Hot Family

Hot Family
Sarita dan ceritanya


__ADS_3

Tidak kalah kaget dengan Sarita, Elizabeth membungkam mulutnya yang menganga dengan tangannya sendiri. Tapi dengan keberanian yang dimiliki, perempuan itu melangkahkan kakinya mendekati Sarita.


"Sar ...," panggilnya, lirih hampir tidak terdengar.


Sarita menatap Elizabeth dengan tatapan yang sedikit kosong. "Pergi kamu dari rumah anakkku, Liz. Jangan datang lagi dikehidupan kami."


Elizabeth bergeming, Senja dan Rangga saling bertukar pandang. Keduanya tidak mengerti dengan yang sebenarnya terjadi.


"Sudah lama berlalu. Aku kira tidak akan bertemu denganmu lagi. Hidupku sekarang sudah sangat sempurna. Bahkan luka yang begitu dalam ditorehkan suamimu, digantikan berlipat-lipat oleh Tuhan dengan kebahagiaan bertubi-tubi. Tapi aku tidak akan lupa, dan aku terlanjur berjanji. Tidak boleh ada satu pun keturunan Mahendra yang mengenal apalagi bersentuhan dengan keluarga Malino," ucap Sarita, tegas dan tajam.


Senja mencoba mencerna apa yang sedang terjadi, tapi otaknya sungguh tidak bisa memahami. Begitupun dengan Rangga, perasaannya sangat tidak enak. Dia langsung menghubungkan pada Genta.


"Suruh tamumu ini pulang, atau biarkan Mama yang pulang," ketus Sarita pada Senja.


"Ma ...." Senja semakin bingung dan serba salah.


"Biar aku yang keluar, Sar. Ngga ... panggil Genta. Kita pulang sekarang. Ibu akan jelaskan nanti," Elizabeth berlari keluar ke arah pintu, air mata jatuh membasahi pipinya.


Rangga pun menuruti Elizabeth. Dia mengajak Genta pulang dengan tiba-tiba, membuat anak itu sedikit menggerutu.


Sarita langsung melangkahkan kaki dengan berat menuju ruang keluarga. Sedangkan Senja berlari kecil menyusul Rangga yang sudah dua langkah dari pintu rumah rumahnya.


Beyza dan Derya langsung kembali ke kamar masing-masing. Mereka sudah bisa membaca, ada sesuatu yang terjadi di antara orang-orang dewasa. Anak-anak itu sangat peka.


"Genta masuk mobil dulu," perintah Rangga pada Genta, ketika tahu Senja mengejarnya.


"Pak Rangga, tahu apa yang sedang terjadi?" tanya Senja.


Rangga menggeleng kuat. "Tidak, Bu. Saya juga bingung."


"Ya sudah, maaf atas ketidak nyamanannya. Apapun yang terjadi, Saya janji, ini tidak akan mempengaruhi pertemanan anak-anak."

__ADS_1


"Terimakasih, Bu Senja." Rangga menatap Senja dengan tulus, lalu berjalan dan masuk ke dalam mobilnya.


Senja pun segera kembali, menemui Sarita yang terlihat masih melamun. Pandangan matanya dingin dan kosong.


"Ma ...." Senja menepuk pelan pundak mertuanya sembari duduk di samping Sarita.


Sarita menoleh sebentar, memaksakan senyuman, lalu pandangannya kembali lurus ke depan.


"Terserah kamu mau menilai Mama bagaimana sekarang,"


"Ma, Senja tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi Senja yakin Mama mempunyai alasan kenapa bersikap seperti ini." Senja meraih tangan Sarita, lalu mengusapnya lembut.


"Jadi Genta itu cucunya Malino, kan?" tanya Sarita.


"Sepertinya begitu, Ma. Karena nama ayahnya Aris. Kata Daddy-nya anak-anak, dia putranya Malino," jawab Senja, tidak terlalu yakin.


"Darren sebenarnya mempunyai adik, Nja. Tapi belum sampai Mama lahirkan, anak itu harus meninggal di dalam kandungan. Karena Malino, memperkosa Mama." Sarita mulai bercerita.


"Mama depresi, tidak menerima keadaan. Darren dan Mama sama-sama mengalami depresi. Bayangkan saja, anak berusia delapan tahun, melihat mamanya dilecehkan didepan mata. Tangan dan kakinya diikat, tapi mata Darren dibiarkan terbuka untuk melihat kebiadaban Malino." Sarita meremas tangan Senja yang kini dia genggam.


Sarita menahan nyeri di dadanya. Cerita yang sudah lama terpendam rapi. Mau tidak mau harus digali lagi.


