Hot Family

Hot Family
Love ia back


__ADS_3

Senja menghentikan pergerakan tangannya sejenak. Lalu berbisik mesra. "Sana mandi dulu, nanti diterusin lagi."


Darren menunjuk bagian intinya. "Ask... ini bagaimana?"


"Sabar, orang sabar pasti dapetnya banyak. Lagian kamu flight malam. Pasti kamu mandi terakhir sebelum berangkat ke sini. Itu sudah sembilan jam yang lalu. Kalau sudah segar dan wangi, boleh dua atau tiga. Senja mau lihat anak-anak dulu," ucap Senja dengan kerlingan mata menggoda sembari memberikan handuk untuk suaminya.


"Anak-anak sudah keluar. Mereka jalan-jalan. Bey dan Der memang sangat pengertian."


Senja tetap berjalan ke arah pintu. "Mereka memang sangat pengertian. Kamu yang tidak."


"Ask... jangan memulai."


"Baiklah! Aku tidak akan memulai, kamu saja yang mulai." Senja menghentikan langkahnya dan kembali berbalik melihat suaminya.


"Kamu mau ke mana?" rengek Darren kembali pada mode manja. Sedikit saja Senja melembut, dia pun melunjak.


"Senja lapar, Ask... Bercinta juga butuh tenaga. Rayuan dan rindumu tidak membuatku kenyang," cebik Senja.


"Nanti suapin aku, Kangen disuapin manja." Darren menampilkan wajah manja menggelikan.


"Selesai mandi, tulis saja apa yang kamu kangeni, Ask. Nanti Senja berikan satu-satu. Tidak ada yang gratis, tapi--"


Senja tidak meneruskan ucapannya, karena Darren sudah meneruskan kalimanya dengan sempurna.


"Ingat! Berhadapan dengan Senja Khairunisa Kemala, uang bukan ukuran." Darren mulai hafal kata-kata itu.


"Pintar sekali, sepertinya hubungan jarak jauh membuatmu makin pengertian."


"Tidak! Aku lelah, aku kangen. Lihat! Kerutan dimataku bertambah, karena tidak ada yang menyegarkan mata setiap pagi." Darren buru-buru membantah.


"Ya, Sudah. Sana mandi. Nanti kita makan sepiring berdua saja. Senja ambilkan dulu." Senja membuka pintu kamar.


"Aku mandi hanya sebentar, karena aku yakin, setelah ini, kita akan mandi bersama," ucap Darren, membuat langkah Senja terhenti.


"Sabar... mandi bersama masih jauh. Kita belum selesai membicarakan tentang pembuktian." Senja langsung keluar kamar. Kalau terus ditanggapi, pembicaraan tidak akan selesai-selesai.


Darren langsung masuk ke dalam kamar mandi. Kepalanya mendadak berdenyut atas bawah. Bagaimana tidak? Sudah dibawa melayang ke awang-awang, lalu dihempaskan ke empang begitu saja.

__ADS_1


Suami Senja itu benar-benar memenuhi ucapannya. Hanya dalam waktu sepuluh menit, dia sudah keluar dari kamar mandi. Wajah segar, rambut basah, dada berbulu tipis dan perut rata yang memiliki enam sobekan di sana. Siapa sangka pria itu sudah berusia separuh abad.


Senja baru saja selesai berbicara dengan Zain melalui sambungan telepon. Lagi-lagi, anak pertamanya itu mengingatkan agar mamanya segera kembali ke Indonesia. Senja pun kali ini mengiyakan keinginan anak-anaknya. Dia juga sudah lelah melakukan hubungan jarak jauh.


"Aku cuma sebentar, kenapa kamu lama." Darren memeluk Senja dari belakang.


"Kenapa tidak memakai baju dulu." Senja merasakan dingin kulit suaminya yang menempel di baju atasannya yang tipis.


Kini, otak Senja yang mulai tidak benar. Tadinya dia ingin mengulur waktu, ingin suaminya memberikan pembuktian bahwa dia bisa bersabar dan mengendalikan nafsoenya.


Nyatanya, kini Senja mulai melupakan rasa laparnya. "Ask...."


"Hmmmmm... ." Darren menjawab dengan mesra tepat di samping pipi istrinya.


"Senja mau makan," lirih Senja. Menahan suaranya yang sudah ingin mengeluarkan suara de5ah, karena tangan suaminya sudah menyusup ke dalam atasan yang dikenakannya.


"Makanan pembuka dulu saja." Darren membalik tubuh istrinya.


Senja paham betul apa maksud suaminya. "Jangan di sini. Kalau anak-anak tiba-tiba datang bagaimana?"


