Hot Family

Hot Family
Merayu Darren


__ADS_3

Setelah menyelesaikan prakteknya, Zain memutuskan untuk menjenguk Airin sejenak. Dia tidak ingin menjauh apalagi tiba-tiba menghilang. Perpisahan yang diputuskan bersama dengan cara baik-baik membuat keduanya tidak memendam dendam dan sakit hati.


"Apa kabar, Ai?" tanya Zain setibanya di ruangan Airin.


"Alhamdulillah baik. Aa apa kabar?" Airin sedikit salah tingkah.


"Bunda kemana?" Zain melihat ke berbagai sudut ruangan. Tidak ada Lena di sana.


"Bunda sedang menemui Dokter Nancy."


Zain tersenyum menatap wajah Airin. Sesaat suasana menjadi hening. Entah apa lagi yang bisa dijadikan bahan pembicaraan keduanya.


Pernah mempunyai hubungan serius yang lama, dan putus pun karena terpaksa. Tentu dua perkara itu sudah cukup untuk dijadikan alasan saling menjauh agar cepat bisa mengalihkan perasaan pada yang lain.


Namun kenyataannya, tidak seederhana itu. Jatuh cinta bisa sekedipan mata, tapi melupakan itu seperti menghitung bulu mata. Kelihatannya sedikit, tapi menghitungnya adalah hal yang mustahil.


"Ai, Aku mungkin akan segera meneruskan pendidikanku di UK. Minggu ini akan berangkat untuk meliha kampus dan lain- lainnya," pamit Zain dengan lirih.


Airin tersenyum. Sudah lama niat itu ada, tapi Zain menahannya. Tapi kini, setelah hubungannya selesai, sepertinya Zain tidak menyia-nyiakan waktu. Airin semakin sadar, kalau dirinya ternyata selama ini terlalu egois.


"Semoga sukses ya, A'. Semuanya lancar. Airin, selalu berdoa yang terbaik buat Aa," lirih Airin.


"Terimakasih, Ai. Semoga kamu juga demikian. Nanti, kalau sudah ada tanggal pastinya aku berangkat, Aku pasti akan kabari kamu."


"Sama-sama, A'. Nanti kalau jadwal operasi pencakokan sumsum tulang belakang Airin sudah pasti, Airin juga akan menghubungi, Aa."


Zain dan Airin saling bertukar pandang. Cinta jelas masih utuh terlihat di bola mata mereka. Rasa itu belum berkurang. Hanya sikap dewasa keduanya lah yang membuat semua seolah biasa saja. Padahal duka yang dalam dan sedih yang perih mengiris hati masih mereka rasakan.


"Aku pulang dulu ya, Ai. Kalau ada waktu lagi. Aku akan ke sini. Tetap berpikiran positif, agar kamu juga bisa berjuang lebih baik," pamit Zain.


Airin pun mengangguk lembut. Tidak ada lagi sentuhan fisik di antara keduanya. Jangankan kecupan pipi persahabatan, jabat tangan saja tidak mereka lakukan.


.

__ADS_1


.


Senja melangkahkan kakinya dengan pasti menuju pintu lift yang akan membawanya ke lantai di mana ruangan Darren berada.


Setelah mengambil hasil nilai ujian anak-anak, Senja sengaja mampir ke kantor suaminya dulu. Kedatangannya kali ini, tentu saja dengan misi terselubung. Harapan besarnya adalah bisa membawa anak-anak berlibur ke UK.


Bukannya tega meninggal suami sendirian bekerja keras, sementara dia dan anak-anak akan berlibur. Tidak seperti itu. Senja sekarang sedang melihat keadilan dari kaca mata anak-anaknya.


"Bapak, ada di dalam kan, Mar?" Senja langsung bertanya tanpa menyapa Amar terlebih dahulu.


"Ada, Bu." jawab Amar, terdengar lemah.


Perceraiannya dengan sang istri, membuat impian Amar untuk menjalani rumah tangga seperti atasannya menjadi pupus. Menginjak usia pernikahan 10 tahun, justru badai di keluarga Amar datang. Yang lebih menyakitkan lagi adalah istrinya itu berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Yang tidak lain, tidak bukan adalah Ali--mantan sekretaris Darren seperti dirinya.


"Mar, yang bukan jodohmu. Sekali pun dia sebaik malaikat, pasti akan lepas juga. Kamu harus bangkit, ingat anak-anak. Mereka butuh Ayah yang kuat untuk sandaran. Sedih boleh, tapi sebentar saja. Jangan terlalu nelangsa. Jumlah perempuan di dunia ini lebih banyak dari kaummu. Kesempatanmu memiliki istri yang setia, lebih besar ketimbang kesempatan mereka menjadi istri satu-satunya," nasehat Senja.


