Hot Family

Hot Family
Deal Dasen


__ADS_3

"Bukan saya yang mengaku, Pak. Tapi Den Dasen yang minta." Rudi menundukkan kepalanya semakin dalam, hingga menempel ke dada.


"Kenapa mau?" Darren terus bertanya sembari berdiri tepat dua langkah di depan Rudi duduk.


Senja hanya diam, duduk setenang mungkin di kursi kebesaran suaminya. Padahal pikirannya kini sedang berjalan ke mana-mana.


"Rud, masih bisa ngomong kan?" tanya Darren, lagi-lagi semakin membuat Rudi salah tingkah.


"Alhamdulillah, masih pak."


"Nah, ayo jawab! kenapa nurut saja sama Dasen? sudah tau salah? kamu kan sudah dewasa, Rud. Bisa dibilang tua malahan. Kok mau saja diajak akal-akalan sama Dasen." Darren semakin mendekatkan badannya ke Rudi, menyisakan satu langkah saja sekarang.


"Saya hanya nurut saja, pak. Sungguh saya tidak ada maksud lain. Cuman takut kalau nanti ... itu ... anu ...." Rudi mulai berbelit dan ragu meneruskan bicaranya.


"Kenapa, Rud? kamu diancam Dasen?" selidik Darren.


"Tidak, Pak. Bukan, itu. Den Dasen punya sesuatu yang membuat saya tidak punya pilihan. Kalau saya tidak menurut, saya takut beritanya sampai ke istri saya," jawab Rudi, akhirnya.


Darren menoleh ke arah Senja. Keduanya saling pandang. Senja menaikkan bahunya, pertanda dia pun tidak paham maksud Rudi.


"Berita apa, Rud?" kali ini Senja yang bertanya sembari berdiri mendekat.


"Itu, Bu. Saya pernah ngajak mbak Siti jalan-jalan ke pasar malam. Tapi beneran saya itu tidak ada maksud apa-apa. Waktu itu, mbak Siti sedih karena tahu suaminya mau nikah lagi. Jadi saya menghibur. Den Dasen malah merekam pembicaraan kami," jelas Rudi hati-hati.


"Kan, tidak ada yang perlu ditakutkan. Tidak ada maksud lain, kenapa harus takut?" Senja menggelengjan kepalanya dengan kuat. Dasen memang selicik daddy-nya.


"Masalahnya, mbak Siti senderan terus di pundak saya, Bu. Waktu itu saya tidak enak mau menolak."


"Tidak enak atau keenakan?" sahut Darren.

__ADS_1


"Dua-duanya pak."


Jawaban Rudi sontak membuat Senja dan Darren kompak menepok jidat masing-masing.


"Rud, kamu maunya bagaimana sekarang? kamu kalau berhenti kerja bagaimana? kamu kan nurut banget sama Dasen, padahal yang menggaji kamu itu Aku lho. Jadi tunggu saja, sampai Dasen kuat menggaji kamu, baru kamu kerja sama dia." Darren memijat kepalanya yang mulai terasa pusing.


Akhir pekan yang seharusnya bisa dia habiskan untuk santai dan olahraga ringan di kamar. Kini malah rumit. Semua masalah anak-anaknya sedang menguji kesabarannya.


"Jangan, Pak, Bu! Tolong! anak saya masih butuh biaya sekolah. Jadi tolong, jangan pecat saya. Bapak dan Bu Senja boleh menghukum saya apa saja. Saya bersedia," pinta Rudi, wajahnya sungguh memelas.


"Bicara sama Dasen besok, dia mampu menggajimu berapa. Nasibmu ada di tangan Dasen sekarang," tegas Darren.


"Jadi saya, tidak dipecat kan?" tanya Rudi, raut kebingungan begitu dominan di wajahnya.


"Tidak! tapi gajimu tergantung Dasen. Tanyakan padanya besok. Sekarang, panggilkan anak itu kemari." Darren mengakhiri pembicaraan dengan Rudi yang tampak khawatir.


Darren hanya ingin menguji, sejauh mana Dasen akan bertanggung jawab pada Rudi yang ikut terseret masalahnya. Meskipun dalam hati, dia tahu. Uang jajan Dasen bisa dikatakan masih lebih, kalau untuk membayar gaji Rudi.


Dia sudah hafal betul dengan gelagat Darren. Ketika suaminya itu meregangkan kepala lebih sering, pertanda dia sedang merasakan pusing atau berat di sana.


