
Beyza akhirnya mengangguk malu-malu sembari menggigit bibir bawahnya sendiri. Membuat Genta semakin gemas.
Bibir keduanya kini sudah tertaut, meski pertama kali, masing-masing sesungguhnya tahu apa yang harus dilakukan. Masih sangat canggung, tidak ada permainan lidah yang dalam. Itu pun sudah sanggup membuat jantung keduanya berdebar lebih kencang.
Beyza dan Genta melepas tautan bibir mereka bersamaan. Pipi Beyza terasa memanas dan terlihat merah merona. Keduanya sama-sama salah tingkah.
"Bey, ke dalam sebentar." Beyza buru-buru berdiri dan langsung berjalan meninggalkan Genta sembari terus memegangi bibirnya.
Genta membasahi bibirnya sembari menyandarkan badan ke sandaran sofa. Matanya menerawang jauh, berharap cintanya dan Beyza selamanya. Jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama, itulah harapan Genta.
Seperti mendiang Ayah Aris yang tidak pernah bisa mencintai perempuan lain, selain Bunda Jingga-nya.
Beberapa menit kemudian, Beyza kembali muncul membawa sepiring potongan cheese cake di tangannya.
"Silahkan, Kang. Bey, Tidak bisa membuat cake sendiri. Beyza juga tidak bisa memasak. ," ucap Beyza jujur.
"Kalau nanti kita sudah menikah, Mbak tidak perlu memasak atau melakukan pekerjaan rumah apapun. Kita bisa bayar asisten rumah tangga."
Beyza tersenyum. "Pengennya kayak, Mama. Bisa segalanya. Kerja bisa, urusan rumah bisa, tapi ternyata berat. Apalagi daddy se-over protektif itu," keluh Beyza.
"Kang Genta tidak melarang Mbak Bey untuk bekerja. Yang penting harus di Indonesia. Kalau daddy sudah merestui, pengennya kita nikah secepatnya. Hidup kembali di negara kita."
"Bey, juga begitu pengennya," Beyza mengambilkan sepotong cake, lalu menyuapkannya pada Genta.
"Selama berpisah dengan, Bey. Kang Genta, pernah naksir gadis lain tidak?" Beyza bertanya sembari tersenyum.
Genta mengacak rambut Beyza dengan gemas. "Tidak pernah, sejak mengenal Mbak Bey, rasanya sulit mencari perempuan sebaik dan secantik, Mbak. Banyak sekali alasan untuk menjadikan kamu pribadi yang angkuh dan sombong. Tapi kamu memilih bersikap sederhana. Kamu luar biasa, Mbak Bey." Genta menggengam erat tangan Beyza.
"Semua karena ajaran Mama." Beyza membalas genggaman tangan kekasihnya itu.
Keduanya kembali saling melempar pandang. Sungguh Beyza dan Genta memang sedang dimabuk cinta. Perpisahan sekian lama, lalu bertemu kembali dengan perasaan yang masih sama, sungguh luar biasa. Cinta yang dikira hanya cinta monyet, siapa sangka membekas begitu lama.
__ADS_1
Cinta yang tetap tumbuh subur walaupun sempat sengaja dibunuh, tentu bukanlah cinta yang sekedar mengikat fisik dan perasaan. Cinta keduanya sudah seperti darah yang mengalir di dalam tubuh.
.
.
Sepulang dari kantor, Derya langsung ke kamar Inez. Dia melihat gadis yang dicintainya itu sedang duduk di tepian ranjang sembari melamun.
Obrolan sederhana dan singkat antara dirinya dan Senja tadi, membuat perasaan Inez menjadi lebih tidak menentu. Walau terdengar pedas di telinga, tapi apa yang diucapkan oleh mama dari kekasihnya itu benar.
"Ay, kamu jadi mau pulang? Kalau jadi, ada penerbangan ke Jakarta jam 10 ini," Derya berbicara setengah malas.
Inez menggeleng lemah. "Tidak, besok saja, Ay. Tidak pantas pulang sekarang. Aku tidak enak sama mamamu, Ay."
"Apa mamaku menegurmu?"
Inez mengangguk. "Bukan menegur, tapi mengajakku berbicara sebentar. Kamu benar, Ay. Mamamu itu sebenarnya baik. Meskipun beliau tidak merestui hubungan kita, setidaknya dia mau duduk berdua denganku. Sayangnya, aku terlanjur mengecewakan mamamu pada pertemuan pertama ini, Ay."
"Maafkan aku, Ay. Aku merasa tidak pantas sekali. Kenapa kamu tidak pernah bercerita keluargamu sekaya raya ini?" Inez bertanya tanpa melihat wajah Derya, kepalanya mebunduk.
