Hot Family

Hot Family
Jeda sebelum resepsi


__ADS_3

Tanpa memberi tahu Denok terlebih dahulu, Dasen segera menghampiri Senja. Wanita itu jelas buru-buru mengulum senyuman begitu melihat sang anak kesayangan berjalan mendekatinya. Satu tangannya, memegangi perut dengan bahasa tubuh yang sama sekali tidak santai. Meski bibir Senja membuat garis lengkung yang menawan, namun sorot matanya tidak mampu menyembunyikan rasa yang kontras dengan senyuman yang diukir.


"Apa Mama sedang tidak enak badan?" Dasen bertanya dengan raut wajah cemas.


"Mama? Memangnya kenapa? Apa mama terlihat tidak baik-baik saja? Mama baik, Das. Mama hanya haus. Mama mau kembali ke stateroom dulu." Senja kembali memaksakan senyumnya dan berusaha berjalan dengan langkah biasa meninggalkan anaknya.


Dasen segera mengamit lengan Senja. " Biar Das antar. Mama jangan menolak. Sama seperti daddy, Das adalah laki-laki yang pantang jika ditolak perempuan."


Senja mencubit lengan Dasen dengan gerakan yang lemah. "Jangan terlalu mirip sama daddy, Das. Kasihan istrimu nanti."


Dasen melebarkan tawanya. Tangannya semakin erat dalam kamitan lengan Senja. Semakin lama, Dasen merasakan langkah mamanya semakin pelan.


"Ma, boleh nggak Dasen gendong Mama?" Tawar Dasen, sebisa mungkin juga bersikap biasa. Langkah keduanya terhenti seketika.


Senja mengernyitkan keningnya sembari berkata, "Kamu kenapa, Das? Mama belum jompo. Mama masih kuat jalan sendiri."


Dasen menggigit bibir bawahnya sendiri. "Sampai kapan mama lebih suka menahan dan merasakan sakit sendiri?" tanya Dasen dalam batinnya sendiri.


Tanpa menunggu jawaban dari Senja, Dasen langsung menggendong mamanya itu ala bridal style. "Jangan protes, Ma. Sebelum Dasen menggendong perempuan lain, Dasen ingin menggendong Mama terlebih dahulu. Karena bagi Das, Mama adalah cinta pertama."


Senja mengalungkan tangannya di leher Dasen. Lalu wanita tersebut menempelkan kepalanya di dada bidang milik sang anak. Tanpa sadar, bulir bening menetes dari pelupuk matanya, membasahi kemeja putih yang di pakai Dasen.


***


Sebagian besar para tamu, dan juga keluarga pun sudah kembali ke stateroom masing-masing. Kecuali Darren yang memilih mengajak Derya untuk mendampingi Genta dan Beyza di stateroom yang seharusnya hanya dikhususkan untuk kedua mempelai.


Sudah sah, tapi rasa seperti baru apel pertama kali. Darren seolah tidak peduli dengan mulut Beyza yang sudah manyun beberapa senti.Jangankan berpegangan, ingin duduk bersebelahan saja selalu dihalangi oleh Darren.


"Dadd, apa Daddy tidak ingin melihat Mama?" Tanya Beyza mencoba mencari sedikit celah.

__ADS_1


"Iya, Dadd. Mama maghrib sudah sholat sendiri, masa Isya sendiri lagi," Derya yang sebenarnya jengah karena harus ikut menunggui Bey dan Genta, akhirnya ikut berbicara.


"Mamamu, pasti bersama De dan oma-oma. Mereka kalau sudah bersama, Daddy juga nggak dianggap. Sudah jangan protes," timpal Darren sembari menarik tangan Genta menuju balkon stateroom.


"Der, daddy-mu apaan sih? Memang dulu pas pengantin baru gak ngisi jeda apa?" Bisik Beyza.


"Hmm... bisa jadi, bisa enggak, sih. Kalau dari daddy sendiri, nggak mungkinlah gak langsung. Tapi kalau inget bagaimana Oma Bae, bisa jadi, Oma memperlakukan daddy seperti daddy memperlakukan Genta sekarang. Biasalah, balas dendam turun temurun." Derya memanfaatkan kesempatan dengan bergegas keluar dari stateroom Beyza dan Genta.


Beyza semakin memanyunkan bibirnya. Lima belas menit lagi, MUA akan kembali datang untuk memberikan sentuhan kembali pada riasan wajah dan juga tatanan rambutnya. Sungguh, Bey memang harus bersabar. Padahal, dia sudah tidak sabar ingin bermesraan dalam suasana yang sudah halal. Sungguh Darren memang sangat terlalu.


