
Rangga menerima cangkir dari tangan De sembari mengucapkan kata terima kasih. Dia sama sekali tidak berniat untuk meminumnya. Bukan karena tidak menyukai jenis minuman tersebut, namun karena tidak ingin berlama-lama berdua dengan De. Rangga tidak enak, kalau sampai Senja atau Darren melihat dan berpikiran yang tidak-tidak.
"Kak Rangga kenapa tidak bergabung sama yang lain?" De memulai pembicaraan dengan basa-basi yang tidak penting.
"Ini tadi nerima telepon sebentar. Sekarang sudah mau ke sana kok." Rangga menunjuk Derya, Genta, dan Beyza yang duduk melingkari satu meja.
Baby De tidak menyukai jawaban Rangga. Bukan itu yang ingin didengarnya. Pria yang ada di depannya itu memang tidak peka sama sekali. Signal ketertarikan yang dikirimkan sangatlah kuat, namun tidak sedikit pun Rangga memberikan reaksi yang menyenangkan.
Ayah angkat Genta itu benar-benar meninggalkan Baby De begitu saja. Jelas saja membuat anak kesayangan Aleandro itu semakin dilanda rasa penasaran. Dengan menghentakkan kaki, dia pun menghampiri Zain dan Sekar yang asik menikmati steak yang baru saja disajikan oleh pelayan.
"Ask, kamu temenin Rangga gih. Nggak enak, masak dia cuman ngobrol sama anak-anak. Senja mau ngobrol sebentar sama Dasen dan Denok." Senja mengatakannya dengan sangat lembut.
Darren mengangguk dengan berat hati. Saat ini, berada di dekat Senja adalah hal yang paling nyaman. Berjauhan sedikit saja, membuat hatinya menjadi tidak tenang. Tidak peduli kadang istrinya itu tiba-tiba bersikap ketus, baginya itu lebih baik daripada dijauhi seperti kemarin-kemarin.
Senja pun menghampiri Dasen dan Denok yang berada di meja lain di sisi kiri tidak jauh dari Zain, Sekar dan Baby De berada.
"Boleh Mama duduk di sini, Das?" Tanya Senja dengan lembut.
Dasen dan Denok kompak mendongakkan kepala menatap Senja. Keduanya tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
__ADS_1
"Tentu saja boleh, Ma."Dasen buru-buru berdiri dan menarik kursi di sebelahnya untuk diduduki sang mama.
"Terimakasih," ucap Senja.
Ketiganya terdiam sesaat. Dasen dan Denok sedikit canggung harus memulai pembicaraan dari mana. Sedangkan Senja masih terlihat sangat tenang.
"Apa kabar ibumu, Nok?" Senja bertanya pada Denok dengan tatapan datar.
"Alhamdulillah baik, Bu. Ibu sudah bisa menerima kondisinya." Denok menjawab dengan hati-hati.
"Memang mata ibumu tidak bisa disembuhkan ya, Nok? Sudah periksa lebih lanjut?" Senja masih mencecar Denok dengan pertanyaan seputar Erika.
"Sudah, Bu. Kalau ada donor retina baru bisa melihat lagi," jawab Denok.
"Oh begitu ya? Kamu cari saja donor mata, minta tolong Dasen biar dicarikan. Punya kekasih yang bisa melakukan segalanya, buat apa tidak dimanfaatkan."
Dasen seketika berdehem beberapa kali, tenggorokannya mendadak gatal. Ekor matanya melirik Denok yang ternyata malah menampilkan senyuman tipis. Wajah kekasihnya itu nampak tenang. Padahal, Dasen sudah takut kalau Denok tersinggung dengan ucapan mamanya.
"Masih kekasih, Bu. Tidak ada hak saya untuk merepotkan Mas Dasen. Dan tidak ada kewajiban Mas Dasen untuk menanggung kehidupan saya, apalagi ibu saya. Ini semua sudah jalannya Ibu saya. Jika buta secara fisik malah bisa membuka mata hatinya, saya memilih ibu saya untuk tetap seperti ini." Denok memberanikan diri membalas tatapan mata Senja.
