Hot Family

Hot Family
Ingin Genta dan Bey menikah


__ADS_3

Kali ini Baby De meringis kesakitan. Ingin mengumpat, tapi ingat sedang harus menjaga sikap di depan Rangga. Untunglah ada Denok dan Dasen yang menghampiri mereka untuk berpamitan akan pulang lebih dahulu.


Setelah Dasen dan Denok benar-benar meninggalkan ruangan, Beyza mendekatkan mulutnya ke daun telinga De. "Kan ada mobilku, kenapa harus bareng Om Rangga? Jangan malu-maluin deh. Kakak biasanya nggak manja."


Baby De menyunggingkan senyum mempesonanya, karena dia melihat Rangga sedang menunggu jawaban 'iya' dari Beyza. Pria itu sedang merasa bersalah, gara-gara menjalankan perintah dari Rangga, Genta menjadi galau karena diabaikan oleh Bey.


"Kalau Genta pengen menjelaskan sesuatu, biar di rumah saja, Om. Bey akan pulang bareng Kak De. Lagi pula, tidak enak berbicara di mobil. Ada driver yang mendengar," ucap Bey dengan sopan.


Rangga memerima keputusan Beyza. Dia tidak ingin memaksakan kehendak pada gadis itu. "Baiklah, biar nanti Genta ke rumahmu. Om ke tempat Genta dulu."


Pria itu melangkahkan kaki mendekati meja tempat Genta dan Delia berada. Di sana keduanya terlihat berbicara agak serius. Delia dan anaknya sudah bersiap berdiri untuk langsung pulang bersama Rangga.


Baby De mencubit Beyza dengan gemas. "Kamu tidak peka!"


"Justru Bey ini peka, Kak. Bey tidak mau mempunyai ibu mertua Kak De. Rumit." Beyza menyambar tas, sebelum Genta menghampirinya, dia ingin buru-buru keluar.


"Justru lebih enak. Karena kita sudah biasa tumbuh bersama. Sudahlah, bilang saja iya, dan bantu buka jalan." Baby De mengamit lengan Beyza, sedikit merayu.


"Enggak," tolak Bey dengan tegas.


"Kapal pesiar buat pernikahanmu dan Genta." Baby De pantang menyerah.


"Terimakasih, Kak. Tapi lebih baik beli sendiri kalau hadiahnya hanya itu. Lagian, minta Papi Aleandro juga bakalan langsung dikasih." Bey menjulurkan lidahnya pada De dengan wajah meledek.


Baby De seketika melepaskan tangannya dari lengan Beyza. Dia mempercepat langkahnya drngan menghentakkan kaki karena kesal.


Genta yang tahu Beyza sudah masuk ke dalam mobilnya hanya bisa mengelus dada. Mendekati gadis itu, dari awal bisa dikatakan susah-susah gampang. Segala teori tentang cara meluluhkan hati perempuan, kebanyakan tidak bisa dipraktekkan ketika menghadapi Bey.


Di tengah kegalauan Beyza dan Genta. Rupanya Dasen dan Denok seperti sedang mengulang kejadian beberapa waktu yang lalu. Di mana Dasen sedang harap-harap cemas menunggu jawaban Denok, atas tawarannya untuk kembali menjalin sebuah hubungan. Keduanya duduk dengan sedikit jarak di bangku belakang mobil yang dikendarai Rudi.

__ADS_1


"Aku masih takut sama Bu Senja, Mas." Denok tidak berani menatap Dasen.


"Mama sedang hamil. Ini kesempatan bagus. Pasti mama akan sibuk memperhatikan bayi kecil. Sedangkan yang besar, apalagi aku, jelas dibiarkan suka-suka." Nada bicara Dasen masih menyiratkan kecemburuan.


"Bu Senja hamil?"


"Iya. Makanya sekarang kesempatan yang tepat. Mama tidak mungkin berani membencimu, karena takut nanti bayi keturunan Darren Mahendra akan mirip dengan orang yang dibenci," sahut Dasen dengan santainya.


"Hah? Maksudnya takut hidungnya pesek kayak aku? Pendek dan agak hitam kayak aku begini?" Denok sedikit salah mengartikan.


"Bukan itu maksudnya, meskipun kamu pesek, tapi cantik. Walau agak hitam, kamu manis sekali. Intinya kamu manis, cantik, dan baik hati. Cocoklah jadi pendampingku."


Denok terdiam. Dia teringat akan ibunya. "Tapi Mas, ibu sekarang buta. Jadi kemana pun aku nantinya tinggal, ibu harus ikut. Tidak mungkin aku tega meninggalkan ibu sendirian."


Dasen tersenyum dengan sangat mempesona. "Tentu saja, kamu boleh membawa ibumu tinggal bersama kita. Tapi kita harus berusaha sebentar. Kita berjuang bersama dulu. Kali ini, tidak dengan cara berpisah."


