
Setelah mengantar Senja ke mansion Hutama. Darren kembali ke rumah sakit. Andai badannya bisa dibelah, dia ingin menemani Derya dan juga Senja secara bersamaan.
Berbeda dengan Senja yang kekecewaannya begitu dalam. Darren masih bisa berada di posisi tengah-tengah. Hal itu mendorong dirinya untuk berbicara dari hati ke hati dangan Derya.
Semua sudah terlanjur terjadi, tidak ada pilihan bagi anaknya itu selain mengakui kesalahan, memperbaiki diri, dan bertanggung jawab untuk memulihkan keadaan.
Sampai kembali di lobby rumah sakit, Darren turun dengan langkah pasti. Sebelumnya, dia sudah meminta dengan tegas pada driver Bae, agar tidak mengatakan apapun yang terjadi selama mengantar Senja tadi.
"Mana Kemala, Dar?" tanya Bae begitu melihat Darren memasuki ruangan seorang diri.
"Vertigonya sedikit kambuh. Dia memutuskan untuk beristirahat di mansion," jawab Darren sesantai mungkin.
Arham dan Bae percaya begitu saja, karena jika ada sesuatu yang lebih darurat, tentu menantunya itu tidak akan meninggalkan Senja.
"Eomma dan Appa, istirahat saja. Biar Darr yang menemani Derya. Lagipula, semakin banyak yang menjaga, malah akan mengganggu istirahat Derya." Darren melirik wajah Derya yang tampak tidak tenang.
Bae dan Arham pun berpamitan. Keduanya mengatakan akan melihat Senja terlebih dahulu, tapi Darren melarang karena tidak ingin istirahat Senja terganggu. Lagi-lagi, Arham dan Bae percaya tanpa curiga. Bukan karena mereka bodoh atau tidak peka, tapi karena sikap Darren yang meyakinkan.
Setelah memastikan, mertuanya sudah pulang. Darren menarik bangku yang tidak jauh dari brankar. Pria itu menatap anaknya dengan intens. Derya semakin salah tingkah.
"Ada yang salah?" Darren memulai pembicaraannya. Jika Senja tidak ingin membicarakan masalah karena masih memikirkan kesehatan Derya, berbeda halnya dengan Darren yang menganggap sakitnya sang anak hanya sepele.
"Jadi sakitmu ini karena kaget sudah merasakan kenikmatan terlarang?" Darren kembali bertanya, kali ini langsung pada inti pembahasan.
__ADS_1
Derya terdiam sejenak. Dia menundukkan kepala sejenak. Kegelisahan dan kekhawatiran yang dia rasakan ternyata benar. Mamanya sudah tahu semua, dan pasti itu dari Inez.
"Derya salah, Dadd. Derya melewati batas. Semua terjadi begitu cepat." Anak itu membalas tatapam Darren dengan pandangan sendu.
"Daddy tidak membutuhkan jawaban itu, Der. Yang namanya bercinta, jelas tanpa perencanaan. Yang Daddy herankan, kenapa kamu tega sama Mama, Der? Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Menikahi Inez? Berbeda keyakinan, dan orangtuanya pun tidak mengharapkanmu. Mau membuat mamamu tersiksa pelan-pelan?"
Cecaran pertanyaan Darren membuat mata Derya berkaca-kaca. "Maafkan, Derya, Dadd. Setelah pulih nanti, Derya akan bertanggung jawab pada Inez."
"Satu-satunya orang yang paling pantas kamu mintai maaf adalah mama-mu, Der. Seberapa besar kekecewaannya padamu, tidak lagi bisa digambarkan. Bertanggung jawab? Jangan bodoh, kalian sama-sama salah. Tanpa sebuah ikatan, kalian terima resiko masing-masing. Inez dengan resikonya dan kamu dengan resikomu sendiri," tegas Darren.
Air mata Derya menetes. Tapi dengan suara yang dikuat-kuatkan, dia menceritakan kejadian dari awal Inez datang, hingga dia melakukan sesuatu di luar batas.
Dia mengatakan dengan detail, sampai dengan rasa kecewa pada diri sendiri dan penyesalan yang sudah terlambat. Derya juga mengatakan kejadian itu justru membuatnya takut berdekatan dengan Inez jika hanya berdua.
