Hot Family

Hot Family
Seperti Terdakwa


__ADS_3

"Tidak ada, Pak. Kurirnya tidak menyampaikan apapun," jawab Bu Ina, sangat hati-hati.


Darren langsung membawa buket bunga itu menuju kamar Dasen. Saat pintu terbuka, dia melihat istrinya baru saja menyelesaikan sholatnya.


"Ish, mulai kapan Mama menyukai bunga?" Dasen menampilkan wajah heran melihat Daddynya membawa buket bunga di tangannya.


Beyza sudah memberi kode pada Dasen untuk diam, tapi kakaknya itu memang tidak peka.


"Perasaan ulang tahun sudah lewat, anniversary juga bukan, sweet banget sih bawa bunga segala. Tapi mulai kapan kita pakai bebungaan begini." Senja melipat mukena, sembari menatap heran wajah suaminya.


Beyza keluar kamar untuk memanggil Derya. Masalah ini, harus dihadapi sama-sama.


"Dari mana bunga ini?" tanya Darren sembari memberikan bunga itu pada Senja.


"Nggak romantis banget ngasihnya, Das, bukan begini cara memberikan bunga pada perempuan." Senja masih saja mengira bunga itu pemberian suaminya.


Beyza datang bersama Derya langsung mengambil posisi di dekat Dasen. Beyza, membisikkan sesuatu pada Dasen.


"Ma, siapa penggemar Mama? kenapa dia sampai tahu alamat Mama?" selidik Dasen.


"Sebentar, Mama nggak ngerti maksud kalian apa. Memangnya bunga ini dari siapa? dari Daddy kan?"


"Bukan!"


Beyza, Dasen, Derya dan Darren menjawab dengan kompak.


"Terus darimana?" Senja dengan polosnya malah balik bertanya.


"Harusnya kami yang bertanya sama kamu, Ask." Darren memandang istrinya begitu dingin.


"Mama punya kenalan baru?" Derya ikut bertanya.


"Mama tidak mengaku janda kan? jangan sampai Mama seperti Maminya Kevin. Selalu mengaku janda setiap ada cowok cakep," Dasen bertanya dengan wajah menyimpan kecurigaan.


"Mama diam-diam sering ke luar rumah ya?" Beyza ikut mencecar mamanya.


Senja menghela nafas panjang, lalu menghembuskan perlahan. Kenapa dia merasa jadi seperti terdakwa sekali saat ini.

__ADS_1


Ibu dari empat anak itu, melihat dengan teliti bunga itu, memang tidak bernama. Dia pun mengingat-ingat semua orang yang memiliki kemungkinan memberikannya bunga.


Sejak menikah dengan Darren, apalagi mempunyai anak, gerak Senja sangat terbatas. Sangat tidak mungkin dia mempunyai teman laki-laki, kecuali Andy. Teman seperjuangannya dari jaman di panti asuhan dulu hingga sekarang. Karena sejak anak-anak kecil, Andy lah Dokter anak yang menangani ke empat junior Mahendra.


"Mama tidak merasa, mungkin ini bunga salah kirim atau salah alamat," kilah Senja, sangat masuk akal.


"Panggil bi Ina, Der," perintah Darren.


Derya mengangkat gagang telepon di sudut ruangan Dasen, lalu menekan kode sambungan internal. Setelah berbicara sebentar, Derya kembali meletakkan gagang telepon di tempatnya.


Tidak lama kemudian, bi Ina sudah berada kembali di hadapan mereka.


"Bi, kata kurir yang mengantar tadi untuk siapa?" tanya Darren, lebih tegas dari sebelumnya.


"Untuk bu Senja, Pak. Bilangnya Senja Khairunisa Kemala." Bi Ina menjawab lebih lengkap lagi.


"Bi Ina boleh kembali," ucap Darren.


Senja mengerutkan keningnya, mengajak otaknya untuk berfikir sekaligus mengingat, siapa yang sudah berani sekali membuatnya jadi seperti terdakwa seperti sekarang ini.


Bukan hanya Darren sekarang yang selalu cemburu dan was-was ada tiga anak yang membuatnya seperti terkekang dalam kebahagiaan.


Senja menghirup, wangi bunga yang ada di genggamannya. Lalu berjalan mendekati sang suami.


