Hot Family

Hot Family
Kelicikan Inez dan Angelica


__ADS_3

Pagi hari ini semua sudah bersiap melakukan kegiatan masing-masing. Beyza akan memulai hari barunya dengan memimpin perusahaan Senja. Baby De, memulai pekerjaannya sebagai direktur pemasaran di kantor Dasen. Kedua gadis itu terlihat sangat cantik dan elegant.


Di saat semua sudah bersiap di meja makan, Senja masih berbaring di ranjang. Dia sudah meminta Wati untuk mengantar makanannya. Darren yang tidak boleh masuk ke dalam kamarnya, hanya bisa bersabar. Dia menunggu moment yang tepat untuk bisa mengajak sang istri berbicara.


Dasen sedari tadi hanya fokus pada makanannya. Tidak sebentar saja dia menoleh untuk sekedar menyapa daddy-nya. Dia masih merasa aneh, dan kesal membayangkan mempunyai adik lagi.


"Bisa kita bicara sebentar setelah ini?" Tanya Darren pada Dasen.


"Bisa, Dad."


"De berangkat sama Beyza saja," ucap Baby De.


"Langsung temui Mike. Dia akan memperkenalkan Kak De dengan yang lain." Dasen menyudahi makannya dengan meneguk segelas air putih hingga tandas.


Darren juga mengakhiri makannya, pria itu langsung berdiri, lalu berjalan ke ruang kerjanya di lantai satu. Dasen mengikuti langkah pria itu dengan mulut yang sudah maju beberapa senti.


"Kenapa kamu kesel sama Daddy dan mama? Apa kami ada salah?" Tanya Darren, tatapannya tajam namun ada kehangatan di sana.


Dasen membalas tatapan itu sekilas, lalu memalingkan pandangan ke sisi lain sembari menjatuhkan bokongnya ke sofa di seberang Darren.

__ADS_1


"Tidak ada yang salah. Daddy dan mama selalu benar," jawab Dasen, tidak tulus dari dalam hati.


"Kami masih manusia, Das. Daddy dan mama bisa saja salah. Kenapa sikapmu seperti ini pada kami? Kamu kesal, marah, atau kecewa? Karena Denok? Apa karena mamamu hamil?" Selidik Darren.


Dasen memberanikan diri menatap daddy-nya. "Apa boleh Das kecewa? Apa boleh Das merasa mama dan Daddy tidak adil. Dasen memutuskan hubungan dengan Denok karena sayang dan menghargai mama, tapi kenapa mama sekarang malah lebih sering mengabaikan Dasen? Dan kehamilan mam, membuat mama berdiam diri di kamar."


Mendengar jawaban Dasen dengan memperhatikan ekspresinya, membuat Darren langsung paham. Titisannya itu sedang merasa diabaikan. Sangat wajar, selama ini, Dasen adalah kesayangan Senja.


"Soal Denok, Kamu tahu persis kenapa mama menolak. Tapi bukan berarti, tidak ada cara untuk membuat mamamu luluh. Kamu masih bisa berusaha. Tapi soal kehamilan mamamu, kenapa harus menjadi masalah? Kalau terasa mama mengabaikanmu, coba dekati Mama Nja, tanya baik-baik. Bagaimana mama akan memperhatikan kamu, kalau setiap berdekatan kamu selalu bersikap ketus," tutur Darren.


Dasen terdiam. Dia tidak langsung menjawab. Daddy-nya benar. Akhir-akhir ini, cara berkomunikasi antara Senja dan Dasen memang tidak berjalan seperti biasa. Seharusnya mereka bisa berbicara dari hati ke hati.


"Kasih sayang ibu tidak terbagi, Das. Sekalipun mamamu mempunyai 10 anak, kasih sayang untukmu, tentu akan tetap pada porsinya. Kasih sayang pada yang lain, tidak akan mengurangi milikmu sedikit pun. Kamu hanya butuh waktu untuk berbicara dengan mamamu. Jika kamu tidak suka mama hamil, tunjukkan pada daddy saja. Jangan bebani mamamu. Kalau sampai Mama Nja stres dan terjadi apa-apa, malah kita yang akan menyesal."


"Bersikaplah lebih baik pada mamamu. Jika kamu tidak suka, tunjukkan pada daddy. Lagipula, apa alasanmu tidak suka mama hamil lagi. Malu? Kenapa harus malu? Mamamu masih terlihat muda, bahkan dengan gadis pilihanmu, Daddy tetap merasa mamamu jauh lebih keren."


