
Zain menatap Airin penuh harap. Perpaduan cinta dan nafsou memang luar biasa. Membuat lupa diri dan waktu yang belum saatnya.
Airin terlihat ragu, bibirnya tidak lagi bisa berucap. Karena bibir Zain kembali membungkamnya, tangan calon suaminya itu kini sudah merambah ke bagian dadanya.
Ini kali pertama bagi airin merasakan sensasi pucuk ranum berwarna pink di dada kenyalnya dimainkan. Tubuhnya seketika mengeliat, bukannya menolak. Tapi tangannya malah menahan pergelangan Zain agar tidak berpindah dari area itu, bahkan sedikit mendorong agar Zain lebih cepat memainkannya.
Zain kembali melepas tautan bibirnya, suara de5ahan pelan pun lolos dari bibir Airin. Baru di bagian dada, tubuh Airin sudah seperti menggelinjing.
"Kita lanjutkan nanti, ya. Kalau sudah halal." bisik Zain, dengan suara yang sudah parau dan mata yang masih diselimuti keinginan untuk menuju puncak.
Airin mengangguk, bukan hanya Zain yang mendamba lebih. Airin pun juga. Tapi biarlah di tahan dulu, hingga malam pengantin itu tiba.
"Aa lihat Mama dulu, ya. Mau ikut?" tanya Zain, sembari membetulkan letak kaca mata Airin yang tadi sempat terangkat naik.
Sementara itu, Dasen kembali masuk ke kamar mamanya, kali ini tidak sendiri. The girls dengan personil Baby De, Bianca, Carina, dan Beyza juga ikut masuk ke sana.
Derya dan Genta belum beranjak dari kamar, keduanya sedang asik melanjutkan permainan PS5 yang baru dibeli Derya beberapa waktu yang lalu.
"Dadd, kami boleh ke kafenya Genta sebentar tidak?" rengek Beyza dengan manja.
"Mama kan lagi sakit, Bey," ucap Darren.
"Kalian pergilah. Tapi minta pak Rudi yang mengantar. Pastikan tugas sekolah selesai dulu. Jam sembilan usahakan maksimal." Senja menyahut dengan suara yang sudah agak keras.
"Mama memang yang terbaik." Dasen menghampiri sang mama dan mendaratkan ciuman lembut di pipi.
"Das, sudah! nanti pipi Mamamu habis," ucap Darren dengan tatapan mata kesal. Seharian bahkan dia tidak bisa mendapatkan mood booster, tapi titisannya dengan mudah berkali-kali menciumi pipi Senja dengan mudah.
The girls dan Dasen pun berpamitan dengan Opa dan oma-oma mereka juga.
"Semoga kita semua, diberikan kesehatan dan umur panjang. Supaya kita bisa menyaksikan pernikahan cucu-cucu kita," bisik Bae pada Sarita.
"Aminnn. Tidak sabar bagaimana rasanya menjadi oma buyut," balas Sarita, tak kalah berbisik.
Selepas anak-anak meninggalkan kamar dan terdengar meneriaki Derya dan Genta untuk segera di ajak berangkat, Sarita, Bae dan Mahendra pun memutuskan untuk bersantai di lantai empat.
__ADS_1
Darren menarik bangku yang didudukinya tadi lebih dekat dengan Senja. "Sudah lebih baik?" tanyanya.
"Sudah, Ask. Tinggal sedikit lagi, mungkin besok pagi akan jauh lebih baik lagi. Bosen berbaring terus, tidak enak sama sekali." keluh Senja.
"Benar, Ask. Memang tidak enak dan sangat menyiksa." Darren ikut mengeluh.
"Tapi ini bantal dari Dasen, beneran enak, Ask. Nyaman. Anak itu pintar sekali mencari celah, benar-benar tidak berbeda dengan Daddynya." Senja menepuk tangan Darren yang sedari tadi anteng di atas perutnya.
"Seperti ini," Darren mengecup pelan bibir sang istri. "Jangan terlalu stres, kalau kamu sakit kasihan aku."
Satu kecupan kembali mendarat di bibir Senja. Kali ini dibiarkan bertahan di sana lebih lama.
Zain dan Airin yang mau masuk, terpaksa menghentikan langkah. Memberikan waktu pada daddy dan mamanya untuk melakukan sesuatu yang memang bisa menaikkan mood dengan begitu cepat.
