Hot Family

Hot Family
Kesalahan Derya


__ADS_3

Beyza hari ini memutuskan untuk pulang lebih awal dari pekerjaannya. Dia ingin membereskan barang-barang yang akan dikirim lebih dulu ke Indonesia. Genta dengan setia menemani dan membantunya.


Mengelola perusahaan sendiri, jelas membuat waktu Genta lebih fleksibel. Tapi seperti yang sudah-sudah, ada Rangga menemani keduanya. Hubungan dan pertemuan intens Bey dan Genta, membuat Rangga menyimpan kekhawatiran kalau-kalau pasangan yang sedang dimabuk cinta itu melewati batasan.


Terlihat konyol dan kuno, tapi entahlah, Rangga tidak mau Genta seburuk dirinya di masa lalu. Menurutnya, Beyza memang yang terbaik. Tidak hanya cantik, gadis itu memiliki sifat yang baik. Terlahir menjadi baby rich, tidak membuat Beyza sombong apalagi bertindak semau sendiri.


"Ayah, apa ayah tidak bosan menunggui kami?" Genta bertanya sembari merekatkan lakban di kardus besar berisi pakaian Beyza.


"Tidak! Sama sekali tidak, tapi sepertinya Ayah mengantuk. Bey, boleh Ayah tidur di sini?" Rangga menepuk sofa panjang yang didudukinya.


"Ayah tidur di kamar saja." Beyza menunjuk satu kamar tempat biasanya kalau ada saudaranya yang datang menginap. Satu kamar lagi memang khusus untuk Senja dan Darren. Dia tidak berani menawarkan kamar itu, karena takut Rangga akan terasuki keromantisan yang malah akan merepotkan karena tidak ada lawan.


"Di sini saja." Rangga mengambil satu bantalan sofa untuk di dekap di depan dadanya.


Beyza menggeser sedikit bokongnya untuk mendekati Genta. "Sepertinya, kita harus mencarikan ayah jodoh. Kasihan, yang di dekap bantal terus," bisik Beyza, sangat lirih.


"Susah, standart terlalu tinggi. Setelah bunda Jingga terus melihat mama Senja. Kutukan mantan casanova. Itulah mengapa aku tidak berani macam-macam. Setelah mempermainkan dan mudah mendapatkan wanita, ternyata sekarang malah hidup sendirian." Genta mengecilkan suara sembari melirik Rangga yang sudah tertidur pulas.


Setelah selesai. Beyza menuju dapur, dia ingin memasak untuk makan malam mereka. Hidup di negara orang tanpa asisten rumah tangga, membuatnya bisa melakukan segala urusan rumah tangga. Anak perempuan daddy, sudah tidak semanja dulu. Peristiwa perpisahan dengan Genta, mengubah sikap dan sifatnya.


"Mau dibantu, Mbak?" tanya Genta, langsung memeluk kekasihnya itu dari belakang.


"Jangan, Kang. Kalau kang Genta di sini, malah akan mengganggu. Fokusku akan terganggu." Tangan Beyza masih lincah memotong brokoli.


"Sepertinya, kamu memang sudah siap sekali menikah. Kamu bisa melakukan semua pekerjaan rumah. Padahal kalau pun tidak bisa memasak, bersih-bersih dan lainnya, aku tidak akan mempermasalahkan. Aku bisa membayar asisten rumah tangga berapa pun yang kamu mau. Yang penting kamu selalu memanjakanku." Genta mendekatkan bibirnya lima senti di belakang daun telinga Beyza.

__ADS_1


"Sebentar, Kang. Nanti kalau ada Ayah bagaimana? Sudah hampir waktunya makan " Beyza melepas tangan Genta dengan paksa.


"Mbak, kamu akan menuruti maunya daddy apa tidak?" tanyanya sembari menarik satu kursi, dan duduk di sana.


"Mau daddy yang mana? Kemauan daddy banyak sekali."


"Yang mengatakan kamu tidak boleh hamil." Genta menjawab dengan hati-hati.


Beyza menoleh sekilas sembari tersenyum. "Tentu saja tidak. Kita iyakan saja. Kalau aku sudah terlanjur hamil, memang daddy mau apa? Selama ada mama, kemarahan daddy masih ada peredamnya. Lagipula, kita yang berumah tangga. Keputusan ada di tangan kita. Yang masuk akal kita ambil, yang jelek cukup kita dengar saja," tegasnya.


"Kalian ini, nikah saja belum. Sudah ngomongin hamil. Jangan melakukan apapun sebelum menikah." Rangga tiba-tiba muncul di belakang Genta.


