Hot Family

Hot Family
Bertemu Bae dan Arham


__ADS_3

Dasen melihat penampilannya sendiri. "Ada yang salah, Mbah?" tanyanya.


"Tidak ada! Itu kamu mau menyuruh saya jualan gula? Kalau ngasih sesuatu itu mbok ya kira-kira. Sebanyak itu, dibuat apa, Le? Kalau memang nyuruh buka toko, ya mbok sekalian sembako yang lain. Biar tidak nanggung. Terus kamu beli, pakai uangmu sendiri apa sama uangnya orangtuamu?" cerocos Mbah Gondrong.


"Beres Mbah, Jangankan toko sembako. Super Market pun akan saya buatkan kalau sudah cocok. Jangan khawatir, saya sudah bekerja, Mbah. Jabatan saya adalah impian semua orang. Bisa dikatakan, gaji Saya bisa digunakan untuk menghidupi perempuan satu RW dengan layak," ucap Dasen dengan bangganya.


"Bocah mlete. Terus kamu ke sini mau tanya apa? Atau cuma mau deketin anak Mbah saja? Mbah saja dua gempor,apalagi seRW." Pertanyaan Mbah Gondrong langsung tepat pada sasaran.


"Mau nganterin kakak saya dong, Mbah. Tapi sebentar, kenapa manggilnya Mbah? Padahal masih muda dan gagah. Daddy saya saja menolak tua, kenapa Mbah malah minta dipanggil Mbah? Dan serius istri Mbah ada dua?"


Dasen malah balik bertanya.


"Nah, ya itu, saya juga bingung, Le. Orang-orang yang ke sini, manggilnya gitu. Istri Mbah memang dua, yang satu rajin pengajian dan yang satu rajin arisan." Mbah Gondrong membetulkan blangkonnya yang sedikit miring.


"Mbah, nama saya Dasen, bukan Le," protes Dasen.


"Le itu Tole, artinya panggilan sayang untuk anak laki-laki. Ckckck... Ngono ae ra paham. (gitu saja tidak mengerti)," dengus Mbah Gondrong.


"Wah... Saya harus sering-sering konsultasi sama Mbah ini. Bagaimana serumah dua istri," Seloroh Dasen.


Sekar dan Zain hanya menggerakkan bola matanya ke sana ke mari memperhatikan interaksi antara Dasen dan bapaknya Denok.


"Sefrekuensi," bisik Zain pada Sekar.


"Klob, istri dua. Jangan sampai anak itu berguru," timpal Sekar dengan suara yang lirih.


"Ada yang mau kalian tanyakan lagi? Saya masih ada tamu lagi. Kalau mau konsultasi exclusive bisa lewat whatsapp atau DM instagram saja. Di jawabnya di jamin cepet. Karena adminnya istri saya sendiri." Mbah Gondrong menarik laci yang ada di meja depannya, mengambil kartu nama dan memberikannya pada Sekar dan Zain masing-masing satu.


Zain menahan tawanya, saat membaca kertas kecil yang dipegangnya, begitu pula sekar. Dasen yang paham ekspresi wajah sang kakak menjadi penasaran.

__ADS_1


"Sudah, Mbah. Cukup. Lain kali saja kita konsultasi lagi. Kami pamit saja. Biaya konsultasi kali ini, saya transfer saja. Gulanya itu khusus dari adik saya buat, Mbah. Sebagai perkenalan awal. Kalau sambutan, Mbah seramah ini, jangan heran kalau anak itu akan sering datang ke sini." Zain menjawab, mewakili Sekar yang sepertinya masih terpesona dengan tulisan di kartu nama.


Sekar dan Zain beringsut berdiri dan memakai alas kakinya kembali. Mereka pun kembali berpamitan. Dasen mau tidak mau juga pamit. Denok yang masih di sana mengantar mereka sampai pintu keluar.


Saat mendekati mobil mereka pandangan tertuju pada seorang perempuan yang turun dari mobil Nissan Juke warna merah. Baju perempuan itu pun merah-merah. Dandanannya meriah dan merekah. Dadanya menyembul berlimpah.


"Itu istri pertama Mbah Gondrong alias ibukku," jelas Denok tanpa diminta. Karena dia melihat ketiga orang di depannya itu menyimpan tanya di sorot matanya.


"Berat, Kak. Mungkin Denoknya tidak masalah. Tapi apa kata daddy kalau besan mereka seperti ini. Aku takut bayangin," bisik Sekar tepat di daun telinga Zain.


"Sama. Bakalan rumit. Reject sebelum maju bisa-bisa." Zain menimpali tidak kalah lirih.


