Hot Family

Hot Family
Permintaan Dasen


__ADS_3

Senja mengambil dua lembar tisu, meremas dan membentuknya seperti bola. Lalu melempar bulatan itu tepat mengenai kening Zain.


"Bisa tidak kalian menutup pintunya dulu? Kalian ini memang ya ... kalau adik-adikmu yang masih di bawah umur melihat bagaimana? mereka bisa lewat di sini kapanpun. Lagian, bukankah tadi ada Beyza?" Senja mengomel sekaligus bertanya.


Zain mengusap kening Airin yang juga terkena lemparan tisu. Wajah keduanya yang merapat karena tautan bibir, membuat satu lemparan sukses mengenai dua sasaran sekaligus.


"Beyza ke atas, mengambil selimut dan guling kesayangan. Dia ingin tidur bersama Airin." Zain menjawab dengan bibir sedikit manyun karena kesal pada Senja yang selalu datang tepat waktu untuk menghentikan ciumannya.


"Sudah sana! jangan sampai daddymu berubah pikiran. Ini saja daddy pasti sudah bertanya-tanya kenapa lama sekali kamu mengambil kopernya. Lagian kalian itu berlebihan ... kalian hanya berpisah sementara dan hanya saat malam. Siangnya, kalian juga masih bersama." Senja menyeret koper Zain sembari berjalan, membuat Zain mau tidak mau harus mengikuti langkah mamanya.


Sebelum benar-benar melangkah, Zain kembali mengecup Airin sekilas. "Ai, jangan khawatir. Mama Nja, pasti akan membantu Ai dengan caranya. Aa pergi dulu. Sampai ketemu besok, Ai istirahat dan jangan banyak pikiran." ucapnya.


Akhirnya mobil Rasyid dan Lena yang dikendarai Zain pun meninggalkan halaman rumah keluarga Darren Mahendra. Setelah kendaraan itu benar-benar tidak terlihat, Darren dan Senja segera masuk ke dalam rumah kembali.


Saat hendak ke kamar Airin, pasangan itu berpapasan dengan Beyza yang juga akan ke kamar calon kakak iparnya itu.


"Bey, malam ini tidur sama kak Airin, jadi Daddy tidak perlu menemani Bey lebih dulu," ucap Beyza dengan santai.


Memang biasanya untuk waktu-waktu tertentu, Beyza selalu meminta Darren untuk menemaninya. Hanya sekedar memandang wajah daddynya saja, sudah membuat Beyza tidur terlelap dengan cepat.


Tentu saja keinginan Beyza, disambut baik oleh Darren. Dia bisa memulai lebih awal serangan fajarnya.


"Kamu tunggu di kamar dulu, Ask ... Senja mau bicara sama Airin sebentar." ucapan Senja membuat Darren tersenyum. Dia ingin segera mengganti celana yang dipakainya dengan sarung.


Senja berjalan bersama Beyza menuju kamar Airin. Ternyata, calon istri Zain itu sudah berada di atas ranjang. Airin menyandarkan badannya di sana.


"Maa ... " Airin ingin beringsut dan duduk lebih sopan lagi.


"Tidak perlu, Rin?! Mama cuma mau lihat keadaanmu. Semoga nyaman, ya. Jangan segan berpendapat atau menyampaikan kritik di rumah ini. Di sini semua bebas berbicara, asalkan harus tetap saling menghormati."

__ADS_1


"Terimakasih, Ma Nja. Airin seneng sekali hari ini."


Senja merengkuh pundak Airin. "Sama-sama, Sayang. Mama ke atas dulu, Ya ... Bey, jangan ajak kak Airin begadang sampai pagi. Kamu masih harus sekolah besok dan kak Airin juga ada kesibukan."


Setelah memberikan ciuman kening yang hangat untuk Beyza dan Airin. Senja langsung menuju ke kamar Derya terlebih dahulu untuk melihat kondisi anaknya itu.


Mengetahui mamanya naik ke lantai dua, Dasen segera menghampiri perempuan yang sudah melahirkannya hampair tujuh belas tahun yang lalu itu.


"Ma ... Das mau ngomong," ucap Dasen, menghentikan gerakan tangan Senja yang hendak membuka pintu kamar Derya.


"Sebentar, Mama lihat Derya dulu."


Senja membuka pintu perlahan. Ternyata Derya sudah tertidur pulas. Senja hanya membetulkan selimut dan mengecup kening anaknya itu dengan lembut, lalu keluar lagi. Dasen masih setia mengekorinya.