Derya memencet hidungnya sendiri agar tangis tidak semakin pecah. Dadanya terasa sesak mendengarkan kata-kata Darren. Bayangan wajah mamanya yang sendu dan murung terlintas jelas di benaknya. Sungguh sangat menyiksa.
"Kamu tahu, Der? Mama Nja, Daddy temukan dengan kondisi pingsan di kamarmu. Entah sejauh apa pembicaraan mamamu dan Inez. Satu hal yang pasti. Saat Daddy ke sana, perempuan yang kamu anggap kekasih itu tidak ada. Mamamu pingsan entah sudah berapa jam, Der. Mamamu pasti kaget dan terpukul." Darren menjeda pembicaraannya sebentar, sekedar ingin memberikan tisu pada Derya yang hidungnya memerah karena terlalu banyak menangis.
Derya semakin sedih. Nyatakan kenikmatan sesaat itu malah membuat semua menjadi runyam.
"Mama sakit, Der. Kamu tahu sendiri bagaimana mamamu kalau sedang banyak pikiran."
"Maafkan, Derya, Pa."
__ADS_1
"Maaf saja tidak akan cukup. Lakukan sesuatu yang bisa menyembuhkan luka mamamu, dan bisa memulihkan kepercayaannya padamu. Betapa sulit mendapat maaf dari mamamu, kamu juga tahu. Apa yang kamu lakukan, mungkin masih bisa Daddy maafkan. Tapi butuh waktu dan usaha lebih untuk mendapatkan itu dari mamamu."
Derya mengangguk lemah. Dia paham betul bagaimana sifat mamanya. Kesalahan yang dilakukannya tidak sepele.
"Ingat, Der! Kamu tidak harus bertanggung jawab pada Inez. Cepatlah sembuh! Kita akan segera membicarakan bersama mamamu." Darren meraup wajahnya dengan kasar. Di dalam benaknya, timbul kekhawatiran yang sangat besar, masalah Dasen saja sudah menjauhkan Senja dai titisannya, apalagi masalah Derya ini.
"Dadd, menurut daddy, Derya harus bagaimana?"
"Kenapa harus bertanya pada Daddy? Kamu yang melakukan, Der. Kamu yang mengenal betul bagaimana Inez. Seharusnya kamu langsung mengatakan apa yang akan kamu lakukan selanjutnya. Baru daddy akan berpendapat." Darren mengambil ponselnya. Sekedar ingin tahu kabar Senja dari asisten rumah tangga yang diberinya kepercayaan untuk mengawasi Senja di Mansion.
Derya kembali menundukkan kepalanya. Entah ada yang salah atau tidak dengan hatinya, kini dalam benaknya hanya dipenuhi rasa bersalah pada sang mama. Cinta yang menggebu dan keinginan kuat untuk bersatu dengan Inez, malah berganti kata ragu.
Di Mansion Hutama, di sebuah kamar berukuran sangat besar, Senja menggelar sajadahnya di lantai samping ranjang. Tidak ada ketenangan yang bisa mengalahkan ketenangan yang didapatkan dari mendekatkan diri dengan Sang Maha segalanya.
Menunggu waktu maghrib tiba, Senja melantunkan surat Al-Insyirah, di mana dalam surat itu menyatakan bahwa dalam setiap kesulitan, akan disertai dengan kemudahan. Tidak ada kesulitan yang kekal. Allah akan selalu membukakan jalan dan memberi kekuatan. Pada mereka yang tidak menutup hati dan pikirannya, meski sedang diberi cobaan yang luar biasa.
Suara yang keluar dari mulut Senja sungguh menyayat hati. Lembut namun sedikit bergetar karena menahan tangis.
"Ya Allah, Ya Robb, ampunilah semua dosaku, maafkan kekhilafan dan kelalaianku. Terimakasih karena Engkau sudah menegurku sekeras ini. Aku berserah dengan apapun kehendak-Mu. Berikan kami waktu dan jalan terbaik menurut kehendak-Mu. Bimbing semua anak-anakku untuk selalu berjalan dalam kebenaran." Senja menengadahkan tangan dan wajahnya ke atas.
Selesai berdoa, Senja memutar badannya sedikit, untuk meraih ponsel yang ada di nakas belakangnya. Dia membuka galeri foto-foto keluarganya.
"Mama kangen kalian waktu masih kecil. Der, Das ... katakan, harus bagaimana mama memperlakukan kalian?" Lirihnya.
__ADS_1