Perempuan itu menghampiri Denok dan ketiga tamunya, melemparkan senyuman yang menurutnya paling mempesona. Dia menatap Zain, Sekar dan Dasen satu per satu. Tapi Ibu dari Denok itu bertahan lebih lama dalam menatap Dasen. Tatapannya dari atas ke bawah berulang-ulang hingga keningnya berkerut seperti sedang mengingat sesuatu.


"Wajahmu mengingatkan saya pada seseorang, sekilas mirip sekali. Saya ingat betul bagaimana wajah dan bentukan tubuhnya. Kenapa mirip sekali. Kamu membuat Saya ingin kembali muda saja." Perempuan itu memegang lengan Dasen, membuat Dasen merinding.


Dasen segera masuk ke dalam mobil, diikuti Zain dan Sekar. Lalu menyuruh Rudi segera menjalankan mobilnya.


"Ibu ini memalukan, itu teman Denok, mau Ibu embat juga?" Denok mrnghentakkan kakinya karena kesal. Ibunya masih saja genit, meski umur sudah kepala lima. Untunglah Mbah Gondrong punya satu istri lagi yang menyejukkan.


'Kok, anak tadi mirip sama Darren Mahendra, ya. Jadi pengen megang-megang lagi,' batin perempuan itu sembari senyum-senyum sendiri dengan memandangi tangannya.


.


.


Senja dan Darren sedang bersiap menuju rumah Bae dan Arham, mereka memang sengaja mengajak Derya dan Inez.


"Ask, kenapa kecantikanmu semakin bertambah setiap hari. Sekali pun, aku tidak bisa berhenti jatuh cinta sama kamu, Ask." rayu Darren, memeluk Senja dari belakang sembari menciumi punggung istrinya bertubi-tubi.

__ADS_1


Senja yang sedang menyisir rambutnya, jadi menghentikan gerak tangannya. "Sudah tua, Ask. Giliran anak-anak yang merayu pacarnya."


"Tidak ada giliran dalam mencintai, Ask. Anak-anak memulai, kita melanjutkan. Jangan sampai kemesraan kita kalah sama mereka." Darren memutar tubuh istrinya tepat berhadapan dengannya, lalu mengecup bibirnya sekilas.


"I love you, Ask," liriknya.


"I love you more, Ask." Senja menjawab dengan menghentikan gerak tangan Darren yang hendak menyusup ke dalam bajunya. "Kita berangkat. Nanti saja kalau mau. Apa kamu tidak capek, Ask? Barusan sudah sekali."


"Tidak ada sekali, kalau perlu bertubi-tubi." Darren kembali mengecup bibir Senja sekilas.


Senja hanya meringis, makin tua, bukannya makin berkurang. Nyatanya Darren semakin menggila. Pensiun dari perusahaan, membuatbya tidak ada pekerjaan selain mengerjai istrinya sendiri.


Derya dan Inez sudah siap dan menunggu di ruang tamu. Kali ini, Inez bertekad akan menambah kekuatan hatinya. Derya sudah memberitahu, kalau mulut Oma Bae, level pedasna di atas Darren Mahendra.


Akhirnya setelah sekian lama, yang ditunggu datang juga. Darren seperti biasa selalu mengamit pinggul Senja. Sungguh Inez kadang insecure dengan kecantikan dan body mertuanya yang masih terjaga dengan baik. Perawatan dan gaya hidup yang tepat, memang membuat Senja terlihat seperti usia 30an.


Mereka berempat pun berangkat menuju kediaman Bae yang hanya ditempuh dalam waktu tidak kurang dari 45 menit.


Saat memasuki gerbang utama yang megah, tangan Inez seketika berkeringat. Melihat rumah Bae masih dari gerbangnya saja, semakin menegaskan kalau keluarga calon suaminya memang bukan kaya yang biasa.


Minder sekaligus bangga dicintai oleh laki-laki seperti Derya yang sangat baik dan tidak sombong.


Turun dari mobil, di depan pintu utama, Inez bisa melihat perempuan dan pria berusia 70an menyambut kedatangan mereka.


Senja dan Darren mencium kedua orang tua itu bergantian. Lalu Derya pun melakukan hal yang sama.


"Oma, Opa, kenalkan ini Inez. Insya Allah akan menjadi cucu menantu Oma dan Opa." Derya memperkenalkan Inez dengan bangga.


Arham melempar senyuman ramah. Sementara Bae, belum juga tersenyum, bola matanya sudah langsung fokus pada liontin salib yang menggantung di kalung yang dikenakan Inez.

__ADS_1


__ADS_2