Hot Family

Hot Family
Bukan Airin


__ADS_3

"Kak, kenapa kasar begini?" Beyza membantu Genta kembali ke posisi semula. Dorongan Dasen membuatnya jatuh ke lantai.


"Kakak harus meminta maaf pada Genta," ucap Derya.


"Heiii ... apa kamu tidak berpikir Genta sedang mencari kesempatan? lihatlah! tadi dia sudah mengambil kesempatan mencium, Beyza." Dasen menatap Genta dengan tajam.


"Apa yang kakak lihat, tidak menjelaskan kejadian seutuhnya. Jangan menilai terlalu cepat." Beyza menghemtakkan kakinya dengan kesal. Memanggil mamanya adalah solusi terbaik.


Michel masih setia menunggu di depan pintu, dengan sinis Beyza melewatinya begitu saja. Michel terus memandang gadis itu dengan tatapan terpesona, mmembuat Beyza bertambah kesal.


"Apa kamu lihat-lihat?" tanya Beyza dengan berani.


Michel hanya tersenyum. Memang dasarnya dia tidak tahu malu, terlalu percaya diri dan nekat. Mau Beyza meludah di depannya sekalipun, Michel tidak akan mundur.


Di dalam kamar, ketegangan semakin terjadi antara Dasen dan Genta. Kedua abg itu saling menatap tajam. Harimau dan singa sedang beradu pandang, tidak ada satupun yang gentar. Keduanya sama-sama tidak mengenal rasa takut.


Beyza kembali datang bersama Senja. Lagi-lagi dia melewati Michel begitu saja, teman Dasen itu rupanya enggan memasuki kamar Derya.


"Ada apa ini?" suara Senja yang lembut tapi tegas membuat Dasen dan Genta bersamaan menundukkan pandangannya.


"Kak Dasen, mendorong Genta seenaknya," sahut Derya.


"Apakah itu benar, Das?" selidik Senja.


"Dasen, melakukan karena ada alasannya. Genta mencoba mencium Bey." Titisan Darren sedang membela diri.


Senja mengerutkan keningnya. "Benarkah begitu?" tanyanya, sembari menatap satu per satu, Beyza, Derya dan yang terakhir Genta.


"Itu tidak benar, Ma. Kami tidak sengaja saling membentur karena mengambil sendok yang jatuh. Bukan sengaja" tegas Beyza.


"Yang dijelaskan Bey memang benar, Ma." timpal Deyra.


"Baiklah. Das ... minta maaf pada Genta, sekarang," perintah Senja.


"Tapi, Ma ...." Dasen seperti ingin membantah.


"Tidak ada tapi, Das. Meminta maaf saat kamu bersalah, tidak akan membuatmu menjadi rendah," tegas Senja.

__ADS_1


Dengan wajah terpaksa, Dasen mengulurkan tangannya pada Genta. "Maaf," ucapnya.


"Tidak masalah." Genta membalas uluran tangan Dasen dengan santai.


"Tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi. Bey ... biar Mama yang menyiapkan makan untuk Derya, kamu kembali ke kamar. Jika ada teman Derya, kamu boleh menemaninya di luar. Saat di kamar, Mama tidak mengijinkan. Ini berlaku juga sebaliknya pada yang lain. Teman lawan jenis, hanya boleh berada bersama di wilayah terbuka. Mengerti?" Senja menatap satu per satu anaknya, termasuk Genta.


"Mengerti, Ma ...." ucap keempatnya dengan kompak.


Genta seketika menutup mulutnya, merasa sudah lancang dan keceplosan karena terbawa suasana. Dia yang tidak pernah mendengar omelan dan nasehat seorang ibu, serasa sedang diperhatikan oleh sosok Senja.


"Mamaku, bukan Mamamu," ucap Dasen sembari berjalan meninggalkan kamar Derya.


"Dass ...." hardik Senja.


Perempuan itu lalu menyiapkan makan untuk Derya, sementara Beyza memutuskan untuk kembali ke kamar karena tidak ingin membantah Mamanya.


Genta duduk di samping Derya dengan tenang dan santai, memperhatikan Senja yang menyuapi Derya dengan telaten. Genta tersenyum, dalam hati dia bersyukur. Meskipun tidak memiliki ibu, tapi ayahnya mampu melakukan dan nemberikan segalanya untuk Genta.


Sayup-sayup Senja mendengar suara dari mama dan papa mertuanya.


"Sepertinya oma Sarita dan opa Hutama sudah datang," ucap Senja, sembari menyuapkan sesendok makanan terakhir ke mulut Derya.


