
Darren kaget mendapati senja terkulai lemas di bahunya. Dengan sigap, dia langsung menangkap tubuh istrinya itu.
"Ask ... bangun ... ask." Darren menepuk-nepuk pipi Senja.
Dasen melangkah mendekati mamanya, saat hendak menyentuh lengan sang mama, Darren menampik tangan Dasen dengan kasar.
"Ini kan yang kamu mau? puas kamu selalu membuat mama sakit? jangan sentuh mamamu, sebelum kamu tahu apa kesalahanmu," tegas Darren dengan suara tertahan karena menyadari di sana sedang banyak orang.
Semua yang ada di ruangan ingin membantu, tapi mendapati sorot mata Darren yang dingin dan tajam pada Dasen, semua mengurungkan niatnya. Lalu kembali fokus pada urusan mereka masing-masing.
Dua orang petugas tampak berbicara serius dengan Michel dan Maminya. Karena Michel bertanya-tanya kenapa dia tidak disuruh bersama Dasen dan Rama.
Di sisi lain, Michel cs, dua bodyguard dan pengacara, terlihat semakin resah karena mau tidak mau orangtua harus tetap hadir di sana. Belum lagi hasil tes narkoba yang belum di umumkan. Sungguh membuat mereka resah.
Rama dan papi maminya yang tadi memang sudah siap melangkah ke luar bersama Dasen, hanya berdiri terpaku. Ingin membantu, tapi enggan karena Darren yang kelihatan sekali sangat posesif.
Hanya Pak Togar yang mempunyai nyali sangat besar. "Mari kita bawa ke ruang kesehatan saja, pak."
Darren menganggukkan kepala, tapi dia mengalami kesulitan saat mau menggendong istrinya, karena posisinya yang sedang duduk dan disandari tubuh Senja.
"Mari sini saya bantu, Pak." pak Togar dengan percaya diri hendak menggendong Senja.
Bersamaan Dasen dan Darren menghalangi tangan petugas kepolisian yang sangat ramah itu.
"Jangan!" tegas Darren dan Dasen kompak.
"Das ...." Darren terpaksa memanggil anaknya itu. Meminta agar Dasen memegangi pundak Senja sebentar agar tidak roboh.
Darren pun berdiri, saat hendak mengangkat sang istri, dia baru menyadari pakaian yang dikenakan istrinya. Lalu Darren melirik sebentar pada Pak Togar yang masih berdiri tidak jauh dari tempatnya. Pria itu tampak menelan ludahnya kasar, sembari melirik istrinya.
"Ada petugas jaga perempuan tidak?" pertanyaan Darren mengagetkan Pak Togar.
__ADS_1
"Biar saya saja, Bapak butuh apa?" sahut Mami Rama. Tidak ingin membuang waktu.
Darren melihat perempuan itu memakai syal di lehernya. Karena kebetulan, dia baru saja melakukan operasi di daerah sekitar tenggorokan.
"Boleh meminjam syal nya sebentar? kalau boleh saya ingin mengikatkan syal itu di ujung daster yang di kenakan istri saya, agar saat saya angkat badannya nanti, daster itu tidak terbuka ke mana-mana." Darren menjelaskan dengam gamblang.
Tanpa menunggu lama, Mami Rama segera melakukan perintah Darren.
'Kenapa aku berasa jadi pesuruhnya. Ish ... angkuh sekali papa Dasen ini. untung cakep, coba buncit kayak papinya Rama. Syal ini bakalan aku pakai buat menjerat lehernya saja.' batin perempuan itu.
"Pak Togar, terus saya dan Rama bagaimana?" tanya Dasen.
"Kalian ikuti Aku, sekalian menunggu, Ibu kau siuman." jawab pak Togar.
Darren pun segera mengangkat Senja ke luar ruangan mengikuti langkah Pak Togar yang lebar. Di belakang mereka, Dasen dan Rama juga Mami papi Rama pun mengikuti. Michel yang masih bersama Maminya pun menangis, melihat teman-temannya ke luar meninggalkannya.
Senja langsung di letakkan di atas brankar berukuran dua kali satu meter. Papi Mami Rama menunggu di luar ruangan.
