
Senja, Beyza dan Baby De berangkat menuju dokter kandungan. Darren hanya bisa pasrah saat Senja tidak menginginkan dia ikut melihat perkembangan anaknya sendiri. Kali ini dia memilih untuk mengalah terlebih dahulu. Tapi jika sikap Senja berlarut-larut, tidak ada jalan lain selain mengambil sikap tegas.
"Ma, jangan banyak pikiran, Just enjoy. Semakin mama stres, semakin tidak bagus," Baby De merangkul pundak Senja begitu sampai di klinik Dokter Nuke.
Kondisi klinik sudah sepi, hanya tersisa satu pasien yang masih ada di dalam. Beyza memang sengaja menghubungi perawat dan membuat janji untuk menjadi pasien terakhir.
Dokter Nuke yang merupakan dokter kandungan Senja sejak kehamilan Baby De hingga si kembar, terlihat terkejut dengan kedatangan Senja dan dua orang gadis cantik.
"Ini Baby De, dan yang ini Beyza." Senja memperkenalkan keduanya satu per satu.
"Astaga, sudah gede-gede, cantik-cantik. Ini ada apa nih datang? Hmm ... sudah mau terima cucu ya, Nja? Masih cantik begini omanya." Cerocos Dokter Nuke yang disambut saling lempar pandang antara Bey dan De.
Senja tersenyum tipis sembari menunduk sebentar. "Bukan mereka, Dok. Tapi sepertinya saya yang hamil."
Dokter Nuke menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Tapi buru-buru menguasai diri dengan melempar senyuman hangat seperti biasa. Lalu segera menyuruhh Senja berbaring di atas brankar periksa.
Seorang perawat membantu Senja menyingkap atasan yang dikenakannya. Gel dingin dituangkan di atas perut wanita yang memang masih sangat cantik itu. Dokter Nuke mulai menggerakkan alat di atas perut Senja sembari mengamati layar monitor. Baby De dan Beyza turut memperhatikan layar itu dengan raut wajah harap-harap cemas.
"Sudah lima minggu, Nja. Belum jelas bakalan kembar atau tidak. Ini kantong nya termasuk besar. Mungkin baru akan jelas nanti kalau sudah 13 atau 14 minggu."
Beyza menanyakan dengan detail apakah berbahaya hamil diusia mamanya yang sudah lebih dari 45 tahun. Dokter Nuke yang memang sangat sabar dan baik hati, menjelaskan secara rinci dan jelas.
"Beresiko tinggi, bukan berarti tidak bisa selamat, Bey. Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kondisi mama dan calon adikmu tetap sehat. Aktivitas ringan juga masih bisa dilakukan, selama tidak ada flek atau keluhan berlebihan. Tapi satu hal yang pasti, aktifitas seksual tidak bisa disamakan dengan yang dulu. Bahkan saya sarankan untuk tidak dilakukan, karena saat ini, kondisi placenta mamamu di bawah dan menutupi jalan lahir. Meskipun boleh beraktivitas, sepertinya bedrest adalah pilihan terbaik."
__ADS_1
Semua mendengarkan penjelasan Dokter Nuke dengan seksama. Srharusnya ada Darren Mahendra di sana juga, karena apa yang disampaikan jelas berhubungan erat dengan pria itu.
Setelah mendapatkan vitamin, dan dirasa sudah cukup menerima arahan dari Dokter, ketiganya pun langsung kembali pulang. Beyza mulai menunjukkan perhatiannya yang tulus pada Senja. Sepertinya, dia sedang berusaha menerima kenyataan.
Mereka tiba bersamaan dengan Dasen. Titisan Darren itu langsung menampilkan wajah tidak bersahabat begitu melihat Senja, De, dan Bey turun dari mobil Lexus hitam yang dikemudikan oleh driver.
"Dari mana, Das?" Senja mencoba bertanya dengan ramah.
"Dari cari angin," jawab Dasen dengan datar.
"Angin dicari? Kurang kerjaan banget. Nih kalau butuh angin, aku kasih." De meniup angin dengan mulutnya tepat di depan wajah Dasen.