__ADS_1
Dasen memperhatikan Denok dengan rasa kagum. Penilaiannya tidak salah, meski terlahir sederhana, Denok paham bagaimana menghargai sebuah hubungan dengan tulus. Denok memang bukan perempuan tercantik yang dia temui, pesonanya mungkin jauh di bawah sang mama saat masih muda dulu, tapi hati Dasen mengatakan, Denok adalah batu berlian yang terpendam. Hanya butuh sedikit sentuhan, maka kilauannya akan terlihat.
"Nok, setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Begitu pun saya. Mendampingi seorang Dasen seumur hidup tidak lah mudah. Saat kalian masih pacaran seperti sekarang, tentu hal-hal baik yang lebih terlihat. Jeleknya Dasen tentu banyak yang tidak kamu ketahui. Menjadi pendamping keturunan Mahendra, tidak butuh penampilan yang rupawan. Lebih pada kelapangan hati, dan harus siap berbagi waktu juga perhatian." Senja menjeda sejenak ucapannya. Karena apa yang ingin dia utarakan cukuplah panjang.
Dasen dan Denok menatap Senja dengan raut yang dibuat setenang mungkin. Keduanya sebenarnya sudah sama-sama tidak sabar menunggu apa yang akan dikatakan Senja selanjutnya.
"Dasen laki-laki yang tidak hanya tampan dan mapan. Kedudukan yang dia miliki, status sebagai keturunan Darren Mahendra, tentu menarik perhatian begitu banyak perempuan untuk mendekat. Ikatan pernikahan saja, tidak akan cukup membuat langkah perempuan-perempuan itu berhenti berusaha ingin memiliki Dasen. Belum lagi tekanan pekerjaan yang bisa saja sampai dibawa pulang. Dan ada adik-adiknya yang mungkin akan membuat Dasen harus menghabiskan waktu untuk mereka. Dasen, tidak akan pernah bisa seutuhnya untuk kamu. Mampukah kamu mendampingi Dasen dengan kondisi seperti itu? Tidak perlu kamu jawab sekarang. Pikirkan saja dulu" Senja beranjak berdiri.
Sebelum benar-benar meninggalkan Dasen dan Denok, Senja kembali berucap, "Saya tidak akan menghalangi hubungan kalian. Tapi berpikirlah dengan logika, jangan membuang waktu jika kalian merasa ke depan tidak ada kemungkinan terbaik. Berpikirlah, menikah bukan hanya tentang kalian. Ada orang-korang di belakang kalian yang harus dipikirkan, dan ada hal-hal lain yang pasti akan kalian Hadapi. Cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan."
Dasen meraih tangan Denok, memberikan kekuatan tanpa kata. Keduanya kompak memandangi punggung Senja yang menjauhi meja mereka.
"Bu Senja sangat baik. Kamu tahu, Mas. Aku ini pencemburu, bagaimana bisa aku menghadapi perempuan-perempuan yang akan berusaha mendekatimu nanti." Pandangan Denok kini menerawang jauh.
"Kamu bisa belajar pelan-pelan. Jadilah dirimu sendiri, Nok. Apa yang ada di dalam dirimu, itu sudah luar biasa. Kamu hanya perlu menyadari, kalau kamu itu sangat berharga." Ucapan Dasen sungguh sangat menyejukkan bagi Denok.
Kekasih Dasen itu sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Senja, sebaliknya, dia malah merasa tersanjung. Berjodoh atau tidak dengan Dasen, Denok akan menjadi dirinya sendiri dengan versi yang lebih baik.
Sementara itu, Rangga dan Darren yang sedang berdiri di tepian kolam terpaksa menghentikan obrolan mereka melihat Senja berjalan menghampiri keduanya.
__ADS_1
"Sekarang, apa boleh Senja bicara semua pada anak-anak ?" Senja bertanya sembari meraih uluran tangan sang suami yang sudah ingin menggenggam jemarinya.
Darren melirik Rangga sekilas. Helaan napasnya begitu berat. Sejauh ini, anak-anak begitu dekat dengan Senja. Bahkan kehadiran kekasih masing-masing tidak membuat sosok Senja tergantikan. Bagaimana jika mereka mendengar apa yang akan dikatakan Senja. Darren tidak sanggup membebani pikiran anak-anaknya.