Hot Family

Hot Family
Tidak sanggup membenci


__ADS_3

Senja menggeleng dengan tegas. "Tidak akan, Bey. Daddy dan Mama tidak akan bercerai. Mama, akan mempertahankan keutuhan keluarga kita, bagaimana pun caranya. Percayakan saja sama Mama. Kalian fokus dengan tugas kalian masing-masing."


Zain menghentikan mobilnya di sebuah lobby hotel bintang lima. Concierge menyambut dan membawakan koper-koper mereka masuk ke dalam hotel.


Senja memilih type kamar connecting room, karena biasanya mereka akan berpisah hanya saat tidur saja. Sebelum mata dilanda kantuk, saling bertukar cerita adalah kebiasaan yang dilakukan ketika berlibur bersama.


Tapi kali ini bukan liburan. Tidak ada Dasen dan juga Darren di sana. Kondisi yang sangat luar biasa memang. Cobaan dalam wujud perempuan yang berniat mendekati suaminya, bisa dilewati dengan mudah, bahkan dengan senyuman. Tapi cerita masa lalu yang tidak terduga, justru menghancurkan ketenangan yang ada dalam waktu yang sangat singkat.


Sepanjang perjalanan menuju room yang disewanya, Senja terus menghubungi dan berkomunikasi dengan seseorang, tapi bukan seseorang di negara S. Zain yang sedari tadi memperhatikan Senja, menduga bahwa mamanya itu mulai mengubah rencana.


Benar saja, setelah sedikit berpikir singkat tapi matang-matang. Senja memang ingin bergeser ke negara lain. Seluruh keluarga Senja ada di negara S, dia takut salah satu akan menelisik dan mengetahui keberadaan dan juga keadaan rumah tangganya.


Bae, bisa-bisa membuat Darren tidak bisa bernapas kalau tahu alasan apa yang membuatnya menjauh sementara. Senja masih ingin menjaga kebaikan dan wibawa Darren di mata keluarganya.


.


.


Sarita dan Mahendra masuk ke dalam rumah Darren dengan terburu-buru. Keduanya langsung memencet tombol panah ke atas dan segera masuk ke dalamnya begitu lift terbuka.


Pintu kamar Darren tidak ditutup, kondisi di dalam kamarnya tampak jelas dan sangat berantakan. Tapi tidak ada sosoknya di sana.


Wati yang baru saja keluar dari kamar Dasen untuk mengantar makan malam. Sedikit kaget mendengar teriakan Sarita memanggil Darren dengan nada yang tidak biasa.


"Maaf, Nyonya. Bapak ada di lantai empat sedari tadi. Belum mau makan malam juga." Wati memberikan informasi dengan sopan dan hati-hati.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Sarita langsung masuk kembali ke dalam lift dan Mahendra mengikuti saja langkah istrinya tanpa menunjukkan ekspresi atau berkomentar apapun.


Sampai di lantai empat. Sarita melihat Darren sedang duduk di tepian kolam. Hal yang sama sering dilakukan Senja ketika sedang tidak enak hati.


Dengan tidak sabar, Sarita menarik kaos Darren hingga membuat anaknya itu berdiri dengan terpaksa.


"Ma, apa-apa'an sih?" Darren bertanya ketus karena kaget dengan kedatangan mamanya yang tiba-tiba dan terlihat emosi.


Sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipi kanan Darren. Tamparan pertama yang dia rasakan dari seorang perempuan. Dan perempuan itu adalah mamanya sendiri.


Seumur hidup, inilah kali pertama Sarita menggunakan tangannya untuk memarahi Darren.


"Kamu membuat mama kecewa, Darr. Mama pikir kamu cuma bermain dan membeli perempuan bayaran. Tapi kamu tidak lebih dari laki-laki breng5ek. Dari siapa kamu belajar menjadi pemerkosa? Apa karena kamu melihat kejadian Mama, jadi kamu belajar dari sana?" Cecar Sarita dengan suara yang bergetar.


Mahendra hanya diam, andai kejadian itu masih seminggu yang lalu, mungkin bukan Sarita yang dibiarkannya turun tangan. Tapi dia sendiri yang akan menghajar anaknya itu.


"Bodoh, dasar anak tidak tahu malu. Apa kamu tidak berpikir, andai kamu tidak memperkosa Senja. Dia tidak perlu keluar dari rumah ini, hanya karena kamu menyuruh anak-anak dan Senja menjauhi Genta!" Bentak Sarita.


Perempuan itu mengatur napasnya agar sedikit tenang. "Senja pasti berpikir, dia saja bisa memaafkan, kenapa orang lain tidak. Senja sedang menuntut kita untuk melakukan hal yang sama Darr. Itu yang dia inginkan."


Mahendra duduk di bangku kayu ukir berwarna putih. Dia hanya ingin melihat, sejauh mana dua orang yang sama-sama pendendam itu saling berbicara.


