Hot Family

Hot Family
Zain sudah tidak sabar


__ADS_3

Sesampainya di dalam kamar, Baby De langsung kembali memeluk Senja dengan tangisan yang berderai. Perempuan itu hanya mengusap punggung anak itu dengan lembut. Sedikit pun dia tidak ingin memaksa De agar cepat menyampaikan apa yang membuatnya begitu bersedih.


Darren yang juga ada di dalam kamar, memiliki firasat yang tidak enak. Entah kenapa, sejak menyapa Aleandro tadi, dia merasakan aura mantan suami tantenya yang kini menjdi adik iparnya itu, kembali menebarkan aura persaingan.


"Mami sama papi mau cerai, Ma." ucap De di sela isak tangisnya.


Senja menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Mereka pasti sedang salah paham, Sayang. Orang tua kadang juga bisa mengalami itu. Daddy dan Mama juga pernah mengalami titik terendah pernikahan. Nanti Mama bicara sama mamimu," bisik Senja.


"De mau ikut mama sama daddy saja. De, mau kerja di perusahaan daddy," pinta Baby De.


"Kamu bisa bicarakan dengan Dasen soal itu. Sekarang, tenangkan diri. Tidak perlu terlalu ikut berpikir masalah orang tua. Biarkan mereka selesaikan sendiri. Kita tidak tahu apa masalah yang membuat mereka memutuskan untuk bercerai. Karena pernikahan adalah hal yang kompleks. Itulah kenapa pernikahan itu bukan hal sederhana yang bisa diputuskan dengan cepat," tutur Senja.


Darren melangkahkan kaki ke balkon, firasatnya benar. Aleandro, setelah puluhan tahun berlalu, masih saja menyimpan perasaan pada Senja. Rasa yang seharusnya beralih untuk sang istri. Chun Cha bukanlah Senja, keduanya satu ayah dan berbeda ibu, tumbuh besar dengan cara yang sangat berbeda.


"Ma, De boleh tidur sama Mama ya malam ini?" rengek De, semanja biasanya.


"Tentu saja boleh. Mama bicara sama Daddy sebentar. Biar Daddy yang bicara sama papimu nanti." Senja meregangkan pelukannya. Melihat Baby De mengangguk, Senja berdiri melangkahkan kaki ke arah balkon di mana suaminya sedang berada.


Darren berdiri menatap langit sore yang biru. Dua tangannya, menyelip di sisi kiri kanan kantong celananya. Senja langsung memeluk suaminya itu dari belakang.


"Aku bersyukur Tuhan menghadirkan kamu di dalam hidupku. Aku pernah merasa bosan, tapi tidak pernah terlalu lama. Kamu selalu berhasil membuatku jatuh cinta lagi, setiap hari pada orang yang sama, yaitu kamu."


Darren meraih satu tangan Senja dan mengecupnya bertubi-tubi. "Aku jauh lebih bersyukur, Ask. Jika bukan kamu yang mendampingiku, entah cintaku bisa tumbuh seperti ini atau tidak. Di sampingmu, aku merasa semua yang aku butuhkan ada. Aku tidak perlu keliling dunia untuk mendapatkan sejuta petualangan. Cukup, hanya dan selalu bersamamu."

__ADS_1


Senja menggeser posisi nya hingga berada tepat di depan sang suami. Darren tersenyum menatap wajah istrinya itu. "Aku tidak akan sanggup jatuh cinta dengan perempuan lain. Di depanku ini, bukan hanya seorang istri yang sangat cantik. Tapi juga seorang ibu yang luar biasa. Perempuan yang memberikanku anak-anak yang luar biasa, dan mungkin sekarang juga ada lagi di sini." Darren sedikit menggoda dengan mengelus perut Senja.


Seketika Senja teringat dengan alat tes kehamilan yang tadi sempat mereka beli dan belum dia gunakan.


"Tidak, Ask. Jangan gila kamu. Aku tidak mau hamil di usia sekarang. Memalukan kalau aku hamil dan Sekar pun menyusul. Aku lebih pantas di sebut Oma," sahut Senja dengan cepat.


"Tidak, you're still hot, Ask." Darren mencium kening Senja beberapa kali.


"Ask, ada De di dalam." Senja sedikit menghindari serangan selanjutnya.