"Kenapa sebentar sekali tidurnya?" dengus Genta, membuat Rangga terkekeh. Anaknya kini bukan bocah lagi. Sudah mengerti rasa manisnya mengecap bibir seorang gadis, hingga membuatnya kecanduan.


"Sudah menghubungi mamamu?" tanya Derya sembari merebahkan kepalanya di pangkuan Inez.


"Sudah. Hanya dibaca, tidak dibalas sepatah kata pun."


"Setidaknya kamu sudah memberi kabar. Mereka tidak akan bingung dengan keberadaanmu."


Inez membelai-belai wajah Derya dengan menyunggingkan senyuman tipis dan manis dari bibirnya. "Kamu tampan sekali, Ay. Cepat nikahi aku."


"Nanti, Ay. Kita masih harus berjuang dulu. Minimal, kita tetap memberi tahu mereka, kalau kita benar-benar harus menikah tanpa restu."


Inez mengangguk setuju. "Aku nurut sama kamu saja, Ay."

__ADS_1


Tangan Derya menekan tengkuk leher Inez hingga membuat gadis itu menundukkan wajahnya lebih dekat dengannya. Keduanya kembali melakukan tautan bibir. Awalnya lembut, lama-lama semakin bergelora mana kala tangan Derya menyusup masuk ke dalam atasan yang di kenakan Inez.


Gadis itu tidak menolak, malah semakin menuntun tangan Derya untuk memainkan benda kenyal di dadanya dengan lebih cepat.


Derya merubah posisinya menjadi sejajar dengan Inez. Meninggalkan pangkuan kekasihnya yang sudah menghangat. Tangan Inez naik turun mengusap dada Derya. Ketika tautan bibir itu dilepaskan, lenguhan halus sukses keluar dari mulut keduanya.


Bibir Derya mengecup lembut leher Inez, dengan tangan yang masih memilin pucuk kecoklatan di dada sang kekasih. Inez semakin mengeliat, napasnya memburu, dan tatapannya sedikit bernapsu.


Derya menuntun tangan Inez masuk ke dalam celana yang sudah dibuka pengait dan resletingnya. Inez tercekat, merasakan di genggamannya kini ada sesuatu yang begitu mengeras.


Tapi naluri seseorang pada hubungan seeksual memang alami. Meski baru pertama kali baginya, tapi tangannya tanpa diajari dan berpikir sudah berani bergerak naik turun. Tangan Derya pun sudah merambah lincah ke bagian inti Inez. Suasana hening ruangan, terpecah seketika, di penuhi dengan desaahan dari mulut keduanya yang bersahutan.


Derya tiba-tiba menghentikan semua aktifitas tangan dan lidahnya. Dia juga melepas tangan Inez dari kepemilikannya. "Jangan, Ay. Belum saatnya. Kita pernah akan melakukan ini. Tapi yang kemarin tidak sejauh ini. Kita sudah berjalan terlalu jauh," ucap Derya dengan suara parau dan napas yang terengah karena sedang meredam hasrat.


"Aku ikhlas, Ay. Kita lakukan saja. Kita akan sama-sama menanggung dosanya. Jika dosa ini, membawa kita pada pernikahan. Mari kita lakukan." Inez malah menurunkan celana dan boxer yang dikenakan oleh Derya, lalu membantu kekasihnya itu melepas kemeja yang dikenakannya.


Dia pun melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri. Derya nampak sangat ragu. Tapi godaan Inez, perlahan meruntuhkan pertahanannya juga.


"Ay ini tidak benar," lirih Derya dengan suara parau tertahan. Sensasi rasa yang diberikan mulut Inez, membuatnya melayang.


Gadis itu tidak peduli, dia terus melakukan meski tahu yang dilakukan salah. Keadaan sedang mendukungnya untuk berbuat nekat.


Entah bagaimana mulainya, kini, Derya sudah berada di atas tubuh Inez. Dia sudah menghentakkan perlahan pinggulnya beberapa kali, tapi kadang berhenti karena tidak tega melihat Inez yang meringis menahan nyeri.


"Teruskan, Ay. Wajar kalau aku tidak nyaman, ini baru pertama kalinya. Aku akan baik-baik saja. Ayolah, jangan ditahan." Inez memegang pinggul Derya dan mendorongnya maju mundur. Seolah menginginkan sesuatu segera dimuntahkan sang kekasih di dalam celah kenikmatannya.

__ADS_1


__ADS_2