Hot Family

Hot Family
Perdebatan di perjalanan


__ADS_3

Untuk menghindari ketegangan dan perubahan mood yang tidak baik, Senja memutuskan untuk mengajak semua berangkat ke bandara sebelum waktu yang ditentukan.


Mereka menggunakan dua mobil namun melaju secara beriringan. Derya, Beyza dan Genta berada dalam satu mobil, sedangkan Darren, Senja, dan Dasen berada di mobil yang lain.


Darren dan Dasen sama-sama menyindir Senja tentang penampilannya. Tapi perempuan itu bersikap masa bodoh. Darren sebenarnya agak merasa sedikit aneh. Sekeras-kerasnya Senja, biasanya masih bisa dia luluhkan dengan sindiran. Apalagi jika dilakukan bersama Dasen. Nyatanya, kali ini Senja bergeming.


"Ma, tahu tidak? Kalau...."


"Tidak." Senja langsung menyahut, sebelum Dasen menyelesaikan pertanyaannya.


"Mama dengarkan dulu, dong. Sebentar, Dasen mau menunjukkan sesuatu." Dasen merogoh kantong celana untuk mengambil ponsel, lalu dia yang duduk depan memutar badannya hingga menghadap ke belakang, "Wanita ini seumuran sama Mama. Cakep banget kan? Dasen kepengen sesekali melihat Mama berpenampilan seperti itu. Pasti lebih cantik Mama ketimbang dia."


Senja menerima ponsel Dasen dan melihat gambar yang ditampilkan di layar benda pipih itu. Perempuan itu menggeser ke kanan dan ke kiri. Lalu kembali memberikannya pada Dasen.


"Mama belum siap, Das. Rasanya mama ini belum cukup baik. Hijab itu bukan hanya tentang menutup aurat. Tapi bagaimana kita menjaga tutur dan perilaku kita agar sesuai dengan yang sudah di ajarkan di dalam Al 'Quran. Mama merasa masih jauh. Mama masih suka berburuk sangka dengan orang lain, sholat Mama masih belum tepat waktu, dan masih banyak lagi lainnya yang kurang." Wajah Senja mendadak sendu saat mengatakannya.


"Siapa yang menyuruhmu menilai ibadahmu sendiri, Ask. Kita masih sama-sama manusia. Tidak mungkin ada manusia yang sempurna. Kita hanya perlu berusaha menjadi baik. Aku tidak pernah memaksamu untuk berhijab. Semua kembali padamu. Dosamu, akan menjadi tanggung jawabku." Darren mendadak lembut.


Kata-kata Darren di ujung kalimat, langsung menancap di pikiran Senja. Perempuan itu terdiam, mencoba berpikir dan mengajak dirinya sendiri untuk berdialog.


Masih banyak pergulatan di hatinya sendiri, ada dua sisi dalam dirinya yang masih bertentangan. Masih ada keraguan seperti yang sudah-sudah.

__ADS_1


"Nanti deh, Senja butuh berpikir dengan tenang dulu. Senja tidak mau hijab hanya sekedar simbol, fashion atau apalah yang kelihatannya saja baik. Ketika Senja memakai hijab, hati dan pikiran Senja pun harus mulai terbiasa melakukan kebaikan tanpa berpikir."


Darren mengusap lengan sang istri dengan lembut. "Kita akan umroh secepatnya. Mungkin memang sudah saatnya kita mulai lebih banyak menabung urusan akhirat, Ask. Di dunia kita mempunyai segalanya, akan sangat miris kalau nanti di sana kita malah kalah amalnya dengan Rudi misalnya."


Driver yang sedang fokus mengemudi itu tersenyum, dia paham betul maksud majikannya. Bukan merendahkan, karena kenyataannya secara harta tentu Darren puluhan kali lipat lebih darinya, tapi soal hitungan amal kebaikan, hanya Allah dan malaikat Raqib.


"Senja takut, Ask. Dosa Senja banyak, belum lagi harus mempertanggung jawabkan rejeki yang dititipkan pada Senja, anak-anak dan masih banyak yang lain. Jika mati sekarang atau besok, Senja tidak yakin, Kebaikan Senja sudah cukup. Tapi mengharap umur panjang, takut juga akan semakin menabung dosa." Mata Senja menatap kosong ke depan.