"Pernikahan yang berjalan dengan membandingkan apa yang dimilikinya dengan milik orang lain, jelas tidak akan berhasil." Darren mendadak mengeluarkan pendapatnya.


"Bolehkah aku berbicara dengan Kak Al?" Tanya Senja dengan wajah penuh harap.


"Berhentilah cemburu, kamu tahu pasti hatiku untuk siapa."


"Menyuruhku berhenti cemburu, sama halnya menyuruhku untuk berhenti mencintaimu. Hanya satu hal yang bisa membuatku bisa melakukannya, yaitu kematian. Jika mautku datang, kamu bebas dari rasa itu. Sekarang tidak ada pilihan lain." Darren menatap lekat pada Senja.


"Biarkan Aleandro dan Chun Cha menyelesaikan masalah mereka, jika itu masalah hati, cukup mereka berdua yang menyelesaikan. Jangan menambah kesempatan bagi keduanya menyebut namamu sebagai salah satu sumber masalah mereka. Chun Cha tidak sepositif kamu pemikirannya, dan Aleandro biarlah jadi urusanku."


Senja tidak menjawab apa pun lagi. Dia hanya membalas pelukan hangat sang suami. Andai tidak ada De di sana, tentu pelukan hangat itu entah akan menjadi apa, Senja dapat merasakan dengan jelas, pelukan Darren semakin meresahkan. Ada yang berkedut dan mengeliat di tengah sana.


"De, tidak akan tidur di sini kan?" Bisik Darren.

__ADS_1


"Malam ini, dia di sini," jawab Senja, seketika membuat Darren mengencangkan pelukannya.


"Aku akan booking kamar lain."


Senja hanya bisa menghela napas dalam. Sehari saja bisa lolos dari serangan naga, adalah prestasi tertinggi. Sepertinya sangat sulit. Kalimat yang muda yang berkarya, yang tua yang bercinta, sungguh diterapkan oleh seorang Darren Mahendra.


Sementara itu, di rumah Sekar, tamu yang datang belum juga usai. Satu pergi, satu datang, begitu seterusnya. Hingga pukul empat sore, masih saja ada tetangga Sekar yang berdatangan, bahkan semakin ramai karena mereka baru pulang dari sawah. Mereka setelah mandi dan membersihkan diri, langsung ke tempat Sekar. Padahal tidak ada undangan, tetap saja tetangga berdatangan. Sungguh tradisi yang kuat masih terjaga di lingkungan Sekar.


"Kak, sebentar lagi ya, kan tidak enak kalau kita langsung berpamitan," bisik Sekar pada Zain yang sudah terlihat sekali kegelisahannya.


"Nak Sekar mau langsung ke Jakarta ya hari ini?" tanya pak RW yang kebetulan menjadi tamu sore ini.


"Tidak, Pak. Mau menemui keluarga Kak Zain yang dari jauh di hotel." Sekar menjawab dengan sopan.


"Nginap di sana sekalian, Kar. Biar bebas. Kalau di rumahmu, kasihan bapak sama ibumu yang sepertinya sudah pensiun. Pengantin baru, suaranya beda. Kalau di hotel kan suaranya ada yang meredam. Tidak kedengaran tetangga juga. Amannn," sambar Bu RW dengan santainya.


"Kemarin Ibumu sudah saya berikan ramuan, untuk Masmu dan juga untuk kamu sendiri, Kar. Diminum ya, tidak pahit kok." Bu Galih ikut menyumbangkan suaranya.


Zain sedikit memijat pangkal hidungnya. Dia sepertinya sudah bosan mendengar semua teori malam pertama hari ini, yang dia butuhkan adalah praktek nyata secepatnya.


Hari masih panjang, tidak ada jeda yang bisa dia manfaatkan. Sebentar lagi, dia harus kembali ke hotel, makan malam bersama keluarga besar dan berharap keluarganya jauh lebih pengertian dengan tidak mengulur acara hingga larut.


Mendengar ucapan ibu-ibu, pikiran Sekar pun menjadi melayang. Dia sudah mempersiapkan rasa sakit yang mungkin dia rasakan, tapi lebih dari itu, sungguh dia sangat penasaran dengan Si Tole. Dia berharap sakit dan nikmatnya sepadan.

__ADS_1


__ADS_2