Hot Family

Hot Family
Ada apa dengan Genta dan Beyza


__ADS_3

Setelah mengakhiri panggilan ponselnya, Beyza meletakkan benda pipih itu dengan sangat kesal. Wajahnya seperti singa yang siap menerkam mangsa yang lewat di depannya.


Karena masih banyak yang harus diselesaikan, Beyza memutuskan untuk kembali fokus pada pekerjaannya. Sesekali gadis itu menepuk-nepuk kening agar konsentrasinya kembali penuh.


Pikirannya memang sedang tidak bisa fokus sekarang. Pikirannya masih melayang pada sosok Genta. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu disusul dengan dorongan pelan yang membuat daun pintu itu terbuka perlahan.


Sorotan tatap tajam dan bibir yang mengatup rapat, membuat Denok meragu. Padahal tadinya, dia hanya ingin memberi tahu bahwa dia akan menata meja kerjanya, agar besok bisa langsung melakukan pekerjaan yang mungkin akan diberikan oleh Beyza.


"Ada apa, Nok?" Tanya Beyza begitu dingin.


"Saya mau minta ijin menata meja kerja saya, Bu. Kalau ada sesuatu yang bisa saya kerjakan pagi sekali, mohon arahan saja." Denok menjawab dengan jelas meski dia tidak sanggup berlama-lama menatap mata Beyza.


"Lakukan saja. Besok, buatkan aku jadwal zoom meeting dengan suplier kain kita. Satu hari dua orang saja. Data suplier, bisa kamu lihat dari laptopmu. Ada beberapa file ku yang bisa kamu lihat melalui sharing pc. Aku bisa mengakses semua isi laptopmu, jadi pastikan tidak mengisinya dengan hal yang aneh-aneh yang tidak berhubungan dengan pekerjaan." Beyza seperti sedikit mendapatkan pelampiasan kekesalan begitu ada Denok.


"Baik, Bu. Saya akan menata barang-barang saya di depan? Apa ada yang bisa dibantu lagi?" Denok bertanya lebih hati-hati.


"Tidak ada," jawab Beyza, singkat.


Denok berpamitan dengan sopan, lalu keluar meninggalkan Beyza sendirian. Dia melakukannya dengan cepat. Kali ini, Denok tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Selain sebagai pembuktian pada diri sendiri, dia juga ingin membuat Beyza melihat kemampuannya. Dengan menyelipkan sebuah harapan, atasannya itu akan bercerita pada Senja. Sehingga suatu saat bisa merestui hubungan Denok dengan Dasen.


Ketika langit sudah mulai gelap, dan waktu maghrib , Baby De yang tahu Beyza belum pulang, mengajak Dasen untuk mendatangi kantor Bey.


Tapi belum sampai mereka turun dari mobil, terlihat Beyza keluar bersama Denok. Keduanya tidak saling bicara meski berjalan hampir sejajar. Wajah masam Beyza, membuat Denok segan memulai pembicaraan.


Baby De turun dari mobil Dasen dan menghampiri Beyza. Denok yang tidak tahu siapa De, mengira kalau gadis yang kini hanya berjarak beberapa langkah darinya itu adalah kekasih baru Dasen.

__ADS_1


"Semobil saja, yuk! Sekalian kita makan malam di luar," ajak Baby De.


"Nggak. Kita makan di luar, tapi tidak semobil. Kak De sama Bey. Aku ajak Denok. Kalian tidak boleh protes, aku yang traktir," sahut Dasen yang tiba-tiba berada di belakang De.


Beyza yang sedang tidak enak hati, tapi enggan tentu dengan senang hati kalau tidak langsung pulang. Setidaknya dia tidak terus kepikiran pada Genta yang sampai saat ini belum memberikan kabar atau sekedar penjelasan padanya.


"Owh iya, Mas Dasen, silahkan. Kita cukup paham." Beyza melirik kesal pada Dasen, lalu mengamit lengan dan mengajak De menghampiri mobilnya yang berada tepat di belakang mobil Dasen.


"Itu siapa sih? Yang namanya unik itu ya?" Tanya Baby De sembari menoleh ke belakang sesaat, melihat Dasen sedang melancarkan aksi menebar pesonanya pada Denok.