Perempuan itu langsung mendorong pintu ruangan suaminya. Darren nampak sibuk dengan layar laptop di depannya, sampai tidak menyadari kedatangan sang istri.


Senja langsung merangkul suaminya dari samping dan mengecup pipinya dengan lembut. "Ask ...."


"Iya, kangen."


"Masak sih? sini kalau kangen." Darren menepuk pangkuannya, sebagai isyarat agar Senja duduk di sana.


Senja pun menjatuhkan bokongnya perlahan di paha sang suami. "Ask,"


"Iya, Askim." Darren menatap lembut istrinya.


"Selama Senja jadi istrimu, pernah tidak Senja meminta yang aneh-aneh?"


Darren seperti sedang berpikir dan mengingat-ingat. Lalu perlahan mengelengkan kepalanya. "Tidak pernah, tapi minta enak sih sering."


"Kalau sesekali minta yang aneh-aneh, boleh ya? sekali saja kok. Tidak akan sering-sering dan masuk akal."

__ADS_1


Perasaan Darren sedikit tidak enak. Andai Senja permintaannya seputar materi, dia tidak akan berpikiran berat. Nyatanya, Senja tidak pernah meminta yang berhubungan dengan itu. Karena memang uang dan keinginan yang bisa dibeli bukanlah masalah bagi mereka.


"Mau minta apa, Ask?" tanya Darren, tidak sabar mengetahui maksud Senja.


"Biarkan aku dan anak-anak ke UK. Zain sedang patah hatinya. Sekarang ini, dia butuh seseorang untuk diajaknya sekedar berbicara. Kalau bukan Senja yang bisa diandalkan sama Zain. Mau siapa lagi? anak-anak yang lain juga ikut. Jadi kamu tidak akan pusing. delapan hari itu sebentar, masih lama dulu, waktu kamu menunggu balasan cintaku," rayu Senja, sembari mengalungkan tangan ke leher suaminya.


"Delapan hari itu lama, Ask. Siapa yang akan merawatku selama itu kalau bukan kamu?"


"Mama Sarita, Ask."


"Pikirkan anak-anak. Mereka memang tidak pernah berlibur setahun ini. Senja janji, setelah itu, giliran kita berdua saja yang akan berlibur. Saat weekend kita bisa ke bali atau sekedar ke puncak." Senja terus berusaha meyakinkan suaminya.


"Tidak penting kemana nya. Bagiku, di mana ada kamu, di situlah kebahagiaan aku rasakan. Kamu adalah rumah bagiku, di mana aku selalu ingin pulang dan merasa nyaman." Darren mengecup bibir istrinya sekilas.


"Boleh, ya?" Senja pantang menyerah terus berusaha.


"Janji, bulan depan, Kita yang liburan berdua saja ya."


Senja mengangguk, sembari mendekatkan wajahnya dengan wajah Derren.


Bibir keduanya bertautan seperti biasanya, beradu lidah bertukar ludah. Waktu tidak membuat sentuhan cinta mereka berkurang, keromantisannya tidak padam disiram jaman.


"Lanjut, tidak?" tanya Darren saat melihat masih ada waktu yang cukup untuk santai sebelum meeting online dengan salah satu relasinya.


Senja langsung berdiri, lalu menuntun suaminya ke ruang istirahat seperti biasa. Ruangan yang bagi Darren sudah beralih fungsi jauh begitu dia menjadi suami Senja.


Keduanya pun kini saling bertukar keringat, nenyalurkan hasrat yang masih menggebu. Kepemimpinan mereka begitu adil, karena keduanya tidak ada yang dominan dalam permainan. Akhirnya, setelah lima belas menit melenguh, mende54h dan menggigit, keduanya pun mendapatkan puncak kenikmatannya bersama.


Senja meregangkan badannya. Lalu segera menggapai ponsel yang ada meja samping ranjangnya. Dia buru-buru membuka pesan masuk dari Beyza. Menyangka ada sesuatu yang penting.


"Pantas Genta tampan sekali, mendiang Ayahnya begitu berkharisma dan terlihat kalem," gumam Senja.


"Siapa yang berkharisma?" selidik Darren langsung mengambil ponsel dari tangan Senja.

__ADS_1


Setelah melihat foto yang ada di layar ponsel sang istri. Raut wajah Darren seketika berubah dratis. "Segera hapus foto itu, Ask. Dia putra dari Malino." wajah Darren merah karena marah.


__ADS_2