"Buat apa? Yang kaya raya daddy sama mamaku. Aku belum, aku ini bekerja di perusahaan keluarga mama sebagai CEO. Bukan ownernya. Rumah belum punya, mobil juga masih pemberian kak Zain. Jadi buat apa aku cerita-cerita masalah financial. Aku ingin kamu menghargai, melihat dan mencintaiku sebagai Derya. Bukan dari latar belakang keluargaku," tegas Derya.
"Maafkan mama dan papaku ya, Ay. Mereka tidak mengenalmu, tapi dengan mudahnya mereka mencelamu. Meskipun tidak menghina, tetap saja tidak etis. Aku minder, Ay. Insecure luar biasa sekarang. Keluargamu tidak hanya kaya raya tapi juga baik. Sedangkan keluargaku? Aku benar-benar malu." Inez semakin menundukkan kepalanya.
"Terus kenapa? Di mana letak insecure-mu?" Derya melipat kemeja hingga ke siku dan mengeluarkannya dari celana. Sepulang dari kerja dia belum berganti pakaian. lelahnya masih kentara.
"Apa masih ada kesempatan untukku, Ay. Aku ingin berjuang. Sekarang aku tidak ingin menyerah. Maafkan sikap kekanak-kanakan ku kemarin sampai hari ini. Mamamu benar, jika kamu berjuang sendiri, maka ini akan berat. Jadi sekarang, aku pun akan berjuang." Inez terlihat bersemangat. Meski sebenarnya dia sangat tidak percaya diri.
Derya langsung memeluk Inez dengan erat. "Itu yang aku butuhkan. Kita berjuang bersama. Terasa mudah tidaknya, itu bergantung pada kita sendiri."
Inez membalas pelukan Derya dengan erat. Cinta keduanya sudah luar biasa, tapi kedewasaan, ketulusan dan kesiapan mereka dalam menghadapi penolakan-penolakan dari orang terdekat yang menentang hubungan mereka, masih harus dibuktikan.
__ADS_1
.
.
Zain kini sudah berada di Jakarta. Hanya ada dia dan asisten rumah tangga di rumah. Membuat Zain sedikit bosan.
Sekar sedang tidak bisa dihubungi, karena kekasih Zain itu mengabarkan akan mematikan data ponselnya beberapa jam dari kemarin, karena ingin konsentrasi dengan suatu hal.
Zain pun memutuskan untuk bersantai sambil membaca buku. Tiba-tiba, Wati datang, memberi tahu kalau ada tamu yang datang mencarinya.
Dengan langkah lebar, Zain turun mengikuti langkah Wati menuju ruang tamu. Wajahnya langsung keheranan melihat sosok yang sedang duduk manis di sofa.
"Rin?" sapa dan tanya Zain, kaget dan heran, bagaimana bisa Airin berada di rumahnya. Waktu juga menunjukkan sudah lewat pukul tujuh.
"Maaf kalau kedatangan Airin, membuat Aa kaget. Airin mau memberikan ini." Mantan kekasih Zain itu berdiri dan mendekati pria itu, lalu memberikan sebuah undangan perayaan ulang tahun.
Putra sulung Senja itu mengambil dan membaca undangan dengan seksama. "Tumben, Rin, pakai dirayain segala?" tanyanya.
"Ini untuk memenuhi nazar saja. Airin sudah sembuh. Bunda dan Ayah kepingin tasyakuran, sekaligus meminta doa pada anak yatim, siapa tahu, Tuhan masih memberikan kesempatan Airin untuk memiliki jodoh."
Zain tersenyum mendengar ucapan Airin. "Tuhan pasti memberikanmu jodoh, Rin. Tinggal kamu membuka hati atau tidak."
"Hatiku masih milik kamu. Maaf kalau masih belum bisa berpaling. Padahal semua sudah jelas tidak mungkin." Airin menundukkan kepalanya.
"Hatimu bukan milikku, Rin. Aku sudah lama Melepasnya," tegas Zain.
Airin menggigit bibirnya, merasakan perih saat mendengar ucapan Zain barusan. Seperti langsung disadarkan pada kenyataan. Airin tiba-tiba menghampiri Zain dan memeluk pria yang pernah dan masih dicintainya itu dengan erat.
"Sebentar saja, aku pinjam bahumu untuk terakhir kalinya." lirihnya.
Tanpa Zain sadari, ada seseorang yang tiba-tiba datang dan berdiri terpaku di ambang pintu dengan tatapan kecewa.
__ADS_1