Hot Family

Hot Family
Derya belum selesai


__ADS_3

"Kakak mau lagi, tidak? Kalau mau, Ayo, Kak. Tapi di atas ranjang dalam saja. Sekar mau mode gak pasrah-pasrah banget."


"Kamu sakit tidak? Kalau tidak nyaman, aku nggak tega. Masih ada besok," sahut Zain.


"Kalau dijeda sepertinya malah akan sakit. Namanya barang baru, Kak, pasti masih agak-agak susah buka tutupnya. Justru harus sering dipakai, biar lancar. Kan kita ada salep juga buat ngurangin bengkak. Sudah deh, Ayo!" Sekar menarik tangan Zain ke dalam kamar dan langsung mendorong suaminya itu ke atas ranjang.


Keduanya yang sudah berpakaian santai kembali menanggalkan pakaian masing-masing. Tangan Zain meraih remote kontrol untuk mengatur pencahayaan agar suasana kamar lebih temaram.


Kini kepala Zain sudah tenggelam di antara dua paha Sekar. Memainkan lidahnya dengan lincah di sana. Sedangkan mulut Sekar sendiri juga aktif maju mundur memainkan Si Tole yang cepat sekali mengeliat dan mengeras.


Setelah bermain-main cukup lama, dan Sekar sudah merasakan sensasi luar biasa, dia pun membalik badannya dan bersiap mengambil posisi layaknya kuda.


"Yakin?" Zain malah yang ragu-ragu.


"Yakin, Kak."


Setelah mendengar jawaban Sekar, Zain pun mulai memasukkan Si Tole kembali ke dalam celah pasangannya. Hentakan pertama, membuat Sekar sukses menyumpal mulutnya dengan selimut.


Meski ngilu, nyeri dan rasa tak nyaman lain masih mendominasi, kali kedua ini, Sekar bertekad ingin memberikan perlawanan. Ternyata, semakin dia tidak melawan dan pasrah, rasa sakitnya makin terasa. Tapi begitu dia mencoba mengikuti tempo yang ditawarkan Zain, semua rasa menjadi lebih baik.


Tepukan tangan Zain di sisi pinggulnya membuatnya benar-benar serasa berlari. Suaminya itu menjadi semakin liar begitu mendekati puncaknya, tangan Zain yang panjang, dengan mudah meraih bagian dada kenyal sang istri.


Hentakan Zain pun terasa semakin cepat dan nyata. Drama Sekar pun kembali terjadi, perempuan itu menarik bantal dan menggigitnya untuk menyamarkan suara umpatan karena nyeri yang kembali mendera.


Saat Zain usai dan terengah-engah, Sekar langsung melepaskan Si Tole begitu saja. Hingga garis celah di pucuk benda itu, masih mengeluarkan tetesan-tetesan putih kental di mana-mana.


"Cukup, Kak. Malam ini, sampai di sini saja." Sekar benar-benar terengah-engah kali ini.

__ADS_1


Zain mengangkat tubuh Sekar dan membawanya ke dalam bathup dan mengalirkan air hangat di sana.


"Aku berendam di jacuzzi depan, ya." Zain mengecup kening Sekar sekilas.


Sementara itu, di sisi lain, tepatnya di taman hotel yang sama. Senja masih menemani Derya yang sedari tadi tidak banyak mengeluarkan kata-kata. Darren sendiri tidak mendekati anak dan istrinya, dia hanya melihat dari kejauhan.


"Apa harus Derya bertindak keras, Ma?" Tanya Derya sembari menatap mamanya dengan sendu.


Senja menggeleng kuat. "Kamu fokus kerja, besok kamu kembali ke negara S. Abaikan apa pun yang terjadi di sini."


"Bagaimana dengan daddy dan Mama? Nama baik kalian yang dipertaruhkan. Derya yang bersalah, tidak seharusnya nama Daddy dan Mama dibawa-bawa."


"Mama dan daddy tidak peduli mau di beritakan apa pun. Tidak ada yang bisa menghancurkan nama baik kita, selain perbuatan kita sendiri. Percaya sama Mama, Kamu fokus sama pekerjaanmu. Abaikan Inez, jangan balas dan timpali sekali pun. Jalani hidupmu lebih baik, hati-hati memilih teman perempuan. Setidaknya kamu tahu, seorang perempuan bisa lebih gila dan nekat kalau sudah mengharapkan sesuatu." Senja mengusap pundak Derya dengan lembut.