"Kak, tidak sopan," dengus Dasen.
Ke empatnya menaiki anak tangga bersamaan. Beyza, menggandeng Senja dengan posesif. Saat Dasen langsung berbelok ke kamarnya tanpa mengucap kata apapun, Senja hanya bisa menarik napas dalam.
"Kita antar mama ke dalam." Baby De membuka pintu kamar Senja, Darren nampak sedang duduk di sofa sembari menatap layar televisi lebar di depannya.
Mengetahui Senja datang, Darren segera beranjak berdiri. Ketika ingin mendekati Senja, perempuan itu malah memutuskan masuk ke dalam kamar mandi begitu saja. Darren lagi-lagi harus menahan diri karena ada De dan Bey.
"Selamat Dadd, Derya dan Beyza gagal bontot." Beyza mengulurkan tangannya tapi dengan ekspresi wajah sinis. Sudah menerima keadaan Senja, tapi malah kesal dengan daddynya.
Darren menerima uluran tangan Bey tanpa pikiran negatif, pria itu terlihat sangat bahagia dan lega. Kini, dia harus menambah stock kesabaran. Karena jelas, Senja pasti akan kembali memusuhinya seperti di awal-awal kehamilan sebelumnya.
__ADS_1
Baby De yang ingat akan pesan Dokter Nuke tapi tidak enak untuk menyampaikan secara langsung berbisik pada Beyza. Kembaran dari Derya itu mengangguk mengerti.
"Malam ini, Kami berdua tidur di sini. Daddy bisa tidur di kamar lain kan?" Beyza menyampaikannya dengan nada tegas tapi sopan.
Darren menarik napas dalam. Rupanya, ujian kehamilan sudah akan dimulai. Pria itu menerima saja, menghindari perdebatan adalah langkah terbaik yang harus dilakukan.
Sementara itu, masih di hotel yang sama. Zain dan Sekar yang baru saja melanjutkan proses adaptasi Sekar pada si tole, masih sama-sama terengah-engah di atas ranjang. Keduanya mengatur napasnya sembari menikmati sisa-sisa kenikmatan yang masih membekas. Meski belum menemukan perasaan berdesir yang dirasakan saat tangan Zain yang bermain, Sekar kini sudah mulai membiasakan diri untuk tidak menunjukkan ekspresi kaget saat hentakan pertama.
"Bey sudah menghubungi belum, Kak? Bukankah tadi mengantar mama ke dokter?" Tanya Sekar dengan tangan mulai naik turun mengusap dada Zain yang ditumbuhi bulu tipis yang maskulin.
"Sudah. Mama benar-benar hamil. Kalau kamu hamil, maka adikku dan anakku akan satu angkatan." Zain mengecup rambut Sekar yang sedang menggunakan bahunya sebagai bantal.
"Daddy dan mama memang hebat. Kamu jangan terlalau kesal, Kak. Kita masih baru menjalani pernikahan, kalau nanti ternyata kakak sama kayak mereka bagaimana coba?"
Zain menggeleng kuat. "Tidak, setelah anak pertama kita ikut keluarga berencana. Nanti usia lima tahun baru dilepas. Kita dua anak cukup saja," sahut Zain dengan cepat.
"Sedikit Sekali. Padahal bibit Kak Zain pasti bagus. Sekar mau hamil tiap tahun. Lihat Mama Nja, Sekar malah terinspirasi. Banyak anak, awet muda dan cantik."
Zain menimpuk kening Sekar dengan pelan. "Aku pegang omonganmu. Awas kalau ngeluh."
"Jelas tidak. Sekarang usaha lagi pun, ayo!" Sekar menantang Zain dengan ekspresi menggoda.
Zain pun tidak menolak dan menerima dengan senang hati. Keduanya kembali beraktifitas panas dengan jeda yang tidak sampai 30 menit.
__ADS_1
Di sisi lain, Derya diteror oleh pesan singkat dan telepon dari nomer-nomer tidak dikenal. Laki-laki itu sama sekali tidak panik. Dia tahu pasti siapa pengirimnya.