
Darren menelan ludahnya kasar. Jelas ucapan Senja tidak pernah main-main. Ingin merajuk, tentu saja dia masih harus menjaga gengsinya di depan Rangga.
"Kalian masih ingin di sini atau pulang? kalau masih mau di sini, kalian bisa di temani Daddy. Mama harus pulang sekarang." Senja menyambar tasnya dengan kasar.
"Kami mau di sini dulu, Ma. Kami akan pulang setelah maghrib. Kami ingin melihat langit menjelang malam di sini. Pasti lebih indah." jawab Beyza, sama sekali tidak menyadari kalau Mama Nja sedang mengibarkan bendera perang untuk Daddy mereka.
"Ya sudah. Kalian di sini sama Daddy. Mama pulang dulu." Senja langsung melangkah keluar tanpa berpamitan pada suaminya atau pun Rangga.
Darren diam bergeming. Pasrah pada apa yang terjadi nanti. Senja bukan perempuan yang mudah dirayu.
"Kenapa tidak dikejar? anak-anak biar sama aku," ucap Rangga.
"Tidak perlu! percuma, Senja berbeda dengan perempuan mana pun. Bagaimana cara membuat dia berhenti kesal atau marah, masih menjadi misteri sampai sekarang."
Rangga tidak ingin bicara apapun lagi, seorang Darren Mahendra yang kata orang tidak terkalahkan, tegas, perfeksionis dan angkuh. Ternyata tidak segarang itu jika berhadapan dengan istrinya.
Senja berjalan dengan cepat ke arah jalan raya, mencari taksi kosong untuk mengantarkannya pulang.
Akirnya setelah berdiri kurang lebih sepuluh menit lamanya, Senja pun medapatkan taksi.
Sampai di rumah, Senja mendapati Zain yang sedang duduk meringkuk di karpet ruang keluarga. Anak pertama Senja itu menempelkan kepala dilutut. Zain sama sekali tidak menyadari kedatangan Senja.
"Ada apa sayang?" Senja menepuk bahu Zain dengan lembut.
Menyadari kehadiran Mamanya, Zain pun segera berdiri, tatapan matanya menyiratkan kesedihan yang amat dalam.
"Airin, Ma ... Airin ...." Zain tidak meneruskan kata-katanya. Dadanya sedikit sesak karena sudah sejak tadi memendam kesedihannya sendiri.
"Airin kenapa? Apa dia kambuh lagi?" Senja sudah menduga dan berpikir yang tidak-tidak.
"Bukan, Ma. Ada pendonor sumsum belakang yang cocok untuk Airin." Zain mengucapkan dengan sedih yang benar-benar mendalam.
"Alhamdulillah ... harusnya kamu senang, Zain. Bukankah ini yang kalian nantikan selama ini?"
"Pernah kami nantikan, Ma. Tapi beberapa waktu yang lalu. Kami sudah terlanjur saling berjanji. Kami sudah mengambil keputusan, Ma," lirih Zain.
__ADS_1
"Keputusan apa?" Senja masih terlihat bingung. Karena memang tidak tahu apa yang dimaksud oleh anak pertamanya itu.
"Kami memutuskan untuk hidup masing-masing, Ma. Zain dan Airin tidak mau mempunyai anak yang langsung menjadi pewaris penyakit kami. Itu yang menjadi kesepakatan kami. Jika ada donor untuk Airin, maka hubungan kami selesai sampai di sini."
Senja menuntin Zain untuk duduk di sofa. "Kalian sudah bicara lagi?"
Zain menggeleng. Pada kenyataannya memang Namcy baru saja memyampaikan berita yang seharusnya sangat menggembirakan.
"Airin sudah tahu?" Senja kembali bertanya.
Zain lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
"Kapan kamu akan memberitahu Airin? menurut Mama, lebih cepat lebih baik. Kenyataan harus dihadapi, bukan untuk ditunda," saran Senja.
"Apakah Mama mau menemani Zain ke rumah sakit?" tanya Zain.
"Kapan?"
"Sekarang, Ma."
"Ya sudah. Kita pergi sekarang." Senja berdiri sembari merogoh tas tangannya, mengambil ponsel dan melihat pesan yang masuk di sana. Mengabaikan pesan masuk dari sang suami. Senja hanya membuka Pesan dari Zain yang mengatakan akan kembali pulang sebelum maghrib. Dasen sedang bersama Pak Togar membantu membagikan bingkisan untuk penjual asongan dan pekerja kasar lain di jalannan.
.
.
Zain dan Senja kompak menyapa Rasyid dan Lena. Lalu dengan gaya yang sopan dan tidak basa basi, Senja mengajak kedua orangtua Airin itu untuk keluar.
Rasyid dan Lena pun menurut saja tanpa bantahan. Bersama Senja, keduanya mengikuti langkah Senja ke arah taman Rumah Sakit.
"Hai ...." sapa Zain, mendadak menjadi sangat canggung.
"Hai ...."