"Ask ... Maafin Senja, ya. Senja terlalu memanjakan Dasen. ini semua salah, Senja. Marahi dan hukum, Senja semaumu," ucap Senja begitu sendu.
"Ma ...." panggil Dasen lirih dan ragu.
"Kenapa kamu tega sama Mama sama Daddy, Das? apa kurangnya kami? Apa sih, yang tidak kami berikan buat kamu? kenapa kamu sampai berani menyentuh barang haram itu? bunuh mama sekalian, Das. Jangan siksa mama seperti ini." Senja terlihat sangat putus asa, dia berusaha turun sendiri dari atas brankar.
Harapan yang dia letakkan begitu tinggi, seolah runtuh menimpa dirinya sendiri.
"Ask, please ... masih ada anak-anak lain yang harus kamu pikirkan. Biarkan saja yang tidak bisa diurus. Bukan kamu yang gagal!" Darren mencoba menghibur istrinya.
Togar yang mendengar penuturan Senja, sedikit paham. Sepertinya perempuan cantik dan suaminya itu sama-sama sedang salah paham.
"Begini Bapak-bapak dan Ibu-ibu, sepertinya ada yang harus diluruskan di sini. Dasen dan Rama ini sengaja disuruh keluar dari ruangan tadi terlebih dahulu, karena sudah ada orangtua yang menjemput. Dan hasil test ur1ne nya pun negatif. Dasen dan Rama bersih dari narkoba."
__ADS_1
Senja seketika menarik nafas lega, begitu mendengar penjelasan pak Togar. Dasen hanya tersenyum meringis. Itulah sebabnya, dia tidak merasa cemas sama sekali.
"Sekarang, boleh meluk Mama tidak?" tanya Dasen setengah merengek.
"Tentu saja," Senja merentangkan kedua tangannya, Dasen pun berhambur ke sana. "Jangan membuat Mama cemas, Dask. Kasihan juga Daddy-mu juga. Lagipula buat apa pakai acara tinju segala?"
Dasen mencium punggung tangan Senja. "Maafkan Dasen ya, Ma ... Dadd ..."
"Nanti saja di rumah kita bahas, kita segera ke luar dari tempat ini. Senakal-nakalnya Daddy ... Daddy tidak pernah membuat oma opa berkunjung ke kantor polisi. Apalagi mengunjungi Pak Togar." Darren melirik pak Togar yang hampir terkekeh mendengar ucapan pria yang menurutnya lumayan angkuh itu.
"Jadi Bapak ini, benar bapaknya Dasen ya?" Pak Togar masih penasaran dengan sosok Rudi tadi. Sekalian ingin mengerjai Darren.
"Tentu saja! memangnya ada lagi yang mengaku menjadi bapaknya Dasen." Darren menjawab dengan sedikit kesal namun tetap menjaga kesopanan.
"Tidak ada! kalau bapak benar bapaknya Dasen, saya tidak penasaran lagi pria tadi khitan di mana." pak Togar mengatakan sembari terkekeh kecil.
"Kami sudah boleh pulang kan, Pak?" tanya Darren.
"Belum pak, ada satu hukuman yang harus dijalankan Dasen dan Rama karena telah melakukan perbuatan berbahaya," jawab Pak Togar.
"Bagaimana dengan Michel, Pak?" tanya Rama.
"Hasil tes ur1ne Michel positif, jadi masih perlu pendalaman lebih lanjut."
Rama dan Dasen seketika saling bertukar pandang. Mereka sangat mengenal Michel, hampir setiap hari mereka bersama. Tapi tidak ada gejala, Michel adalah pemakai.
"Kalian, tidak boleh menemuinya dulu. Nanti kalau sudah jelas dan beres. Bapak akan kabari melalui bu Senja." pak Togar tersenyum bangga, sepertinya memang dia pandai mencari alasan untuk sekedar melihat foto profile mama Dasen itu saat melakukan panggilan.
"Kenapa, bukan nomer Daddy yang dikasihkan?" Darren kembali kesal pada Dasen.
"Takut Dadd." Dasen menjawab dengan jujur.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang kita ke pelataran depan. Kita akan melihat hukuman apa yang cocok untuk Dasen dan Rama." ajak Pak Togar.