
Derya seketika tersenyum sinis. "Jadi jauh-jauh ke sini, kalian hanya ingin membuat drama kekerasan. Derya putra Darren Mahendra, CEO dari DNG Corp, melakukan penamparan pada mantan kekasihnya yang sedang hamil."
Angelica bangkit dari duduknya, mendekati Inez dan Derya yang sudah berdiri berjarak dua langkah. Wanita itu menampilkan senyuman licik yang membuat Derya muak.
"Kita lihat seberapa lama kalian bertahan pada keangkuhan. Kami tidak akan berhenti berusaha mempermalukan kalian di depan publik. Kami tidak akan berhenti sampai kamu bertanggung jawab dan mamamu bersujud memohon padaku," ucap Angelica, dengan tatapan angkuh.
"Aku tidak akan membiarkan mamaku memohon pada siapa pun, apa lagi pada kalian. Lakukan apapun yang Nyonya mau. Tidak mudah menggoyahkan kekuatan seorang Senja. Jika kami mau, dengan sekejap mata kami bisa membalikkan keadaan. Tapi kami akan melakukan semua dengan benar."
Angelica menarik tangan Inez. "Kita pergi."
Derya membalas tatapan Inez yang penuh harap padanya dengan tatapan santai. Dia benar-benar tidak mau menunjukkan di dalam hatinya sedang sangat bergejolak. Bayangan wajah Senja yang kecewa dan sedih kalau sampai mengetahui ulah Angelica dan Inez, membuatnya merasakan beban moral yang luar biasa menekan.
Setelah memastikan kedua perempuan ulat itu keluar. Derya langsung menghubungi Beyza untuk menceritakan kejadian yang baru saja dialami. Beberapa menit berbicara melalui telepon selular dengan saudara kembarnya itu, dia pun mengakhiri dengan perasaan sedikit lega. Salinan CCTV pun segera dia kirim pada kembarannya itu.
Sejauh ini, dia yakin dengan semua keputusan dan langkah yang diambil. Tapi bayangan wajah kekecewaan sang mama yang pastinya akan sedih jika mengetahui ulah Inez dan Angelica yang nekat.
***
Ketika semua adik-adiknya sudah kembali pada aktivitas masing-masing, Zain dan Sekar masih bersiap untuk meninggalkan hotel dan berpamitan terlebih dahulu pada keluarga Sekar untuk pulang ke Jakarta.
Zain memutuskan untuk menyudahi waktu berdua mereka. Dia ingin segera kembali ke Jakarta. Meskipun kerap menampilan ketidaksenangan pada kehamilan sang mama, nyatanya, Zain sangat mengkhawatirkan perempuan yang telah melahirkannya itu.
__ADS_1
"Kak, yang semalam, nanti dicoba lagi ya?" Sekar mengamit lengan Zain yang sedang menutup resleting koper.
"Katanya berasa sampai menusuk dada? Bikin lemes, bilang ampun, malah suruh cepet-cepet selesai. Kok sekarang jadi minta lagi? Goda Zain sembari menowel hidung minimalis milik Sekar.
"Dirasa-rasa'in enak, Kak. Rasanya posisi itu paling gimana gitu," ucap Sekar, matanya berkedip manja tanpa malu-malu.
"Dasar, diam-diam nakal." Zain mengecup bibir tiipis Sekar sekilas.
"Kalau sudah di Jakarta, Sekar mau tanya-tanya sama Mama Nja. Siapa tahu, banyak pelajaran bisa diambil."
"Tidak-tidak, jangan. Hal seperti itu cukup kita lakukan dan rasakan. Tidak perlu sampai mencari tahu dari orang lain. Lagian, apa kamu tidak malu sama mama?" Sahut Zain.
"Enggak lah. Mama Nja mertua yang sangat asik. Tidak ada alasan untuk malu. Lagian, Kak Zain jangan berpikiran negatif dulu. Maksudnya tanya-tanya jadi istri yang baik itu bagaimana, cara menghadapi suami itu bagaimana?"Sekar mendengus manja.
"Pasti karena Sekar tidak secantik Ma Nja. Kakak tidak akan khawatir kehilangan Sekar, karena di luar sana banyak yang berharap menggantikan posisi Sekar." Perempuan itu memanyunkan bibirnya.