"Kami butuh waktu tiga tahun, untuk beranjak menjadi manusia normal kembali. Kematian Malino yang sebenarnya dibunuh oleh wanita bayaran, bagaikan obat bagi kami. Untunglah, papa adalah laki-laki yang baik dan sabar. Papa yang menguatkan Mama." Sarita menundukkan kepalanya.


Senja hanya bisa diam, entah apa yang harus dia ucapkan. Tidak semua orang mampu mengatasi sakit hatinya tanpa dendam.


"Jauhkan anak-anak dari Genta, mama tidak ingin mereka tertular dengan kutukan Malino. Catatan dosa Malino sangat panjang, Nja. Karmanya bisa saja ditanggung Genta. Kematian mereka tidak pernah ada yang wajar, selalu terbunuh. Jauhkan cucu-cucuku dari keturunan Malino," tegas Sarita.


"Tapi, Ma ...." Senja ingin membantah, tapi dia mengurungkan niatnya.


"Elizabeth, dulunya adalah sahabat mama. Orangnya sangat baik, dia yatim piatu dari kecil. Eliz mempunyai anak dari Malino, tapi anaknya terkena seckel syndrome. Malino membuang anak itu bersama Eliz dan mereka sering mendapatkan bantuan dari Papamu diam-diam. Apa mama tidak boleh sakit hati? Baik itu ada tempatnya. Kalau kebaikan malah menyakiti hati pasangan. Jangan pernah dilakukan." Sarita mengatakan dengan dengan berapi-api.

__ADS_1


Senja kini memahami kenapa Sarita dan Darren sangat membenci Malino hingga sampai pada keturunannya. Keduanya sama-sama menganggap dekat dengan Malino adalah kutukan. Di tambah lagi dengan kematian ayah Genta yang memang disebabkan karena pembunuhan.


"Tapi, Ma. Yang bersalah hanya Malino, sangat tidak adil kalau kita membawa bu Elizabeth dan Genta pada kebencian kita," ucap Senja dengan hati-hati.


Sarita langsung menatap Senja dengan tajam, tatapannya menunjukkan rasa tidak suka yang amat sangat. "Kamu tidak pernah berada di posisi Mama, Nja. Mudah bagimu mengatakan seperti itu. Bagi Mama, Malino dan keturunannya sampai kapan pun tidak layak bahagia." Sarita berdiri meninggalkan Senja begitu saja.


"Mama tidak jadi menginap," ucap Sarita dengan ketus.


Senja menyandarkan badannya di sandaran sofa. Kini dia harus bersikap bagaimana. Tapi Genta seharusnya tidak dibawa-bawa dalam masalah ini. Genta bahkan tidak pernah mengenal siapa Malino.


.


.


Darren memilih keluar dari ruangan meeting. Mendadak moodnya menjadi berantakan setelah mengetahui Genta adalah anak Aris Malino.


Sebenarnya, Darren tidak pernah mengenal apalagi berurusan dengan Aris. Karena dia memang mrnghindari untuk berurusan dengan perusahaan Malino. Yang dia dengar, Aris adalah pengusaha yang sangat kalem dan tidak banyak tingkah.


Tapi kebenciannya dengan Malino, membuat dia enggan melihat kebaikan yang lain. Asalkan keturunan Malino, dia sudah terlanjur menganggapnya buruk.


Akhirnya, Darren memutuskan untuk pulang. Merebahkan diri sebentar di pangkuan Senja, biasanya akan membuatnya lebih baik.


Sampai di rumah, Beyza yang langsung menyambutnya dengan gelayutan manja. Sementara Dasen dan Derya asik bermain playstation. Mereka semua berkumpul di ruang tengah, kecuali Senja yang tiba-tiba merasa tidak enak badan.


"Dadd, Thanks ya, untuk liburannya. Bey janji, akan menjaga Mama dengan baik. Pulang utuh dan akan semakin cantik menggemaskan." goda Bey, berhasil membuat Darren menyunggingkan senyumnya.


Zain yang baru saja pulang pun langsung senyum-senyum pada Daddy-nya. "Thanks, Dadd. Mama diijinkan menemani kami." ucapnya.


"Kak, Zain jangan lupa urus visanya. Sekalian punya Genta." Derya berbicara tanpa melihat kakaknya.


Darren langsung melepas tangan Beyza dari lengannya. "Mulai sekarang, jangan sebut nama anak itu di rumah ini."

__ADS_1


Derya, Beyza, Dasen dan Zain kompak menatap Daddy-nya yang tiba-tiba marah tanpa alasan.


__ADS_2