"Pijitin sebentar di pundak. Sedikit berat rasanya. Nanti mandi air hangat lalu tidur sebentar mungkin enakan." Darren duduk di sofa single.


Sembari menunggu Dasen datang. Senja memijat pundak suaminya dengan tekanan yang keras seperti biasa.


"Ternyata, makin besar anak-anak. Kita malah tidak bisa santai ya, Ask," ucap Darren tiba-tiba.


"Iya, Ask. Mungkin ini dulu yang di rasakan mama sama papa-mu Ask. Seumuran mereka, Senja sibuk-sibuknya mencari uang agar bisa tetap sekolah dan makan. Senja tidak mungkin berharap mereka bisa sepekerja keras, sehemat dan sedewasa Senja di usia mereka sekarang. Mereka terlahir di kondisi yang nyaman. Kamu memberikan mereka segalanya, cinta dan harta."


"Setidaknya, mereka tidak seangkuh dan sesombong aku. Kecuali Dasen tentunya," sahut Darren.

__ADS_1


"Sini! aku butuh kekuatan sebentar." Darren menepuk pangkuannya.


Baru saja Senja akan duduk di sana, Dasen datang dengan santainya berdehem seperti baru saja tidak terjadi apa-apa.


"Duduk!" Darren menunjuk sofa di seberangnya.


Dasen pun menurut dan langsung duduk di sana dengan tenang.


"Kenapa tidak langsung menghubungi Mama atau Daddy? kenapa Rudi? apa kamu memang pengen jadi anak Rudi? kamu sudah bosan jadi anak Mama dan Daddy?" cecar Darren langsung tanpa menunggu berlama-lama.


"Kan sudah Das katakan. Dasen takut Daddy marah," tegas Dasen.


"Karena kamu membawa Rudi ke dalam masalahmu, maka mulai sekarang kamu harus bertanggung jawab sepenuhnya pada Rudi. Mulai sekarang, anggap saja Rudi adala Driver-mu. Tapi kamu harus menggaji dia dengan uangmu sendiri."


Mendengar perkataan Daddy-nya, Dasen langsumg beralih menatap Senja.


"Jangan berharap bisa meminta pertolongan mamamu. Ma Nja tidak akan memberikan uang tambahan pada kamu. Gaji Rudi selama ini berapa, kamu bisa tanya sendiri padanya. Jangan berpikir kamu malah menyerah dan membiarkan Rudi berhenti bekerja. Ingat ada istri dan tiga anaknya yang bergantung pada Bapak jadi-jadianmu itu," tegas Darren, semakin tajam.


Dasen terlihat seperti sedang berpikir keras, sebenarnya, dia juga bukan tipikal anak yang boros. Bahkan uang jajan bulanannya termasuk berlebihan, sepertinya untuk urusan Rudi bukan masalah yang besar. Apalagi, dengan sedikit keluwesan bibir dan paras rupawan yang dimiliki. Dasen tidak perlu mengeluarkam uang untuk menarik perhatian cewek-cewek yang dia incar.


"Masalah Rudi sudah selesai, sekarang Daddy ingin tanya sama kamu. Apa kamu tahu kalau Michel itu seorang pemakai?" Darren melakukan kontak mata dengan Dasen.


"Tidak! sejauh yang Das tahu, Michel tidak mingkin memakai narkoba dengan sengaja. Dia sepertinya memang sedang dalam masa pengobatan Dadd. Das tahu dia rutin ke psikiater," jelas Dasen dengan gamblang.


Senja dan Darren kompak memanggut-manggutkan kepala. Berharap apa yang dikatakan Dasen, memang yang dialami oleh Michel.


"Terus kenapa tadi kamu tidak mengambil hukuman dari pak Togar? apa yang kamu bisikkan pada bapak ganjen itu, hingga membuatnya melepaskanmu dari hukuman?" selidik Darren, menyebut kata ganjen karena beberapa kali dia memergoki polisi itu melirik sang istri.


Dasen memutar otaknya. Berpikir cerdas secepat mungkin. Jangan sampai Daddy-nya tahu deal yang dilakukan. Bisa-bisa dia akan dipenggal.

__ADS_1


Titisan Darren itu melihat mamanya. Memang mempunyai mama yang sangat cantik itu adalah anugerah.


"Kamu belum menjawab pertanyaan Daddy, Das. Apa deal kamu dan pak Togar?" suara tanya Darren menyadarkan Dasen yang masih ingin mencari jawaban yang aman.


__ADS_2