Kalau sudah begini, titisan Darren Mahendra itu pasti sedang menginginkan sesuatu. Senja sudah hafal betul, kebiasaan dan sifat satu per satu anaknya. Di antara yang lain, Dasen lah yang paling sering mempunyai permintaan.


"Ma ...." panggil anak itu setelah Senja selesai menutup kembali pintu Derya.


Saat pintu di buka, terlihat wajah sumringah sang suami yang sudah mengenakan sarung dan kaos polos. Sejak beberapa tahun yang lalu, Darren hobi menggunakan kain itu saat tidur. Alasan yang mudah ditebak.


"Ada masalah apa lagi, Das?" selidik Darren.


Saat Dasen memasuki kamarnya, kemungkinan-kemungkinan negatif lah yang ada di pikirannya. Kalau sedang tidak ada kenakalan yang dilakukan, pasti anak itu akan meminta sesuatu.


"Ish ... Daddy selalu pikirannya begitu. Apa Das ini senakal itu? sampai setiap hari harus ada masalah," sungut Dasen.


"Mau ngomong apa?" Senja langsung bertanya sembari membersihkan wajahnya dengan cairan di kapas.


Dasen duduk di tepian ranjang tepat di samping Daddynya yang sedang duduk bersandar di sandaran springbed.

__ADS_1


"Dadd, sebentar lagi kan Das ulang tahun ke tujuh belas tahun." Dasen memulai pembicaraannya dengan hati-hati.


"Terus?" Darren melirik Senja yang masih terlihat sibuk dengan membersihkan wajahnya.


"Das, mau hadiah mobil seperti kepunyaan Michel." Dasen menatap daddynya sebentar, lalu kembali menunduk.


Darren sudah menduga sebelumnya. Jika menuruti apa yang ada di dalam pikirannya, dengan cepat dia akan mengatakan 'iya,' karena dulu Darren juga mendapatkan mobil pertama di usia yang sama. Tapi dia harus mendengar pendapat sang istri juga akan hal ini.


"Mobil seperti apa?" tanya Senja sambil melemparbkapas kotor ke tempat sampah.


"Mobil sport, Ma. Tidak harus sama, Dasen mau apapun merknya. Asal tetap mobil sport."


"Kenapa harus mobil sport?" kejar Senja.


Ekor mata Darren melirik istrinya. Kalau dia tidak salah, sudah dipastikan istrinya itu pasti tidak akan setuju. Bukan masalah permintaan mobilnya. Tapi dengan spesifikasi yang diberikan, membuat Senja memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi setelah mobil itu ada.


"Keren saja, Ma." Dasen memberikan jawaban singkat, padat dan khas anak seusianya.


Keren! satu kata yang dikejar anak muda seusia Dasen. Menjadi keren adalah impian. Tentu saja tujuannya adalah sebagai pusat perhatian dan juga idola bagi gadis-gadis. Dikejar lebih dari satu gadis adalah prestige.


"Keren itu harus dengan mobil sport ya? kok baru tahu Mama." Senja membuka lemari dan mengambil daster kebesarannya.


"Tentu saja. Cewek-cewek akan langsung melihat Das dengan kekaguman," sahut anak kedua Senja dan Darren itu.


"Mama tidak pernah melihat cowok dari mobilnya, Das. Mama tidak menyukai cowok yang menarik perhatian hanya dengan mengandalkan materi yang dipunya. Kekaguman itu hanya sesaat, bagaimana jika suatu saat kamu tidak memiliki apa-apa? apa yang bisa kamu banggakan?" Senja mencecar Dasen sembari melirik suaminya.


Darren ingin berbicara dan sedikit membantu Dasen kali ini, tapi takut salah. Pemikiran Senja tidak salah. Seperti dirinya yang tidak langsung menjadi Darren yang sekarang. Harusnya Senja juga membiarkan Dasen mencari jati dirinya sendiri dulu, tentunya sembari terus mengawasi dan mengingatkan jika ada yang salah.


"Mama tidak akan membelikan mobil yang kamu mau!" Senja tiba-tiba mengambil keputusan, tanpa meminta pertimbangan pada suaminya.

__ADS_1


"Ma ... kenapa Mama pelit sekali? Maminya Michel saja baik. Kenapa Mama tidak?"


Pertanyaan Dasen, membuat Senja menatap anaknya tajam. Dia tidak pernah suka dibanding-bandingkan. "Mama tidak baik menurutmu?" tanyanya.


__ADS_2