
"Keren, Ma. Sudah, percaya saja sama Bey. Jangan dengarkan kak Das. Seleranya memang beda," sahut Beyza.
"Mama hapus deh dandanan, Mama. Kalau tidak mau, Mama ganti baju Mama. Please, Ma. Itu berlebihan. Apa Mama ingin menyaingi calon menantu,Mama" Dasen masih konsisten dengan pendapatnya.
"Sudah-sudah kenapa malah membahas penampilan Mama. Satu jam lagi kita harus berangkat ke bandara. Mama sama Daddy mau bicara dulu sebentar sama Genta. Kalau ada yang keberatan melihat Mama seperti ini, silahkan tundukkan kepala, atau melihat ke arah lain." Senja mengatakannya dengan santai dan tanpa beban.
Darren dan Dasen mengerucutkan bibirnya. Ada kekesalan yang nyata di wajah keduanya.
"Ayo, Ask! Bukankah kita ingin berbicara dengan Genta?" Senja tidak menunggu jawaban Darren. Dia memilih berjalan terlebih dahulu.
Dengan malas Darren melangkahkan kaki di belakang Senja. Dia saja yang sudah puluhan tahun hidup bersama Senja, harus menelan ludah melihat tubuh istrinya berlenggok-lenggok seperti itu, apalagi orang lain. Darren mengusap wajahnya kasar. Suka tidak suka, diterima dulu apa adanya.
'Ya Allah, semoga ada jalan yang membuat istriku memantapkan hati untuk berhijab,' doanya dalam hati.
Genta memasuki ruang kerja Darren dengan senyuman yang sangat sopan. Bahasa tubuhnya memang sangat tenang. Membuat siapun yang melihat akan terkesan dengan sikap anak yatim piatu itu.
"Boleh Om, melihat luka di bahumu?" Darren bertanya dengan nada dan wajah yang sama datarnya.
Genta berjalan mendekati Darren yang berdiri menyandarkan bokongnya di meja kerja. "Silahkan, Om."
Senja sendiri duduk di sofa single, dia sebenarnya ingin melihat, tapi dia tidak enak. Bagaimana pun, Genta belum menjadi menantunya. Dia harus menahan diri, karena suaminya tidak melihat umur saat sedang cemburu.
Saat ini, luka di bahu Genta hanya ditutup perban anti air sepanjang bekas jahitan yang ditimbulkan.
"Tidak parah, luka seperti ini biasa untuk laki-laki." Darren malah menepuk ringan bahu itu.
Senja yang hanya melihat dari jarak agak jauh, malah meringis seperti dia yang sedang menahan sakit atau nyeri. Padahal Genta sendiri terlihat biasa saja.
__ADS_1
"Apa ayahmu sudah tahu?" Darren menunjuk sofa, agar Genta kembali duduk di sana.
"Tidak, Om. Genta belum cerita, dan sepertinya tidak perlu. Sama seperti Om, pasti ayah akan menganggap ini luka ringan," timpal Genta.
"Baiklah, tapi menurut Om, lebih baik kamu ceritakan saja pada ayahmu. Jika kamu takut atau keberatan, biar Om yang bicara. Om tidak mau hal ini akan menjadi masalah dan menimbulkan salah paham di belakang hari," tutur Darren.
"Baik, Om. Setelah dari Jogya saja."
"Gen. Mama mau mengucapkan terimakasih sekali lagi. Kamu sudah dua kali ini ikut melindungi Beyza dan Derya. Mama sangat berterima kasih." Senja mengucapkannya dengan sangat tulus.
"Tidak masalah, Ma. Sudah seharusnya, Sekali pun hubungan Genta dan Beyza belum resmi, Genta sudah menganggap keluarga ini seperti keluarga Genta sendiri," ucap Genta, tatapan matanya yang begitu hangat, dengan berani menatap Darren dan Senja satu per satu.
"Terimakasih sekali lagi." Senja membalas dengan senyuman yang sangat tulus.
"Om, Ma, kebetulan sekali ada kesempatan ini. Jadi sekalian saja Genta mau membicarakan sesuatu dengan Om dan Mama." Genta mengatakannya dengan hati-hati.