'Sepertinya, Aku harus sering-sering ke sini. Lumayan ... berasa punya bunda.' batin Genta.


******


Zain terlihat asik mengobrol dengan oma dan opanya. Ketiganya memang jarang bertemu sekarang. Itu karena Zain yang banyak menghabiskan waktu menemani Airin. Semakin cucu-cucunya dewasa, semakin sulit mengumpulkan mereka dalam satu waktu.


"Opa ... Oma ...." Beyza tiba-tiba muncul langsung menyapa dan mencium keduanya bergantian.


"Cucu Oma ini, kenapa semakin cantik saja?" Sarita menepuk bagian sofa di sampingnya sebagai kode agar Beyza duduk di sana.


"Mamamu kemana Bey?" tanya Sarita.


Belum sempat Beyza menjawab, Senja terlihat sedang menuruni anak tangga dengan hati-hati.


"Menantumu itu sepertinya tidak bisa menua ya, Pa." Sarita berbisik pada Hutama.

__ADS_1


"Itu berkat kerja keras anak kita," timpal Hutama.


"Pa ... Ma ... Maaf baru turun. Derya tidak enak badan, jadi Senja harus menyuapinya dulu." Senja mencium punggung tangan mertuanya bergantian.


"Astaga, Zain. Kenapa tidak bilang dari tadi." Sarita langsung berdiri dan berjalan menuju lift untuk ke kamar Derya di lantai dua. Hutama pun segera mengikuti sang istri.


Sarita dan Hutama menyayangi cucu-cucunya sama besar. Tidak seperti Darren yang lebih condong pada Beyza karena anak perempuan satu-satunya, atau Senja yang sedikit memanjakan Dasen karena merasa bersalah sudah memberikan adik di saat usia anaknya itu masih sangat kecil.


"Mama mau ke dapur dulu, mau membuatkan makanan buat Airin. Kalau daddy datang katakan saja Mama masih di dapur." Senja lalu berjalan menuju ke arah dapur.


Tinggallah Beyza dan Zain berdua di ruang keluarga.


"Kak, mana ponselnya. Jangan sampai Kakak bohong." Beyza menagih janji Zain saat berhasil membuat daddy dan mamanya berbaikan.


"Besok, kamu ingetin kakak ya. Biar besok kakak antar ke sini. Tapi kakak antarnya satu-satu." Zain mulai menggunakan akal liciknya agar tetap bisa bertemu dengan Airin.


"Kenapa satu-satu?" tanya Beyza yang memang tidak mengerti apa-apa.


"Karena harus begitu. Ini ponsel keluaran terbaru. Tidak boleh sekaligus beli lebih dari satu." Zain kembali mencari-cari alasan.


Beyza hanya mengangguk-anggukkan kepala sembari memanyunkan bibirnya.


Genta terlihat menuruni anak tangga, seketika bibir Beyza yang tadinya maju dua senti, kembali ke bentuk semula. Bahkan kini dia sedang mengeluarkan senyum terbaiknya.


Zain yang sudah melewati masa-masa seusia Beyza, tentu saja dapat menangkap gelagat cinta monyet adiknya. Dia pun berdehem. "Ada yang jatuh tapi bukan mangga, ada yang cinta tapi belum cukup usia," godanya.


Beyza mencebikkan bibirnya. "Ada yang sirik tapi bukan manusia," balasnya.


Genta yang sudah di depan mata, membuat Zain mengurungkan niatnya untuk membalas ucapan sang adik.


"Kak ... pamit pulang dulu, ya." Genta mencium punggung tangan Zain dengan sopan.


"Hati-hati. Ponselmu lusa, ya. Kakak masih sibuk. Sepertinya kamu juga akan sering-sering ke sini." Zain melirik Beyza dan Genta bergantian. Keduanya sedang saling mencuri-curi pandang.


Cinta diusia 15 tahun. Belum terlalu dalam maknanya, hanya awal dari merasa ada sesuatu yang berbeda pada lawan jenisnya. Cinta masih sebatas rindu yang menggebu. Saat bertemu mata malah enggan beradu, yang ada hanya senyuman malu-malu.


Setelah mengantar Genta sampai ke halaman depan, Zain dan Beyza pun kembali masuk. Belum sampai di ruang keluarga, bel pintu terdengar berbunyi.

__ADS_1


Wajah Zain seketika sumringah, mengira yang datang adalah Airin dan keluarganya. Tapi senyum itu seketika lenyap dari bibirnya, ternyata bukan perempuan yang dia harapkan yang ada di depan pintu.


__ADS_2