Hot Family

Hot Family
Sudah bersama Senja


__ADS_3

Dasen yang merasa tidurnya terusik pun segera terbangun. Dia mengerjap-erjap kan matanya, antara sadar dan tidak sadar. Yang pertama kali dilihatnya adalah wajah suster cantik yang menatapnya begitu lekat menyelidik.


"Ada apa?" tanya Dasen sembari mengubah posisinya duduk tegak dengan sempurna.


"Bu Senja ingin bertemu Anda, Dok," jawab si perawat, sebenarnya keraguan kini semakin nyata terlintas di pikirannya. Setelah melihat jelas seperti sekarang, dia mulai meragukan tebakannya.


"Dok? Kalau Bu Senja memanggil salah satu anakknya, aku akan ke sana. Tapi aku bukan dokter. Suntikanku berbeda dengan dokter-dokter lain. Jangan memanggilku seperti itu, kamu membuat aku ingin segera menghalalkan pacarku saja," Dasen berdiri mendekati wastafel, membasuh mukanya agar kembali segar.


"Kalau dokternya seperti ini, yang ada pasien yang tadinya cuman flu, bisa saja jantungan. Duh...kalau salah bagaimana ini?" batin si perawat.


Tubuh Zain mengeliat, mulai sedikit terusik. Perlahan dia pun membuka matanya. Melihat ada perawat, dia pun segera beringsut berdiri.


"Ada apa? Apa mama mencariku? Apa mama sudah boleh dipindahkan ke sini?" Zain bertanya dengan suara yang begitu membius di telinga si perawat.


"Sepertinya yang ini. Adem banget suaranya. Bangun tidur, kenapa pada cakep." Si perawat lagi-lagi berbicara dalam hati.


"Bu Senja ingin bertemu dengan anaknya yang seorang dokter. Karena ada sedikit keluhan, dan beliau tidak mau dipanggilkan dokter Hanafi," jelas perawat.


"Bilang dari tadi kalau begitu." Zain langsung mengambil langkah seribu meninggalkan ruangan. Mendengar kata keluhan, membuatnya seketika khawatir.


"Aku bukan dokter, tapi kalau kamu mau mencoba jadi pasienku, silahkan." Dasen hanya berniat menggoda, si perawat yang langsung bergidik meninggalkan ruangan.


Bae yang terbangun karena mendengar ucapan terakhir Dasen berdecih kesal. "Kemesumman Darren Mahendra benar-benar menurun padamu, Das."


Dasen terkekeh. " Hanya becanda, Oma. Das sudah punya Denok, hati ini setia. Apa daya mata masih suka tergoda."


Bae melempar Dasen dengan gumpalan tisu yang baru saja dibuatnya. "Dasar, messum."

__ADS_1


Derya dan Arham pun ikut terbangun. Keduanya langsung mengambil posisi duduk. Mengedarkan pandang ke ruangan. Melihat matahari sudah menembus tirai elektrik, membuat mereka menyadari, hari sudah berganti.


"Kok Senja belum dipindahkan ke sini juga. Apa ada masalah?" Arham bertanya dengan nada cemas.


"Kak Zain masih ke sana. Semoga semua baik-baik saja," harap Dasen.


"Der, cuaca di negara S sudah membaik. Kamu carilah penerbangan paling awal hari ini. Daddy-mu pasti sudah tidak sabar bertemu dengan mamamu," saran Arham, setelah melihat pesan masuk dari orang kepercayaannya di negara yang disebutkan.


"Iya, Opa. Tapi Der juga mau bertemu mama sebentar," timpal Derya.


Tidak lama, pintu ruangan terbuka lebar. Suara roda menggelinding membuat semua terdiam. Zain muncul kembali lebih dulu, tentu saja diikuti dua orang suster yang mendorong brankar di mana ada Senja yang sedang berbaring.


Semua sontak mengucapkan "Alhamdullilah" dengan ekspresi kegirangan. Setelah suster memindahkan tubuh Senja ke brankar rawat, semua langsung mendekati Senja.


"Sabar... sabar ... jangan ada yang peluk mama dulu. Bekas sayatan operasi itu masih sakit, jangan membuat mama melakukan gerakan mendadak," Zain buru-buru memperingatkan yang lain.


"Das, teleponin daddy dong," pinta Senja. Mulai terdengar suaranya.


"Tetep ya, La. Sudah ada semua kita di sini, yang dicari tetep saja Darren," dengus Bae, hanya sekedar bercanda.


"Tentu saja begitu, Bae. Kita pun sama," bela Arham.


"Sini... cium mama satu-satu, tapi pelan ya, mama belum terlalu nyaman dengan bekas lukanya." Senja menatap Beyza, Genta, Zain, Derya dan Zain satu per satu.


"Sekar kemana? De pulang bareng Kak Al, ya?" tanya Senja, menyadari menantu perempuan dan anak tidak sedarahnya, tidak ada di sana.


"Tidur di dalam, Ma. Sedang masuk angin, dan selalu mual jika bertemu Dasen. De menani Sekar." Zain memberikan kecupan pada mamanya, mendahului yang lain. Padahal, tadi pun dia sudah puas menciumi mamanya seperti balita manja.

__ADS_1


Senja mengernyitkan keningnya, "Kenapa begitu? Hamil bukan? Dulu waktu mama hamil Beyza dan Derya juga begitu. Nggak suka lihat daddy dan Oma Bae."


"Sepertinya begitu," sahut Bae.


"Sial sekali. Kak Zain yang berusaha, nah anaknya malah mirip Kak Dasen," Beyza mengatakannnya sembari terkekeh kecil.


"Bukan sial, tapi beruntung. Anaknya bakalan secakep dan sepintar aku. Ckck...luar biasa mengagumkan. Kenapa bisa milih gitu, kenapa nggak kesal lihat Wati atau Rudi saja," decak Dasen.


"Karena yang paling menyebalkan hanya kamu." Zain berlalu menuju kamar di mana Sekar berada.


Derya mengambil giliran mencium Senja. "Der mau ke negara S duluan, Ma. Nanti penerbangan dua jam lagi. Derya akan menggantikan daddy menemani opa dan oma."


"Iya, sayang. Anak mama hebat-hebat semua. Mama beruntung sekali." Senja benar-benar merasa terharu. Keribetan dan lelah saat dulu mereka masih kecil dengan jarak usia yang tidak terlalu banyak, terbayarkan sekarang.


"Tentu saja hebat, karena kami mempunyai mama yang luar biasa," sahut Beyza.


"Dan jangan lupa, kita hebat juga karena daddy kita seorang Darren Mahendra," timpal Dasen.


"Iya...kalau itu menurun jelas dikamu kehebatannya. Lihat perempuan bening dikit, meleng," cela Bae.


"Daddy tidak begitu, Oma. Daddy tidak berani melakukannya. Bahkan mama lebih heboh jika melihat yang lebih cakep dari daddy," Beyza memberikan pembelaan. Karena itulah kenyataannya.


"Karena yang lebih cakep dan mempesona dari daddy itu susah ditemui. Makanya sekali ketemu, mama bakalan heboh. Sama kayak aku lah. Mana bisa Denok berpaling kalau aku kayak gini. Sempurna, ganteng, kaya raya, dan mempesona," sahut Dasen sekenanya. Kesombongan yang sungguh luar biasa.


Semuanya tersenyum dengan lepas, anak-anak masuh terus bergantian mencium Senja. Sementara Zain nampak keluar dari ruangan dengan wajah kusut dan lemas.


"Ada apa, Zain?"

__ADS_1


__ADS_2