Hot Family

Hot Family
Usaha Dasen


__ADS_3

Zain bergeming mendapat pelukan Airin yang tiba-tiba. Dia tidak menolak, juga tidak membalas. Zain sama sekali tidak menduga, mantan kekasihnya itu sekarang begitu agresif.


"Kak...," suara sapaan yang lirih, namun berhasil membuat Zain salah tingkah dan ketakutan. Meski dia tidak melakukan apa-apa. Yang terlihat sekilas, kadang bisa diartikan berlebihan oleh orang lain.


Zain mendorong tubuh Airin, tidak peduli bagaimana perasaan perempuan itu. Perasaan Sekar jauh lebih penting saat ini.


"Kenapa tidak menghubungiku terlebih dahulu? Kan aku bisa jemput, kalau tahu datangnya sekarang. Ternyata ini urusan yang membuatku tidak boleh menelepon." Zain menyambut Sekar dan langsung memeluk pujaan hatinya itu.


Sekar tersenyum kecut. "Niatnya, mau kasih surprise, ternyata Sekar yang dapat surprise."


Zain membawakan koper Sekar ke dalam sembari mengamit pinggul ramping milik sang kekasih hati.


Airin bergeming, dia langsung tidak dianggap begitu Sekar datang. Nyatanya, mudah bagi Zain untuk berpaling darinya. Menggantikan sosok Airin dengan perempuan lain, ternyata tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama.


"Kak Zain, ada tamu juga?" Sekar berusaha setenang mungkin, padahal hatinya sudah begemuruh, seperti gunung berapi yang hendak memuntahkan lahar.


"Eh... iya, sampai lupa. Ini Airin. Sekar pasti tahu siapa dia. Airin mengantarkan undangan ulang tahun, lusa kita bisa datang berdua." Zain mencubit pipi Sekar yang menggemaskan.


Airin memalingkan wajahnya, tidak tahan dengan nyeri yang merasuk di dada. Padahal tidak ada hak sedikit pun dirinya untuk cemburu.


"Hai, Rin. Aku Sekar, Saat kami awal berkenalan dulu, Kak Zain sering bercerita tentang kamu. Tapi beberapa tahun terakhir ini, aku jarang sekali mendengar tentangmu. Ya, kecuali saat kamu atau orangtuamu menghubunginya untuk berbagai keperluan," ucap Sekar, santai tapi terdengar sangat menyindir.


"Hai... beberapa tahun terakhir ini, aku malah sering mendengar namamu disebut. Kalian sangat serasi." Pujian Airin terdengar hanya seperti basa-basi.


"Terimakasih." jawab Sekar.


Sekar mengamit lengan Zain dengan posesif, keduanya duduk di sofa panjang. Sedangkan Airin duduk di sofa single. Mantan kekasih Zain itu, nampak sekali tidak nyaman dengan kondisi saat ini.


Airin seperti kehilangan ketenangan dan wibawanya. Sekarang dia tidak lebih seperti abg yang resah karena gebetannya diambil orang lain.

__ADS_1


Sementara Sekar, pintar sekali menjaga perasaannya. Padahal saat ini, dia sedang kesal sekali dengan Zain. Tapi dengan epic, dia menyembunyikannya. Dia tidak mau terlihat seperti pencemburu buta.


Karena sudah tidak nyaman, setelah berbincang sebentar, Airin pun berpamitan. Zain dan Sekar mengantar sampai di pintu utama.


Selepas mobil yang ditumpangi Airin menghilang dari pandangan, Sekar langsung melepas tangannya dari lengan Zain. Wajahnya pun seketika menjadi masam.


"Kenapa tidak memberi kabar? Kalau aku tidak ada di rumah bagaimana?" tanya Zain hendak menggandeng tangan Sekar, tapi ditepis mentah-mentah oleh gadis kesayangannya itu.


"Untung tidak memberi tahu, kalau telpon duluan, tidak bakal lihat peluk-pelukan kayak tadi." Sekar menghempaskan bokongnya di sofa.


"Airin tiba-tiba memelukku, aku tidak membalasnya sama Sekali. Tanganku tadi tetap di samping," kilah Zain. Sudah dia duga, Sekar tadi hanya sedang menjaga sikapnya di mata Airin.


Sekar menatap kekasihnya itu dengan tatapan menyelidik. "Tidak membalas, tidak juga menolak. Tetap saja judulnya peluk."


"Lain kali akan menghindar dan menolak tegas, Airin sudah seperti adik," sahut Zain secepat kilat.


