
Ketika yang lain kembali ke hotel, Zain masih bertahan di rumah Sekar. Pasangan suami istri itu, baru akan menyusul ke hotel nanti menjelang makan malam. Karena Sekar masih harus membersihkan riasannya terlebih dahulu.
Zain yang sudah mengenakan kaos atasan polos dan celana santai selutut nampak memanyunkan bibirnya. Pria itu duduk di tepian ranjang Sekar yang berukuran kecil. Ranjang terbuat dari kayu itu tidak lebih dari 120 x 200 senti. Cocok untuk perempuan single.
"Masih lama ya?" Dengus Zain.
Sekar melemparkan gumpalan tisu pada Zain. Karena merasa tidak enak dengan sosok ibu perias yang sedang membersihkan paes pradanya dengan sendok.
Zain mengambil ponselnya untuk membunuh rasa bosan. Begitu banyak notifikasi pesan masuk di sana. Semua berisikan ucapan selamat. Zain tidak membuka semua pesan itu. Hanya sebagian, dan satu pesan singkat dari Airin membuatnya buru-buru menghapus isi pesan itu, dan Zain pun memblokir nomer perempuan yang pernah lama mengisi hari-harinya itu.
Riasan di wajah Sekar nampak sudah bersih, kini ibu perias membantu perempuan itu menyisir bagian depan rambut yang tadi di sasak tinggi saat mengenakan konde. Tidak butuh waktu lama untuk mengembalikan rambut yang kaku karena hair spray, mungkin karena ibu itu sudah sangat profesional.
"Terimakasih, Bu." Sekar melemparkan senyuman dan menunduk sopan pada perempuan berusia separuh abad itu.
Setelah ibu perias meninggalkan kamar. Zain buru-buru mengunci pintu kamar Sekar.
"Kak, Sekar mandi dulu ya?" Sekar hendak mengambil handuk di lemari pakaiannya, tapi Zain dengan tidak sabar langsung memeluknya dari belakang.
"Mandinya nanti saja." Tangan Zain dengan aktif membuka kancing kebaya yang dikenakan Sekar.
"Nanggung, Kak. Habis gini dhuhur. Kalau setelah sholat saja bagaimana? Kita mandi dulu?" Tawar Sekar.
Zain melirik jam di pergelangan tangannya. "Kamu benar, tapi kalau begini saja masih bisa." Pria itu memutar tubuh sang istri agar menghadapnya, lalu langsung menyatukan bibir keduanya lebih menggebu dan liar daripada biasanya.
Kancing kebaya yang tadi memang sudah berhasil dibuka zain dengan sempurna memudahkan pria itu untuk menyentuh satu bagian dada menonjol milik sang istri.
Sekar terengah-engah, sesaat saat keduanya melepas tautan bibir mereka, dessahan lolos dari bibir Sekar dengan lirih.
"Yakin bisa tahan sampai nanti?" Suara Zain sudah sangat berat.
__ADS_1
"Yakin, Kak." Sekar kembali menautkan bibirnya pada bibir Zain. Memulai ciuman penuh hasrat sekali lagi.
Zain menuntun tangan Sekar menyusup ke dalam celananya. Seolah sudah paham, tanpa rasa malu dan ragu Sekar menggenggam bagian inti tubuh Zain untuk pertama kalinya. Seketika mata Sekar melotot dan melepas tautan bibirnya.
"Kenapa?" Tanya Zain, bingung dengan reaksi Sekar.
"Tolenya kak Zain ...." Sekar tidak melanjutkan kalimatnya. Dengan gerakan cepat, perempuan itu menurunkan celana luar hingga dalaman suaminya.
"Kak, beneran ini Tolenya asli? Kakak tidak sengaja pakai obat, jamu, tisu sulap atau apa gitu kan?" Sekar kembali menggenggam milik Zain yang dipanggilnya 'Tole' itu.
"Enggak, kata daddy yang alami saja. Memangnya kenapa?" Zain benar-benar bingung.
"Kak, tangan Sekar berasa kekecilan banget. ini dua tangan megang atas bawah lho, tapi masih g kepegang semua. Lihat ini ibu jari Sekar jauhan sama empat jari yang lain. Dan ini keras banget, Kak." Sekar jadi penasaran ingin memasukkan si tole ke mulutnya yang tidak seberapa lebar.