"Aduh, dari hijab kenapa Mama malah ngomongnya kematian sih? Stop, Ma. Kita bicara yang lain saja. Dasen belum menikah, belum punya anak, dan sepertinya, bagi Mama, Dasen tidak pernah membahagiakan Mama," keluh Dasen.


"Ngomong apa kamu, Das? Apa pernah Mama mengatakan seperti itu sama kamu? Kalau hanya karena penilaian Mama tentang hubunganmu dengan Denok bisa membuatmu berpikiran buruk terus pada Mama, Mulai detik ini, Mama tidak akan ikut campur lagi dengan pilihanmu. Jangan meminta pendapat Mama sekali pun. Siapa jodohmu, tanggung jawabmu sepenuhnya."


Jika di dalam mobil yang dikemudikan di Rudi suasana sudah mulai menegang, tidak jauh berbeda dengan mobil yang ditumpangi Beyza, Derya dan Genta.


Ketiganya sedang membahas syarat pernikahan yang diberikan pada Genta. Pertama kali mendengar saja sudah membuat Derya dan Beyza kompak menepuk kening masing-masing. Mereka duduk satu deret di jok penumpang mobil sedan camry berwarna hitam milik Beyza jika sedang berada di Jakarta.


"Apa-apa'an sih daddy? Nggak masuk akal banget," keluh Beyza.


"Makanya, Mbak. Aku bingung harus menjawab bagaimana? Bukankah salah satu tujuan pernikahan adalah meneruskan keturunan anak cucu Adam?" Genta tampak tidak bersemangat.


Beyza mencoba berpikir dengan tenang. Kepanikan hanya akan menghambat logika. Yang dibutuhkan saat ini, hanya jalan keluar yang nyata.

__ADS_1


"Vassektomi itu permanen tidak sih?" Beyza langsung mencari aplikasi pencarian informasi yang biasanya tahu segalanya.


Derya dan Genta kompak mengedikkan kedua bahu mereka karena memang tidak tahu.


Beyza membaca semua informasi tentang metode keluarga berencana yang diperuntukkan oleh kaum adam. Vaseektomi adalah metode kontrasepsi yang dilakukan dengan memotong saluran speerma (vas deferens) yang membawa speerma dari teestis ke peenis. Dengan metode yang menyerupai sterilisasi ini, speerma tidak lagi keluar bersama air maani saat pria ejakulaasi.


"Nggak-nggak, kamu tidak boleh melakukan ini, Kang!" Putus Beyza dengan tegas.


"Bener, ngeri banget bayanginnya. Beda pasti rasanya. Jangan pernah lakukan, Gen. Cari jalan lain saja. The power of Mama Nja mungkin bisa sedikit membantu," sahut Derya.


"Tapi ini ada study yang mengatakan bisa bersifat sementara lho." Genta menunjukkan salah satu artikel pada Beyza dan Derya.


Beyza membaca dengan teliti, bahkan sampai mengulangnya dua kali. "Enggak, Kang. Kalau aku tetap nggak. Nanti biar aku sharing sama Mama Nja dulu. Pasti ada jalan untuk ide yang sesat itu. Mama saja yang melahirkan lima kali, sampai sekarang sehat, bugar, awet muda dan semakin cantik. Kalau bisa, aku malah hamil lebih banyak dari mama," ucap Beyza, saking kesalnya.


"Duh, kita mau nikah begini amat. Kalau bukan aku, kira-kira pria yang seperti apa yang bisa membuat daddy-mu langsung mengangguk setuju?" Wajah Genta seperti orang sedang melamun saat mengatakannya.


"Tidak mungkin ada. Sulit. Lolos di daddy, belum tentu lolos di Mama. Mereka memang sedikit rumit, tapi naluri mereka lebih banyak benarnya. Seperti dalam kasusku, seharusnya aku mendengar perkataan mama dari awal," sesal Derya.


"Lah kalau itu jelas, Der. Kalau yang kami alami ini sesat. Sungguh sesat. Harus diakalin. Kita rilex dulu. Anggap masalah ini tidak ada." Beyza seperti sedang menghibur dirinya sendiri.


Dua mobil yang saling beriringan itu akhirnya berhenti di gate keberangkatan domestik. Dasen memanggil petugas porter bandara untuk membantu membawakan barang mereka.

__ADS_1


__ADS_2