Hot Family

Hot Family
Makan malam menyiksa


__ADS_3

Senja menata makanannya di atas meja makan dibantu oleh Genta. Semua sudah siap.


"Terimakasih ya, Gen. Sudah bantuin, Mama." Senja mengusap punggung Genta dengan lembut.


"Sama-sama, Ma. Terimakasih buat semuanya, Ma. Gen, janji tidak akan membuat mama kecewa."


"Bukan Mama yang harus kamu jaga hatinya, tapi Bey, Gen."


"Tapi, Mama adalah orang pertama yang akan kecewa dan sedih kalau melihat anaknya patah hati."


"Kamu pintar bicara sekarang."


"Genta sudah jadi CEO, Ma. Kalau tidak berani bicara, bagaimana mimpin perusahaannya."


"Astaga, Mama lupa. Mama merasa kalian masih SMA. Anggap saja begitu, Mama menolak tua," canda Senja.


Senja melongokkan kepala untuk sekedar melihat keadaan ruang tamu. Sepertinya, Darren dan Rangga sudah tidak setegang tadi.


"Kamu tunggu di sini saja, biar Mama yang memanggil mereka." Senja langsung berjalan ke tempat di mana suaminya berada.


"Makan malamnya sudah siap, Ask." Senja ingin duduk di samping Darren, tapi buru-buru suaminya itu berdiri.


"Panggil, Bey sekalian, Ask," Darren mendorong lembut punggung istrinya sembari melirik Rangga yang benar-benar menundukkan pandangannya. Senja yang berkeringat, membuatnya semakin merasakan sesuatu.


'Posesif.' umpat Rangga dalam hati.


Setelah Senja dan Beyza terlihat keluar, Rangga dan Darren pun langsung bergeser ke ruang makan. Mereka menempati posisi masing-masing.


Semua makan sendiri-sendiri dengan tenang, kecuali Darren yang lebih senang makan disuapi dan sepiring berdua dengan Senja.


"Kang, nanti kalau kita menikah, kita seperti daddy sama mama, ya. Lebih sering mesranya ketimbang berantemnya," bisik Beyza, sangat lirih. Genta menanggapi dengan mengangguk dan juga tersenyum.

__ADS_1


Senja mengambil tisu, mengelap sedikit nasi yang tertinggal di sudut bibir suaminya. Darren memegang pergelangan tangannya dengan tatapan penuh cinta.


"Kenapa makan tangan selalu enak seperti ini. Sebentar lagi, aku akan menjadi om-om buncit. Tidak bekerja, dan hanya serumah denganmu."


"Olahraga, Ask. Kita bisa panggil instruktur ke rumah. Tapi sepertinya akan menggemaskan kalau kamu sedikit buncit, akan lebih menyenangkan saat di pegang." Senja menimpali dengan candaan.


"Mama, benar. Om-om tuh pantasnya buncit, kalau yang terlalu six pack malah takut ternyata sudah berbelok arah," sahut Beyza.


"Kamu tidak berbelok kan, Ngga?"


Pertanyaan Darren membuat Rangga tersedak. Membuat Genta dan Beyza kompak mengulurkan air putih pada pria itu.


"Terimakasih," tolak Rangga sembari mengambil air putihnya sendiri.


Giliran Darren yang mengambil tisu. Dengan telaten, dia mengeringkan kening Senja yang berkeringat. "Cantik," pujinya.


Jiwa duda Rangga semakin meronta, sepertinya syarat Darren memang sangat masuk akal. Menjadi besan, artinya akan banyak kebersamaan yang akan dilalui. Dan itu akan membuatnya melihat kemesraan Darren dan Senja yang memang kerap kali tidak disembunyikan meski di tempat umum.


Rangga dalam hati sepertinya akan mencari cara lain, ketimbang harus menikah. Di usianya, dia enggan mengenal dan memahami kepribadian perempuan baru.


Tidak terasa, makan malam bersama mereka pun selesai. Sebentar bagi yang lain, tapi terasa panjang, bagi Rangga yang menyaksikan keromantisan sang Tuan rumah. Dia merasa, Darren memang sengaja melakukannya kali ini. Pria itu sedang memberikan motivasi pada Rangga agar menikah lagi.


"Ucapan terimakasihnya sama aku saja, tidak perlu sama Beyza atau istriku." Darren berdiri dan menekan pundak istrinya agar tetap bergeming di tempat duduknya. Dia mendahului keinginan Rangga dan Genta yang memang ingin berpamitan.