"Inilah kenapa Senja tidak terlalu menyukai bunga, wangimu yang belum mandi, bahkan lebih segar dari bunga ini. Jika boleh memilih. Lebih baik Senja mencium ketiakmu saja, ketimbang harus mencium bunga ini lagi," Senja benar-benar mendekatkan hidungnya pada ketiak Darren.


"Mama?! Itu jorok sekali, " teriak Beyza sembari bergidik geli.


"Mama, ayolah. Jangan merayu Daddy. Kami menunggu jawaban Mama." Dasen terlihat semakin kesal.


Senja sudah lama tidak menjahili mereka semua, mungkin inilah saatnya. Biar saja, mereka kesal terlebih dahulu.


"Sebentar, Mama mau ngaca dulu. Kira-kira diusia Mama yang sudah segini. Masih mungkin tidak, Mama memiliki pengagum rahasia."


Darren dan ketiga anaknya kompak mendengus kesal.


Senja dengan santai mengambil ponselnya, satu pesan masuk membuatnya ingin tertawa. Kini dia tahu siapa pengirim buket bunga itu. Tapi dia menahan diri, biar ke empat orang posesif di depannya tahu rasa terlebih dahulu.

__ADS_1


"Kalian jahat sama Mama, apa selama ini kurang bukti sayang, pengabdian dan pengorbanan, Mama untuk keluarga? Hanya karena satu buket bunga kalian mempertanyakan kesetiaan Mama? " Senja memulai dramanya.


Daddy dan ketiga anaknya mendadak diam tanpa suara. Pandangan tajam pun, perlahan sedikit mereda.


"Jika Mama mau, mengkhianati kalian. Mama tidak akan menukarnya hanya dengan sebuket bunga. Saham Mahendra Corp saja tidak akan mampu membeli cinta,Mama." Senja menatap suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Mama, jadi ingat siapa yang memberi bunga ini pada Mama." Senja pintar sekali memainkan perannya. Kali ini dia senyum-senyum layaknya abg yang mendapat pesan singkat dari gebetan.


"Siapa?" tanya keempatnya kompak dan tidak sabar.


Senja meletakkan bunga itu di meja belajar Dasen. "Dia tidak tampan, tidak rupawan, tidak pula bergelimang harta seperti Daddymu. Tetapi, entah mengapa semua ibu-ibu sangat mengidolakannya." Senja mengikat rambutnya sejenak, menghentikan ceritanya, membuat ke empat orang itu semakin penasaran.


"Ma, please. Jangan muter-muter kayak ikat pinggang," dengus Beyza.


"Ask ... ayolah, jangan ngajak becanda." Darren selalu mempengaruhi secara langsung anak-anak agar ikut tidak sabaran.


"Iya, Mama, muter saja dari tadi. Tidak capek apa," sungut Dasen.


Senja melihat ke arah Derya. "Nggak sekalian, Der?" sindirnya.


Derya menggeleng pelan. Lama-lama tidak enak juga dengan mamanya.


"Mama lanjutin kalau begitu. Jadi begini ceritanya --."


Senja pun mulai menceritakan bahwa beberapa hari yang lalu pergi ke sebuah mall bersama Wati untuk belanja keperluan bulanan.


Setelah belanja selesai, Senja melihat ada pameran korset pembakar lemak. Tentu saja Senja sangat tertarik, mengingat semburan lemak langsung keluar tidak terkontrol begitu dia memakai celana jeans.


Nah, setelah pembelian 6 piece korset, Senja diperkenankan memilih tanda cinta dari mereka. Senja memilih bunga, karena dia tidak menyukai coklat. Karena hanya dua itulah pilihan yang diberikan.


Seharusnya ada nama pengirimnya, tapi Senja memang memberi notes agar tidak diberi nama. Senja benar-benar lupa, kalau dia mendapatkan tanda cinta dari produsen korset.


Dari awal, padahal kemarin ingin sekali membuat Darren sangat cemburu, nyatanya sekarang tidak hanya Darren saja yang cemburu, anak-anak pun turut serta.


Setelah mendengar penuturan Senja, semua pun bernafas lega.


"Jangan senang dulu! karena kalian sudah menuduh Mama. Maka kalian semua akan Mama hukum."

__ADS_1


"Ini cuma, anak-anak saja kan, Ask?" tanya Darren, perasaannya semakin tidak enak sekarang.


Senja tersenyum licik pada suaminya. "Daddynya akan di hukum lebih berat."


__ADS_2