Hot Family

Hot Family
Rencana Beyza


__ADS_3

Di negara lain, persiapan Beyza kembali ke Indonesia sudah mencapai 90%. Sisanya adalah menunggu hari H yang kurang hitungan jari saja. Jika tidak ada halangan, Beyza akan kembali ke Indonesia dua hari sebelum acara pernikahan Zain dan Sekar.


"Mbak , setelah kak Zain, maukah kamu menikah denganku? Aku tidak ingin ada acara lamaran, pertunangan atau apa pun itu namanya. Kita sering bersama, aku takut kita khilaf. Lagi pula, kita sudah sama-sama cukup umur dan aku sudah mapan. Aku yakin, perusahaan yang aku kelola akan semakin maju setelah kita menikah. Karena ada kamu yang mendoakan dan mendampingiku." Genta menggenggam tangan Beyza sembari menatapnya lembut.


Gadis itu mengangguk mantap. "Aku mau, Kang. Lebih cepat lebih baik. Apapun syarat daddy, iya'in saja. Yang baik akan kita ambil, yang sesat kita buang."


"Kamu benar. Saran tidak boleh mempunyai anak, sungguh menyesatkan," timpal Genta.


"Bagaimana dengan ayah Rangga, apa ayah akan menikah lagi sesuai keinginan daddy?" Beyza sedikit penasaran.


"Tentu saja tidak. Ayah lebih senang sendirian. Katanya lebih bebas. Lagi pula cari istri tidak segampang mencari bakso aci. Selera ayah cukup tinggi. Dan ayah tidak mungkin mencari perempuan sembarangan. Jangan sampai dapat jodoh, tapi masih diledek lagi sama daddy-mu."


Jawaban Genta membuat Beyza tersenyum, cubitan manja mendarat di lengan laki-laki yang cintanya semakin besar itu. Darren memang pengkritik ulung. Keberhasilannya mendapatkan Senja, membuatnya sombong di depan teman-temannya yang duda, termasuk Rangga.


Sepasang kekasih itu duduk di bangku besi bercat putih yang ada di taman apartemen Beyza. Keduanya sedang bersantai setelah mengirimkan barang terakhir Beyza melalui salah satu perusahaan ekspedisi.


Genta sedang berbalas pesan dengan Derya. Keduanya memang sudah langsung menjalin komunikasi, begitu Darren memberikan lampu hijau. Dua sahabat itu tentu saja kembali saling bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing. Termasuk tentang masalah percintaan mereka.


Tidak percaya dengan apa yang dilihat dari isi pesan sahabatnya itu, Genta mencoba membacanya kembali berulang-ulang.


Bukan hanya Genta yang sedang dilanda keterkejutan. Di saat bersamaan, Inez yang memang sahabat Beyza semasa di asrama, juga menceritakan sesuatu yang membuat Bey ingin marah pada Derya. Dia sama sekali tidak menduga, kembarannya yang pendiam dan penurut, berani berbuat sejauh itu.


"Bodoh, kamu Der! Bagaimana perasaan mama sekarang." Beyza mengumpat lirih, tapi Genta berhasil mendengarnya.


"Soal Derya? Dari mana kamu tahu?" tanya Genta.

__ADS_1


"Inez memberitahuku. Gila nggak sih? Aku harus menghubungi Mama." Beyza mengambil benda pipih berwarna putih dari tas selempang yang di kenakannya.


Tidak lama, sambungan ponsel pun terhubung. Beyza buru-buru menggunakan hands-free agar suara Senja tidak terdengar atau mengganggu pengunjung taman yang lain.


Wajah Senja memenuhi layar ponsel Beyza. Perempuan yang telah melahirkannya itu tersenyum, tapi mata itu tidak bisa berbohong. Sembab dan sendu.


"Hai, sayang. Sedang santai ya?" Senja menyapa.


"Iya, Ma. Ini Beyza sedang ada di taman bersama Genta." Beyza mengarahkan kamera depannya pada sosok Genta. Senja melambaikan tangan pada Genta seraya tersenyum.


"Bey, boleh menjauh dari Genta sebentar. Mama ingin bicara sesuatu," pinta Senja.


Beyza langsung berdiri dan melangkah beberapa meter dari Genta. "Sudah, Ma."


"Mama percaya sepenuhnya pada Bey dan Genta. Untuk hubungan kalian,ama berharap semua akan baik-baik saja. Mama minta, Bey jaga baik-baik kehormatan, Bey. Mama tidak minta apa-apa. Cuma satu, jaga kehormatan Bey sebagai perempuan. Berikan nanti setelah pernikahan. Bisa?"