***


Karena terlalu tergesa-gesa, Derya tidak melihat nomer stateroom di pintu yang dia masuki. Dengan santainya pria itu menempelkan key card di gagang pintu sensor berbentuk persgi itu. Sudah mencoba dua kali, tetap tidak bisa.


"Kok bisa gak cocok sih," umpat Derya.


"Mungkin Abang salah kamar." Suara seseorang berhasil membuat Derya menoleh ke arah sumber suara.


"Mecca! Kok kamu bisa di sini?" Tanya Derya dengan heran.


"Aku di undangan mempelai pria. Selain dulu teman satu kampus, kami juga ada bisnis bersama," jelas Mecca sembari menunjukkan kunci stateroom dengan nomer yang sama dengan nomer pintu yang ada di depan mereka.


Derya segera memperhatikan card key di tangannya. "Astaga! Sorry, aku salah."


"Tidak masalah! Maaf aku masuk dulu, aku mau bersiap untuk acara selanjutnya," Mecca menundukkan kepala seperti biasa.


"Mec---" Derya tidak melanjutkan ucapannya karena ragu.


Gadis cantik berhijab putih tulang itu mendongakkan kepala sekilas untuk menanggapi panggilan Derya yang tidak utuh.

__ADS_1


"Nanti berangkatnya bareng aku saja. Aku jemput kamu pukul delapan kurang lima belas menit. Jangan menolak, aku belum pernah ditolak. Aku harap, kamu tidak memberikan pengalaman itu padaku."


Mecca tidak memberikan jawaban apa pun. Namun Derya tidak peduli, bagi kebanyakan laki-laki, diamnya perempuan berarti setuju. Tanpa berpamitan, Derya segera melangkah menuju pintu stateroom miliknya yang benar. Ternyata letak keduanya bersebelahan.


***


Di luar apa yang diperkirakan oleh Darren. Setelah Dasen mengantarnya, Senja memilih untuk meminum obat pereda sakit dan berbaring sejenak. Wanita itu masih terlihat pulas. Dasen menggemgam tangan mamanya penuh cinta. Sesekali dia mengecup punggung tangan perempuan yang melahirkannya dengan perasaan takut yang begitu dalam. Di stateroom tersebut, hanya ada Senja dan Dasen.


"Mama pasti akan sembuh. Jangan tinggalkan kami, siapa pun tidak akan pernah bisa menggantikan posisi mama," lirih Dasen.


Senja sedikit mengeliat, matanya memicing begitu samar-samar dia melihat sosok Dasen masih setia bersamanya.


"Kok masih di sini, Das?" Tanya Senja.


"Das pengen temenin Mama. Siapa tahu, sebentar lagi Das juga akan menikah. Mana sempat Das keluar kamar."


Senja langsung mencubit perut Dasen yang tidak berlemak. Meskipun dengan gerakan yang tidak segesit sebelumnya, cubitan itu berhasil membuat Dasen merasa seperti disengat semut.


"Kamu messum sekali, Das. Benar-benar kasihan istrimu."


"Mana ada kasihan? Mereka akan menjadi perempuan paling beruntung di dunia," ucap Dasen dengan percaya dirinya.


Senja mengubah posisinya menjadi bersandar. Sekarang bukan cubitan yang didaratkan pada Dasen, melainkan mengacak rambut anak kesayangan itu dengan gemas.


"Mereka? Kamu mau menikah dengan berapa gadis? Mama tidak akan mengijinkan kamu berpoligami. Tidak ada kamusnya keturunan Darren Mahendra berbagi cinta."


Dasen tertawa lebih lebar. Melihat Senja kesal padanya sungguh hal yang dia rindukan akhir-akhir ini. Sejak divonis sakit, mamanya seperti memilih untuk irit bicara dan menjaga sikap.


"Mama mau membasuh muka sebentar. Biar kelihatan lebih segar. Mua akan datang sebentar lagi." Senja turun dari bed dan hendak melangkah ke kamar mandi. Tapi Dasen malah memeluk mamanya itu begitu erat.

__ADS_1


"Sebaik-baiknya riasan adalah senyuman yang tulus, Ma. Bedak dan yang lain tidak bisa menutupi rasa sakit yang Mama tahan. Orang lain mungkin tidak memperhatikan, tapi Das tahu Mama sangat berjuang untuk bisa berdiri tegak hari ini. Jangan jauh-jauh dari Dasen. Mama tidak perlu menyembunyikan apa pun dari Das. Jangan rasakan sendiri sakit Mama. Mengeluhlah pada Das. Biar Das merasa sedikit berguna."


Tangisan Senja pecah seketika.


__ADS_2