Genta mengatur napasnya terlebih dahulu agar lebih tenang. "Begini, Om, Ma, Genta dan Beyza sepakat, setelah Kak Zain ini. Kami pun ingin membicarakan masalah pernikahan. Nanti, Genta akan mengatur agar ayah juga datang untuk melakukan pembahasan ini."
Darren mengernyitkan keningnya. Sama sekali belum siap melepas Beyza. "Kenapa harus buru-buru. Kan bisa setahun lagi. Beyza baru akan meneruskan perusahaan Mamanya. Kalau sudah menikah, tentu pikirannya akan terbagi."
"Tidak, Om. Genta janji tidak akan menghalangi karier Beyza. Lagi pula, kasihan kalau Bey hanya tinggal di rumah, dan sayang juga dia sekolah tinggi-tinggi kalau hanya menunggu Genta pulang dari kerja."
Mendengar perkataan Genta seketika membuat Senja berdehem dan menatap Darren penuh arti. Apa yang diucapkan Genta, sungguh berbanding terbalik dengan cara Darren memperlakukan Senja.
"Apa kamu tidak takut Bey akan tertarik dengan rekan bisnisnya? Apa kamu tidak khawatir, kalau nantinya ada yang diam-diam mengagumi Bey?" Darren sengaja bertanya seperti itu untuk melihat sejauh mana Senja akan mengagumi Genta.
"Genta percaya hati Beyza untuk siapa. Karena kami sudah pernah terpisah lama, dan saat bertemu perasaan kami tetap sama. Tidak hanya Beyza yang akan bertemu dengan teman bisnis, Genta pun pasti mengalami hal yang sama. Tapi kami percaya, tidak akan tergoda apa lagi berpaling. Karena kami sama-sama tahu, hati kami sudah terikat satu sama lain." Genta menjawab dengan tegas tapi tidak meninggalkan kesopanannya.
__ADS_1
Lagi-lagi Senja berdehem penuh makna. Darren pura-pura tidak mendengar. Dia malah duduk di samping istrinya itu dengan santai.
"Kalau kamu mau menikahi Bey secepat ini, Om ada syarat."
Senja seketika mendaratkan pandangan penuh tanya pada sang suami. Tapi Darren mengabaikan reaksi istrinya. Pria itu malah fokus memperhatikan Genta.
"Silahkan, Om. Berat sekali pun, asal masih bisa dijangkau akal pasti akan saya lakukan." Genta menjawab dengan yakin.
"Pertama, kalian harus tinggal di rumah ini. Kedua, jangan buat Beyza hamil. Ketiga untuk memastikan kalau kamu tidak akan membuat Bey hamil, maka kamu harus melakukan vasektomi. Di dokter yang Om tentukan."
Mendadak tenggorokan Genta terasa gatal dan kering. Dia terbatuk-batuk tanpa bisa dikontrol lagi. Senja segera mengambilkan sebotol air mineral yang ada di dalam lemari pendingin yang ada di ruangan itu dan memberikannya pada Genta.
"Terima kasih, Ma," ucap Genta setelah meneguk isi botol itu sampai tandas.
"Ask, apa-apa'an sih?" Senja bertanya dengan kesal.
"Ini keputusanku, Ask. Tidak ada yang boleh membantah. Kamu tidak perlu terburu-buru menjawab sekarang. Pikirkan saja dulu baik-baik. Santai saja. Kalian masih sangat muda." Darren meninggalkan ruangan terlebih dahulu.
"Sabar ya, Gen. Bicarakan dengan Beyza. Mama yakin, Bey memiliki seribu cara untuk menghadapi daddy-nya." Senja lalu buru-buru menyusul langkah suaminya.
"Kamu gila, Ask. Apakah kamu tidak berpikir kalau vasekktomi itu tidak enak? Bagi Bey dan juga bagi Genta. Senja saja dulu melarang kamu melakukannya." Perempuan itu masih berusaha memberikan protes pada suaminya.
"Sudah aku katakan tidak ada protes!" Tegas Darren.
Derya dan Beyza hanya bisa bertukar pandang. Mereka tidak bisa menebak apa yang terjadi. Genta belum muncul, daddy mereka terlihat sumringah, sementara mamanya tampak cemberut.
Tidak lama, barulah Genta keluar dari ruang kerja Darren. Wajahnya tidak seceria tadi saat masuk ke dalam sana.
__ADS_1