yang terpasang di tubuhnya.
"Ask, bagaimana keadaan papa?" Senja mengalihkan bahan perbincangan.
Darren menceritakan tentang kondisi Mahendra yang hanya tinggal menunggu pemulihan saja. Senja pun menarik napas lega. Darren terus saja berbicara, menyalurkan kerinduan yang kemarin berubah menjadi kekhawatiran. Senja menanggapi sesekali dengan suara yang semakin pelan. Tidak lama, matanya tiba-tiba seperti diselimuti kabut. Hingga ponsel pun terlepas dari genggaman Senja.
Zain buru-buru mematikan ponselnya. Lalu segera memeriksa kondisi Senja dengan tangan yang mulai gemetar.
"Tidak! Zain tidak sanggup terus melihat mama seperti ini." Zain memencet tombol telepon yang menghubungkan ke stateroom Dokter Hanafi agar segera datang ke sana.
Sementara itu, Darren yang belum puas berbicara dengan Senja, tiba-tiba merasa badannya sangat lemas. Ulu hatinya pun bersamaan terasa begitu nyeri.
"Ask...kamu tidak baik-baik saja, kan? Aku yakin ada yang kalian sembunyikan." Darren menjatuhkan bokongnya di bangku dingin besi rumah sakit.
"Ada apa, Darr?" Sarita menepuk pundak Darren dengan tatapan penuh tanya.
__ADS_1