Darren mengantar calon besan dan calon menantu yang masih berat untuk diterimanya itu sampai ke depan pintu.


"Gen, besok siang temani Om main Golf. Bisa? Malamnya, antar Om ke bamdara. Hanya kamu, jangan mengajak ayahmu," pinta Darren dengan suara yang datar sembari melirik Rangga.


"Bisa, Om. Dengan senang hati," Genta menjawab dengan sopan.


Keduanya pun akhirnya benar-benar pulang. Darren menarik napas lega dan meregangkan badannya di atas sofa panjang. Beyza dan Senja nampak bahagia berpelukan di dapur.

__ADS_1


"Mama mau mandi, bau asem. Besok mama pulang, kamu hati-hati jaga diri. Kalau berdua, jangan kebablasan. Ingat, harus nikah dulu." Senja memencet hidung mancung Beyza.


"Tentu saja, Bey akan kembali bulan depan. Bey siap memimpin perusahaan, Mama. Bersantailah di rumah bersama daddy," Bey memeluk manja mamanya.


Merasa Beyza dan Senja terlalu lama di dapur, Darren menyusul kedua perempuan kesayangannya itu. "Daddy tidak dipeluk? Padahal daddy baik kan malam ini?"


Senja merenggangkan pelukan Beyza,lalu mengajak suaminya bergabung dalam pelukan mereka. Darren merasakan kehangatan yang luar biasa.


Setelah itu, Senja masuk ke kamar untuk membersihkan diri dulu sebelum tidur. Sementara itu, Darren mengajak Beyza berbicara di ruang tamu.


"Kenapa kamu memilih Genta, Bey?" tanya Darren langsung pada intinya.


Beyza tidak langsung menjawab. Bukan karena dia tidak tahu harus menjawab apa. Tapi dia hanya inin memastikan kalau daddy-nya memang masih di mode lumayan baik.


"Jika mencintai itu butuh alasan, mungkin sudah tidak akan ada gunanya lagi yang namanya perasaan. Ketika semua harus dipikirkan. Itu bukan cinta. Saat daddy jatuh cinta sama mama, apa daddy tahu alasannya?"


Jawaban Beyza membuat Darren memanyunkan bibirnya. Jangankan alasan, berpikir mau mencintai Senja saja tidak pernah. Logikanya akan menolak mencintai seorang Senja. Penampilan Senja memang menarik, kalem, bersahaja, tapi gaya bicaranya yang berani dan menusuk, sering kali membuatnya emosi dan kalah bicara.


Kalau pun sekarang ditanya apa alasannya jatuh cinta sama Senja. Dia pun tidak bisa menjawab. Cantik, baik dan perhatian, tentu tidak sekedar itu. Kalau ketiga itu saja alasannya, dia mungkin akan jatuh cinta pada setiap pramugari di maskapai yang sering ditumpanginya.


"Dadd... Daddy belum menjawab pertanyaan, Bey?" Beyza menepuk paha Darren, membuyarkan lamunan akan masa lalu.


"Daddy tidak tahu, Bey. Bahkan tidak menyangka kalau Mama Nja jodohnya Daddy. Bahkan satu-satunya perempuan yang membuat Daddy cemburu dan menangis hanya Mama." Darren menjawab dengan jujur.


"Nah, kan. Bey, juga begitu Dadd. Kita tanya kalau mama tahu tidak kenapa jatuh cinta dan memilih menikah dengan Daddy."


Darren seketika berdehem. Di antara semua anak-anaknya, hanya Zain yang kurang lebih kisah pernikahannya dengan Senja. anak-anak yang lain selalu mengira jika mama daddy-nya mengalami masa pacaran yang harmonis.


Senja keluar dengan rambut yang masih dililit dengan handuk. Daster di atas lutut tanpa lengan sudah dia kenakan.


"Kalian sedang membicarakan apa? Seru sekali sepertinya." Senja langsung menghempaskan bokongnya di samping suaminya.

__ADS_1


"Sesuatu," sahut Darren buru-buru. Dia tidak mau membahas masa lalu di depan Senja. Akan kelihatan kalau dari awal, dia lah yang terlalu cinta. Jangan sampai, Beyza sampai tahu, kisah antara Senja dan dirinya pun tidak berawal indah.


__ADS_2