"Iya, Ma. Derya tidak akan lagi mengulangi kebodohan yang sama. Karena masih banyak kebodohan lain yang pastinya bisa membuat Mama kesal juga," goda Derya, sukses membuat Senja mencubit kecil anaknya itu sampai meringis kesakitan.


"Mulai besok, tinggal bersama oma opa di mansion. Tidak ada alasan kepingin mandiri atau apalah." Senja berdiri sembari menarik tangan Derya dan mengajak anaknya itu kembali ke kamar karena malam sudah sangat larut. Waktu menunjukkan hampir lewat tengah malam malah.


"Gak gampang. Kudu gantengnya kayak Daddy, pesonanya tidak kurang dari daddy. Dan satu hal lagi, yang kayak Mamamu begini, sudah langka," sahut Darren yang tiba-tiba muncul di antara mereka.


"Percaya, tapi tetap saja yang beruntung pertama, Papanya Kak Zain." Derya berlari masuk ke dalam lift lebih dahulu sebelum terkena timpukan Darren.


Di kamar Senja, Beyza, Baby De dan Dasen masih asik mengobrol santai. Ketiganya membicarakan apa saja sembari menunggu kedatangan daddy dan mamanya.


"Eh, Bey, kamu serius mau nikah cepet?" Baby De menatap Beyza dengan serius.


"Seriuslah. Masak nikah buat main-main," timpal Beyza dengan cepat.

__ADS_1


"Nikah sama Gentong?" Dasen ikut bertanya tapi dengan sedikit mencibir.


"Genta kak, bukan gentong," sahut Beyza, sangat tidak terima.


"Sama aja."


"Enggak sama, gentong itu gendut, perutnya besar. Kang Genta perutnya bagus, badannya juga bikin nyaman dibuat sandaran." Beyza tersungut-sungut saat mengatakannya.


"Ciey, Kang ... lulusan luar negeri semua, eh, panggilan sayangnya kang." Dasen semakin semangat menggoda Beyza.


"Memang kenapa kalau kang? Kan keren. Kayak Kak Dasen enggak suka yang lokal saja. Apa Kak De tahu, kalau cewek Kak Dasen sekarang tuh namanya Denok." Beyza membalas Dasen.


Baby De mengernyitkan keningnya, heran dan sedikit tidak percaya apa yang dia dengar. "Kang, okelah, aku paham. Aku baru dengar ada cewek namanya Denok? Serius ada?"


"Ada, dan ceweknya Kak Dasen pula. Nanti kalau diundangan bagaimana coba? The wedding of Dasen and Denok. Rasanya nggak enak banget." Beyza pura-pura membersihkan telinga dengan jarinya.


"Siapa yang ngajarin kamu menghina nama orang lain? Nama apapun itu, tentu ada artinya. Aneh bagi kita, bagi orang lain itu mungkin bermakna," tutur Dasen, menjadi sok bijak.


"Sebentar-sebentar, tadi yang mulai siapa?" Seloroh Beyza.


"Kalian berisik." Baby De menarik selimut dan menutup daun telinganya rapat-rapat.


"Aku balik kamar saja. Di sini tidak seru," pamit Dasen akhirnya, bersamaan dengan datangnya Senja dan juga Darren.


"Untunglah Daddy dan Mama datang. De bisa pusing kalau menghadapi dua orang ini. Sama-sama penggemar lokal, tapi saling mencela," keluh Baby De.


"Memang kamu sukanya yang gak lokal ya, Kak?" Tanya Beyza.

__ADS_1


"Tergantung, sejauh ini sih, tidak suka lokal. Lebih suka yang keturunan, ya tipe-tipe kayak Papa, Daddy sama Kak Zain gitu, okelah."


"Jangan ketinggian mimpinya, sebentar lagi kamu di Jakarta. Ketemunya sama mas-mas, dan kang-kang juga pastinya." Dasen buru-buru menutup pintu sebelum bantal Baby De melayang.


__ADS_2