Dasen seketika mencebikkan bibirnya. Jelas, mau siapa pun calonnya, pasti Darren akan mengatakan seperti itu. Standart kecantikan dan kebaikan perempuan bagi daddy-nya itu adalah Senja.


"Apakah pembicaraan kita bisa diakhiri? Das tidak terlalu suka datang siang dan memberikan contoh yang tidak baik pada karyawan. Nanti, Das akan berbicara sama mama," pamit Dasen sembari mengulurkan tangan hendak mencium punggung tangan daddynya.

__ADS_1


Darren menyambut uluran tangan itu dan berkata, "Kamu boleh cuek dan ketus sama Daddy. Tapi jangan pada mamamu. Jangan mempertanyakan sebesar apa cinta dan kasih sayang mama padamu. Bahkan, jika memang perlu, nyawanya pasti akan diberikan untukmu."


Pria itu lalu meninggalkan ruang kerjanya terlebih dahulu. Darren naik ke lantai dua, tapi tidak masuk ke dalam kamarnya. Tidak, dia tidak ingin berbicara dengan Senja sekarang. Dia berharap sang istri yang mencari dirinya lebih dahulu.


Di tempat lain, tepatnya di kantor DNG Corp. Lagi-lagi Derya mendapatkan kejutan dari Inez. Baru menuruni mobilnya dan hendak melalui pintu utama, Derya melihat kehadiran perempuan itu dan juga Angelica.


Tidak ingin terjadi keributan, Derya mengajak kedua perempuan itu ke dalam ruangannya. Kembaran Beyza itu tampak santai sekarang. Dia tidak mau menunjukkan sikap merasa tertekan atau sejenisnya.


"Sepenting apa hal yang ingin kalian sampaikan? Hingga kalian datang ke mari." Derya melempar pandang pada Inez dan Angelica bergantian.


"Aku hamil, Der. Kamu harus bertanggung jawab. Kita harus menikah." Inez mendekati Derya, berusaha menyentuh lengan mantan kekasihnya itu, tapi dengan sigap Derya menepis dengan memundurkan badannya dua langkah.


"Tunggu tiga bulan lagi. Kita akan melakukan tes DNA terlebih dahulu. Kamu mengejarku sampai ke mana pun, keputusanku tetap sama. Tidak akan ada pernikahan di antara kita. Andai kamu bersabar sejenak, dan tetap menjadi Inez yang dulu aku kenal. Nyatanya kamu berubah menjadi perempuan yang sangat licik. Berusahalah kian semaksimal yang kalian bisa. Kalian mengerahkan seluruh dunia sekali pun untuk membangun opini, aku tidak takut. Yang benar-benar bisa menghancurkan kita hanyalah sikap kita sendiri."


Inez menelan ludahnya kasar, dia mengira Derya akan luluh dan lemah saat melihatnya. Ternyata tidak.Dia menduga, kalau Derya pasti sudah berbicara dengan Beyza.


Angelica terlihat mengarahkankan ponsel ke arah Derya dan Inez. Sepertinya dia merekam semua yang terjadi di sana. Derya bukannya tidak tahu, tapi dia sengaja membiarkan. Apa yang mereka lakukan sekarang akan dibayar mahal saat waktunya tiba nanti.


"Der, kamu tidak bisa seenaknya begini dong. Setelah merasakan nikmatnya, kamu meninggalkan aku begitu saja. Aku sampai bela-bala'in ke sini demi kamu. Aku menjatuhkan harga diriku, harga diri mamiku. Hanya untuk mengejar tanggung jawabmu yang ternyata tidak ada."

__ADS_1


Derya mengernyitkan keningnya, lalu tersenyum tipis sedikit sinis. "Terimakasih sudah menuntut tanggung jawabku. Tapi semoga kamu juga mengingat bagaimana itu bisa terjadi, dan kegilaan-kegilaan apa yang sudah kalian lakukan setelahnya. Jika mau posting video hari ini, pastikan jangan di edit ya. Karena setiap sudut di ruangan ini ada cctv. Kalian akan malu sendiri. Apa ada lagi yang harus dibicarakan?"


Angelica seperti memberikan kode pada Inez. Secepat kilat, gadis itu menyambar tangan Derya, lalu setengah memaksa membuat tangan Derya seolah menampar pipinya.


__ADS_2