"Ya sudah, Mas. Kita jadian lagi." Denok menjawab dengan pasrah.


Akhirnya, Denok dan Dasen kembali bersatu kembali. Masih dengan cara yang sama, tidak suasana, kata-kata, dan hadiah romantis.


Sementara itu, Senja yang baru saja makan malam yang kedua, memilih bersantai di ruang tengah. Sedangkan Darren, dengan kegalauannya yang tidak boleh mendekat sama sekali, hanya bisa duduk merana di salah satu anak tangga. Dia memandangi Senja yang sibuk membolak-balik majalah.


Wajah Darren begitu memelas, kepalanya bersandar pada pagar ukir tangga dengan malas. Beberapa pembantu yang melihat pemandangan langka itu, hanya berani berbisik-bisik lirih. Melihat wajah Nyonya Besar mereka yang biasa saja, jelas menandakan bahwa sebenarnya tidak sedang terjadi pertengkaran. Meski dibenak mereka bertanya-tanya, apa hal yang menyebabkan dua orang yang biasanya mengumbar kemesraan itu, tiba-tiba menjaga jarak satu sama lain. Mereka hanya berani diam dan menduga-duga.


Mendengar bel pintu utama berbunyi, Senja menurunkan majalahnya. Dia melihat jam di dinding, waktu menunjukkan pukul sembilan kurang. Tapi anak-anaknya belum satu pun yang pulang.


Wati buru-buru berjalan untuk membukakan pintu. Senja mengikuti langkah pembantu yang sudah ikut dengannya sebelum Dasen lahir itu di belakangnya. Darren pun ikut beringsut ke arah yang sama, tetapi pria itu tetap konsisten menjaga jarak.


Saat pintu terbuka, seketika wajah Genta terpampang nyata. Senja dengan semangat langsung menghampiri kekasih anaknya itu.

__ADS_1


"Hei, sayang, mama kangen sekali sama kamu." Senja langsung memeluk Genta yang masih berada di ambang pintu. Wanita itu mengeluarkan suara manja yang tidak biasa, membuat kekesalan Darren semakin bertambah.


Sambutan Senja yang terkesan berlebihan, dan tidak seperti biasanya itu membuat Genta sedikit bingung. Bahkan dia jadi canggung saat hendak membalas pelukan Senja. Apalagi saat melihat mata Darren menyorot tajam dengan raut wajah kesal, nyali Genta untuk membalas pelukan, menjadi agak menciut.


"Bey sudah datang kan, Ma?"


Belum sampai Senja menjawab, sebuah mobil yang tentu saja milik Beyza, berhenti tepat di belakang mobil Genta. Baby De, turun dengan cepat dan wajah yang manyun. Semua itu karena Beyza yang membuatnya kesal, karena tidak mau memberi nomer ponsel Rangga.


Gadis itu langsung masuk ke dalam setelah melemparkan senyum tipis pada Senja, bahkan Beyza sampai tidak melihat kalau ada Darren berdiri di dekat meja pajangan.


Beyza melewati Genta, mencium mamanya, lalu berniat melangkahkan kakinya untuk menghindar sesaat. Tapi suara Genta yang memanggilnya, membuat Beyza mewurungkan niatnya.


"Mbak, aku mau bicara. Sebentar saja, jangan membawa kesalahpahaman sampai tidur," ucap Genta.


Senja mengernyitkan keningnya, "Kalian ada masalah apa? Bicara dan selesaikan baik-baik, Bey."


"Ma ...." Beyza tidak jadi melanjutkan kata-katanya karena Senja menatapnya tajam.


"Bicara sama Genta sekarang! Setidaknya beri dia waktu sepuluh menit. Tidak ada alasan menolak," Tegas Senja, lalu dia menoleh pada Genta, dan berkata dengan lembut, "mama percaya kamu tidak akan mengecewakan mama, apalagi menyakiti Beyza."


Senja melangkahkan kakinya kembali ke ruang tengah, Darren kembali mengikutinya. Namun kali ini dengan jarak yang lebih dekat.


"Ask, yang anakmu itu Beyza. Lagi pula, kenapa kamu terlalu ikut campur urusan mereka?" Darren berbicara pada Senja dengan nada sedikit kesal.


Tanpa menoleh, Senja menjawab dengan enteng, "Aku mau mereka segera menikah, dan aku mau tinggal bersama mereka. Tanpa kamu tentunya."


Darren seketika menggelengkan kepala kuat. "Jangan buat kehamilanmu sebagai alasan untuk mengerjaiku, Ask. Itu bayiku, jangan ajak dia menjauhiku. Lagipula kalau mereka menikah, mereka harus tinggal di sini."


"Siapa yang membuat aturan begitu? Keputusanku tidak bisa diganggu gugat. Berani menghamili, berani menanggung akibatnya." Senja terus berjalan mendekati lift.

__ADS_1


__ADS_2