Beyza menjawab pertanyaan itu hanya dengan menganggukkan kepala. Baby De, menjadi heran. Biasanya, Bey termasuk tipe yang banyak bicara dan ceria. Tapi kali ini, bibir gadis itu lebih maju dari biasanya.


Sementara itu, Dasen masih berusaha agar Denok mau diajak makan malam bersama. Mantan kekasihnya itu, sebenarnya merasa tidak enak dengan Beyza.


"Ayolah, Nok! Tenang saja, mereka berdua tuh baik-baik. Kamu hanya perlu lebih sering menghabiskan waktu bersama mereka. Yang datang sama aku tadi, namanya kak De. Kami bersaudara, lain daddy, lain mama, Tapi satu rahim dan sepersusuan."


"Das, makan di mana? Kita biar jalan duluan." De melongokkan kepalanya dari jendela mobil yang di buka penuh.


Dasen menyebut sebuah nama resto mewah di sebuah hotel. Mobil yang ditumpangi Beyza dan De pun merangkak meninggalkan gedung kantor Deandra Corp lebih dahulu.


Akhirnya, Denok pun bersedia. Tapi mengatakan kalau tidak bisa terlalu larut, karena orang yang dia pekerjakan untuk menjaga Erika, hanya bisa sampai pukul sembilan malam.


Saat Beyza dan Baby De memasuki resto hotel, kekesalan Bey semakin memuncak. Ingin rasanya dia menghampiri dan menggebrak meja uang ditempati sosok yang sedari tadi memenuhi pikirannya. Namun, setelah menarik napas dalam, dia teringat akan pesan mamanya. Jika kita ingin menang dalam perkara apapun, terlebih dahulu kita harus mengendalikan diri kita di depan umum.


"Kak De, cari duduk dulu. Bey mau menyapa teman dulu." Baby De mengikuti arah tatapan Beyza. Barulah dia menyadari keberadaan Genta di sana.

__ADS_1


Baby De menepuk keningnya. "Perang dunia nih." gumamnya dalam hati.


Berusaha setenang mungkin, Beyza melangkahkan kaki menghampiri di mana Genta sedang berada bersama seorang perempuan muda dan seorang anak laki-laki kecil berwajah kebulean.


"Kebetulan sekali bertemu di sini, Kang Genta."


Suara sapaan Beyza yang terkesan ramah namun dengan senyuman sinis membuat Genta seketika menoleh, raut wajah terkejut tidak bisa disembunyikan. Apalagi saat melihat sorot mata Beyza, mendadak perasaannya menjadi sangat tidak enak. Laki-laki itu buru-buru berdiri.


"Em--mbak." Dengan gugup, Genta menyapa Beyza.


Beyza tersenyum penuh arti sembari melirik perempuan yang bersama Genta. Perempuan itu menampilkan raut wajah penuh tanya, sedangkan sang anak menikmati makanannya tanpa memedulikan yang sudah terjadi.


Tidak berapa lama, Denok dan Dasen datang. Melihat Baby De duduk sendirian, membuat Dasen bertanya, "Di mana Bey?"


Baby De menjawab pertanyaan Dasen dengan menggunakan dagunya untuk menunjuk keberadaan Bey.


Meski Dasen melihat Beyza sedang tersenyum, tetapi dia hafal betul kalau adiknya itu sedang menyimpan kemarahan di sorot matanya.


"Breengssek juga itu Gentong," gumamnya dengan geram, dia hendak melangkahkan kakinya mendekati meja Genta. Tapi Baby De menahan Dasen.


"Biarkan mereka menyelesaikan sendiri, jika memang mendesak. Kita baru turun tangan," ucap Baby De dengan bijak.


Dasen dengan wajah kesalnya terpaksa duduk. Sembari mengumpat dalam hati. Dia tidak menyangka kalau Genta yang pembawaannya diam ternyata bisa mempermainkan Beyza, dengan perempuan yang juga Dasen kenali.


Denok duduk di samping Dasen tanpa berucap apapun. Dia menyesal karena mengiyakan untuk ikut. Sudah dipastikan keadaan akan tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Kembali ke meja Genta, laki-laki itu tampak salah tingkah. "Mbak." Dia berusaha meraih tangan Beyza, tapi ditepis dengan cepat.


__ADS_2