Zain menggigit bibir bawahnya, lalu melemparkan semyuman yang sangat hangat dan tulus. "Jika jatuh cinta hanya cukup dengan alasan cantik, entah akan berapa kali aku jatuh cinta. Beberapa langkah saja kita melangkah keluar dari hotel, mungkin sudah akan menemui perempuan cantik. Bukan begitu kita memaknai hubungan kita. Daddy yang pemcemburu, dan aku yang sama sekali tidak mempunyai sifat itu. Bukan berarti aku tidak takut kehilanganmu. Aku hanya lebih percaya. Kita yang sudah dewasa dan sudah memantapkan untuk menghalalkan hubungan dalam pernikahan, tentu harusnya tahu bagaimana menghargai dan memberikan masing-masing kepercayaan."
"Kalau Sekar yang cemburu bagaimana? Apa tidak boleh?" Sekar mendongakkan kepala agar bisa beradu pandang dengan sang suami.
"Tentu saja boleh. Kamu pasti khawatir, karena suamimu ini ganteng, kaya raya, dokter, si tolenya gede, hmmm ... apa lagi ya?"
__ADS_1
Sekar seketika mencubit pinggul Zain yang keras berotot. "Sekar akan sangat pencemburu. Sekar tidak peduli. Ke mana pun kakak pergi, Sekar ikut."
Zain hanya menggelengkan kepala sembari terkekeh. "Kamu sealiran dengan Darren Mahendra. Aku sudah memilihmu, dan aku akan bertanggung jawab pada pilihanku itu. Tanggung jawabku, tidak lagi hanya padamu, tapi pada orangtuamu, orangtuaku, dan pada Allah. Mama tidak mengajariku menjadi pengkhianat, menyakiti hati perempuan, sama saja dengan menyakiti mamaku."
Sekar langsung memeluk Zain dengan erat. Ucapan syukur berulang kali dia ucapkan dalam hati. Memiliki suami seperti Zain memanglah anugerah terindah baginya. Dia tidak hanya mendapatkan suami, tetapi juga mertua yang luar biasa. Meski Darren tidak terlalu dekat dengannya, dan terkesan menjaga wibawa, tapi Sekar tahu kalau pria itu sangat baik. Apalagi Senja, sudah tidak diragukan lagi bagaimana wanita itu memperlakukannya seperti anak kandung sendiri.
Sementara itu, Beyza mulai kesibukannya dengan sangat baik. Tapi gadis itu merasa ada yang kurang, karena ternyata, sejak Denok dialihkan ke divisi marketing, belum ada sekretaris tetap untuk posisi CEO.
Beyza memanggil kepala bagian kepegawaian untuk membicarakan hal itu. Saat pegawainya itu menyebut nama Denok sebagai orang yang menempati posisi sekretaris untuk terakhir kali, Beyza langsung menyuruh mantan kekasih Dasen itu untuk datang ke ruangannya.
Dengan perasaan berdebar-debar, Denok melangkahkan kaki perlahan menuju ruangan Beyza. Bayangan peristiwa antara Senja, Erika dan Denok di depan ruangan itu melintas tanpa permisi. Membuat gadis itu sedikit bergidik karena khawatir dia akan diberhentikan kali ini.
Dari yang Denok dengar, pengganti Senja adalah satu-satunya anak dari wanita yang paling dia segani itu. Jelas dipikiran Denok sudah membayangkan sosok Ceo kali ini pasti memiliki pembawaan yang tidak jauh berbeda dari Senja.
Perkiraan Denok tidak sepenuhnya salah, tapi juga tidak benar. Beyza adalah perpaduan Darren dan Senja yang sempurna. Ada sikap tega dan sedikit angkuh dari sang daddy yang dibawanya.
Denok mengetuk pintu tiga kali, lalu mendorong daun pintu itu perlahan hingga terbuka. Matanya seketika membulat, mulutnya menganga melihat sosok Beyza.
'Duh gusti, keluarga mas Dasen ini memang gak ada yang jelek ya? Semua pada kemana pas pembagian hidung pesek, kulit gelap, badan gemuk dan pendek? Ya Allah, mestinya aku usaha keras biar bisa jadi keluarga mereka. Memperbaiki keturunan beneran pasti,' batin Denok dalam hati. Bibirnya masih dibiarkan melongo.
"Denok ya? Maaf, bisa wajahnya biasa saja. Saya tahu saya cantik, bukan cuma kamu yang mengagumi." Beyza menatap santai pada mantan kekasih Dasen itu.
__ADS_1
Ucapan Sekar membuat Denok seketika mengatupkan bibir sembari menelan ludahnya kasar. 'Sombong halal buat mereka,' batin Denok, lagi-lagi.