"Mana ada adik ketemu gede. Itu hanya alasan yang dibuat-buat. Sebuah ketidakwajaran yang dijadikan kebiasaan dan pembenaran. Apapun namanya, mantan tetaplah mantan. Boleh dikenang, tapi bukan di sini, apalagi di sini." Sekar menunjuk kepala dan dadanya bergantian.


"Sekar sudah menghubungi Mama Nja. Jadi selama di Jakarta. Sekar boleh tidur di kamar tamu. Syarat dan ketentuan berlaku. Kak Zain


tidak boleh mendatangi kamar Sekar, dan jangan curi-curi kesempatan." Begitu melihat Wati, Sekar langsung masuk. Karena Wati memang sudah diberitahu oleh Senja, kalau dirinya akan menginap di sana.


"Astaga! Yang punya rumah siapa, yang punya aturan siapa," gumam Zain sembari menepuk keningnya.


.


.


Keesokan paginya, Dasen baru tahu kalau Sekar berada di rumahnya saat bertemu di meja makan untuk sarapan pagi.

__ADS_1


"Selamat pagi, adik ipar." Sekar menyapa Dasen dengan ramah.


"Nikahnya kapan? Belum tentu jadi kakak ipar." Seperti biasa, Dasen selalu menggoda Sekar dengan candaan tentang batal nikah dan sebagainya.


"Sebentar lagi. Tunggu saja. Kalau hari baiknya dapat bulan depan, ya bulan depan langsung cuss nikah."


Mendengar jawaban Sekar, seketika Dasen teringat dengan Denok. "Pakai hari baik juga?"


"Pakailah. Kan aku orang jawa. Masih tinggal di tanah jawa. Mengikuti tradisi yang tidak merugikan kita, tidak ada salahnya," tukas Sekar.


"Eh, aku ada kenalan orang yang bisa mencarikan hari baik. Sebelum kamu dan Kak Zain maju ke orangtuamu, ada baiknya kamu ke tempat orang ini dulu. Jadi pas di sana semua sudah oke. Jangan sampai, sudah di Jogya, Daddy dan bapakmu malah berdebat panas gara-gara weton." Dasen mencoba mempengaruhi pikiran Sekar, berharap Sekar mau diajak ke rumah bapaknya Denok.


"Das, kok kamu ngerti soal weton? Kak Zain saja masih tidak paham?" selidik Sekar.


Dasen tidak langsung menjawab. Dia bingung juga harus menjawab apa.


"Ehmmm, itu, Mike, ceweknya jawa tulen. Persis kayak kamu gitu. Orang mau kerja saja tanya pintu kantor menghadap ke arah mana." Dasen selalu mengkambing hitamkan Mike disetiap kesempitan.


"Kalau itu sih berlebihan. Kalau buat menikah, di tempatku memang masih memakai adat hari baik. Bahkan kalau acara resepsinya tidak di gedung, temu kemantennya harus di rumah yang pintunya menghadap arah yang sama dengan pintu rumah mempelai perempuan," jelas Sekar.


Dasen menepok jidatnya sendiri. "Astaga, ribet sekali. Kalian mau menikah di mana? Di gedung atau di rumah? Kalau butuh vendor Souvenir aku ada kenalan. Di jamin barangnya unik, karena orangnya juga unik." Dasen dengan semangat mempromosikan jasa Denok.


"Mulai kapan kamu mengenal vendor souvenir?" tanya Zain tiba-tiba muncul dari arah belakang Dasen.


"Sejak ada ownernya yang cantik dan unik," jawab Dasen begitu jujur.


"Bisa ditebak dan dimengerti. Karena aku ini kakak yang baik. Nanti kalau sudah fix tanggal pernikahan, buatkan jadwal sama dia. Kita mau cari souvenir yang lain dari biasanya." Zain mengedipkan satu mata pada Sekar.


"Iya benar. Doakan saja secepatnya. Karena kalau kami belum menikah, jelas Ma Nja, tidak mengijinkanmu melangkahi Kak Zain," ledek Sekar.

__ADS_1


"Tidak masalah. Jadi bagaimana? Mau tanya hari baik tidak? Iseng-iseng saja, dicoba dulu. Sebelum menemui hitungan yang lebih berat dan rumit yang sesungguhnya. Anggap saja ini trial." Dasen masih berusaha dan pantang menyerah.


Sekar dan Zain saling bertukar pandang. Merasa heran dengan semangat Dasen yang di luar nalar. Dasen yang normal, harusnya akan menghina mereka habis-habisan karena masih percaya dengan adanya hari baik.


__ADS_2