
"Hmmmmm ...." Senja menjawab tanpa menoleh, jadi tidak tahu ekspresi suaminya sedang menunjukkan keadaan tidak baik-baik saja.
Beyza yang paham perubahan raut wajah sang daddy, langsung memberikan kode pada Derya dan Genta untuk meninggalkan kedua orangtuanya berdua.
"Kita ke kantor polisi, anakmu sekarang berada di sana. Entah apalagi ulahnya." Darren lalu langsung berdiri dan berjalan ke arah luar. Memanggil Rudi tapi tidak ada sahutan.
Mencari driver lainnya, ketiganya sudah izin pulang lebih awal. Akhirnya Darren memutuskan untuk mengendarai mobilnya sendiri.
"Ayo! kamu ikut atau tidak?" tanya Darren dengan kesal melihat Senja terlihat bingung.
Bagaimana tidak, saat ini dia hanya mengenakan daster rumahan tanpa lengan, sebatas lutut dan sandal jepit kesayangannya.
"Cepat, Ask!"
Teriakan Darren mau tidak mau membuat Senja langsung masuk ke mobil. Entah apa lagi yang dilakukan Dasen sekarang, hingga harus melibatkan pihak kepolisian.
Sepanjang perjalanan, Darren hanya fokus pada jalan raya. Wajahnya antara khawatir, kesal, marah dan penasaran berbaur jadi satu.
"Anakmu, kalau tidak mencari masalah seminggu saja, apa tidak bisa? sampai kapan dia bersikap seenaknya sendiri? kali ini, jangan halangi aku mengirimnya ke asrama." Darren melihat istrinya sekilas dengan kesal.
Seperti biasa, saat Darren emosi yang berlebihan. Senja malas untuk mendebatnya. Karena kalau dituruti, suaminya itu akan semakin menjadi-jadi. Lebih baik diam dulu, mengingat dan mencatat dalam pikiran omongan Darren yang tidak tepat, lalu membahasnya kemudian saat keadaan sudah tenang.
Setelah menempuh perjalanan kurang dari 25 menit,Darren segera memarkir mobilnya di halaman samping kantor kepolisian di mana Dasen berada.
Keduanya segera turun, menemui petugas yang ada di bagian depan lalu menuju tempat yang ditunjukkan oleh petugas tadi.
Seorang petugas membukakan pintu ruangan tertutup untuk Senja dan Darren. Saat pintu terbuka, terlihatlah beberapa wajah orang dewasa yang asing di mata Senja dan Darren.
__ADS_1
Untuk anak remaja yang ada di, sepasang suami istri itu sangat mengenali dengan baik. Michel dan Rama hampir setiap hari ada di rumah mereka. Sedangkan tiga anak di sisi lain, tentu saja keduanya hafal, karena baru kemarin mereka berurusan di ruang kepala sekolah. Bahkan masalah kemarin belum juga selesai.
Wajah mereka yang babak belur, membuat Senja dan Darren sama-sama langsung menyimpulkan kalau Dasen cs pasti beradu fisik dengan tiga anak yang mengganggu si kembar dan Genta.
Tidak peduli dengan tatapan hampir semua orang kepadanya, Darren mengedarkan pandang mencari sosok Dasen yang ternyata berlindung di balik punggung pak Togar yang sedang berdiri hendak menyambut kedatangannya. Mata Darren justru menangkap keberadaan Rudi di sana
"Rud ...." Suara Darren yang tegas dengan tatapan dingin seketika membuat Rudi merinding. Membayangkan, pekerjaannya yang melayang.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Darren.
"I--Itu pak, eng ... nganu ...." Rudi bingung harus menjawab apa.
"Kalau kami tidak dibutuhkan. Kamu pulang ke rumah kami. Jangan kamu meninggalkan rumah, sebelum kami datang. Urusan kita belum selesai." Darren memberi perintah dengan jelas, hampir seluruh orang yang ada diruangan merasakan ketegasan yang membius.
Mami Michel yang tadinya cuek dan selalu fokus pada ponselnya, mendadak mengangkat wajah.
Anak itu mendengus kesal dan hanya mengangguk malas. Dari Michel, sekolah play group dulu, Maminya selalu saja centil setiap kali ada papa dari temannya yang keren. Ternyata sudah seumuran sekarang pun, kecentilannya tidak pernah luntur.
Saat pak Togar bergesar, nampak lah wajah Dasen yang lebam, dengan sudut bibir dan pelipisnya masih mengeluarkan sedikit darah meski tadi sudah sempat diobati oleh petugas kepolisian.
"Das ...." Senja hendak mendekati Dasen, tapi langkahnya langsung dicegah oleh sang suami.