Tapi baru saja melebarkan mulutnya, suara ketukan pintu terdengar.
Sekar buru-buru menaikkan celana Zain kembali. "Iya, sebentar." Perempuan itu buru-buru menyahuti dengan suara yang dibuat senormal mungkin.
Zain meraup wajah sembari menghempaskan bokongnya ke atas ranjang dengan kesal.
Sekar membuka sedikit pintu sembari merapatkan kebaya dengan satu tangan yang lain.
"Nanti habis dhuhur, Pak Camat mau datang. Pengen tahu suamimu bagaimana, mungkin penasaran. Siapa yang membuat anak Pak Camat sampai ditolak." ledek Diman.
"Iya pak, tidak masalah. Sekar siap-siap sekalian mau sholat dulu." Setelah melihat bapaknya mengangguk, Sekar buru-buru mengunci pintunya rapat-rapat.
"Kakak atau Sekar duluan yang mandi?" Tanya Sekar sembari melepas kebaya sembari membetulkan kacamata penyangga dada yang sudah tidak pada tempatnya karena tangan Zain tadi. Sekar mengambil kaos secara acak untuk mempersingkat waktu.
Zain ingin mengatakan kalau dia tidak ingin mandi, tapi dia tidak mau menyinggung Sekar. Tapi kalau dia mandi, dia harus keluar kamar, dan melewati ibu-ibu tetangga dekat Sekar yang membantu menyukseskan acara hari ini dalam mengurusi semua hidangan yang disajikan.
__ADS_1
"Kak, kenapa diam saja? Pasti kakak canggung ya karena harus melewati orang banyak?" Tebak Sekar, tepat pada sasaran.
"Sekar saja dulu, nanti Sekar kondisikan agar aman. Baru kakak ke kamar mandi. Tapi jangan cuman pakai handuk saat keluar masuk kamar mandi. pakai baju kakak itu dulu, baru nanti ganti baju lagi di sini." Cerocos Sekar, setelah melihat Zain mengangguk pasrah perempuan itu keluar dari kamar.
Zain baru teringat dengan amplop kecil yang diberikan daddynya kemarin. Sayang sekali, amplop itu sekarang ketinggalan di hotel. Padahal seharusnya dia bisa membukanya sekarang.
Tidak lama, Sekar sudah kembali muncul dengan kondisi yang segar dan basah.
"Cepet kak, mumpung sepi. Jangan lama-lama mandinya."
Zain pun menurut saja apa kata Sekar sembari menerima handuk baru dari sang istri. Dia pun mandi sekenanya saja, yang terpenting, Zain melakukan wudhlu dengan benar.
Sementara itu, Senja dan Darren yang belum tiba di hotel, membuat yang lain khawatir. Padahal mobil ketiganya berjalan beriringan saat berangkat dari rumah Sekar tadi. Tetapi, karena lampu merah di salah satu pertigaan jalan, membuat mereka akhirnya terpencar.
Semua sudah mencoba menghubungi kedua orang yang memang kadang kala hobby menghilang itu. Tapi tidak satu pun yang diterima. Mereka menunggu di resto hotel yang terletak di lantai satu sembari makan siang.
Saat ini, personil semakin bertambah, Baby De, Aleandro, dan Chun Cha juga sudah datang. Tetapi, tidak ada si kembar centil di sana, dan tentu saja itu membuat Beyza lega. Karena kalau ada si kembar centil mereka pasti akan tebar pesona pada Genta.
Di tengah kepanikan semua orang, datanglah dua orang yang dinanti dengan santai dan senyuman tanpa dosa.
"Dari mana saja sih kalian itu, bikin khawatir saja." Sarita langsung menyambut dengan omelan.
"Ada sedikit urusan," sahut Darren.
Senja sudah memeluk Baby De, yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya begitu melihat wanita yang melahirkannya itu. "De kangen, Ma. De pengen cerita banyak sama mama? boleh kan?" Wajah gadis itu tampak sendu.
"Kita ke kamar mama saja. Tunggu di sini dulu. Mama akan menyapa mami papimu dulu." Senja berjalan menghampiri Aleandro dan Chun Cha.
Senja menangkap ada gelagat aneh antara kedua orang itu. Sikap adik tirinya itu terasa sangat basa basi saat menyapanya.
__ADS_1