"Bersyukurlah perempuan yang kamu perkosa itu Senja. Bayangkan jika perempuan itu adalah Mama. Kamu akan habis, Darr. Habis...." Sarita memukul-mukul dada anak satu-satunya itu dengan keras.


Darren menengadahkan wajahnya, menahan bulir bening yang akan jatuh membasahi pipinya. Dia bergeming. Pasrah dengan apa yang dilakukan Sarita padanya.

__ADS_1


Sarita menjatuhkan badannya ke lantai di tepian kolam renang yang basah. Puluhan tahun hidupnya tenang tanpa gelombang. Riak-riak kecil pun dengan mudah dihempaskan. Kini, dirinya justru tersandung karena masa lalu.


"Mama tidak tahu lagi harus bagaimana, Mama tidak bisa membantumu kali ini. Bagi mama, Malino dan keturunannya tetaplah musuh, Mama bukan Senja yang bisa berbaik hati menjadikan laki-laki bejat yang memperkosanya sebagai suami. Selesaikan masalahmu dengan Senja, dan jangan temui mama sebelum anak-anak dan Senja kembali ke rumah ini," Sarita berusaha berdiri, Mahendra segera membantunya.


Sebelum meninggalkan Darren, Sarita kembali menoleh pada anaknya itu. "Mama menyesal, kenapa Senja baru jujur sekarang. Andai dia berbicara jujur sejak dulu. Mama, pastikan kamu tidak akan pernah menikah dengannya. Andai tidak ada anak-anak di antara kalian, pasti Mama akan menyuruh Senja bercerai denganmu. Kamu tidak layak bahagia, Darr. Pemerkosa tidak layak bahagia," kecam Sarita, hatinya terasa sakit. Merasa sangat gagal mendidik Darren.


"Ma, jaga bicara Mama. Sudahlah. Jangan memperkeruh masalah. Tidak akan pernah ada masa depan tanpa masa lalu. Semenyesal apapun kita, waktu tidak bisa diputar kembali. Teruslah hidup dengan masa lalu, jika kalian memang sengaja ingin kehilangan apa yang sudah pasti menjadi milik kita," ujar Mahendra, mulai terlihat ikut terbawa suasana.


"Tidak semua orang sebaik Papa dan Senja. Terlalu baik, membuat kita terinjak. Lihat saja Senja, dengan kelakuan Darren yang bejat itu, seharusnya dia tidak memberikan kebahagiaan apapun pada anak tidak tahu malu ini." Sarita berjalan cepat meninggalkan Mahendra dan Darren. Mengabaikan celana bagian belakangnya yang basah.


Mahendra menepuk pundak Darren. "Rendahkan gengsi dan egomu. Senja satu-satunya perempuan yang memahamimu dengan baik. Jika kamu ingin mempertahankan rumah tanggamu, berusahalah meminta maaf dan meyakinkannya. Tapi jika kamu memang ingin melepaskan Senja, maka akhiri dengan baik-baik."


Sepeninggalan Mahendra dan Sarita, Darren kembali memasukkan kakinya ke dalam kolam.


"Ask, bagaimana bisa aku menjalani hidup tanpa kamu. Aku hanya ingin membuang bagian masa laluku yang buruk. Tapi bukan masa lalu yang ada dirimu. Kembalilah, Ask. Hukum aku semaumu, bahkan jika aku tidak boleh menyentuhmu pun aku tidak mengapa. Tapi jangan tinggalkan aku." lirih Darren.


Senja berdiri di balkon kamar dan memengadahkan kepalanya, menatap langit yang bertaburan bintang. 'Kamu sedang apa, Ask?' tanyanya dalam hati.


Batinnya juga merasakan sepi. Sakit hati yang sempat dia rasakan tadi, tidak mampu mengalahkan rindu. Diteriaki bodoh, peselingkuh dan juga murahan, tidak membuatnya sanggup membenci sosok suaminya.


"Bagaimana aku bisa membencimu, Ask. Saat kamu menyakitiku sedalam ini pun. Hanya kebaikanmu yang aku ingat." gumam Senja, lirih hanya terdengar ditelinganya sendiri.


Zain menghampiri mamanya, membawakan secangkir teh hangat yang baru saja dibuatnya.


"Minum dulu, ma. Angin di sini sangat kencang. Jangan sampai Mama masuk angin karenanya."

__ADS_1


Senja menerima cangkir itu dan langsung menyesap teh di dalamnya dengan pelan. Panasnya teh pun tidak terasa di bibirnya.


"Menangislah, Ma. Tidak perlu pura-pura kuat hanya karena tidak ingin melihat kami sedih. Tanpa Mama menangis sekali pun. Sedalam apa kesedihan Mama, kami tidak akan pernah bisa menyelami." Zain merangkul pundak Senja, membiarkan mamanya itu bersandar di lengannya.


__ADS_2