Darren melepas handuk yang melilit pinggangnya. Senja pun langsung menurunkan badannya, lalu berdiri dengan lutut menghadap sesuatu yang sebenarnya sudah siap unuk digunakan.


Tapi, tidak serunya rasanya kalau langsung pada tujuan. Senja mulai memasukkan inti tubuh suaminya itu hingga membuat mulutnya terasa sesak. Gerakan naik turun seketika mengeluarkan erangan dan racauan seorang Darren Mahendra.


Tangan laki-laki itu pun tidak mau tinggal diam. Dia mengumpulkan rambut istrinya yang terurai menjadi satu ikatan digenggamannya. Sesekali dia sengaja menekan genggaman itu agar istrinya merasakan sesuatu masuk lebih dalam.


"Lepas, Ask...." Darren menarik pundak istrinya segera. Dia tidak ingin kalah sebelum berperang. Senja masih seorang pemain mulut dan tangan yang handal.


Kini, bibir keduanya mulai bertautan. Saling mengecap, melilit lidah dan bertukar ludah dengan dalam. Tangan Darren dan Senja sama-sama menjelajah pada bagian pasangan masing-masing.


Entah kapan Senja melepas kain yang melekat pada tubuhnya, Dia pun kini sudah dalam keadaan polos.


Seperti bayi yang sedang haus, Darren dengan rakus menyesap pucuk kecoklatan di tengah gundukan kenyal milik Senja. Membuat tubuh istrinya itu mengeliat dan menggelinjing.


"Sekarang saja, Ask." suara Senja sudah mengisyaratkan bahwa dia sudah benar-benar tidak tahan untuk memulai.


Darren pun mengangguk, dia menbalik tubuh sang istri lalu membuat tubuh istrinya membungkuk berpegangan pada meja makan.

__ADS_1


Dengan berdiri gagah, Darren mulai menghujam bagian intinya, Sesekali dia merem4s bokong sintal sang istri.


"Aku sekarang, Ask...." Darren sudah tidak sanggup lagi menahan lebih lama, dengan satu tangan berpegangan pada satu gundukan kenyal di dada, Darren menghentakkan pinggulnya lebih cepat. Hingga terdengarlah lenguhan panjang dari keduanya.


"I love you, Ask." Darren sedikit terengah-engah. Membiarkan miliknya bertahan di dalam meski sudah selesai. Takut ada cairan yang keluar dan meluber kemana-mana.


"I love you more, Ask."


Senja berusaha menggapai tisu di depannya. Setelah berhasil, dia pun menyuruh melepaskan kepemilikan suaminya itu dari celah sempit di antara dua kakinya.


"Senja benar-benar lapar sekarang," ucap Senja, sembari memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Dia langsung menuju toilet, membersihkan diri sebentar lalu kembali memakai pakaiannya.


Sementara Darren hanya kembali menggunakan handuk yang dililitkan di pinggul.


"Pakai baju dulu, Ask. Jangan sok kuat, nanti kalau masuk angin, baru tahu rasa," omel Senja sembari mengambil nasi lengkap dengan lauknya.


Setelah mencuci tangan bersih, Senja menyuapi Darren dan dirinya sendiri bergantian. "Kenapa manja sekali? Kalau tidak ada Senja, apa Wati yang menyuapimu?" Ledek Senja.


"Sembarangan. Tentu saja tidak ada. Apa kamu tidak lihat, tubuhku sedikit kurus sejak kita melakukan hubungan jarak jauh."


"Tidak, tiap kali kamu datang, fokus Senja tidak ke sana." Senja menatap nakal ke arah bawah.


"Astaga! Ask... semakin berumur, kamu semakin genit." Darren menepuk pahanya.


Senja pun duduk di pangkuan suaminya itu sembari terus menghabiskan isi piring berdua. Tidak terasa makanan di sana pun habis tidak bersisa.


"Ask... sebenarnya pembuktian apa yang kamu inginkan, Aku akan lakukan, Asal kamu pulang ke Indonesia." Darren masih penasaran dengan permintaan Senja. Berharap bukan sesuatu yang aneh dan berat. Tapi mengingat istrinya adalah seorang Senja, sepertinya tidak akan mudah.


Senja beranjak dari pangkuan Darren, mencuci piringnya terlebih dahulu.


"Buktikan kamu bisa mengendalikan emosimu, kecurigaanmu dan kepercayaanmu padaku dengan satu hal saja," ucap Senja dengan tegas dan lugas.


"Apa?"


"Biarkan Senja kembali bekerja."


Darren seketika menarik napasnya dengan berat.

__ADS_1


__ADS_2