"Bey, bisa Ma. Mama percaya sama, Bey... Bey akan pulang lebih cepat. Bey akan berada di dekat Mama. Masalah Derya, jangan mama tanggung sendiri. Kita lalui apapun bersama. Bey akan mencari tiket secepat mungkin."


Mata Senja terlihat berkaca-kaca, hidungnya kembang kempis menahan haru. "Terimakasih sayang, mama sudahi dulu ya. Mama ingin istirahat." Tanpa menunggu jawaban Beyza, sambungan telepon itu pun terputus.


Dengan langkah yang sedikit pelan, Beyza kembali menghampiri Genta. "Kang, aku akan mencari tiket pulang ke Indonesia."


"Mamamu kan di negara S, Bey."


"Benarkah? Kenapa tadi mama tidak memberitahuku apa-apa?" Beyza mendudukkan bokongnya di bangku. Tangannya sibuk membuka aplikasi pembelian tiket pesawat online. Untung saja kemarin adalah hari terakhirnya bekerja, sehingga pulang lebih cepat tidak akan menimbulkan masalah lain.

__ADS_1


"Derya memberitahuku, dia berada di rumah sakit bersama daddy-mu. Derya sangat stres, Bey. Pada situasi sekarang, menyalahkan sudah tidak ada gunanya. Sudah terlanjur terjadi. Yang terpenting ada pembicaraan bersama untuk mencari jalan keluarnya." Genta menepuk pundak kekasihnya itu.


"Kalau ke negara S, ada penerbangan tengah malam. Aku pilih flight ini saja. Jika Daddy menjaga Derya, siapa yang menjaga mama." Beyza langsung memesan dan membayar tiket itu secara online.


"Aku akan mengantarmu nanti. Tapi maaf, aku tidak bisa ikut. Kalau aku harus sesuai jadwal, Mbak. Karena aku harus memastikan urusan di sini benar-benar beres."


"Iya, tidak mengapa. Aku cuma kepikiran mama, Kang. Derya yang biasanya terdepan dalam urusan menurut dan selalu mematuhi mama, tiba-tiba malah melakukan hal seperti ini. Pasti mama tidak hanya terpukul. Mama sering kali jatuh sakit saat banyak pikiran."


Genta berdiri, menggandeng pergelangan tangan Beyza untuk kembali ke dalam apartemen.


"Menurutmu, apa Derya dan kekasihnya akan menikah?" tanya Genta.


Beyza menggelrng kuat. "Aku tidak tahu, Kang. Dan aku berharap tidak. Inez sepertinya sedikit berubah. Aku memang kecewa sama Derya, tapi saat dia mengatakan Derya harus menikahi dia dan bertanggung jawab apapun yang terjadi. Aku kok jadi berpikir, Inez justru ingin mengambil kesempatan dalam masalah ini."


"Maksudmu?"


"Ini hanya dugaanku. Tapi aku merasa, Inez berbeda akhir-akhir ini. Dia seperti memang sudah berniat memangkas perjuangan untuk mendapatkan restu secara benar. Sekali lagi, ini pemikiranku. Tapi semoga salah. Tapi sebagai sahabat, aku merasakan kalau Inez memang berubah."


Genta tidak menanggapi, karena dia memang tidak mengenal sedikit pun sosok Inez. Tapi penilaian Beyza, biasanya memang tidak pernah salah. Naluri sebagai pengacara yang sudah wbiasa menghadapi tersangka dan juga korban, membuat Beyza bisa mengendus ketidak beresan dalam suatu hal.


"Semoga semua selesai dengan baik, Mbak. Kasihan Mama Nja," harap Genta.


"Harus, Kang. Ada yang tidak benar di sini. Derya sama seperti aku. Dia tidak pernah mencintai perempuan lain selain Inez. Sepintar apapun seseorang, jika sudah jatuh cinta, bisa saja menjadi bodoh," tegas Beyza.


"Seperti aku, Mbak. Aku juga jadi bodoh jika ada di sampingmu," bisik Genta, malah mengajak Beyza untuk bercanda.

__ADS_1


Gadis itu tidak menjawab, karena dia sedang melamun. 'Jangan main-main denganku, Nez. Kita hanya sahabat, aku bisa memiliki puluhan sahabat sepertimu. Aku akan lakukan apapun untuk melindungi keluargaku,' batin Beyza.


__ADS_2