Zain dan Airin kemudian sama-sama terdiam. Keduanya bingung harus memulai dari mana.
__ADS_1
"Ai sudah tau." Airin membuka pembicaraan dengan kalimat yang ambigu.
Tapi Zain paham dan tahu betul arah pembicaraan, Airin. "Kita sudah memutuskan bukan? Semoga kita sama-sama kuat ya Ai. Mungkin akan berat di awal. Tapi kita harus percaya. Tuhan oasti memberikan jalan, kekuatan, kesabaran dan petunjuk untuk melaluinya."
"Iya, A'. Airin percaya, yang kita jalani memang tidak akan mudah. Tapi sulit bukan erarti tidak bisa. Kita sanggup, Ai. Karena kita sudah mengambil keputusan yang benar." Airin berusaha setegar mungkin.
"Kamu hebat, Ai. Sangat hebat. Tetap semangat, ya. Jaga diri baik-baik, sekarang sampai nanti. Karena sudah tidak ada lagi yang akan menjagamu. Kamu harus mengandalkan dirimu sendiri. Jangan fokus pada keterbatasanmu," Zain menggenggam tangan Airin.
Airin mengangguk, tidak ingin menjawab dengan kata-kata. Matanya mulai berkaca-kaca. Air mata menggenang di pelupuk matanya. "Terimakasih atas semua kebaikan Aa' selama ini. Maaf hanya memberikan sedikit kebahagiaan, tapi malah banyak sedihnya. Jaga diri Aa juga."
Zain berusaha tersenyum. Meski ternyata hatinya masih sangat merasakan sakit. Padahal, sudah lama Zain mengumpulkan kesabaran dan keikhlasan. Sebelumnya dia berpikir kalau dia akan mampu menghadapi kenyataan ini. Tapi ternyata, Tuhan menuntun langkah kaki mereka menuju pada arah yang berbeda.
"Maafkan kalau Aa, banyak kekurangan. Semoga Airin bisa sembuh seperti Aa. Jangan khawatir soal biaya, Ai. Aa tetap akan membantu. Mungkin kita tidak berjodoh sebagai kekasih, tapi kita masih menjalin hubungan dengan nama yang lain."
Lagi-lagi Airin mengangguk dengan paksa.
"Aa pamit, ya. Maaf kalau beberapa hari ke depan, Aa tidak bisa datang ke mari. Aa, butuh waktu untuk sendiri dulu." Zain mengecup kening Airin sekilas, lalu tanpa menunggu jawaban Airin, dia keluar dari kamar.
Zain sudah tahu, mamanya pasti sedang ada di taman. Dia pun menyusul ke sana. Benar saja Senja sedang berbicara serius dengan Rasyid dan Lena. Kini kedua orangtua Airin itu tahu maksud kedatangan Zain kali ini bersama Senja.
"Saya sebagai Mamanya Zain, meminta maaf, kalau selama bersama Airin, mungkin Zain ada kesalahan dan kekurangan." Senja menatap Rasyid dan Lena bergantian.
"Tidak, Bu Senja. Zain adalah calin menantu impian setiap orangtua. Bukan karena kekayaan kalian. Tapi karena sifat, sikap dan perilakunya," Lena membalas tatapan Senja.
Zain mendekati mereka, tanpa banyak bicara langsung memeluk Lena dan Rasyid bergantian. "Zain akan tetap menjadi anak lelaki, Ayah. Percayalah! Zain akan tetap menjaga Airin. Hanya saja mungkin nama hubungan kami yang berbeda!" lirihnya.
"Kami bangga pada kamu, Zain. Terimakasih. Semoga suatu saat, kamu bertemu jodoh yang lebih baik," doa Rasyid sembari menepuk pundak Zain.
Zain merogoh saku celananya, membuka dompet dan mengambil salah satu kartu yang seharusnya dia berikan saat Airin sudah menjadi istrinya. Zain menggenggamkan kartu itu pada Rasyid. "Jangan menolak, Yah. Pemgobatan Airin masih jauh. Ai, harus sembuh. Terimalah ini demi kesembuhan Airin. Ini pemberian anak pada Ayahnya."
Senja tersenyum bangga melihat sikap Zain. Kekhawatirannya selama ini akan kesedihan yang terlalu larut, tidak terbukti. Zain terlampau dewasa menyikapi apa yang menimpanya.
"Zain, pamit dulu. Maaf kalau beberapa hari ke depan. Zain tidak bisa datang." Zain mencium punggung tangan Rasyid dan Lena bergantian. Senja pun ikut berpamitan pada kedua orangtua itu.
"Saya akan selalu menganggap, Airin adalah anak saya. Semoga Airin mendapatkan kesembuhannya," ucap Senja, sesaat sebelum meninggalkan Lena dan Rasyid.
__ADS_1
Senja berjalan disamping Zain. Menyamai langkah kaki anak pertamanya yang sedikit lambat daripada biasanya.
"Ma, Zain ingin pergi ke luar negeri. Zain ingin kuliah di sana," putus Zain tiba-tiba.