Melihat daddynya hendak melakukan lebih dengan tangannya, Zain pun berdehem dengan santai.
"Lakukan nanti jika pasien sudah sembuh, dan yang penting, pastikan pintu sudah terkunci rapat dan aman." Zain langsung masuk bersama Airin.
Darren seketika memundurkan wajahnya, menoleh sebentar pada anak dan calon menantunya itu, lalu melemparkan senyum sinisnya yang khas.
"Mesra itu bukan masalah tua atau muda, tapi halal dan tidaknya kemesraan itu. Kalian masih belum halal. Jadi jangan berlebihan, atau setan akan dengan senang hati berteman dan menyatu bersama kalian," tutur Darren.
"Makanya, Daddy harus cepat halalin kita. Kalau sampai kita tidak bisa menahan godaan, Daddy nanti yang ikut menanggung dosanya," ucap Zain dengan begitu santai.
Anak laki-laki itu mendekati mamanya. "Zain periksa dulu ya, Ma. Maaf ... bisa mundur agak jauh, Pak?" Zain sengaja menggoda daddynya.
Darren berdiri dengan kesal, lalu duduk di sisi ranjang yang lain. Membiarkan Zain memeriksa Senja. Dalam hati berharap agar istrinya segera pulih dan bisa melakukan aktivitas seperti sedia kala.
******
Di kafe milik Genta, segerombolan remaja menikmati waktu kebersamaan mereka dengan canda tawa, sesekali saling cela.
Dua meja dijadikan satu. Michel rupanya juga sudah hadir di sana dan tentu saja langsung akrab dengan Baby De. Keduanya kompak membicarakan mobil sport baru mereka, Dasen hanya senyum-senyum. Dia masih ingin berdamai dengan penolakan yang diberikan Senja atas permintaannya.
Sementara Bianca dan Carina, begitu gencar berusaha menarik perhatian Genta dengan celotehan mereka. Malam ini hanya Beyza yang sedikit pendiam.
__ADS_1
"Das, papiku beli mobil sport itu melalui perusahaan kak Zain, lho. Jadi agak murah. Harusnya kalau buat kamu, malah dikasih cuma-cuma." Baby De mencoba memanas-manasi Dasen.
"Bukan soal harganya Kak, tapi kata mama belum perlu dan tidak penting," sahut Derya.
"Terus hadiah sweet seventeen buat kakak apa dong?" tanya Carina, ikut nimbrung.
"Terserah mama saja. Yang penting mama sehat." Dasen lalu meneguk jus jambu merah yang dipesannya.
"Kalian di sini sampai kapan?" tanya Genta pada si kembar perempuan.
Beyza semakin kesal, kelihatannya Genta kembali menguji perasaannya.
"Sampai akhir pekan sih. Masih ada dua hari lagi buat kumpul-kumpul begini," jawab Bianca dengan semangat.
"Wah?! Seru ya, bakal ramai terus." Genta melirik Beyza yang sibuk dengan ponselnya.
"Ingat! senin kita ujian, Mama tidak akan mengijinkan kita keluar-keluar lagi selama itu. Jadi minggu ini harus kita nikmati baik-baik," kata Dasen.
"Kamu kenapa, Bey. Diam saja dari tadi?" tanya Derya.
"Lagi males saja," sahutnya dengan ketus.
"Arah jam tiga kurang lima belas menit, Bey. Mungkin bisa bikin kamu tidak malas," sambar Baby De.
Bukan hanya Beyza, semua kompak melempar pandang ke arah yang dimaksud Baby De. Mata dua kembar perempuan kembali berbinar-binar pertanda mereka sedang sangat terpesona.
"Fix, kita harus pindah ke sini lagi. Cowok di sini oke-oke banget," ceplos Carina.
"Setuju. Kia harus merayu papi mami dengan segenap jiwa raga." Bianca menimpali tanpa mengubah arah pandangnya.
Beyza hanya tersenyum kecil mendengar ucapan dua sepupunya. Mereka tidak tahu saja siapa yang sedang mereka kagumi itu.
Derya dan Genta, mengenal siapa cowok yang sedang di kagumi itu. Sama seperti Beyza, keduanya hanya tersenyum. Genta akan senang sekali kalau sampai si kembar bisa menarik perhatian cowok itu.
'Semoga bisa hilang satu saingan,' batin Genta.
__ADS_1