Darren akan mengabaikan Dasen sejenak, sampai masalah benar-benar jelas.
"Jadi apa yang dilakukan anak saya kali ini, pak?" tanya Darren, dengan tegas namun sopan pada pak Togar. Suami Senja itu mengulurkan tangannya.
Setelah saling berjabat tangan, pak Togar mempersilahkan Darren dan Senja untuk duduk di bangku yang masih kosong di dekatnya.
__ADS_1
Togar menelan ludahnya kasar saat melihat Senja. Darren rupanya belum sadar, kalau lengan istrinya yang putih mulus itu tereksplore sempurna. Daster rumahan justru membawa daya pikat tersendiri bagi bapak-bapak yang sudah beberapa minggu ini belum sempat pulang menemui istrinya karena tugas yang luar biasa.
Belum sampai pak Togar menjawab pertanyaan Darren, rekan sesama polisinya datang membawakan hasil tes ur1ne.
Pak Togar langsung mengambil hasil tes itu, lalu berdiri di tengah-tengah semua orang.
"Selamat petang Bapak Ibu sekalian. Langsung saja saya akan memberitahukan dan menjelaskan kronologi yang sebenarnya, kenapa anak-anak Bapak Ibu sekalian bisa berada di sini." Pak Togar memulai pertemuan, laki-laki itu mengedarkan pandang menatap satu per satu yang hadir di sana. Hanya sekilas, tapi lebih lama sedikit saat menatap Senja.
"Tadi tentu Bapak Ibu dudah mendengar kronologi kejadian versi anak masing-masing. Karena sampai saat ini orangtua Arnold, Reynald dan Adam tidak datang. Maka tetap kita mulai saja. Dengan catatan, kalian tidak akan keluar dari sini sampai orangtua kalian sendiri yang menjemput. Di kasus ini, tidak perlu pengacara. Karena tidak ada tuntutan dan lagi pula ini murni kecerobohan remaja." Lagi-lagi pak Togar menjeda informasinya.
"Setelah kami melakukan penyelidikan dan investigasi singkat secara terpisah terlebih dahulu, lalu melakukan kesaksian secara bersama. Kami menyimpulkan, bahwa pertandingan tinju ilegal yang diadakan anak-anak ini tanpa pengawasan orangtua, sebenarnya dari satu pihak mempunyai tujuan yang sangat bagus. Mereka ingin memberikan pelajaran pada pembully dan mempersembahkan hal yang membuat siswa siswi korban perundungan untuk tidak segan melawan." Pak Togar berhenti sejenak sembari mengintip hasil tes urin di tangannya. Lalu menyerahkan pemicaraan selanjutnya pada Pak Satria.
"Dari sini kami menghimbau, agar Bapak Ibu sekalian lebih memperhatikan kegiatan yang dilakukan anak-anak di luar rumah. Masalah ini tidak dikenakan pasal apapun. Ini murni kenakalan yang disebabkan jiwa kepahlawanan yang di terapkan dengan cara yang salah. Dalam hal ini kami tujukan untuk Dasen, Michel dan Rama. Lain kali, kalau kalian ingin menjadi pahlawan, lakukan dengan cara yang benar," tegas pak Satria.
Ketiga anak yang disebut namanya itu malah terlihat bangga. Bagi Dassen, kemarahan Daddy-nya, akan setimpal dengan video permintaan maaf di billboard yang akan terpampang nyata selama satu bulan berturut-turut.
Pak Satria pun menjelaskan lebih detail dari awal hingga akhir kejadian yang akhirnya membuat mereka menarik kesimpulan bahwa Dasen cs cukup dihukum ringan saja untuk kasus pertandingan tinju ilegal.
Senja dan Darren pun nampak lega. Tapi kekesalan dan kemarahan jelas masih terlihat di wajah Darren.
"Tapi mohon maaf, Bapak dan Ibu, karena selama penyelidikan tadi kami memperhatikan perilaku semua anak, maka secara adil kami melakukan test ur1ne pada keenam anak ini dan dua bodyguard anak yang bernama Adam. Dan kami mohon maaf, dua anak dinyatakan positif menggunakan Methamphetamin atau sabu-sabu."
Penjelasan Pak Satrio sukses membuat Darren dan Senja berdebar. Meskipun dalam hati, yakin bukan Dasen. Tapi tetap saja kekhawatiran itu ada.
"Dasen Kyun Mahendra dan Rama Tri Alegra, silahkan mengikuti pak Togar ke luar ruangan."
Dunia Senja terasa runtuh, pandangan matanya gelap, dan perempuan itu pun terkulai lemah tidak sadarkan diri, terhuyung tepat di pundak sang suami.
__ADS_1